
Rhea diam seribu bahasa. Ia sama sekali tak menjawab ucapan dari laki laki yang sama sekali tak menunjukkan rasa penyesalan di wajahnya itu. Bukankah Luke juga aktor utama atas semua masalah ini? Andai Luke bersedia menjauhi dirinya sesuai dengan perjanjian yang dulu pernah mereka buat saat awal terjadi perselingkuhan, mungkin semua tak akan jadi seperti ini. Kebusukan Rhea tak akan terbongkar. Ia dan Betrand pasti sudah menikah dan berbahagia sekarang.
Tapi lihatlah, sekarang semua berantakan hanya gara gara sehelai Luke yang tak tahu diri.
Rhea muak. Rhea marah. Rhea benar benar benci dengan pria di hadapannya ini. Ia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Ia sudah menghancurkan masa depan Rhea. Merusak hubungannya dengan Betrand. Laki laki ini pantas mati!!
Wanita yang sepertinya kini mulai depresi itu nampak merogoh sesuatu dari dalam kantong hoodie abu abu miliknya. Sorot matanya masih menatap tajam ke arah Luke yang sibuk dengan kemudi mobilnya.
Tangan itu bergerak perlahan. Mengeluarkan sebilah pisau yang ia bawa di dalam saku hoodienya sejak tadi. Dada wanita itu nampak naik turun. Sorot matanya tajam penuh kebencian. Bayang bayang ancaman yang laki laki itu layangkan, serta bayang bayang Betrand yang pergi meninggalkan dirinya di malam pilu itu, semua menari nari dalam ingatannya. Setan seolah berbisik dalam diri Rhea,
"Bunuh dia! Dia pantas mati! Jika kamu tidak bahagia, maka dia juga tidak boleh menikmati hidupnya! Mati! Dia harus mati..!!"
Rhea makin tak terkendali. Dengan cepat ia mengeluarkan pisau dari dalam saku hoodienya dan mencoba menancapkannya di pundak Luke. Namun....
Seeett....
Ciiiittt....
"Heeeeyyy..!!!!"
Laki laki itu reflek mengelak. Rhea menyerangnya dengan gerakan tiba-tiba.
"Anj*nk! Lu ngapain, bangs*t??!!" umpat Luke sambil satu tangannya menahan tangan Rhea yang terus berusaha melukainya dengan pisau itu, sedangkan satu tangan lainnya nampak memegang kemudi mobilnya.
"Rhea, lu jangan gila! Setan!!" umpat Luke sambil terus mengemudi. Mobil itu mulai melaju tak tentu arah. Luke sibuk mencoba mengelak dari Rhea yang makin membabi buta. Wanita itu terus berusaha menyerang Luke. Ia bahkan kini mulai menangis. Wanita itu bahkan terlihat seperti orang gila sekarang.
"Rhea...!!!"
"Lu harus mati!! Gara gara lo hidup gue hancur!!!" ucap Rhea penuh kebencian. Matanya melotot. Dadanya bergemuruh. Air matanya mengalir. Ia terus berusaha menyerang laki laki itu. Luke terus berusaha mengelak. Pertikaian di dalam mobil yang melaju pun terus terjadi. Hingga......
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Ciiiiiittttt............
Luke melotot menatap lurus ke depan. Tepat di mana sebuah kendaraan besar kini mendekat ke arah mobilnya dalam kecepatan tinggi. Rupanya kendaraan yang ia kemudikan sudah keluar dari jalur yang semestinya. Sorot lampu truk tronton besar itu terasa menyilaukan mengenai mata Luke. Laki laki itu reflek membanting setir. Mencoba mengindari tabrakan dengan truk besar bermuatan berat itu. Namun....
Braaaaaakkkk.....
Tabrakan tak terelakan. Truk besar itu keburu menabrak bodi samping sebelah kiri kendaraan mewah itu. Tepat di mata Rhea yang tengah hamil muda itu berada. Mobil itu ringsek. Terlindas kendaraan besar dan panjang yang tak bisa melakukan pengereman secara maksimal. Kaca kaca nampak pecah. Dua orang yang berada di dalam mobil mahal itu tak bergerak. Darah tercecer dimana mana, sebagian bahkan mengalir ke aspal jalan. Tubuh Rhea terjepit. Sedangkan Luke nampak tak sadarkan diri dengan satu kaki terhimpit bodi mobil yang tergilas ban tronton. Beberapa pengendara yang melintas nampak menghentikan laju kendaraan mereka. Sebagian turun dan mendekat, termasuk seorang pemuda berseragam SMA yang kebetulan tengah dalam perjalanan menuju rumah sepulang sekolah, Anjas. Beberapa warga yang berada di sana pun ikut mendekat. Kondisi sepasang pria wanita itu nampak mengenaskan. Membuat beberapa orang disana pun sedikit merinding dibuatnya.
"Astaghfirullah haladzim..! Kita coba keluarkan, Pak. Kasihan sekali mereka," ucap salah seorang warga.
"Iya, Pak. Sekalian kita cari identitasnya. Biar kita bisa segera menghubungi keluarganya," tambah salah satu warga lagi disana.
Beberapa orang disana pun mulai bergerak. Sedangkan Anjas yang berada di tempat itu nampak mematung. Ia hafal betul mobil itu meskipun belum melihat jelas sosok yang berada di dalamnya. Pemuda itu kemudian merogoh saku celananya. Ia bergerak mundur, menjauh dari kerumunan lalu mulai menghubungi kawan sekaligus orang yang paling ia patuhi perintahnya, Elang!
Tuutt.... Tuutt.....
__ADS_1
"Anjaaaayyyyy.....!! Apa Njaayy...???" ucap Elang dari seberang sana.
Anjas tak menjawab candaan pria gondrong itu.
"Bang! Ada berita penting!" ucap Anjas terdengar sangat serius.
Elang yang tengah asyik mengerjakan tugas kuliah di tongkrongan ditemani sebotol bir itu nampak menggigit pulpennya.
"Berita apasih? Sepenting ape?!" tanya Elang.
"Ada kecelakaan di jalan, Bang! Mobilnya Luke! Tapi gue nggak tahu siapa yang ada di dalam! Katanya dua orang, cewek ama cowok, Bang!"
Deeghh....
Elang diam. Wajahnya mulai memasang mode serius.
"Lu serius?" tanyanya.
"Serius, Bang! Ngapain gue bohong!" jawab Anjas.
"Lu dimana sekarang?" tanya Elang.
"Di jalan X, Bang! Kayaknya polisi bentar lagi juga bakal kesini," jawab Anjas. "Ini diluar prediksi kita. Kita nggak niat bikin mereka tabrakan kan, Bang? Kayaknya bakalan ada yang mati deh, Bang. Lukanya parah banget!"
"Eh, tolol, lu ngomong apa? Jangan sembarangan kalau ngomong! Kalau di sekitar lo ada yang denger gimana? Kecelakaan nggak ada sangkut pautnya ama kita. Gue cuma ngadu domba biar mereka saling buka aib masing masing. Kalau sekarang mereka celaka ya bukan salah gue. Mungkin itu bantuan Tuhan buat kita. Anggap aja itu karma!" ucap Elang yang kini mulai bangkit.
"Sekarang mending lu tenang. Lu pulang aja. Biar gue ke sana ama anak anak. Nggak usah panik lu. Kita nggak terlibat apa apa disini!" ucap Elang.
Anjas mengangguk. "Iya, Bang!"
__ADS_1
Sambungan telepon pun terputus. Elang menenggak alkoholnya sekali lagi. Ia kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu beserta tugas tugas kuliahnya. Ia bahkan sama sekali tak punya niat untuk membereskan buku buku itu. Ia lebih memilih untuk segera pergi menuju tempat terjadinya kecelakaan maut yang Anjas sebutkan tadi.
...----------------...