(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
107


__ADS_3

Louis setengah berlari menuju salah satu ruangan ruang ICU di rumah sakit besar itu. Bik Susi yang bekerja di apartemennya baru saja mengabarkan bahwa Betrand tidak ada di apartemen.


Panik, jelas! Betrand sedang tidak baik baik saja saat ini. Bisa dikatakan jiwanya masih terguncang pasca batalnya pernikahan yang harusnya ia gelar bersama Rhea. Laki laki itu masih terombang ambing mentalnya. Masih remuk jiwanya. Louis takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan.


Saat Bik Susi mengabarinya perihal hilangnya Betrand, Louis segera mengecek rekaman CCTV apartemennya melalui ponsel pintarnya. Dalam rekaman kamera pengawas tersebut, terlihat Betrand keluar dari apartemen malam tadi sekitar pukul satu dini hari.


Entah kemana perginya. Tak ada yang tahu. Louis juga belum mengabari Nyonya Martha. Ia hanya memberitahukan hal ini pada Tuan Steve. Ia takut jika Tante nya itu syok dan justru malah menjadi sesuatu yang buruk lagi untuk keluarga Davis.


Louis mengayunkan kakinya cepat dan lebar menuju tempat dimana Rhea dirawat. Entahlah, feeling nya mengatakan Betrand mungkin ingin menemui Rhea. Meskipun ia tak tahu untuk apa. Kemana lagi Betrand akan pergi jika bukan pada wanita yang sudah membuatnya kacau balau seperti saat ini.


Betrand sudah cinta mati pada Rhea. Dilukai hatinya sedemikian rupa oleh wanita yang sudah sangat lama dekat dengannya tentu mengguncang hati Betrand. Ditambah lagi sekarang laki laki itu mungkin sudah mengetahui tentang kondisi Rhea yang baru saja mengalami kecelakaan. Entah dari orang tuanya, atau dari media yang memberitakan tentang konferensi pers yang Louis lakukan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Mungkin kini perasaan Betrand sedang bercampur aduk. Ada rasa marah, benci, namun juga ada rasa iba dan khawatir dalam diri laki-laki itu.


Ya, Louis sedikit banyak seolah bisa merasakan apa yang Betrand rasakan kini. Betapa sakitnya hati laki-laki itu saat ini. Kekasih yang teramat sangat ia cintai tega bermain api di belakangnya bahkan selama dua tahun lamanya tanpa sepengetahuannya. Betrand butuh sandaran. Ia harus banyak banyak ditemani agar bisa segera bangkit dan kembali menata ulang hidupnya.


Louis setengah berlari mendekati kamar tempat Rhea dirawat. Suasana di depan pintu ICU nampak sepi. Tak ada siapapun disana. Louis kemudian melongok mencoba melihat kondisi di dalam ruangan itu melalui sebuah kaca segiempat yang berada di pintu masuk ruangan itu.


Louis terdiam. Rhea masih terbaring di ranjangnya dengan berbagai alat bantu kesehatan yang menempel di tubuhnya. Hanya ada wanita itu disana, tidak ada yang lain. Termasuk Betrand.


Louis menghela nafas panjang. Ia kemudian menggerakkan tangannya, merogoh ponsel di saku celananya kemudian mulai menghubungi Tuan Steve.


Tuutt... Tuutt... Tuutt....

__ADS_1


"Halo, Louis? Gimana? Betrand udah ketemu?" tanya Tuan Steve dari seberang sana.


"Belum, Om. Aku coba cek ke kamarnya Rhea nggak ada. Om dimana sekarang?" tanya Louis.


"Om lagi di jalan. Om juga sambil nyari nyari ini, Nak!" ucap Steve.


"Ya udah. Aku juga coba cari ya, Om. Kita tunggu sampai siang, kalau nggak ada, kita lapor polisi!" ucap Louis.


Tuan Steve mengangguk. "Oke!" jawab laki laki itu.


Sambungan telepon pun terputus. Louis kemudian mengayunkan kakinya pergi dari tempat itu setelah sempat melongok lagi ke dalam kamar untuk yang terakhir. Laki laki itu kemudian pergi dari tempat tersebut. Ia berniat untuk menemui Luke dulu di kamarnya sebelum akhirnya ikut membantu Tuan Steve mencari keberadaan Betrand.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2