
Sore menjelang, di sebuah rumah megah kediaman keluarga Davis. Sebuah mobil mewah berhenti di halaman luas rumah megah bak istana itu. Dua orang pria beda usia turun dari kendaraan mahal tersebut. Ya, itu adalah Betrand dan Steve. Sepasang ayah dan anak yang baru saja pulang dari perusahaan besar milik keluarganya. Seharian ini keduanya dibuat pusing dengan berbagai agenda meeting yang harus mereka handle berdua. Keduanya cukup keteteran lantaran hari ini, sang pewaris tak datang ke kantor. Sejak kemarin, Louis hilang tanpa jejak. Tak ada kabar sama sekali dari pria tampan itu. Ponselnya dimatikan sejak kemarin. Membuatnya tak bisa dihubungi sama sekali. Entah ke mana perginya laki-laki itu. Seperti ia masih marah dengan semua anggota keluarganya.
Ceklek...
Pintu utama rumah itu terbuka. Steve dan Betrand masuk ke dalam rumah itu, disambut oleh Martha dan Rhea yang berada di ruang tamu.
"Mas," ucap Martha yang dengan segera bangkit dari posisi duduknya manakala melihat kedatangan suami serta putra kesayangannya. Hal yang sama pun Rhea lakukan. Ia mendekati calon suami dan mertuanya itu. Keduanya nampak memasang wajah cemas. Membuat Steve dan Betrand pun nampak mengernyitkan dahi mereka.
"Ada apa ini?" tanya Steve.
"Mas, Papa dari tadi pagi nanyain Louis terus. Louis belum pulang, pagi ini dia nggak datang ke kamar kakeknya. Dan Papa dari tadi nanyain cucunya itu terus. Aku bingung harus jawab apa. Aku bilang Louis ke luar kota mendadak dan nggak sempet pamit, tapi Papa ngotot minta diteleponin. Aku coba telepon nomornya Louis gak aktif. Nggak bisa dihubungi dari tadi. Aku bingung harus jawab apa, sedangkan Papa dari tadi nanyain Louis terus!" ucap Martha terlihat gusar.
Steve menghela nafas panjang. "Sekarang Papa dimana?" tanya Steve.
"Di kamar. Kamu samperin dulu lah, Mas. Coba tenangkan Papa," ucap Martha. "Besok kamu cobalah cari Louis. Mungkin dia ada di apartemennya. Tadi Tasya juga telfon aku, katanya dia ketemu Louis di taman. Dia lagi sama perempuan. Dan Louis bilang perempuan itu calon istrinya. Tasya sampai nangis nangis, Mas. Kasihan dia. Dia pasti kecewa sama Louis," tambah Martha.
"Calon istri?" tanya Steve.
"Iya, namanya Anisa katanya. Mungkin itu perempuan yang sempat dibahas Louis sama Betrand. Bener begitu, Sayang?" tanya Martha sembari menoleh ke arah sang putra.
Betrand diam sejenak. Lalu mengangguk dengan mimik wajah yang terlihat datar.
Steve menghela nafas panjang. "Betrand, kita perlu bicara mengenai wanita itu. Nanti kamu jelaskan sama Papa tentang wanita bernama Anisa itu. Sekarang Papa mau ke kamar kakek kamu dulu," ucap laki laki dengan beberapa uban di kepala itu.
"Aku ikut, Mas," ucap Martha.
Sepasang suami istri itu lantas bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Keduanya berjalan menuju kamar Tuan James yang berada di lantai dua bangunan megah itu.
Sementara di ruang tamu,
"Baby, duduk dulu, ya. Kamu kayaknya capek banget. Aku bikinin minum, ya," ucap Rhea menawarkan.
Betrand menghela nafas panjang, lalu mengangguk. Wanita cantik itu lantas tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju dapur guna membuatkan secangkir kopi untuk sang kekasih. Rumah itu memang sudah seperti rumah sendiri bagi Rhea. Ia memang sudah sangat dekat dengan keluarga Betrand.
Laki-laki itu kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa panjang ruang tamu itu. Tangannya bergerak melonggarkan dasi yang terkalung di leher lalu menjatuhkan tubuh tegap itu di sandaran sofa mahal ruang tamu tersebut. Betrand nampak memejamkan matanya. Raganya memang sangat lelah hari ini. Bekerja tanpa Louis rupanya cukup membuatnya kerepotan.
Tak berselang lama, Rhea muncul dari dapur rumah mewah itu sembari membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi untuk sang kekasih.
"Nih, kamu minum dulu," ucap Rhea.
Betrand tersenyum simpul. "Makasih, Sayang," ucapnya. Ia kemudian mulai menyeruput kopi itu dan meletakkannya di atas meja.
"Malam ini kamu nginep di sini aja, ya. Aku nggak ada temennya," ucap Betrand.
Rhea tersenyum. "Iya. Aku temenin kamu. Tapi kamu senyum, dong. Kamu tuh sekarang banyak uring uringannya, tahu nggak. Udahlah, jangan terlalu dipikirin," ucap Rhea.
Betrand menghela nafas panjang. "Kayaknya besok aku harus ke apartemen Louis. Aku harus ngomong sama dia," ucap Betrand.
"Yang penting kamu nggak emosi. Jangan sampai kamu berantem lagi sama Louis," ucap Rhea.
Betrand hanya tersenyum. Ia kemudian meraih kepala wanita kesayangannya itu lalu menempelkannya di dada bidang miliknya.
"Aku jadi penasaran, kayak apa sih perempuan itu, sampai sampai seorang Louis yang setenang itu bisa sampai luluh dan lupa daratan," batin Rhea berkata.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah saat malam menjelang.
Di sebuah sofa panjang yang berada di ruang televisi. Anisa nampak merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang ruang televisi itu sembari berbincang melalui sambungan vidio dengan seorang wanita berhijab di seberang sana.
Ya, itu adalah Tami. Sahabat Anisa yang berada di kampung. Sejak tadi wanita itu tak berhenti bergibah, membuat Louis yang juga berada di tempat itu hanya nampak menggelengkan kepalanya mendengar pembicaraan Tami dan Anisa yang sudah kesana kemari itu.
__ADS_1
"Ya udah ya, Nis. Aku mau sholat Isya dulu. Udah kemaleman nih!" ucap Tami.
"Iya. Oh ya, Tam. Kapan kapan kalau ketemu Nenek, tolong telfon aku, ya. Aku kangen sama Nenek," ucap Anisa yang memang masih sering menghubungi sang Nenek melalui sambungan teleponnya dengan Tami.
"Iya, besok kalau ketemu Nenek, aku telfon kamu, ya!" ucap Tami.
"Oke, makasih ya, Tam!"
"Sama sama. Ya udah, aku tutup, ya. Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam,"
Sambungan telepon pun tertutup. Louis yang berada tak jauh dari tempat duduk Anisa pun menoleh.
"Udah selesai ghibah nya?" tanya Louis.
Anisa nyengir. Louis nampak menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menatap ke arah dinding di hadapannya. Tempat dimana sebuah lukisan Styrofoam bergambar Naruto dengan gigi kuning hasil karya Anisa tertempel rapi di sana. Ya, Louis memasang lukisan itu sebagai hiasan di salah satu ruangan apartemennya.
Anisa mendekat. Ia berdiri di samping Louis sambil menatap lucu ke arah lukisan itu.
"Bagus, kan?" tanya Anisa PD.
Louis menoleh, ia nampak terkekeh. "Ganteng banget!" ucap Louis.
Anisa tertawa.
"Dah, ah! Temenin aku nonton TV, yuk. Sebelum tidur," ucap Louis.
Anisa tersenyum, lalu mengangguk.
Keduanya lantas kembali ke sofa panjang itu. Louis menyalakan televisi besar itu dan mulai mencari cari channel TV yang bagus disana.
"Kamu suka nonton apa?" tanya Louis.
"Oke, kita cari yang lucu lucu, ya," ucap Louis. Anisa hanya mengangguk. Sebuah acara komedi pun mulai mereka saksikan. Anisa sesekali cekikikan melihat lawakan yang para pemain sajikan. Louis yang sebenarnya tak begitu menyukai acara semacam itu sejak tadi tak fokus pada layar TV. Ia yang kini nampak menyadarkan kepalanya di sandaran sofa itu justru hanya fokus pada tawa Anisa saja. Terlihat lucu dan manis. Membuatnya ikut tersenyum melihatnya.
"Nis," ucap Louis.
"Ya?" tanya Anisa.
"Saya boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya pria itu.
"Apa?"
Louis diam sejenak. Ia menatap paras ayu itu lekat lekat. "Apa kamu masih ada benci sama saya?" tanya laki laki itu.
Anisa diam. "Kenapa kamu tiba tiba tanya begitu?" ucapnya kemudian.
Louis tersenyum. "Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada kebencian dari kamu jika nanti kita menikah," ucap Louis.
Anisa diam lagi. Ia kemudian mengubah posisi duduknya. Ikut menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil tersenyum menatap wajah tampan itu.
"Aku bahkan sampai lupa tentang apa yang terjadi pada kita dulu. Aku nggak ngenalin kamu disini. Karena kamu sangat jauh berbeda dengan Luke yang dulu menyakitiku," ucap Anisa.
Louis tersenyum. Tangannya tergerak membelai rambut panjang wanita cantik itu dan menyingkapkannya ke belakang telinga.
"Andai saya bukan orang yang pernah menjamah kamu. Tapi sekarang saya jatuh cinta dan menginginkan kamu. Apa kamu mau menerima saya?" tanya Louis.
Anisa diam. Matanya tak lepas dari wajah pria tampan itu.
"Kenapa tanya gitu? Kamu kembar?" tanya Anisa sambil terkekeh.
__ADS_1
Louis tersenyum. "Kalau iya?" tanyanya lagi.
Anisa tertawa. Ia hanya menganggap ucapan itu sebagai lelucon. Sama sekali tak terlintas dalam benaknya bahwa kini Louis tengah mencoba mengorek reaksi Anisa andai suatu saat ia benar benar jujur pada wanita itu.
"Kalau iya, itu artinya selama ini kamu bohong, dong? Mungkin nanti aku akan tanya dulu sama kamu, apa maksud kamu bohongin aku. Lagian kalau kamu bukan orang yang sama yang sudah membuatku hamil seperti sekarang, memangnya manusia bodoh mana yang mau menikahi perempuan kotor sepertiku?" tanya Anisa membuat Louis seketika terdiam. Kedua pasang mata itu saling berpandangan cukup lekat.
Louis sibuk dengan pemikirannya sendiri. Apakah ini mengisyaratkan, andai nanti ia jujur, mungkin Anisa akan minder. Akan malu. Atau sejenisnya. Ia akan merasa rendah di hadapan pria yang mungkin bagi sebagian orang terlihat nyaris sempurna itu. Ia jadi takut untuk jujur. Ia takut melukai perasaan Anisa.
Louis menghela nafas panjang. Ia kemudian meringsut, mengikis jarak dengan wanita cantik itu. Kedua wajah itu nampak saling beradu dalam jarak yang cukup dekat. Tangan kekar itu kembali membelai rambut panjang Anisa.
"Nis," ucap Louis. Anisa diam tak bergerak.
"Di mata saya, kamu bukan perempuan kotor. Tapi kamu adalah berlian yang tersembunyi. Keadaan yang membuat kamu seperti ini. Terlihat rendah. Tapi bagi saya yang sudah mulai mengenal kamu, kamu adalah wanita istimewa. Kamu kuat dengan segala beban yang berada di pundak kamu. Dan saay mengagumi itu."
"Luke itu bodoh. Dia yang merusak kamu. Dia yang menghancurkan kamu. Dan sekarang Tuhan membimbing kamu untuk bertemu dengan saya. Saya mulai mencintai kamu, Nis. Saya mau kamu. Kalaupun andaikata saya bukan orang yang pernah menjamah kamu, maka saya akan bersedia untuk menerima kamu dengan segala kelebihan kamu. Karena bagi saya, tidak ada satupun kekurangan dalam diri kamu."
Anisa mematung mendengar ucapan laki laki itu. Louis mendekatkan wajahnya pada wajah Anisa. Makin dekat. Tangan kekar itu beralih dari rambut kini mulai membelai wajah ayu itu. Mengusap pipi hingga bibir tipis yang terlihat imut tersebut.
"Siapapun saya, percayalah, saya mencintai kamu apa adanya. Berhenti untuk beranggapan bahwa kamu adalah wanita kotor. Kamu bukan wanita seperti itu. Kamu wanita istimewa."
"Janji ya, sama saya, apapun yang terjadi, jika saya punya salah, maafin, ya. Saya benar benar lemah di pelukan kamu, Nis. Saya jatuh cinta sama kamu. Kalau nanti saya punya salah, jangan marah, ya," ucap laki laki itu memohon.
Anisa perlahan mulai menampilkan senyumannya. Ia kemudian mengangguk.
"Saya nggak sabar nunggu baby kita lahir. Saya nggak sabar ingin segera menikahi kamu," ucap Louis lagi. Anisa hanya tersenyum. Louis mulai kembali menggerakkan jari jari tangannya. Menyentuh bibir merah muda itu. Sebuah objek yang kini mulai menjadi fokus matanya. Jakun di lehernya bergerak naik turun. Jantungnya berdetak lebih cepat manakala hembusan nafas wanita itu terasa menerpa wajahnya.
Anisa tak bergerak. Sedangkan Louis kini mulai memiringkan wajahnya dan bergerak makin mendekat ke wajah Anisa.
"Louis," ucap Anisa lirih seolah takut dengan apa yang akan terjadi.
Louis tak menjawab. Bibir itu terlalu menggiurkan. Sepertinya setan memang mulai berkeliaran di ruangan itu.
Laki laki itu makin mendekatkan wajahnya. Anisa makin tak berkutik. Ingin lari tapi seolah ia tak mampu bergerak. Sedangkan tubuh keduanya kini semakin menempel. Louis makin mendekatkan wajahnya. Nyaris tak berjarak. Laki laki itu perlahan membuka mulutnya. Matanya terpejam. Dan.....
.
.
.
.
Buughh....
Louis menjatuhkan kepalanya di pangkuan Anisa.
"Haaaahhh...." Anisa membuang nafas panjang sembari menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa itu. Ia seolah baru saja menemukan pasokan udara.
Louis tersenyum sembari mengucap istighfar tepat di depan perut buncit Anisa. Ia tak mau kalah dengan setan. Ia tak mau seperti Luke yang seenaknya menjamah wanita tanpa adanya hubungan pernikahan.
Laki laki itu bangkit. Ia kembali mendudukkan tubuhnya di samping Anisa dengan kepala tersandar di sandaran sofa. Laki laki itu memejamkan matanya. Bibirnya mengulum senyum. Hampir saja ia khilaf.
Laki laki itu menoleh ke arah Anisa. Wanita itu nampak syok dengan apa yang baru saja terjadi. Louis terkekeh. Anisa terlihat malu malu.
"Udah, ah. Aku mau tidur!" ucap Anisa sembari bangkit dari posisi duduknya.
Louis terkekeh. "Masuk kamar sana! Jangan lupa kunci pintu!" ucap Louis. Anisa tak menjawab. Ia berlalu masuk ke dalam kamar utama itu. Ia menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
Louis terkekeh. "Sabar, Louis. Tinggal beberapa bulan lagi!" ucapnya seorang diri. Laki laki itu terkekeh lagi. Ia kembali mengucap istighfar di tengah malam yang makin larut itu.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...