(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
078


__ADS_3

06:30


Setelah bertemu dan berbincang bincang dengan sang kakek. Louis yang sudah siap untuk bekerja itu kini nampak menuruni anak tangga, bersiap untuk segera pergi ke kantor dan memulai aktivitasnya.


Tiba tiba...


"Louis," ucap seorang wanita paruh baya disana. Suara itupun berhasil membuat laki laki itu menoleh. Dilihatnya disana, Martha nampak berjalan ke arahnya dengan sebuah senyuman lembut disana.


"Tante. Ada apa?" tanya Louis.


"Boleh Tante bicara sebentar sama kamu, Nak?" tanya wanita itu.


Louis diam sejenak. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah lalu melongok ke arah jam tangannya.


"Sebentar aja, kok. Nggak lama," ucap Martha lagi.


Louis tersenyum. Ia lantas mengangguk. Martha lantas mengajak sang keponakan untuk menuju kolam renang. Ia ingin berbicara dengan laki laki itu empat mata di taman belakang dekat kolam renang itu. Sepertinya disana lebih nyaman untuk berbincang.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah mobil yang melesat dengan kecepatan sedang di jalan raya yang cukup padat itu.


Sepasang kekasih yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu nampak menikmati perjalanan mereka. Menuju sebuah studio foto untuk melihat langsung hasil foto prewedding yang sudah mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.


Ya, pernikahan mereka tinggal menunggu hari. Persiapan pernikahan sembilan puluh persen rampung. Tinggal menunggu hari H saja. Sepasang kekasih itu kian hari juga kian mesra. Semakin romantis dan harmonis.




Sekitar dua puluh menit perjalanan dari kediaman keluarga Davis, mobil mewah itu sampai di tempat tujuan mereka. Sepasang calon suami istri itu kemudian masuk ke dalam bangunan itu dan segera menemui sang fotografer yang dipercayai untuk mengurus keperluan foto mereka.

__ADS_1


Keduanya berbincang di sebuah ruangan pribadi milik sang fotografer. Laki laki berkacamata itu nampak menunjukkan hasil hasil jepretan kameranya. Namun baru beberapa menit mereka berbincang, ponsel dalam tas mahal Rhea bergetar. Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel itu. Wanita itu buru buru membuka tasnya, mengambil ponselnya, dan menatap layarnya.


Dilihatnya disana, sebuah panggilan masuk dari sebuah nomor WhatsApp dengan foto profil paha mulus wanita berbalut stoking jala hitam dengan setangkai bunga mawar di tengah tengahnya. Rhea memberi nama nomor ponsel itu dengan nama Margaret.


Wanita itu membuang nafas kasar. Betrand yang masih asyik berbincang dengan sang fotografer itu kemudian menoleh ke arah sang kekasih.


"Ada apa, Baby?" tanya pria itu.


Rhea membuka mulutnya. "Oh, ini. Temen aku telfon. Aku angkat bentar, ya," ucapnya.


Betrand tersenyum, lalu mengangguk. Rhea pun bangkit. Ia keluar dari ruangan itu, lalu menjawab panggilan telepon itu di luar ruangan, tepat di samping pintu ruangan pribadi sang fotografer.


"Halo," ucap wanita cantik itu.



"Temuin gue di hotel!" titah seorang pria dari seberang sana, Luke.


"Lo bisa nggak sih, nggak gangguin gue sehari aja? Gue lagi sama Betrand! Kalau dia curiga gimana? Emang bangs*t ya lo!!" ucap Rhea dengan gigi yang mengetat menahan kesal.


"Lu pikir gue peduli? Gue butuh lo, dan gue mau lo. Persetan lo lagi ama siapa! Itu bukan urusan gue!" ucap Luke dari seberang sana.


Rhea memejamkan matanya. Menahan kesal dan emosinya menghadapi sikap Luke yang seolah tak ada henti mengusiknya.


"Sekarang juga lo datang ke sini, atau gue bongkar semua kebusukan lo!! Badan gue sakit semua, per*k! Buruan lo kesini!!" ucap Luke ngegas dari seberang sana.


Rhea mengepalkan tangannya sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Iya, sabar! Gue lagi sibuk!"


"Nggak usah banyak alesan. Satu jam lu nggak sampai sini, gue telanjangin borok lo di depan calon suami lo!" ancam Luke.

__ADS_1


Rhea menipiskan bibirnya menahan kesal.


"Oke! Gue kesana bentar lagi. Nggak usah ngancem gue! Tungguin gue disitu, dasar t*i!" ucap Rhea murka. Wanita itu kemudian dengan cepat mematikan sambungan teleponnya dengan kesal. Ia benci laki laki itu. Laki laki yang seolah tak bisa melihatnya tenang barang sebentar saja.


Jika terus dibiarkan, maka Luke sudah pasti akan terus membayang-bayanginya. Ia pasti tak akan tenang hidup berumah tangga dengan Betrand jika begini. Ia harus cari cara untuk menghentikan ulah Luke. Tapi bagaimana?


Rhea menghela nafas panjang. Ia kemudian berbalik badan, hendak kembali masuk ke dalam ruangan si fotografer itu. Namun tiba tiba..


"Anj.....Astaga!" pekik Rhea kaget. Wanita itu terjingkat kala melihat Betrand yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Laki laki itu menatap datar ke arah wanita tersebut, membuat jantung Rhea pun berdegup cukup kencang.


Apakah Betrand mendengar perbincangannya dengan Luke tadi?


"Sa, Sayang? Kok, kamu... Disini? Ada apa? Udah lama?" tanya Rhea gugup.


Betrand diam.


"Telfon dari siapa sih? Ada masalah?" tanya Betrand.


"A, oh, enggak! Temen aja. Dia nanya mulu soal desain baju. Agak kurang pinter orangnya, makanya aku suka kesel kalau ngobrol sama dia," ucap wanita itu.


"Siapa? Kok aku nggak tahu? Bukannya semua teman kamu harusnya berkelas, ya?" tanya Betrand lagi.


"Ada, satu. Kapan kapan deh aku kenalin sama kamu," ucap Rhea sembari meraih lengan Betrand dan mulai mengeluarkan jurus manjanya.


"Ya udahlah, nggak usah di bahas. Nggak penting! Tadi udah selesai belum liat liat fotonya?" tanya wanita itu kemudian mencoba mengalihkan perhatian.


Betrand menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, kita masuk yuk, aku pengen lihat," ucap Rhea kemudian.


Betrand mengangguk. Ia kemudian masuk ke dalam ruangan itu bersama sang kekasih.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2