(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
026


__ADS_3

NB: Nulisnya agak buru buru, kalau ada Typo, kabarin, ya...🥰


Sore menjelang, di sebuah kamar kost tempat tinggal sementara wanita hamil itu. Anisa nampak tengah sibuk dengan beberapa kain di hadapannya. Ia terlihat begitu telaten menyetrika beberapa pakaian yang baru saja selesai ia jemur. Salah satu diantaranya adalah sebuah kaos hitam milik laki laki yang semalam menginap di teras kamar kostnya, Louis.


Ya, untuk kedua kalinya ia mencuci kaos pria itu setelah sebelumnya ia sempat mencuci satu kaos Louis yang terkena tumpahan kopi.


Entah mengapa sejak tadi senyuman mengembang di bibirnya. Kaos hitam itu sejak tadi hanya dibolak-balik, disemprot parfum, disetrika, disemprot parfum lagi, disetrika lagi, dan begitu seterusnya. Anisa sesekali juga terdengar bersenandung ria. Seolah menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbunga-bunga. Hingga tiba tiba...


Drrrrttt... Drrrrttt...


Ponsel di atas kasur busa itu bergetar. Anisa lantas meraih benda pipih tersebut. Sebuah panggilan WhatsApp dari Tami masuk ke dalam ponselnya. Wanita itu tersenyum, dengan segera ia mengusap tombol hijau di sana dan meletakkan ponsel itu di telinganya.


"Assalamualaikum," sapa Anisa terdengar ceria.


"Wa Alaikum Salam...! Ceria banget, Nis, kedengarannya?" tanya Tami dari seberang sana.


Anisa tersipu malu. "Biasa aja!" jawab Anisa.


Tami diam sejenak. Seolah tengah menerka nerka apa yang terjadi pada sahabat baiknya itu.


"Nis," ucap Tami.


"Apa?" tanya Anisa.


"Tahu nggak, ada gosip baru, kamu harus denger!" ucap Tami mulai mengajak sang sahabat untuk mengghibah.


Anisa nampak mengernyitkan dahinya.


"Gosip apa?" tanya wanita hamil itu.


"Tahu nggak, aku denger denger dari anak anak senior disini, katanya Bu Jesslyn sama Luke itu baru aja putus!" ucap Tami terdengar begitu serius membuat Anisa terdiam seketika. Ia menghentikan pergerakan tangannya yang asyik melipat kaos hitam milik lelaki tampan yang kini tengah menjadi bahan ghibah ia dan Tami.

__ADS_1


"Kamu serius?" tanya Anisa.


"Serius, Nis! Anak anak yang bilang. Makanya Bu Jesslyn tuh pulang dari liburan nggak bareng Luke. Dan beberapa hari terakhir ini tuh Bu Jesslyn uring uringan terus. Dan lebih parahnya lagi, katanya mereka itu putus karena Luke ketahuan selingkuh!" tandas Tami.


Deeghh...


Anisa terdiam. Berbagai pemikiran seketika berkecamuk di kepalanya. Luke putus dengan Jesslyn? Laki laki itu selingkuh? Apa benar.


Jika Luke benar benar selingkuh, lalu siapa selingkuhannya? Luke punya wanita lain selain Jesslyn? Jika iya, berarti Anisa juga bukan wanita satu-satunya yang didekati oleh Luke akhir akhir ini?


Kok bisa? Luke selalu terlihat baik jika bersama Anisa. Laki laki itu terlihat seperti laki laki sempurna jika sedang bersama Anisa. Tingkah lakunya, tutur katanya, semuanya. Anisa bahkan seolah lupa jika laki laki itulah yang sudah menghancurkan hidupnya. Luke yang dulu seolah berbeda seratus delapan puluh derajat dari Luke yang sekarang. Masa iya Luke selingkuh. Atau jangan jangan, Anisa sendiri yang dianggap selingkuhan Luke? Mereka putus karena Jesslyn tahu Luke sering mengunjungi Anisa? Begitukah?


Anisa nampak meremas kaos di bagian dadanya. Perasaannya jadi tak enak. Perbincangannya dengan Tami pun terhenti. Anisa justru sibuk dengan pemikirannya sendiri, tentang Luke yang seolah memiliki banyak teka-teki di mata Anisa. Sikapnya kini seolah berbeda seratus derajat dari Luke yang dulu ia kenal saat masih bekerja di cafe.


Ya, walaupun mereka baru bertemu satu hari kala itu, tapi dari peristiwa naas di malam itu Anisa seolah bisa menyimpulkan bahwa Luke adalah laki-laki bej*t yang tak memiliki moral. Sangat jauh berbeda dengan Luke yang sekarang, yang terlihat manis, lembut, penyayang, perhatian, dan sepertinya juga taat agama. Apa benar semua ini hanya karena alkohol? Alkohol bisa mengubah perangai seseorang yang alim berubah menjadi iblis dalam hitungan jam? Entahlah, Anisa bingung.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah, Louis nampak menggeliat di atas kasurnya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan laki laki itu baru membuka matanya setelah tidur sejak pagi. Ia benar benar menggunakan waktu istirahatnya hanya untuk menyelami alam mimpi.


Louis mendongak, tangannya bergerak gerak mencari seonggok benda pipih canggih miliknya.


Ketemu...! Itu ponselnya...!


Louis lantas membuka ponselnya. Dilihatnya disana beberapa pesan dan panggilan nampak menumpuk dari beberapa nomor yang ia kenal. Louis diam sejenak. Dua diantara nomor nomor itu adalah nomor Anisa dan Luke.


Louis tersenyum. Dibukanya beberapa pesan dari Anisa lalu membacanya.


"Selamat sore,"


"Kok nggak dibalas?"

__ADS_1


"Lagi sibuk, ya?"


"Ya udah kalau gitu, kayaknya sibuk. Besok aja. Maaf, mengganggu 🙏"


Louis tersenyum membaca serentetan pesan itu.


"Aku baru bangun tidur, Nis. Takut banget kalau ngerepotin kamu tuh. Selalu ada kata maaf di setiap ucapan kamu," ucap Louis sambil tersenyum. Ia kemudian menuliskan sebuah pesan balasan untuk wanita hamil itu.


"Dimaafin,"


"Saya juga minta maaf deh kalau gitu. Tadi saya ketiduran, baru bangun, jadi baru bisa balas chat kamu,"


"Ada apa?" balas Louis pada pesan Anisa.


Selesai dengan pesan Anisa, Louis lantas membuka pesan dari Luke. Serentetan pesan dengan bunyi tulisan kasar nampak tertera di room chatnya dengan saudara kandungnya itu. Luke mengumpat, mencaci maki sang kakak dengan kata-kata yang kurang pantas untuk diucapkan.


Louis menajamkan pandangannya menatap layar ponselnya.


"Anj*nk lu!"


"Ngapain lu celamitan masuk ke ruangan gue, bangs*t?!"


"Cari apa lo?"


"Setan!"


"Bab*!"


"T*i!"


Dan masih banyak lagi. Louis menghela nafas panjang membaca seluruh pesan itu. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, menuliskan sebuah pesan balasan untuk sang saudara kembar.

__ADS_1


"Pulang!"


...----------------...


__ADS_2