
Pagi menjelang,
Di sebuah rumah kost tak begitu luas milik Anisa. Wanita hamil itu tengah sibuk bersih bersih di pagi hari yang cerah ini. Dengan rambut basah yang masih terbungkus kain handuk, Anisa nampak asyik mengepel lantai ruang tamunya, berjalan mundur mendekati pintu utama rumah kost yang terbuka sembari memaju mundurkan tongkat pel di tangannya.
Lantunan musik mellow kesukaannya mengalun merdu dari ponsel yang ia letakkan di atas meja rendah rumah kost itu. Seolah menjadi teman dan pengusir sunyi bagi wanita yang kini dipaksa hidup mandiri itu.
Anisa terus berjalan mundur. Luas ruang tamu yang tak seberapa itu membuat Anisa dapat dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu kini nampak menapakkan kakinya di teras rumah kost nya, pertanda seluruh ruangan di dalam rumah kost tempat tinggalnya itu sudah bersih terkena sapuan kain pel di tangannya. Tiba tiba...
"Ssttt....." Suara itu terdengar jelas. Anisa menoleh ke arah samping.
Deeghh...
Anisa membuka kelopak matanya sedikit lebar. Seorang pria duduk di sebuah kursi panjang yang berada di samping pintu utama rumah kost itu dalam posisi menyamping. Ia nampak tersenyum manis ke arah Anisa. Membuat sang wanita yang tak menyadari keberadaannya itu pun sedikit terkejut karenanya.
"Louis?!" ucap Anisa.
Laki laki itu tak melunturkan senyumannya.
"Selamat pagi!" ucapnya.
Anisa diam sejenak. "Kamu ngapain pagi pagi disini?" tanyanya.
Louis menggerakkan tangannya, meraih sebuah paper bag yang sejak tadi berada di sampingnya. Laki laki itu kemudian bangkit, mendekati Anisa dan berdiri tepat di hadapannya.
"Buat kamu!" ucapnya sembari menyerahkan paper bag di tangannya itu pada Anisa. Anisa menatap wajah pria itu sejenak lalu menerima paper bag pemberian Louis. Dibukanya tas itu, lalu mengeluarkan isinya. Beberapa boneka dan sebuah jaket bermotif boneka yang lucu nampak berada di sana.
"Saya tahu kamu suka boneka. Makanya saya beli itu buat kamu. Buat nemenin kamu ngobrol!" ucap Louis.
Anisa mengangkat wajahnya menatap paras pria tampan itu.
"Saya nggak gila. Saya kalau ngobrol sama manusia, bukan sama boneka," ucap Anisa.
Louis terkekeh. ”Yakin?" tanyanya dengan sorot mata menelisik dibarengi dengan sebuah senyuman manis yang mematikan.
Anisa menunduk. "Ya, kadang kadang aja, kalau lagi gabut!" cicit wanita hamil itu.
Louis terkekeh. Wanita ini semakin lama terlihat semakin lucu!
"Udah sarapan?" tanya laki laki itu kemudian.
Anisa mendongak. Lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sarapan dulu, yuk. Saya bawain sarapan buat kamu!" ucap laki laki itu.
Anisa melongokkan kepalanya menatap ke arah kursi panjang itu, sebuah paper bag berukuran lebih kecil nampak berada di sana. Anisa menatap Louis lagi.
"Kamu pagi pagi kesini cuma buat nganterin sarapan sama boneka buat saya?" tanya Anisa.
Louis tersenyum. "Nggak juga. Kan sekalian mampir. Saya mau ke kantor. Kamu lupa, ya, hari ini jadwal kamu cek kandungan. Saya sudah buat jadwal ketemu pagi sama Dokter Eddy," ucap Louis.
Anisa diam tak bergerak. Ia hanya fokus menatap wajah Louis. Wanita itu seolah bertanya-tanya, siapa sebenarnya laki-laki di hadapannya itu? Kenapa ia begitu lembut dan manis di hadapan Anisa? Namun kisah asmaranya dan sepak terjangnya dengan beberapa wanita terdengar begitu menyeramkan dari penuturan Tami.
Louis itu seperti sosok lain yang baru Anisa kenal. Bukan seperti Luke yang dulu pernah menjamah tubuhnya tanpa izin. Keduanya seperti orang yang berbeda. Dengan perangai yang berbeda pula. Tidak sama!
Louis yang menyadari sikap diam Anisa itu lantas menyipitkan matanya. Ia lantas sedikit membungkukkan badannya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Anisa.
"Hallooo...!" ucap Louis sembari menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Anisa. Membuat wanita itupun tersadar dari lamunannya.
"Eh, maaf!" ucap Anisa terperanjat.
Louis tersenyum. "Kok malah ngelamun? Udah, yuk, makan dulu. Abis itu kita berangkat ke rumah sakit!" ucap Louis.
Anisa tersenyum samar lalu mengangguk. Anisa menyandarkan tongkat pel nya di dinding. Keduanya lantas berjalan menuju kursi panjang itu dan duduk berdampingan.
Louis mengeluarkan sebuah kotak nasi untuk Anisa.
Anisa diam. Ia nampak tersenyum samar. Laki laki itu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Anisa mengangkat kepalanya lagi, menatap ke arah Louis. Tatapannya terlihat dalam, seolah menggambarkan berbagai perasaan yang kini berkecamuk dalam dirinya. Tentang rasa terima kasihnya, tentang rasa mulai nyamannya, tentang rasa penasarannya, dan semuanya. Seolah begitu banyak asumsi yang berkembang dalam pikiran Anisa mengenai Louis.
Louis menyipitkan matanya. "Ada apa?" tanyanya.
Anisa tersenyum lembut. "Kamu baik baik aja?" tanya wanita itu.
Louis diam. Ia seolah sudah tahu arah pembicaraan Anisa. Mengingat semua riwayat panggilan serta pesan di ponsel Anisa memang sudah ia kantongi. Termasuk pembicaraan Anisa dengan Tami kemarin.
Louis tersenyum samar. "Sangat baik!" ucapnya.
Anisa tersenyum lagi, lalu menunduk.
"Saya minta maaf karena sudah terlalu sering merepotkan kamu. Saya juga minta maaf, kalau kehadiran saya juga mempengaruhi hubungan kamu dengan orang orang di sekitar kamu," ucap Anisa tak enak hati.
Louis diam sejenak, menatap wanita lemah lembut di hadapannya.
"Kenapa kamu selalu minta maaf, bahkan untuk masalah yang sebenarnya bukan salah kamu?" tanya Louis.
__ADS_1
Anisa mengangkat wajahnya. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat.
"Kenapa kamu selalu merasa bahwa kamu merepotkan? Seolah olah kamu adalah beban. Bukankah kamu berada di sini karena perbuatan saya? Kamu korbannya. Tidak seharusnya kamu terus menerus minta maaf."
Anisa diam sejenak. "Saya hanya takut jika kehadiran saya merusak kebahagiaan banyak orang," ucapnya kemudian.
Louis tersenyum samar. "Dulu kamu yang datang pada saya dengan sebuah tamparan yang tidak pernah saya duga. Kamu minta pertanggungjawaban dari saya. Dan sekarang saya memberikan itu untuk kamu. Lalu kenapa sekarang jadi kamu yang sering nggak enakan?" tanya Louis.
Anisa menunduk.
"Apa karena saya terlihat bertanggung jawab dan berbeda dari Luke yang dulu merampas kehormatan kamu?" tanyanya seolah tahu isi kepala Anisa.
Anisa mendongak. Kedua netra itu kembali saling bertemu.
"Saya bahkan pernah berfikir, jangan jangan kamu orang lain. Kamu bukan perampas mahkota saya," ucap Anisa tanpa melepaskan pandangannya dari mata Louis. Seolah mencari jawaban dari semua kebimbangannya.
Louis tersenyum hangat.
"Andaikan itu benar, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.
Anisa menggelengkan kepalanya. Ia tak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Andai itu memang benar, entah apa yang akan Anisa rasakan. Senangkah? Atau sedihkah? Atau bagaimana? Entah...
Louis menarik nafas panjang. Ia mendekatkan wajahnya pada Anisa yang diam seribu bahasa.
"Saya adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menjaga kamu dan calon anak kamu. Saya adalah orang yang dipercayakan Tuhan, untuk memberikan kebahagiaan dan keadilan yang kamu cari cari selama ini. Saya adalah orang yang akan memastikan tidak akan ada air mata yang mengalir di pipi kamu selain air mata bahagia. Saya adalah orang yang akan menemani kamu dan memastikan kamu selalu aman sampai waktu yang sudah Tuhan tentukan. Tidak penting siapa saya dan apa yang terjadi di belakang saya. Yang terpenting, kamu bahagia, anak kamu bahagia, dan semua aman sampai calon penerus ini lahir ke dunia. Suatu saat, semua pertanyaan dalam diri kamu akan terjawab jika sudah tiba waktu yang tepat. Sekarang yang terpenting, kamu harus bahagia, kamu harus tenang, dan serahkan semuanya sama saya. Percaya sama saya, kamu akan mendapatkan yang terbaik selama ada saya di samping kamu," ucap Louis panjang lebar dan terdengar tulus.
Anisa tak bergerak. Kata kata dari pria di hadapannya ini begitu menyejukkan, meskipun seolah masih menyimpan sebuah teka-teki tentang sosok Louis yang sebenarnya.
Anisa hanya diam, tak mampu berkata kata. Ia tak bisa sepenuhnya mencerna ucapan laki laki itu.
Sedangkan Louis kini nampak tersenyum. Ia menggerakkan satu jari telunjuknya menyentuh ujung hidung Anisa yang diam mematung.
"Dah, nggak usah terlalu dipikirin. Sekarang kamu makan, abis itu kita ke dokter!" ucap Louis.
Anisa diam, lalu tersenyum samar. Ia lantas mulai menyantap sarapan pagi yang Louis bawakan itu di hadapan pria tersebut.
Louis diam mengamati paras gadis lugu nan polos itu.
"Aku hanya berusaha membantu gadis ini, Tuhan. Tolong jangan libatkan perasaanku dalam hal ini. Dia adalah wanita yang tepat untuk Luke. Aku ingin melihat saudaraku itu menjadi pribadi yang lebih baik. Tolong aku, jauhkan perasaan aneh ini dari pikiranku!" batin Louis memohon dalam diamnya.
...----------------...
__ADS_1