(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
034


__ADS_3

Pagi menjelang. Sinar mentari yang mulai menghangat itu nampak masuk ke dalam kamar luas milik pria dua puluh delapan tahun di sana. Menembus pintu kaca yang menjadi pembatas antara kamar tidur dan balkonnya.


Louis bersiul ria. Ia berjalan mendekati cermin besar di kamarnya itu sembari mengenakan jas hitamnya. Diamatinya penampilannya yang sudah paripurna. Laki laki itu mengulum senyum tak jelas. Sebuah senyuman yang sejak semalam selalu tersungging dari bibirnya. Louis meraih sebuah parfum mahal yang berada diatas meja. Ia memainkannya, melempar ringan botol parfum itu hingga berputar sejenak di udara. Disemprotkannya parfum itu ke tubuh tegap atletisnya. Laki laki itu kemudian kembali merapikan pakaiannya itu. Lagi, senyuman terbentuk dari bibirnya. Entahlah, moodnya sedang sangat baik pagi ini.


Louis meraih ponsel di atas meja lalu membukanya. Sebuah pesan balasan dari nomor dengan foto profil boneka beruang masuk ke dalam ponselnya.


"Selamat pagi juga, Joker!" bunyi pesan itu.


Ya, Louis memang sempat mengirimkan pesan untuk Anisa pagi tadi. Dan wanita itu baru menjawabnya sekarang. Louis terkekeh. Sembari mengayunkan kakinya keluar dari kamar, ia menggerakkan tangannya mengetikkan pesan balasan untuk wanita hamil yang semalam menemaninya di taman kota itu.


"Jahat ya kamu, enak aja manggil orang Joker!" tulisnya sambil terus mengulum senyum.


Louis sampai di meja makan. Dilihatnya di sana Tuan Steve, Nyonya Martha, serta Betrand sudah menunggunya. Laki laki itu lantas menetralkan ekspresinya. Dimasukkannya ponsel itu ke dalam saku celananya. Ia kemudian mendekati keluarga sepupunya itu dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di sana.


"Pagi, Om, Tante, Bro!" sapa Louis tanpa dosa.


Steve, Martha, dan Betrand menatap datar ke arah Louis. Louis yang hendak meraih selai di atas meja lantas menoleh ke arah tiga manusia yang kini menatapnya aneh itu.


"Apa? Ada apa?" tanya Louis sedikit bingung.


Tuan Steve menghela nafas panjang. "Kamu semalam kemana? Kenapa kamu ninggalin Tasya sendirian? Dia nyariin kamu loh," ucap Steve tenang.


Louis diam sejenak. Ia membuka mulutnya dengan otak yang bekerja cepat mencoba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Tuan Steve.


"A, oh, itu. Kemarin aku mendadak sakit perut, jadi aku pulang duluan. Maaf, lupa ngasih tahu. Buru buru soalnya!" jawab Louis sekenanya saja. Ia kembali menggerakkan tangannya meraih selai di atas meja. Martha, Steve, dan Betrand masih mengarahkan pandangan mata mereka pada pria itu. Betrand yang berada di samping Louis bahkan berdecih pelan sembari membuang muka. Ia mengenal Louis bukan sehari dua hari. Tapi sudah puluhan tahun sejak pertama kali ia melihat dunia. Ia hafal betul bagaimana Louis itu.

__ADS_1


"Alasan kamu itu konyol, Louis. Masa iya kamu tiba tiba pergi dari acara itu dengan alasan sakit perut?! Kamu nggak sadar apa, Tasya tuh jadi sedih tahu nggak gara gara ulah kamu yang main pergi gitu aja ninggalin dia. Dia tuh berharap banget kamu ada di sana pas dia merayakan pergantian usianya. Lah ini, kamu baru beberapa menit ada di sana udah main pergi aja. Mana Tasya nya kamu tinggalin lagi di pinggir kolam. Kalau keluarganya tersinggung gimana?" ucap Martha sedikit kesal.


Louis menoleh ke arah sang tante, lalu tersenyum manis.


"Iya, aku minta maaf, Tante. Nanti aku akan hubungi Tasya. Aku akan minta maaf sama dia dan menjelaskan semuanya," ucap Louis menenangkan perasaan wanita paruh baya itu.


Martha menghela nafas panjang.


"Sudah, sudah. Tidak usah berdebat di meja makan!" ucap Steve menengahi. "Louis, setelah ini kamu harus menghubungi Tasya. Takutnya nanti ada salah paham dan membuat keluarga Wijaya tersinggung. Om nggak mau itu terjadi. Nggak enak!" ucap Steve.


"Iya, Om," jawab Louis.


Keluarga itupun lantas memulai sarapan mereka bersama sama. Sekitar kurang lebih 11 menit berselang Steve bangkit dari posisi duduknya kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dengan Martha, Betrand, serta Louis. Laki-laki itu berangkat terlebih dahulu menuju salah satu kantor cabang perusahaan yang Louis pimpin.


Sedangkan Louis, laki laki itu menyusul beberapa menit kemudian setelah berpamitan dengan sang kakek yang berada di kamar pribadinya.


"Lu nggak ngantor?" tanya saudara kandung Luke itu.


Betrand menggelengkan kepalanya. "Gue mau nganter Rhea ke bandara hari ini. Dia mau balik. Toh jadwal lu juga nggak padat padat amat kan hari ini," ucap laki laki berjambang tipis itu sembari menyeruput susu putih di hadapannya.


Louis mengangguk samar. "Oke! Ya udah, kalau gue cabut duluan, ya!" ucap Louis sembari mendekati sebuah meja di salah satu sudut ruangan dan mengambil satu buah kunci mobil yang tergeletak di sana. Betrand tak menjawab. Ia hanya mengangkat satu lengannya tinggi seolah memberi salam perpisahan pada sepupunya itu. Namun baru beberapa langkah Louis berjalan menjauh dari meja makan, laki laki itu kembali menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan, mendekati sang sepupu yang kini menatap ke arahnya.


"Apa?" tanya Betrand.


Louis menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain di ruangan itu. Ia kemudian menoleh ke arah Betrand dan mulai berbicara dengan suara pelan.

__ADS_1


"Tolong lu hubungin Bu Susi. Bilang sama dia, mulai hari ini gue minta dia datang ke apartemen tiap hari. Jam nya sama. Dan bilang sama dia, suruh dia masak yang enak buat makan malam nanti. Gue akan ke apartemen sore nanti sepulang dari kantor," ucap Louis.


Betrand diam sejenak. "Ada apaan nih? Kenapa lo tiba tiba minta Bu Susi kerja tiap hari? Lo mau pindah ke apartemen?" tanya Betrand.


Louis tersenyum. "Bukan gue, tapi Anisa," jawabnya.


Betrand mengernyitkan dahinya. "Anisa lagi?" tanyanya.


Louis mengangkat kedua belah pundak dan lengannya. "Ya! Kenapa?" tanya Louis.


Betrand berdecih. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi meja makan itu dan menatap sinis ke arah Louis.


"Saran gue, mau lu dengerin atau nggak, jangan terlalu dekat sama dia. Awalnya sih gue mikir mending lu yang nikahin Anisa, tapi setelah gue pikir pikir itu akan sangat nggak aman buat lo dan keluarga ini."


"Sadar, lu melihara Anisa sampai detik ini buat lu nikahin ama adik lo. Itu nggak masalah. Mereka cocok. Luke yang berbuat, harusnya emang Luke yang bertanggung jawab. Tapi yang jadi masalah adalah seringnya lu ketemu ama Anisa!"


"Kalau sampai lu yang jatuh cinta ama perempuan itu karena seringnya lu ngabisin waktu berdua ama dia, itu bahaya. Lo udah diharapkan untuk berjodoh ama Natasya, asal lo tahu. Kalau sampai ada perasaan antara lo ama Anisa, kacau semua!" ucap Betrand.


"Dua keluarga bisa perang dunia. Karir lu terancam kalau sampai orang orang tahu lo deket ama perempuan yang hamil di luar nikah. Mana yang ngebuntingin mukanya sama lagi ama lu! Bahaya! Bisa bisa orang orang mikir elu yang emang hamilin dia!"


Louis tak menjawab.


"Louis, lo itu pewaris. Lu punya tanggung jawab yang besar. Nggak kayak Luke yang seolah nggak dianggap ada di keluarga ini. Lo itu harapan. Harapan kakek dan semua anggota keluarga di rumah ini. Jangan sampai lo ngecewain kita." tambah Betrand panjang lebar. Sedangkan Louis tak menjawab. Ini salah satu hal yang ia tak suka. Kasta dan latar belakang seolah menjadi pembeda yang begitu mencolok dalam lingkup keluarganya. Setiap ia membahas Anisa, Betrand selalu menceramahinya. Membuatnya makin pusing saja.


"Gue udah masukin anak buah gue ke bar nya Luke. Dia akan mulai bekerja cari bukti kegiatan terlarang di tempat itu. Gue harap, dia bisa segera pulang deh. Biar dia segera bisa ketemu sama Anisa dan nikahin perempuan itu. Biar lu juga nggak perlu lagi sering sering ketemu ama Anisa. Gue takut lu kebablasan!" ucap Betrand.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2