
06:00 Pagi.
Laki laki itu belum keluar dari kamarnya. Sejak tadi ia masih sibuk berada di dalam kamarnya. Duduk di atas ranjang sembari menghadap laptop miliknya.
Louis mulai sibuk mencarikan hunian baru untuk Anisa. Secepatnya ia harus membawa Anisa pergi dari apartemen ini. Ia tak mau jika sampai Luke menemukan keberadaan wanita cantik itu. Meskipun kini Anisa masih banyak diam setelah mendengar pengakuan yang ia ucapkan semalam, tapi setidaknya ia harus berjaga-jaga. Ia harus memastikan Anisa tetap aman di sampingnya.
Louis menghela nafas panjang. Kemana ia harus membawa Anisa? Jika nanti Anisa berada di tempat tinggal yang baru, siapa yang akan menjaganya nanti saat Louis bekerja? Terlebih lagi Anisa tengah berbadan dua. Kandungannya semakin membesar. Hari perkiraan kelahiran pun juga semakin dekat. Ia tak mungkin tega meninggalkan Anisa hidup seorang diri tanpa teman.
Apakah ia harus mengembalikan Anisa ke tempat kostnya dulu? Disana ada Salma dan Almeer. Tapi apakah aman? Betrand kan mengenali tempat itu? Bagaimana jika pria itu curhat pada Rhea dan Rhea kembali berbuat macam macam? Bahaya, bukan?
Louis nampak berfikir keras, hingga...
Tok... Tok... Tok...
Louis terhenyak. Pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Siapa?" tanya Louis tanpa mengubah posisi tubuhnya yang berada di atas ranjang.
"Saya, Tuan. Nona sudah menunggu Tuan di meja makan," ucap seorang wanita paruh baya daro balik pintu kamar itu, Bik Susi.
"Iya, Bik. Tunggu bentar," ucap Louis sembari menutup laptopnya.
"Baik, Tuan," jawab Bik Susi. Laki-laki itu kemudian bangkit. Membereskan benda canggih miliknya itu dan meletakkannya di atas sebuah meja di samping ranjang. Laki-laki itu kemudian berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan tempat dimana seorang wanita hamil yang kian hari terlihat kian cantik itu sudah menunggunya disana dengan beberapa menu makan pagi yang berada di atas meja.
"Pagi, Bik. Pagi, Sayang," ucap Louis pada Bik Susi dan Anisa yang hanya menunduk. Tangan kekar itu bahkan dengan entengnya bergerak mengacak acak lembut pucuk kepala wanita hamil tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan," jawab Bik Susi sambil tersenyum. Louis menarik satu buah kursi meja makan, mendekatkannya pada Anisa kemudian menundukkan tubuhnya di sana. Tangan kekar itu kemudian bergerak menyentuh perut buncit itu dan mengusapnya lembut.
"Pagi, anak Papa. Lagi ngapain kamu di dalam?" tanya Louis sambil tersenyum. Tak seperti biasanya dimana Anisa selalu menyahut ucapan Louis, wanita itu kini justru hanya diam tak merespon. Membuat Bik Susi dan Louis pun menoleh ke arah wanita itu.
Bik Susi diam. Sedangkan Louis nampak menghela nafas panjang.
"Kamu masih marah sama saya?" tanya Louis.
Anisa menunduk. Tak menjawab.
Laki laki itu kembali menghela nafas panjang.
"Nis, katanya kamu pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi? Saya udah jujur sesuai dengan keinginan kamu, Nis. Kok malah sekarang kamu yang diemin saya?" tanya Louis.
"Nisa, niat saya jujur sama kamu itu karena saya pengen terbuka sama kamu. Biar kamu tahu semuanya dari saya langsung, bukan dari orang lain," ucap Louis.
Anisa menunduk. "Maaf," ucapnya lirih.
Louis diam sejenak. "Maaf untuk apa?" tanyanya.
Anisa menoleh. Setitik air mata menetes di pipinya. Louis nampak menggelengkan kepalanya samar.
"Jangan nangis," ucapnya sembari menggerakkan tangannya mengusap lelehan air mata itu.
"Saya hanya orang kampung yang merepotkan. Maaf, jika kehadiran saya hanya bisa membuat kekacauan di keluarga kamu. Saya bingung. Saya nggak tahu sekarang harus sedih, bahagia, atau seperti apa. Saya hanya perempuan yang terenggut kehormatannya di tangan laki laki yang katanya adik kamu itu. Saya tidak tahu seperti apa watak adik kamu yang sebenarnya. Saya hamil, lalu kemudian saya bertekad untuk datang ke kota ini, mencari keadilan, sampai akhirnya bertemu dengan kamu. Perangai kamu berbeda dengan orang yang dulu dengan kasarnya menjamah saya. Kamu lebih lembut kamu lebih hangat, kamu lebih menenangkan dan menyejukkan. Jujur, saya mengagumi kamu meskipun sempat ada pemikiran dalam diri saya, saya bertanya-tanya, kenapa kamu berbeda dengan orang yang dulu pernah menjamah saya tanpa izin. Tapi saya mencoba menepis semua itu. Saya tidak peduli. Saya mencoba mempercayai kamu yang sekarang berada di samping saya."
__ADS_1
"Sampai pada akhirnya, malam tadi kamu mengatakan bahwa kamu dan Luke adalah orang yang berbeda. Jujur, saya kaget, sakit mungkin juga iya. Nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jujur, saya merasa dipermainkan. Saya seperti boneka yang bisa dilempar ke sana kemari. Saya hanya orang kampung nggak tahu apa apa. Nggak tahu apa maksud kamu melakukan ini sama saya. Membohongi saya selama berbulan-bulan, tapi pada akhirnya kamu merawat dan menjaga saya. Apakah kamu orang yang baik? Apakah kamu orang yang tulus? Apakah kamu orang yang bisa saya percaya? Atau kamu hanya sekedar orang kaya yang iba sama saya? Kamu kasihan, makanya kamu merawat saya dan berjanji menikahi saya, padahal sebenarnya kamu nggak berniat untuk itu. Kamu nggak cinta sama saya. Kamu hanya kasihan dan iba sama saya. Saya malu. Saya merasa seperti orang miskin yang bodoh yang hanya dijadikan mainan oleh orang-orang kaya seperti kalian!" ucap Anisa menangis sesenggukan. Louis nampak menggelengkan kepalanya.
"Nggak gitu, Nis. Bukan gitu," ucap laki laki itu.
"Terus kenapa saya dibohongin? Kenapa saya di...hiks...!"
Wanita itu tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Ia menangis sesenggukan. Membuat Bik Susi yang berada di tempat itupun ikut iba mendengarnya.
Louis menarik lagi kursi yang di dudukinya. Ia mengikis jarak dengan wanita itu. Dipeluknya tubuh ramping itu dengan hangat. Diusapnya punggung serta pucuk kepala wanita itu seolah ingin memberikan ketenangan kepada Anisa yang kini menangis tersedu sedu dalam dekapannya.
Louis berkali kali mengucap kata maaf. Ia ingin menunjukkan betapa ia menyesal tak mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan itu sejak awal.
"Maaf, Sayang. Maaf karena kebodohan saya yang sudah salah langkah, menyembunyikan semua ini dari kamu. Saya tidak pernah sedikitpun memiliki niat untuk membohongi ataupun mempermainkan kamu."
"Seperti yang sering saya bilang sama kamu, saya melakukan ini, niatnya karena saya ingin menjaga kamu agat tidak terlalu kepikiran selama kamu hamil. Saya ingin menjaga kamu dan anak kita. Saya tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini."
"Kalau saya main main atau tidak serius mencintai kamu, untuk apa saya repot repot memenuhi semua ngidam kamu, memastikan kesehatan kamu, dan kebahagiaan kamu."
"Saya sayang sama kamu bukan karena kasihan, tapi karena saya melihat hal yang istimewa dan berbeda dari kamu. Kamu sempurna dengan segala bentuk kesederhanaan yang kamu miliki. Saya jatuh cinta sama kamu bukan karena bantuan siapapun, dan bukan karena rasa kasihan apapun. Tangan Tuhan yang bekerja mendekatkan kita tanpa kita meminta. Lantunan suara merdu yang kamu perdengarkan di sepertiga malam lah yang menyentuh hati saya hingga mengukuhkan hati saya untuk memilih kamu."
"Kalau saya nggak serius sayang sama kamu, saya nggak akan sampai seperti ini, repot repot menyembunyikan kamu agar selalu aman dari jangkauan orang orang yang mungkin bisa saja menyakiti kamu."
"Percaya sama saya, semua yang saya katakan itu adalah demi kebaikan kamu. Saya mencintai kamu dengan sepenuh jiwa saya. Untuk masalah Luke, dia akan tetap menjadi ayah kandung dari bayi dalam perut kamu. Saya tidak akan memutus hubungan antara ayah dan anak. Jika memang dia mau datang, biarkan dia datang nanti Saat Anak kita sudah lahir dan kita sudah menikah. Tapi jika dia berniat untuk menikahi kamu, maaf, saya tidak akan mengizinkan. Saya minta maaf jika saya egois. Tapi sungguh, akan sangat jauh lebih baik jika kamu tidak berdekatan dengan Luke. Semua demi kebaikan kamu dan kita. Percaya ya sama saya," ucap laki laki itu.
Anisa tak menjawab. Ia hanya sesenggukan. Louis makin mengeratkan pelukannya pada wanita itu.
__ADS_1
"Sekarang yang terpenting adalah kita cari tempat yang aman untuk kamu tinggal. Kamu harus secepatnya pergi dari tempat ini. Tapi kemana saya harus membawa kamu pergi?" ucap Louis sambil berfikir.
...----------------...