(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
104


__ADS_3

Hari kembali berganti. Siang ini saat jam sudah menunjukkan pukul satu siang, sepasang pria dan wanita itu nampak turun dari kendaraan roda empat yang menjadi tunggangan mereka siang ini. Anisa mendongak, menatap bangunan tinggi tempat dimana ia sempat dirawat kurang lebih dua minggu yang lalu.


Louis turun dari kursi kemudinya. Laki-laki dengan penampilan yang lebih santai itu kemudian berjalan mendekati sang wanita idaman. Ia kemudian merangkul pundak Anisa dengan lembut.


"Masuk," ucap Louis.


Anisa tersenyum, lalu mengangguk. Keduanya pun melangkah bersama-sama menuju ke dalam rumah sakit tempat di mana kakek James berada. Anisa dengan sebuah parcel buah di tangan itu nampak mengikuti langkah kaki Louis.


Tak berselang lama, keduanya pun sampai di sebuah ruangan yang berada di lantai atas bangunan tinggi itu. Louis membuka pintu ruang rawat inap tersebut, lalu masuk ke dalamnya diikuti Anisa di belakangnya.


"Assalamualaikum," ucap Louis kala memasuki ruangan VVIP itu.


"Wa Alaikum Salam," jawab Kakek James yang nampak berbaring di atas ranjang. Louis mendekat, ia meraih punggung tangan laki-laki tua itu dan menciumnya sebagai tanda bakti. Anisa pun melakukan hal yang sama setelah meletakkan parcel buah di tangannya itu di atas nakas yang berada di samping ranjang.


"Kau datang kemari, Nak?" tanya Tuan James.


Louis tersenyum. "Louis mana bisa meninggalkan Kakek lama-lama, Kek," jawab pria itu.


Tuan James tersenyum.


"Kakek sudah makan?" tanya Louis sambil mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di samping ranjang, diikuti Anisa setelahnya.


"Sudah. Disuapi tantemu tadi sebelum pergi," ucap Tuan James.


Louis hanya mengangguk. "Bagaimana kondisi sepupu dan adikmu, Nak?" tanya Tuan James.


"Betrand sudah jauh lebih baik, Kek. Kalau Luke, Louis belum menjenguknya," ucap laki laki itu. Tuan James memang sudah mengetahui perihal kabar kedua cucunya yang sekarang tengah tidak baik-baik saja itu pasca sadar dari pingsannya beberapa waktu lalu. Laki laki tua itu sempat menangis dan mempertanyakan perihal keadaan Betrand. Louis yang kebetulan berada di tempat itu saat sang kakek bertanya itupun kemudian menceritakan semuanya kepada Tuan James dengan sangat tenang dan pelan-pelan. Ia juga menceritakan kondisi Luke saat ini. Sekalian, pikirnya.


Beruntung, Tuan James dapat menerima penyampaian yang lu sampaikan padanya kala itu. Meskipun sempat sedikit terkejut, tetapi laki-laki itu seolah bisa lebih tenang di tangan cucu kesayangannya tersebut.


Laki-laki tua itu kemudian menoleh ke arah wanita cantik yang sejak tadi hanya diam menunduk di samping cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Ini siapa?" tanya Tuan James.


Anisa mendongak. Louis menoleh ke arah wanita cantik itu. Sepasang mata makhluk Tuhan yang saling mencintai itu kemudian saling beradu pandang untuk beberapa saat.


Louis tersenyum. Ia kemudian meraih punggung tangan Anisa, lalu menoleh ke arah sang kakek.


"Ini Anisa, Kek. Wanita yang Louis sayang. Yang pernah Louis ceritakan sama Kakek dulu," ucap laki laki tampan itu.


Tuan James kembali menatap wanita sederhana itu.


"Assalamualaikum, Kek," ucap Anisa lembut.


"Wa Alaikum Salam, Nak," jawab pria itu terdengar sedikit lemah. Suaranya lembut, dibarengi sebuah senyuman yang terlihat tenang dan bersahaja dari wajahnya yang sudah keriput.


"Siapa namamu, Nak?" tanya pria tua itu.


"Saya Nisa, Kek," jawab wanita itu ramah dan sopan.


Tuan James tersenyum. "Terimakasih sudah datang kemari menjenguk saya,"


Tuan James mengangguk.


"Jangan terlalu banyak pikiran ya, Kek. Dijaga kondisinya. Biar cepet pulih," ucap wanita itu.


Obrolan dan perkenalan pun berlanjut. Louis memperkenalkan wanita cantik itu sebagai wanita pujaan hatinya pada sang kakek. Laki laki tua itu nampak tersenyum. Tak ada penolakan ataupun respon ketidaksetujuan yang laki laki itu tampilkan. Sang kakek tua sepertinya mampu menerima Anisa dengan ikhlas dan lapang dada.


Louis tidak menutupi apapun dari sang kakek. Ia juga menceritakan tentang masa lalu Anisa dan awal mula pertemuan keduanya yang berawal dari salah paham akibat ulah Luke. Louis juga terang-terangan menyatakan bahwa kini Anisa sudah memiliki seorang putra yang tak lain dan tak bukan adalah anak kandung dari Luke. Semua Louis ceritakan tanpa ada yang ditutup tutupi. Tentu baginya itu akan jauh lebih baik sebelum nantinya sang kakek tahu dari orang lain. Tentunya, Louis menjelaskan semua itu pada kakeknya dengan kata-kata dan kalimat yang lembut dan pelan, menjaga agar sang kakek tidak terkejut dan kembali sakit. Anisa juga membantu menjelaskan lada sang kakek tentang apa yang terjadi diantara ia dan si kembar itu.


Tuan James hanya mengangguk. Ia paham sekarang. Alih alih menolak, laki laki itu justru meminta maaf pada Anisa atas apa yang sudah Luke lakukan padanya. Sebagai seorang kakek, ia juga menyesalkan perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh salah satu cucu kandungnya itu. Laki laki itu juga berpesan pada Louis, jika memang ia mencintai wanita di sampingnya itu, maka jagalah ia, dan jangan sia siakan wanita malang itu. Tuan James mewanti wanti cucunya untuk menjadikan wanita itu sebagai satu satunya wanita dalam hatinya kelak. Ia yakin, Louis tak salah pilih. Ia sangat percaya dengan cucu kebanggaannya itu. Tuan James juga meminta agar pernikahan segera di langsungkan agar tidak menimbulkan fitnah sekaligus memberi rasa aman bagi Anisa agar tidak dipandang sebelah mata karena memiliki bayi namun tak memiliki suami.


Anisa merasa lega. Rupanya respon Tuan James begitu menyejukkan jiwanya. Tuan James sangat baik. Ia sangat bijak dan lembut. Kini ia tahu, darimana sifat dan karakter dalam diri Louis itu di turunkan. Tak lain dan tak bukan adalah dari kakeknya sendiri. Kepribadian dua pria beda usia itu sangatlah mirip. Anisa benar benar beruntung dipertemukan dengan Louis.

__ADS_1


Cukup lama ketiga anak manusia itu saling berbincang. Hingga saat jam menunjukkan pukul setengah tiga sore, Anisa pun pamit untuk pulang. Ada baby Gerhana yang mulai rewel di rumah. Ia yang hanya diasuh oleh nenek Ranti dan Tami sepertinya mulai mencari cari ibunya. Tami yang mengabarinya tadi.


Anisa pun pamit pulang. Louis pun kemudian ikut pamit mengantar wanita kesayangannya itu. Sepasang kekasih yang kini semakin mantap untuk segera menikah itu kemudian keluar dari ruang rawat inap tersebut. Keduanya berjalan menyusuri lorong, berniat untuk menuju lift yang berada di sana untuk turun ke lantai bawah dan segera pulang.


"Huufftt...lega!" ucap Anisa sambil mengayunkan kakinya.


Louis merangkul pundak wanita itu.


"Udah aku bilang, kan. Semua akan baik baik aja. Kakek itu baik banget, Sayang," ucap Louis.


Anisa terkekeh ia mulai sedikit bermanja manja, sedikit menggelayut di tubuh tegap pria itu sambil terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Iya. Aku pikir kakek kamu galak," ucap Anisa.


Louis terkekeh. "Ya enggak lah. Dia baik banget, bijak, manis pula. Kayak aku!" ucap pria itu.


"Dih.." jawab Anisa. Keduanya pun tergelak. Tiba tiba...


"Louis!"


Suara itu sedikit mengagetkan sepasang calon pengantin itu. Louis dan Anisa menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan, menoleh ke belakang. Dilihatnya disana, Tuan Steve nampak berlari mendekati cucu pertama kelurga Davis itu.


"Om," ucap Louis.


Tuan Steve berhenti di depan Louis.


"Ada apa, Om?" tanya Louis.


Tuan Steve diam sejenak, mengatur nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.


"Luke! Dia udah sadar. Sekarang dia ngamuk di ruangannya. Lihat adikmu sekarang, Nak!"

__ADS_1


Deeeghh..


...----------------...


__ADS_2