(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
105


__ADS_3

Sepasang kekasih itu berlari menyusuri lorong rumah sakit. Menuju ruang ICU tempat dimana seorang Luke Edgar Davis kini tengah dirawat. Dari kejauhan, sayuk sayuk suara teriakan, makian, serta umpatan yang sangat jelas dari salah satu ruangan disana. Sepertinya Luke sedang mengamuk.


Anisa dan Louis sampai di depan ruang ICU. Anisa yang sejak tadi berlari sambil digandeng tangannya oleh Louis itu kemudian menghentikan langkahnya. Membuat laki-laki tampan berparas kebarat-baratan itu kemudian menoleh ke arah sang wanita.


"Ada apa?" tanya Louis.


"Louis, aku tunggu disini aja, ya," ucap Anisa yang seolah masih ragu untuk bertemu dengan Luke.


Louis diam sejenak. Ia kemudian tersenyum simpul sambil mengangguk pada Anisa.


Ya, ia tahu bagaimana perasaan Anisa. Mungkin wanita itu masih sedikit takut jika bertemu dengan kembarannya tersebut. Karena biar bagaimanapun, laki-laki itu sudah pernah menorehkan luka yang cukup dalam hingga berujung trauma bagi wanita cantik itu. Anisa memilih untuk menunggu di depan pintu ruang ICU. Ia mengintip dari sebuah kaca berbentuk persegi yang berada di pintu ruangan itu. Sedangkan Louis kini nampak masuk ke dalam ruangan tersebut, mendekati Luke yang terlihat histeris.


"PERGI LU SEMUA, ANJEEENK..! BALIKIN KAKI GUE! GUA NGGAK MAU CACAT! BANGS*T LU SEMUA! BALIKIN KAKI GUE!!!" teriak pria itu sambil mengobrak abrik ranjang pasiennya. Infus ditangannya bahkan sampai terlepas, membuat darah mengalir dari punggung tangannya. Gelas, obat, dan beberapa benda lain di atas nakas jatuh berserakan di lantai.


Louis terdiam melihat sang adik.


"GUE NGGAK MAU CACAAATT...!!! BALIKIN KAKI GUE!!"


"Tuan, tolong tenang!!"

__ADS_1


"Gue nggak mau cacat!!! Balikin kaki gue!!!"


Suara yang semula lantang itu perlahan memelan. Gerakan yang semula brutal tal terkontrol itu perlahan melemah. Sebuah suntikan bersarang di salah satu lengan Luke. Laki laki dengan sejumlah luka di badan itu perlahan mulai diam. Mulutnya berucap tak jelas. Dokter mulai membenarkan posisi tidur Luke agar lebih nyaman. Seorang perawat nampak membersihkan lantai yang kotor akibat gelas dan beberapa benda yang pecah akibat ulah Luke. Sedangkan satunya lagi nampak memperbaiki posisi infus pria dua puluh delapan tahun itu dibantu sang dokter.


Louis merasa sesak. Laki laki itu berjalan dengan langkah gontai mendekati saudaranya.


"Gue nggak mau cacat," suara itu terdengar semakin lirih. Mata itu sayu menatap ke arah Louis yang makin mendekati Luke. Dua pria berwajah hampir sama itu saling pandang. Louis menggerakkan tangannya, menyentuh wajah dengan luka perban di kepala itu. Setitik air mata menetes di pipinya melihat kondisi sang adik.


"Semua akan baik baik aja," bisik pria itu begitu lirih menahan luka. Ribuan belati seolah tertancap di punggung dan dadanya. Seburuk buruknya Luke, ia tetap adiknya. Sebej*t bej*tnya Luke ia tetaplah saudaranya. Luke dan Louis itu satu. Dan selamanya akan tetap seperti itu.


"Gue nggak mau cacat," ucap pria itu lagi.


Pupil mata pria bertato itu perlahan makin mengecil. Laki laki itu mulai tak bersuara. Efek obat yang dokter suntikkan itu pun bekerja. Luke terlelap. Suasana kamar pun kembali kondusif.


Air mata Louis kembali menetes tak terbendung. Pria itu menangis tanpa suara. Ia mengusap cairan bening itu. Seolah tak mau terlihat lemah.


Setragis inikah kisah sepasang kembar identik itu. Louis yang besar dengan penuh kasih sayang kini harus melihat adiknya terbaring mengenaskan di atas ranjang dengan hanya satu kaki. Tuhan menurunkan karmaNya. Memberi pelajaran untuk Luke yang seolah begitu bebal selama ini. Louis benar benar sesak. Jujur ia tak tega melihat nasib adiknya.


Adakah penyesalan dan pertaubatan dari Luke setelah ini. Tolonglah, entah darimana tabiat tak baik dari dalam diri Luke itu berasal. Tapi sebagai seorang saudara, Louis selalu berdoa, semoga ada setitik saja celah dalam hati Luke yang bisa ia sentuh. Agar saudara kembarnya itu bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah ini.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu, masih di bangunan yang sama di titik yang berbeda. Sebuah taksi berhenti tepat di depan bangunan rumah sakit. Menurunkan sesosok pria berjambang lebat yang nampak menunduk di balik kupluk hoodienya.


Pria yang terlihat misterius itu nampak berjalan memasuki lobby rumah sakit. Tak ada suara. Tanpa mendongak. Ia terus menunduk seolah tak mau berinteraksi dengan orang lain.


Laki laki itu, Betrand, ia berjalan menuju ruang ICU, tempat yang ia ketahui merupakan tempat dimana seorang wanita yang dulu sangat dicintainya kini tengah dirawat. Langkah kakinya lebar. Sorot matanya menatap lurus ke depan. Mimik wajahnya datar. Tak ada senyuman ataupun ekspresi lain yang laki laki itu tunjukkan.


Laki laki itu sampai di depan ruang ICU. Lagi lagi, tanpa suara, pria itu menatap ke dalam ruangan melalui sebuah kaca bening berbentuk persegi yang berada di pintu ruangan pasien dengan perawatan khusus itu.


Sorot mata Betrand tak tak terbaca. Ia hanya diam tanpa ekspresi melihat wanita cantik dengan beberapa alat bantu kesehatan itu terbaring lemah di atas ranjang ruangan itu.


.


.


.


"Harusnya kita sedang berbahagia hari ini," ucapnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2