(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
054


__ADS_3

Louis & Anisa




Keesokan harinya. Kembali ke sebuah apartemen mewah milik Louis. Wanita cantik dengan daster hitam itu nampak berada di dapur bersama laki laki tampan yang kini nampak asyik dengan aktivitas memasaknya.


Hari ini Louis meliburkan Bik Susi. Ia ingin kembali menghabiskan waktu berdua dengan Anisa. Jika kemarin mereka menghabiskan waktu berdua di luar apartemen, maka hari ini, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Anisa di dalam apartemen itu.


Seperti biasa, kegiatan mereka hari ini diawali dengan serentetan ibadah dari sejak sebelum subuh hingga mentari naik. Setelah itu keduanya lantas mulai memasak sarapan pagi. Si ibu hamil ingin makan nasi goreng pagi ini. Louis pun berinisiatif untuk membuatkan makanan itu untuk Anisa. Namun alih alih memasak dengan lihai dan cekatan, laki laki itu justru memporak porandakan dapur yang semula rapi itu.


Dapur memang bukanlah tempat favorit Louis. Barang barang didalamnya pun juga tak begitu Louis kenal. Memecahkan telur dari cangkangnya saja ia tidak bisa. Si cangkang justru berbaur menjadi satu dengan isi telur itu, membuat Anisa pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Louis memang sama sekali tak mengerti tentang tata cara memasak yang baik dan benar.


"Nis, ini apa lagi yang harus dimasukin? Pake air nggak?" tanya Louis yang kini sibuk mengaduk nasi di dalam wajan itu.


"Kita mau bikin nasi goreng, Louis. Bukan bubur!" ucap Anisa yang nampak mengambil beberapa piring di sana.


"Nggak pake air?" tanya Louis lagi.


Anisa terkekeh. "Nggak usah. Itu tinggal tunggu mateng aja," ucap Anisa.


Louis menatap nasi goreng di hadapannya sembari menggerak gerakkan spatula di tangannya. Padahal menurutnya ia sudah mengaduk aduk nasi itu dari tadi, tapi kenapa tak matang matang juga, pikir Louis. Ia memang benar benar tak memiliki bakat memasak. Seumur hidupnya ia memang tak pernah bersentuhan dengan peralatan dapur semacam ini. Hidupnya hanya berkutat dengan berkas berkas, pulpen, dan laptop saja.


Louis meletakkan spatulanya.


"Capek, Nis! Saya nyerah, deh. Saya nggak bisa!" ucap laki laki itu seolah angkat tangan. Anisa terkekeh mendengarnya.


"Ya udah, kamu siapin minumnya aja kalau gitu, biar nasi gorengnya aku yang masak," ucap wanita hamil dengan celemek hitam membalut tubuhnya itu.


"Oke!" jawab Louis. Laki laki itu kemudian melepaskan celemek nya dan meletakkannya di salah satu kursi meja makan itu. Ia kemudian bergegas untuk membuatkan dua gelas jus jeruk untuk dirinya dan Anisa. Sedangkan Anisa kini kembali mengaduk aduk nasi yang sudah hampir matang tersebut.


Tiba tiba...


Ting... Tong... Ting... Tong...

__ADS_1


Bel apartemen berbunyi. Anisa dan Louis terdiam dan saling pandang untuk beberapa saat. Siapa yang datang? Bukankah Bik Susi diliburkan hari ini? Pikir Anisa.


"Siapa, ya?" tanya Anisa.


Louis diam sejenak. "Kamu lanjutin aja, biar saya yang buka,” ucap Louis.


Anisa mengangguk. Wanita itupun lantas melanjutkan aktifitasnya, sedangkan Louis kini berjalan menuju pintu utama unit apartemennya dan membuka pintu tersebut.


Ceklek...


Pintu terbuka.



Louis terdiam. Dilihatnya disana Betrand berdiri di balik pintu itu seorang diri. Menatap datar ke arah laki laki tampan yang tak lain adalah sepupunya sendiri itu.


Louis masih tak bergerak. Ia menatap datar ke arah Betrand. Ia seolah sudah menduga akan hal ini. Cepat atau lambat salah satu keluarganya pasti akan datang ke apartemen ini untuk mencarinya.


"Ada apa?" tanya Louis.


"Ada perlu apa?" tanya Louis tanpa mempersilahkan sang sepupu untuk masuk ke dalam hunian mewahnya.


"Lu nggak ngajak gue masuk?" tanya Betrand.


"Lo mau masuk ke apartemen gue? Ada perempuan kampung disini. Mungkin lo alergi," ucap Louis terdengar sedikit nyelekit, membuat Betrand pun kini nampak mengangkat dagunya. Louis menjadi begitu menyebalkan setelah mengenal Anisa.


"Lu sekarang ngeselin, ya?!" ucap Betrand.


Louis tak menjawab.


"Gue kesini cuma......."


"Louis, siapa yang datang?" Suara lembut itu berhasil membuat kedua pria tersebut menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana, Anisa yang masih mengenakan celemek di badan nampak muncul dari arah dapur. Wanita itu kemudian terdiam kala melihat sosok Betrand yang kini menatapnya angkuh.


Anisa menunduk sambil tersenyum. Ia kemudian menoleh ke arah Louis.

__ADS_1


"Kenapa nggak disuruh masuk?" tanya wanita itu begitu lembut dan terdengar sejuk di telinga Louis. Membuat pria itupun menoleh ke arah Anisa yang kini nampak tersenyum manis disana.


"Silahkan masuk, Tuan," ucap Anisa kemudian pada Betrand.


Louis tak bereaksi. Sedangkan Betrand kini nampak diam menatap penampilan wanita hamil yang terlihat begitu sederhana itu.


Betrand lantas mengangkat dagunya, ia kemudian mengangguk, pertanda mengiyakan ajakan wanita itu untuk masuk ke dalam apartemen Louis.


Anisa tersenyum. Ketiga manusia itu kemudian masuk ke dalam apartemen mewah itu.


"Kami tadi mau sarapan, Tuan sudah sarapan? Mau sarapan bareng?" tanya Anisa.


Betrand membuka mulutnya. Ia hendak menjawab ucapan Anisa namun tiba tiba Louis memotongnya.


"Namanya Betrand, Nis. Dia sepupu saya, bukan tuan kamu. Panggil aja Betrand!" ucap Louis tanpa ekspresi.


Anisa diam sejenak. "Oh, maaf," ucap wanita itu.


Betrand menghela nafas panjang. "Saya nggak lapar. Kedatangan saya kemari hanya untuk bertemu dengan Louis. Saya ingin mengabarkan, bahwa Kakek sakit, dia terus memanggil manggil nama cucunya yang sejak kemarin tidak pulang!" ucap Betrand sembari menoleh ke arah Louis di akhir kalimatnya.


Louis hanya diam.


"Jika berkenan, saya harap Louis bersedia untuk pulang menemui Kakek tua yang sudah membesarkannya. Laki laki tua itu sudah terbiasa hidup berdampingan dengan cucu kesayangannya!" tambah Betrand.


Anisa terdiam. Ia menatap ke arah Louis dan Betrand secara bergantian. Sepertinya ada suatu masalah yang terjadi di keluarga Louis. Dan mungkin itu juga sebab kenapa Louis beberapa hari yang lalu datang ke apartemennya dengan wajah lesu hingga kemudian menginap di tempat tersebut hingga hari ini.


"Saya sudah selesai dengan keperluan saya. Saya pamit pulang. Silahkan lanjutkan aktivitas mesra kalian berdua!" ucap Betrand terdengar sedikit nyelekit. Laki laki itu kemudian mengayunkan kakinya, bergerak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Anisa diam. Ia menunduk. Dari tutur kata dan sikap Betrand, sepertinya laki laki itu kurang menyukainya. Laki laki itu pasti berfikiran macam macam tentang dirinya. Tinggal seatap dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan. Meskipun pada kenyataannya ia tak pernah berbuat macam macam dengan Louis.


Anisa menggerakkan tangannya mengusap usap lembut perut buncitnya. Louis mendekat. Tangan kekar itu tergerak menyentuh wajah wanita cantik itu dan mengangkatnya agar mendongak menatapnya.


"Nggak usah diambil pusing. Kita sarapan, yuk!" ucap Louis.


Anisa diam. Ia kemudian tersenyum lalu mengangguk. Keduanya kemudian kembali ke meja makan dan mulai menyantap santap pagi mereka bersama sama.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2