(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
091


__ADS_3

Hari berganti. Saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Laki laki tampan berparas kebarat baratan itu nampak keluar dari kamar utama apartemen miliknya. Penampilannya sudah rapi. Setelan jas lengkap sudah bertengger rapi di tubuh tegap atletisnya. Pria itu kini nampak berjalan menuju meja makan, tempat dimana Bik Susi kini nampak sibuk menyiapkan santap pagi untuk sang majikan yang sebentar lagi akan menjadi suami dari keponakan tersayangnya itu.


"Pagi, Bik!" sapa Louis.


Bik Susi nampak tersenyum. "Selamat pagi, Tuan!"


Louis menarik satu kursi, lalu mendudukkan tubuhnya di sana.


"Betrand udah makan, Bik?" tanya Louis.


"Oh, tadi Bibik sudah antar makanan ke kamar tamu, Tuan. Tapi Bibik nggak tahu sudah dimakan apa belum," jawab Bik Susi.


"Dia udah bangun?" tanya Louis lagi.


"Sudah, Tuan. Tapi Tuan Betrand dari tadi diam terus. Ngelamun," ucap Bik Susi.

__ADS_1


Louis menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. "Emang sesakit itu ya, Bik, diselingkuhin pacar?" tanya Louis membuat Bik Susi menoleh.


"Lah, Bibik mana tahu, Tuan. Bibik nggak pernah diselingkuhin!" ucap Bik Susi membuat Louis tersenyum sambil mengolesi rotinya dengan selai coklat disana.


"Masak?" tanya Louis.


"Ya iyalah, Tuan. Bibik cuma punya satu cinta pertama dan terakhir dalam hidup Bibik. Bibik nggak pernah patah hati karena diselingkuhi, tapi pernah patah hati karena ditinggal mati. Dan sampai sekarang, Bibik nggak pernah punya niat buat cari pengganti, Tuan," ucap Bik Susi membuat Louis kini menoleh.


"Berarti Bibik tipe wanita setia, dong?" tanya Louis.


Bik Susi tersenyum. "Setia itu pilihan, Tuan. Suami Bibik sudah nggak ada. Bibik bisa saja mencari pengganti bahkan sejak dulu saat belum lama Bibik menjadi janda. Tapi Bibik nggak mau. Suami Bibik akan selalu menjadi orang pertama dan satu satunya di hati Bibik," ucap Bik Susi.


Bik Susi tersenyum. "Ini kenapa Bibik jadi curhat sih, Tuan!" ucap wanita itu sambil terkekeh.


"Nggak apa apa, Bik. Sekali sekali," ucap Louis sembari mengunyah rotinya. "Oh ya, nanti saya titip Betrand ya, selama saya kerja. Kalau ada apa apa, Bibik langsung hubungin saya aja," ucap Louis.


"Baik, Tuan," jawab Bik Susi.

__ADS_1


Laki laki tampan itu kemudian bangkit. "Kalau gitu saya berangkat dulu ya, Bik!" jawab Louis.


"Iya, Tuan. Hati hati!" ucap wanita paruh baya itu. Louis pun berlalu pergi meninggalkan apartemen nya tanpa menemui Betrand terlebih dahulu. Ia sudah kesiangan. Ia harus mampir dulu ke rumah utama sebelum berangkat ke kantor. Ia harus menemui sang Kakek dan membahas tentang pernikahan Betrand dan Rhea yang tertunda sebelum laki laki tua itu menyadarinya.


Louis berjalan menuju basement apartemen mewah itu. Ia berjalan mendekati mobil mewahnya yang terparkir disana lalu mulai melajukan kendaraan itu meninggalkan bangunan tinggi tersebut. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sembari memegang kemudi, laki laki itu nampak merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya dan membukanya. Belum ada pesan masuk lagi dari Anisa. Padahal mereka baru selesai melakukan panggilan video kurang lebih lima belas menit yang lalu. Tapi Louis sudah dibuat rindu lagi oleh wanita cantik itu.


Ah, rasanya sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Dimana ia akan menikahi wanita cantik itu dan menjadikannya sebagai istri yang sah. Louis mengulum senyum membayangkan hari hari yang indah itu. Hingga tiba-tiba...


Drrrrttt.... Drrrrttt....


Ponsel di tangannya bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk dari Elang. Laki laki itu nampak mengernyitkan dahinya. Ada apa Elang pagi pagi menelfonnya, pikir Louis.


Laki laki tampan itu kemudian mengusap tombol hijau dalam layar itu, lalu menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.


"Halo!" ucap Louis.


"Louis, lo ke rumah sakit sekarang. Anisa mau lahiran!"

__ADS_1


Deeghh....


...----------------...


__ADS_2