(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
031


__ADS_3

Malam menjelang. Sebuah mobil mewah nampak berhenti di halaman sebuah rumah megah kediaman Tuan Wijaya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, pesta ulang tahun sang cucu tunggal pengusaha kaya raya itu kini sudah mulai digelar. Tamu tamu yang pastinya dari kalangan kelas atas itu sebagian besar sudah hadir dengan tunggangan serta penampilan yang pastinya mahal dan berkelas.


Louis turun dari kendaraan mewah yang ia bawa bersama Om dan Tantenya. Sedangkan Betrand sudah berada di dalam sana. Laki laki itu rupanya berangkat bersama Rhea, sang kekasih.



Martha mendekati keponakan kebanggaannya itu. Ia lantas merapikan tuksedo Louis yang sebenarnya sudah rapi. Laki laki itu memang harus tampil paripurna malam ini. Mengingat ini adalah acara ulang tahun Natasya. Cucu dari rekan bisnis Tuan James sekaligus wanita yang diharapkan bisa bersanding dengan Louis di kemudian hari.


"Dah, ganteng!" ucap Martha. Suami Martha, Steve yang juga berada di tempat itu hanya tersenyum melihat perhatian yang istrinya tunjukkan pada pemuda yatim piatu itu. Martha memang sangat menyayangi Louis seperti anak kandungnya sendiri.


Ketiga manusia itu lantas masuk ke dalam rumah megah tersebut untuk menemui sang empunya acara. Ketiganya segera menuju ke halaman belakang rumah megah itu sesuai arahan dari orang orang Tuan Wijaya. Dilihatnya disana, tamu undangan sudah banyak yang berdatangan. Suasana halaman belakang cukup ramai dan meriah. Lantunan musik klasik terdengar. Para tamu yang lebih banyak didominasi rekan kerja keluarga Wijaya dibandingkan teman teman Natasya nampak sudah berbaur disana. Termasuk Betrand dan Rhea yang kini nampak tengah berbincang dengan si empunya rumah, yakni Tuan Wijaya, Natasya, serta Gita dan Adam yang merupakan ayah dan ibu Natasya.


Steve mengajak istri serta keponakannya itu menemui sang tuan rumah.


"Tuan Adam, Tuan Wijaya..." sapa pria paruh baya itu. Sepasang ayah dan anak itu lantas menoleh. Begitu juga dengan Nyonya Gita, Natasya, Betrand serta Rhea yang juga berada di tempat itu. Semua menoleh ke arah tiga manusia yang baru saja datang itu. Natasya nampak berbinar. Sedangkan Rhea diam diam mengulum senyum samar ke arah Louis.


"Oh, Tuan Steve...!" sapa Adam dengan sebuah gelas berisi minuman tak beralkohol di tangannya. Laki laki itu lantas meletakkan gelas kaca itu. Lalu berjabat tangan serta berpelukan dengan pria dewasa di hadapannya selayaknya sepasang sahabat yang baru berjumpa setelah lama tak bersua. Aksi ramah tamah, saling memeluk serta memberi ucapan selamat oleh dua keluarga pun terjadi.


Louis menjabat tangan ayah, ibu, serta kakek dari Natasya. Laki laki itu lantas menatap lembut ke arah wanita muda berhijab coklat yang sejak tadi tersenyum manis penuh kekaguman ke arahnya itu.


__ADS_1


"Tasya, selamat ulang tahun, ya. Oh, ya, buat kamu..." ucap Louis sembari menyerahkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas berwarna silver untuk Natasya. Wanita muda itu nampak berbinar. Ia menerima hadiah dari Louis itu dengan penuh suka cita. Mungkin itu adalah hadiah yang paling ia tunggu tunggu sejak tadi. Atau mungkin sejak setahun terakhir🙈


Nyonya Martha, Tuan Steve, Tuan Adam, Nyonya Gita, Tuan Wijaya, Betrand, serta Rhea nampak tersenyum melihat interaksi sepasang pria dan wanita itu.


"Sepertinya kalian butuh waktu untuk ngobrol berdua!" ucap Martha mengusulkan.


"Ya, benar! Bicaralah kalian berdua sebagai sepasang anak muda!" jawab Tuan Adam.


Martha menoleh ke arah sang keponakan. "Louis, ajak Natasya ngobrol, gih!" ucap ibu kandung Betrand itu.


Louis menghela nafas panjang. Ia lantas tersenyum sambil mengangguk. Sungguh, sebenarnya ia malas berada di tempat ini. Ini sudah seperti perkumpulan para pebisnis dengan obrolan obrolan yang membosankan. Louis sudah terlalu lelah bekerja dari pagi sampai sore. Selayaknya laki laki yang masih cukup muda, ia juga butuh waktu untuk bersenang senang dengan caranya sendiri. Setidaknya tidak melulu bergaul dengan orang orang bisnis yang selalu membicarakan masalah uang, saham, dan sejenisnya. Ia butuh hiburan yang bisa membuatnya rileks. Bukan perkumpulan membosankan seperti ini.


Louis dengan terpaksa namun tetap berusaha tenang itu lantas mengajak Natasya menjauh dari para pria wanita paruh baya itu. Keduanya lantas berjalan beriringan menapaki halaman belakang rumah itu, dan berhenti tepat di tepi kolam renang dengan hiasan bunga serta lilin kecil nan indah tersebut.


Laki laki itu menoleh. "Ya," jawabnya.


"Makasih ya, Kak, udah nyempetin datang ke pesta ulang tahun aku. Padahal Kakak lagi sibuk sibuknya sekarang," ucap Natasya.


Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menyesap minuman di tangannya. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah. Bosan! Sangat malas. Rasanya ia ingin pulang dan bertemu dengan bantal gulingnya saja.


"Oh ya, Kak Louis, Kakak ada waktu senggang nggak sih? Papa bilang, mulai sekarang aku harus mulai belajar bisnis. Rencananya aku mau......................."

__ADS_1


Natasya terus berceloteh. Menceritakan niatannya untuk mulai merambah dunia bisnis di bidang kuliner untuk memulai karirnya. Ia bilang ia ingin mandiri. Mendirikan tempat usaha dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ia nampak bersemangat menceritakan niatannya yang pasti akan dianggap luar biasa oleh orang orang itu. Masih muda tapi sudah punya niatan untuk menjadi pengusaha dengan hasil kerja keras sendiri. Itu pasti akan sangat menakjubkan.


Namun sayang, sepertinya Louis kurang menyimak penjabaran wanita berkerudung itu. Ia nampak tidak fokus. Sesekali ia menarik nafas dan membuangnya kasar seolah menandakan betapa ia sangat tak nyaman berada di tempat itu. Matanya terus bergerak gerak kesana kemari mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa sedikit menghilangkan rasa bosannya.


Hingga tiba tiba...



Sesosok wanita muda berkulit putih dengan rambut dikepang yang sudah tak terlalu rapi nampak keluar dari dalam dapur rumah itu membawa sebuah nampan berisi makanan di sana. Parasnya tetap ayu meskipun rambutnya nampak sedikit acak acakan. Wanita yang terlihat cukup lelah itu nampak menggerakkan tangannya, mengusap keringat di keningnya lalu meletakkan nampannya di atas meja. Sepertinya wanita itu sudah bekerja sejak pagi.


Ya, itu Anisa! Ia berada di tempat ini dengan seragam ketering yang melekat di tubuhnya. Anisa memang sempat mengatakan bahwa hari ini ia sedang sibuk. Tempat usaha Salma tengah dapat job ketering di sebuah pesta ulang tahun salah satu konglomerat di kota ini, katanya. Louis tak mengira bahwa pesta ulang tahun yang Anisa maksud adalah pesta ulang tahun milik Natasya.


Dalam hitungan detik mood pria itu langsung berubah. Senyuman seketika mengembang dari bibir Louis hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya yang rapi. Itu dia hiburannya! Itu obat penawar lelahnya. Itu jauh lebih menarik di bandingkan obrolan membosankan yang kini tengah Louis abaikan dari mulut Natasya.


Louis tak mengubah arah pandangnya. Ia terus menatap gerak gerik Anisa di sana. Wanita itu nampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia kembali ke dapur rumah itu tanpa menyadari bahwa kini ia tengah menjadi objek pandang seorang Louis Edgar Davis.


Louis nampak terburu buru. Dengan cepat ia menyerahkan gelas di tangannya pada Natasya yang masih asyik menceritakan tentang dirinya dan niatan luar biasanya. Membuat wanita itupun seketika terdiam dan sedikit kaget dengan ulah Louis itu.


"Loh, Kak?" ucap Natasya.


"Nitip bentar! Saya mau ke toilet dulu! Bentar, ya!" ucap Louis bahkan tanpa menatap wajah Natasya. Laki laki itu kemudian pergi meninggalkan Natasya yang masih bingung. Saking buru-burunya, ia bahkan sampai tersandung kabel yang berada di tempat itu. Untung tak jatuh. Mana di pinggir kolam pula. Kalau nyebur kan nggak lucu🙈

__ADS_1


Louis tak peduli. Mata dan otaknya sudah dipenuhi bayang bayang wanita dengan rambut dikepang satu itu. Ia pun segera menuju dapur yang letaknya memang tak jauh dari toilet itu guna menemui Anisa yang sudah berhasil menyita perhatiannya.


...----------------...


__ADS_2