(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
018


__ADS_3

Malam menjelang di teras kamar kost tempat tinggal Anisa.


Wanita cantik dengan rambut panjang terurai itu nampak duduk di teras sembari menikmati satu buah apel di tangannya. Udara di dalam kamar kost nya terasa begitu panas bagi Anisa yang tengah hamil muda, membuatnya kini memilih untuk duduk bersantai di teras rumah sembari menikmati apel pemberian Louis.


Anisa nampak tersenyum membaca pesan dari Tami. Sejak tadi ia memang tengah asyik berbalas pesan dengan sahabatnya itu, lantaran memang hanya Tami lah satu satunya teman Anisa yang bisa ia ajak berbagi cerita. Lantaran setelah empat hari Anisa tinggal di tempat kost ini, ia belum sama sekali bertegur sapa dengan para penghuni kost putri tersebut. Semuanya terlalu sibuk, hampir tak pernah ada di tempat.


"Wow! Omongannya meyakinkan, Nis," tulis Tami melalui pesan singkat.


"Makanya. Dia itu kayak beda dari Luke yang kita kenal di cafe, Tam," jawab Anisa.


"Tapi kamu jangan buru buru percaya juga, Nis. Takutnya ini cuma akal-akalan dia aja. Kamu kan tahu sendiri, orang orang kayak gitu pasti banyak banget ide liciknya." tulis Tami.


"Kalau yang aku denger denger di sini, Nis, katanya Luke itu lagi liburan sama Bu Jesslyn. Tapi nggak tahu kemana. Mungkin ke kota itu, Nis. Berarti kan mungkin aja sekarang dia itu sebenarnya lagi enak enak tinggal berdua sama Bu Jesslyn. Terus siangnya dia nemuin kamu, pura pura baik dan perhatian sama kamu," tambah Tami sedikit berburuk sangka.


Anisa diam.


"Beneran, Tam?" tanya Anisa.


"Aku denger denger sih gitu!" tulis Tami.


Anisa nampak berfikir sejenak. Jika benar yang Tami katakan, berarti Anisa hanya dipermainkan, dong? Luke asyik-asyikan dengan pacarnya, sedangkan Anisa disini diminta menunggu tanpa kepastian dalam kondisi hamil muda.


Ah, jahat sekali!


Anisa tak lagi menjawab pesan Tami. Ketenangan hatinya yang semula sudah mulai percaya pada Louis kini kembali terusik. Membuat Anisa kini mulai berfikiran yang macam macam pada pria tampan itu. Hingga tiba tiba...


"Assalamualaikum." Suara itu berhasil membuat Anisa menoleh. Dilihatnya disana, Almeer nampak datang membawa sebuah kantong kresek hitam.


"Kak Almeer, Wa Alaikum Salam," ucap Anisa.


"Belum tidur, Nis?" tanya Almeer.


Anisa tersenyum manis. "Belum, Kak."


Anisa menggeser tubuhnya. "Duduk, Kak," ucapnya.


Almeer tersenyum sambil mengangguk. Ia lantas mendudukkan tubuh tegapnya itu di samping wanita hamil tersebut.


"Aku bawain kue buat kamu. Buatan Kak Salma," ucap Almeer sambil menyerahkan satu kantong kresek berisi cupcake dalam kemasan box putih itu.


"Ya ampun, Kak. Ngerepotin terus," ucap Anisa yang seolah tak enak hati dengan kebaikan Almeer dan Salma.


Almeer tersenyum. "Nggak ngerepotin kok, Nis. Kebetulan Kak Salma tadi ada pesanan kue," ucap pria itu lembut.


"Ya ampun, baik banget. Aku dikasih terus," ucap Anisa.

__ADS_1


Almeer terkekeh. "Biasa aja, Nis. Cuma kebetulan buatnya kelebihan," ucap pria itu.


"Kelebihan kok sampai sekotak," bathin Anisa.


Suasana hening sejenak.


"Oh ya, besok Kak Salma dapet orderan catering. Kalau kamu ada waktu, bisa minta tolong bantuin, nggak? Nanti ada bayarannya buat kamu," ucap Almeer.


Anisa tersenyum. "Boleh, Kak. Daripada aku bengong seharian nggak ngapa-ngapain," ucap Anisa.


"Alhamdulillah! Kalau gitu, besok kamu ke rumah, ya. Nanti aku bilang sama Kak Salma kalau kamu bersedia bantuin dia," ucap Almeer.


"Iya, Kak," jawabnya.


Suasana hening lagi. Anisa kembali mengunyah apel di tangannya.


"Em, Nis," ucap Almeer lagi.


Anisa menoleh. "Iya," jawabnya.


"Laki laki yang tadi nganterin kamu itu papanya si baby?" tanya Almeer sembari menatap singkat perut rata Anisa.


Anisa menunduk. "Iya, Kak," ucapnya lirih.


Almeer mengangguk. "Dia cukup perhatian juga ya sama kamu, sampai nganterin kamu pulang," ucap Almeer.


Ting...


1 Pesan Masuk...


Louis...


Anisa menggerakkan ibu jari tangannya mengusap layar benda pipih itu. Membuka pesan dari laki laki yang ia pikir adalah ayah dari janin yang kini tengah dikandungnya itu.


"Malam," tulisnya.


Anisa diam sejenak, lalu kembali menggerakkan tangannya mengetikkan pesan balasan untuk pria itu.


"Malam," jawabnya


"Udah tidur?" tanya Louis.


"Belum," jawab Anisa


"Ini udah malam. Tidur, gih. Jangan lupa, besok bangun pagi, jalan jalan pagi," tulis pria itu lagi.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Anisa.


"*Dari yang saya baca, dan kata dokter Eddy juga, j*alan jalan pagi itu baik buat ibu hamil," ucap Louis.


Anisa mengangkat satu sudut bibirnya sinis. Ia bahkan tak menggubris Almeer yang kini terus berceloteh di sampingnya.


"Saya udah tahu! Kamu nggak perlu repot repot ngasih tahu saya. Temenin aja pacar kamu," tulis Anisa.


"Hahaha. Kamu ternyata judes juga, ya? Tapi lucu. Kamu yang nanya buat apa, giliran saya jawab kamu malah sewot!" jawab Louis melalui pesan. "Kamu tenang aja, kan saya sudah bilang, Jesslyn itu urusan saya," tulis Louis.


Anisa tak menjawab. Ia bahkan mengabaikan pesan dari Louis yang masuk beruntun ke dalam ponselnya.


"Ya udah, saya mau istirahat. Jangan lupa besok bangun pagi, ya. Mulai besok saya akan rutin suruh supir buat nganterin sarapan pagi buat kamu," pungkas Louis yang sama sekali tak dibalas oleh Anisa.


Wanita itu menghela nafas panjang. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menoleh ke Almeer yang kembali mengajaknya berbincang.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah,


Di sebuah ruang kerja rumah pribadi milik Louis. Laki laki tampan itu nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja miliknya. Ditatapnya sebuah layar ponsel yang menampakkan perbincangan melalui pesan singkat antara Anisa dan sahabatnya.


Semua pesan yang Anisa kirim juga masuk ke dalam ponsel pintar serta laptop miliknya. Lantaran ponsel si wanita hamil memang sudah di sadap olehnya. Membuatnya dapat mengetahui semua data pribadi yang tersimpan di ponsel Anisa.


Louis meraih satu lagi ponsel miliknya. Di bukanya ponsel itu lalu mencari nama Betrand disana.


Tuutt ... Tuutt ... Tuutt ....


"Halo," ucap Betrand dari seberang sana.


"Kirim anak buah lo buat masuk ke cafe milik pacarnya Luke! Awasi apapun yang ada di dalamnya, termasuk karyawan karyawannya!" titah Luke.


Betrand menghela nafas panjang.


"Buat apa?" tanya Betrand lagi.


"Nisa punya temen satu ember banget! Semua tentang Luke dikasih tahu ke Nisa!" ucap Louis.


Betrand berdecih. "Ya udah sih, lagian lu kurang kerjaan banget ngaku ngaku jadi Luke. Mending lu ngomong aja sama tuh cewek kalau lu itu Louis, Luke adek lu. Kalian dua orang yang berbeda!" ucap Betrand.


"Gue cuma nggak mau nambah beban pikiran dia aja. Gue mau selama kehamilannya dia tetap happy. Masalah Luke biar gue yang urus. Anisa udah terlalu menderita dengan aib yang dia tanggung sendiri," ucap Louis.


Betrand menghela nafas panjang lagi. "Terlalu baik lu jadi orang!" ucapnya kemudian.


Louis hanya terkekeh. "Ya udah, lu kirim satu orang ke cafe itu, ya. Gue tunggu infonya besok pagi!" ucap Louis.

__ADS_1


"Oke!" jawab Betrand yang lantas mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


__ADS_2