
Pagi menjelang.
Saat jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Keluarga kecil itu nampak sudah asyik bercengkerama di dapur apartemen mereka. Anisa dan Louis sudah bangun sejak sebelum Subuh tadi. Baby Gerhana juga sudah bangun saat gema adzan selesai berkumandang. Ketiganya sudah mandi bersama. Sudah bersih. Sudah wangi.
Anisa nampak sibuk di dapur menyiapkan santap pagi untuk dirinya dan sang suami. Bik Susi memang sengaja diliburkan hari ini. Louis ingin menghabiskan waktu bertiga dengan keluarga kecilnya hari ini. Laki laki itu bahkan punya rencana untuk membuatkan tempat usaha untuk keluarga Budhe dari istrinya itu. Agar wanita paruh baya itu serta Elang memiliki pekerjaan yang layak setelah ini
Louis nampak asyik bermain dengan sang putra yang kini terlihat begitu riang di atas stroller nya. Senyuman menggemaskan bahkan sesekali terbentuk dari bibir mungil Gerhana. Ini adalah suasana pagi yang paling indah yang pernah Louis rasakan.
"Louis," ucap Anisa.
"Ya..." jawab laki laki itu sambil menoleh ke arah sang istri.
"Sarapan dulu," ucap Anisa.
Louis tersenyum. "Oke!" jawabnya.
"Yuk, Nak. Temenin Papa sama Mama sarapan dulu, yuk. Kita masuk, ya..." ajak pria itu sambil mendorong stroller Gerhana masuk ke dalam rumah. Louis mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi disana. Ia meletakkan stroller bayi lucu itu di tengah tengah antara dirinya dan Anisa.
Wanita cantik dengan daster hitam itu nampak melayani sang suami. Menghidangkan masakan buatannya di atas meja tepat di hadapan pria itu.
"Nis," ucap Louis.
Anisa yang kini nampak mulai menyendok santap paginya itu pun menoleh.
"Ya," ucapnya.
"Kamu punya keinginan yang perlu aku wujudin?" tanya Louis sambil memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Anisa diam sejenak. "Maksudnya?"
"Ya... pengen apa, atau pengen kemana, gitu?" tanya Louis.
Anisa tersenyum. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak pengen apa apa," jawabnya.
__ADS_1
"Jalan jalan? Liburan? Ke luar kota? Atau luar negeri?" tanya Louis lagi.
Anisa menggelengkan kepalanya lagi. Ia menoleh ke arah sang putra yang nampak memainkan jari jari mungilnya di mulut kecilnya itu.
"Gerhana belum bisa diajak pergi jauh-jauh, Papa. Kan masih kecil," ucap Anisa manis.
Louis tersenyum. Ia kembali menyantap santap pagi mereka.
"Besok kita ke rumah Kakek, ya. Kita main ke sana. Kakek pasti seneng ketemu cicitnya," ucap Louis.
Anisa kembali mengulum senyum. Ia mengangguk.
"Tapi besok nenek balik ke kampung. Kita anterin Nenek dulu, ya. Baru ke rumah utama," ucap Anisa.
"Boleh. Tami juga balik, dong?" tanya Louis.
"Katanya sih enggak. Dia mau cari kerja disini sih bilangnya," ucap Anisa.
Louis mengangguk. Perbincangan berhenti sejenak. Hanya terdengar suara baby Gerhana yang nampak berceloteh tak jelas dengan jari jari yang masuk ke dalam mulutnya.
"Ya..." jawab wanita itu.
"Apa nantinya kamu nggak punya niatan untuk mempertemukan Gerhana dengan ayah kandungnya?" tanya Louis.
Anisa diam sejenak. Ia menoleh ke arah Louis.
"Biar gimanapun, dia.........."
Anisa menggelengkan kepalanya cepat bahkan saat Louis belum selesai dengan ucapannya. Laki laki itu kemudian diam.
"Enggak untuk saat ini," ucap Anisa. "Tolong jangan ajak Gerhana ketemu dia. Aku nggak mau," ucap Anisa.
"Kalaupun mau ketemu, biarkan nanti saat Gerhana udah besar. Udah paham. Bukan sekarang. Aku belum siap. Aku takut dia berbuat macam macam sama anak aku. Aku nggak mau!" ucap Anisa. Wanita itu terlihat ketakutan.
Louis tersenyum samar sambil menghela nafas panjang. "Oke. Aku ngerti," ucap Louis sambil mengusap punggung tangan sang istri.
__ADS_1
"Dah, sekarang lanjutin makannya," ucap Louis kemudian.
Sepasang pengantin baru itupun kemudian kembali menikmati santap paginya sambil berbincang bincang santai. Hingga....
Drrrrttt.... Drrrrttt....
Ponsel Louis yang berada di atas meja makan itu bergetar. Louis dan Anisa menoleh ke arah benda pipih tersebut. Louis menggerakkan tangan yang meraih benda pipih itu. Dilihatnya di sana sebuah panggilan dari Tuan Steve masuk ke dalam ponselnya. Louis mengusap tombol hijau di sana kemudian menempelkan benda tersebut di telinga sebelah kanannya.
"Halo, assalamualaikum, Om. Ada apa?" tanya Louis sambil kembali menyendok makanannya.
"Louis, Rhea meninggal...."
Degghh....
...----------------...
Selamat malam....
Up 21:48
Yuk, dukungan dulu 🥰
BTW author punya novel baru nih, sambilan, siapa tahu ada yang niat baca👇
🤴My Disable Husband 🤴
Pergaulan yang mengkhawatirkan membuatnya terpaksa dijodohkan dengan seorang pria dewasa yang tak begitu ia kenal.
Diusianya yang masih belia, Zee dipaksa menikah dengan seorang pria dewasa dengan sebuah kekurangan fisik akibat kecelakaan di masa lalunya. Dewangga Bima Caturangga.
Gaya hidup yang berbeda, usia yang terpaut jauh, serta tidak adanya cinta diantara keduanya, menjadikan drama yang seolah tidak ada habisnya mewarnai biduk rumah tangga keduanya.
Apa yang akan terjadi pada mereka?
__ADS_1