(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
089


__ADS_3


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah bangunan berlantai dua bekas pabrik tak terpakai.


Sebuah mobil hitam nampak memasuki area bangunan lusuh yang sebagian temboknya sudah rubuh itu. Seorang pria tampan berparas kebarat baratan yang sejak semalam tidak tidur itu nampak turun dari kendaraannya. Baru saja ia mendapatkan pesan dari seseorang yang entah siapa, ia mengirimkan foto seorang pria yang tergeletak di sebuah bangunan kumuh lengkap dengan lokasinya.


Ya, itu adalah foto Betrand. Nomor itu seolah tahu jika kini Louis tengah kebingungan mencari cari keberadaan sepupunya itu. Entah siapa pemilik nomor itu. Louis sempat mencoba menghubungi nomor itu tak lama setelah foto Betrand masuk ke ponselnya, namun rupanya nomor itu sudah tidak aktif. Sama seperti nomor yang sebelumnya mengirimkan video perselingkuhan Luke dan Rhea. Nomor itu juga langsung tidak aktif sesaat setelah video itu masuk ke dalam ponsel seluruh anggota keluarga Davis dan Rhea.


Sungguh, benar benar orang yang misterius.


Louis turun dari kendaraannya sambil membawa ponsel di tangannya. Laki laki itu nampak celingukan, mencari keberadaan Betrand yang disinyalir berada di tempat ini.


"Betrand!" panggil Louis sambil terus melangkahkan kakinya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak ada sahutan. Louis terus berjalan semakin masuk. Hingga....


Deeghh...


"Betrand!!!" ucap Louis setengah teriak. Laki laki itu berlari menuju ke satu arah, tempat dimana seorang pria nampak tergeletak tak sadarkan diri di samping sebuah ponsel yang nampak hancur, beberapa botol miras yang nampak sudah kosong, serta beberapa puntung rokok yang sudah mati apinya.

__ADS_1


Laki laki itu terlihat mengenaskan. Ia tergeletak dalam posisi tubuh tengkurap. Bajunya kotor. Tubuhnya dingin. Mungkin karena efek tidur di ruangan terbuka semalam suntuk.


Louis mendekat. Di baliknya tubuh yang tengkurap itu. Betrand pingsan. Ia tak bergerak sama sekali.


"Bro, bangun!!" ucap Louis sambil menepuk nepuk pipi berjambang tipis itu.


Betrand tak bereaksi. Ia meraih lengan pria itu lalu sedikit menekan pergelangan tangannya. Nadinya masih berdenyut. Louis buru buru bangkit. Dengan susah payah ia mengangkat tubuh pria yang berat badannya hampir imbang dengan dirinya itu. Laki laki itu menyeret tubuh Betrand, membawanya masuk ke dalam mobil dan berniat untuk membawanya pulang ke apartemennya terlebih dahulu.


Louis berjalan menuju kursi kemudi. Menyalakan mesin mobil tersebut sembari merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Laki laki itu kemudian mulai mengetikkan pesan untuk Tuan Steve selaku ayah kandung Betrand.


Laki laki itu kemudian mulai melajukan mobilnya lagi. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju apartemen miliknya.


Sementara itu, tanpa Louis sadari, sepasang mata rupanya diam diam mengintai pergerakan pria itu dari balik semak belukar di samping bangunan itu sejak tadi. Ya, itu adalah Anjas, teman Elang. Ia diberi tugas oleh kakak kandung Anisa itu untuk mengikuti Betrand sejak semalam.


Ya, Elang membagi tugas untuk semua teman temannya. Satu mengikuti Betrand, satu mengikuti Rhea, dan satu lagi mengikuti Luke. Semua berpencar sesuai perintah Elang. Elang juga melarang kawan kawannya melakukan tindakan apapun tanpa perintah dari laki laki gondrong itu. Cukup diintai, dan diawasi kemana perginya dan apa yang mereka lakukan. Karena setelah ini, masih ada beberapa rencana lagi yang sudah Elang susun dengan sangat matang.


Ya, sepertinya laki laki itu belum puas jika hanya sekedar membongkar perselingkuhan antara Luke dan Rhea. Itu masih kurang cukup bagi Elang. Masih ada serentetan rencana lagi untuk menghancur leburkan orang orang yang sudah menyakiti hati adiknya.

__ADS_1


Laki laki bertubuh kurus dengan beberapa tato di tubuhnya itu lantas merogoh saku celananya kemudian menghubungi nomor ponsel Elang yang berada disana.


"Halo!" ucap Elang dari seberang sana.


"Bang, si bego udah di bawa pergi ama Louis!" ucap Anjas melaporkan.


"Louis liat lo?" tanya Elang.


"Enggak, Bang! Aman!" jawab Anjas yakin.


"Bagus! Sekarang lo balik dulu ke markas. Kita susun rencana buat malam ini! Buruan!" ucap Elang.


"Siap, Bang!" jawab Anjas yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Laki laki itu kemudian tersenyum sambil bangkit dan keluar dari tempat persembunyiannya.


"Mod*r, mod*r lu semua! Salah pilih lawan lu! Kagak tau aja siapa cewek yang udah lu sakitin!" ucap Anjas sembari melangkahkan kakinya menuju motor yang ia parkirkan di balik pohon besar disana.

__ADS_1


__ADS_2