(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
035


__ADS_3

Sore hari menjelang Maghrib. Di depan rumah sederhana dengan sebuah spanduk bertuliskan "Salma Catering", wanita lumpuh yang hanya mampu beraktivitas di atas kursi roda itu nampak memeluk erat wanita hamil di hadapannya sebagai ucapan perpisahan.


Ya, sore ini tiba tiba saja Anisa menyambangi rumahnya bersama Louis. Anisa berpamitan, ia menyatakan bahwa ia akan ikut dengan Louis untuk tinggal di apartemen milik laki laki itu. Louis yang datang mendampingi Anisa pun juga membenarkan hal tersebut. Ia memberikan penjelasan pada Salma dan Almeer tentang niatannya untuk membawa Anisa pindah. Ia mengatakan bahwa ia melakukan hal tersebut adalah untuk menjaga Anisa agar terhindar dari gunjingan orang orang sekitar ketika suatu saat perut wanita itu mulai membuncit.


Salma dan Almeer yang belum begitu mengenal Louis pun hanya bisa menghela nafas panjang. Sebenarnya ia ragu untuk melepaskan Anisa. Ia takut terjadi sesuatu dengan wanita itu, mengingat Anisa tak memiliki siapa siapa di kota ini.


Namun sepertinya Anisa begitu percaya pada Louis. Membuat Salma dan Almeer pun mau tak mau harus melepaskan Anisa. Mereka hanya bisa berdoa, semoga Anisa bahagia dan bisa mendapatkan kebahagiaan serta keadilan yang ia cari cari selama ini.


"Kamu jaga diri kamu baik baik di tempat tinggal kamu yang baru ya, Nis," ucap Salma sembari mengusap usap punggung wanita itu.


"Iya, Tante. Makasih banyak udah ngasih tumpangan ke aku selama ini," jawab Anisa.


"Sama sama, Nak. Kalau ada apa apa, jangan lupa hubungi Tante. Pintu rumah Tante selalu terbuka untuk kamu," ucap wanita di atas kursi roda itu.


Anisa mengangguk. Keduanya makin mengeratkan pelukan masing masing.


Louis dan Almeer datang dari rumah kost Anisa. Louis nampak menenteng tas ransel serta dua boneka milik Anisa. Satu boneka beruang yang Anisa bawa dari kampung, dan satu lagi adalah boneka lucu pemberian Louis. Anisa dan Salma saling melepaskan pelukannya.


Laki laki berparas rupawan itu lantas memasukkan barang barang milik Anisa ke dalam bagasi mobilnya. Setelah selesai, ia lantas menghampiri wanita di atas kursi roda itu.


"Tante, saya izin bawa Anisa ikut sama saya. Terimakasih sudah memberikan tumpangan dan pekerjaan untuk Anisa selama ini," ucap Louis terdengar begitu lembut. Dari tutur kata dan tindak tanduknya, sepertinya laki laki ini memanglah laki laki yang bertanggung jawab. Ya, mungkin tragedi pemerkosaan yang terjadi pada Anisa dulu memanglah karena kekhilafan. Mungkin karena laki laki itu tengah dalam kondisi mabuk kala itu, membuatnya tak sadar akan apa yang ia perbuat pada wanita polos seperti Anisa.


Salma tersenyum lembut. "Iya, sama sama. Saya juga titip Anisa sama Tuan. Tolong jaga dia. Jangan sia-siakan dia lagi. Dia adalah gadis baik yang hanya ingin mendapatkan keadilannya. Saya titip Anisa, Tuan. Dia sudah seperti anak saya sendiri," ucap wanita itu.


Louis tersenyum. "Saya akan menjaga Anisa dengan sebaik mungkin, Tante," ucap Louis.


Salma tersenyum lalu mengangguk. Anisa dan Louis lantas berpamitan. Keduanya kemudian masuk ke dalam kendaraan mewah itu dan bergegas pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1




Sepanjang perjalanan, keduanya asyik berbincang bincang santai sambil tertawa tawa. Sepertinya hubungan diantara keduanya memang makin dekat dan hangat saja, seolah keduanya memiliki kenyamanan yang sama ketika tengah berdua. Anisa adalah sosok pendengar yang baik. Tutur kata dan ucapan yang keluar dari bibirnya semua terdengar menyejukkan.


Sedangkan Louis si pria tenang dan pekerja keras itu seolah menemukan tempat yang cocok untuk berbagi cerita. Berbagi kisah dan penatnya atas segala rutinitas pekerjaan serta tuntutan yang membebani pundaknya sebagai pewaris Davis Corp.


Laki laki itu seolah menemukan sisi lain kehidupan yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Louis yang sejak kecil hidup di lingkungan pebisnis serta tumbuh dan besar di tengah bayang bayang nama besar keluarga Davis seolah kini menemukan figur yang berbeda. Sosok wanita sederhana dari desa terpencil yang jauh dari kata glamor dan mewah. Hidupnya serba pas pasan bahkan nyaris kurang. Drama Kehidupannya miris namun ia tetap bisa berdiri dengan kokohnya. Bahkan dengan berani ia melangkah melawan arus. Jauh jauh datang ke ibu kota hanya demi meminta pertanggungjawaban seorang laki laki yang entah dimana rimbanya kini. Jujur, Louis memang mulai mengagumi sosok wanita ini. Namun sepertinya laki laki itu belum menyadari akan hal itu.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Louis memarkirkan kendaraan roda empat itu di basemen apartemen. Sepasang pria wanita itu lantas turun dari tunggangan mereka. Louis membuka bagasi dan mengeluarkan satu ransel hitam serta dua buah boneka kesayangan Anisa.


Anisa membawa dua bonekanya, sedangkan Louis nampak menggantungkan ransel hitam itu di bahu kanannya. Tangan kiri Louis tergerak. Tanpa sadar ia meraih lengan Anisa lalu menggandengnya menuju unit apartemen Louis yang berada di lantai dua belas bangunan tinggi itu.


Degh... degh... degh...


Jantung Anisa berdebar hebat manakala telapak tangan kekar itu menggenggam telapak tangannya yang tak seberapa itu. Wanita itu diam dan pasrah. Ia tidak menolak manakala Louis mulai menarik tubuhnya tanpa menoleh. Laki laki itu membawa Anisa memasuki area dalam apartemen itu, menuju sebuah kotak besi besar yang akan membawa keduanya menuju lantai tempat di mana unit apartemen milik Louis berada.


Wanita itu kini mulai berfikir, mungkin Louis sebenarnya memang pria baik. Kejadian diantara mereka di malam naas itu terjadi mungkin karena Louis sedang dalam pengaruh minuman keras. Mungkin memang benar, alkohol memang bisa membuat orang yang mengkonsumsinya jadi gila. Dan Louis adalah contohnya.


Anisa diam diam mengulum senyum samar tanpa melepaskan pandangannya pada wajah pria tampan itu. Louis yang menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya itu lantas menoleh ke arah wanita cantik itu. Dilihatnya disana Anisa nampak tersenyum. Tetap terlihat manis walaupun senyuman yang terbentuk hanya setipis rambut bayi. Louis mengangkat dagunya seolah bertanya "apa?"


Anisa menggelengkan kepalanya tanpa mengubah arah pandang dan posisi tubuhnya. Kepalanya miring, senyuman makin mengembang, membuat laki laki itu kini jadi salah tingkah dibuatnya.


Louis memalingkan wajahnya. Mukanya merah bak kepiting rebus. Ia menggigit bibir bawahnya menahan perasaan yang bergejolak di dadanya. Ah, kenapa wanita ini lucu sekali, batinnya.


Ah elah, Nis, jangan gitu lah lihatinnya, jadi lemes itu dengkul anak orang🤭🤣

__ADS_1


Tingg...


Pintu lift terbuka. Louis kembali mengayunkan kakinya hendak keluar dari kotak besi raksasa itu. Namun tiba tiba,


Louis menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya telapak tangannya sendiri. Ia baru sadar, rupanya sejak tadi ia menggenggam telapak tangan Anisa.


Louis kemudian menatap paras ayu itu. Sepasang pria wanita itu saling diam untuk beberapa saat seolah sibuk dengan pemikiran mereka masing masing. Lalu...


Seettt...


Louis melepaskan tangannya atas Anisa. Wanita itu nampak menunduk dengan wajah merah merona.


"So, sorry..." ucap Louis terbata bata. Entah mengapa ia mendadak jadi canggung.


Anisa tersenyum lalu mengangguk. Louis nampak menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.


"Kita... keluar, ya.." ucapnya terdengar kikuk.


Anisa mengangguk lagi. Louis mengangkat lengannya, meminta Anisa untuk berjalan keluar lift terlebih dahulu. Namun wanita itu nampak menggelengkan kepalanya. Ia justru meminta Louis untuk berjalan di terlebih dahulu. Laki-laki itu kemudian mengangguk. Louis mengayunkan kakinya berjalan terlebih dahulu diikuti Anisa di belakangnya. Laki laki itu nampak berkali kali menarik nafas panjang dan membuangnya. Senyumannya masih mengembang. Mencoba menetralkan ekspresi dan degup jantungnya yang kini berdebar tak karuan. Entah mengapa kok jantungnya mendadak tidak normal begini!


Louis diam-diam menggerakkan lengannya yang tadi ia gunakan untuk menggandeng tangan Anisa. Ditempelkannya telapak tangan itu di hidungnya lalu menghirup aromanya.


Louis mengulum senyum. "Wangi, anj*r!" batin pria itu.


Lagi lagi senyumannya merekah. Wangi yang khas yang pernah beberapa kali Louis cium itu masuk menggoda indera penciumannya. Sangat menenangkan. Membuatnya jadi membayangkan yang indah indah. Membuatnya serasa ingin terbang menjebol atap apartemen saat itu jugašŸ™ˆ


Ah, kenapa jadi beginišŸ˜

__ADS_1


Sepasang pria wanita itupun terus berjalan menuju unit apartemen Louis yang berada di lantai itu.


...----------------...


__ADS_2