(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
058


__ADS_3

Nb: Seperti biasa, kalau ada typo kabarin, ya..😉


❤️❤️


Daaaaggghhh!


Pintu apartemen yang tak tertutup rapat itu terbuka dengan kasar. Seorang wanita paruh baya dengan tas selempang usang dan seorang pria gondrong dengan satu botol air mineral di tangan nampak masuk ke dalam apartemen itu. Ya, itu Bik Susi dan Elang!


Keduanya melotot. Menatap tajam ke arah Rhea dan Tasya serta Anisa yang meringis sembari memegangi perutnya. Sedangkan pundaknya kini nampak dicengkeram dengan kasar oleh Rhea.


"Nona!" pekik Bik Susi. Rhea dan Tasya menatap tajam ke arah Bik Susi dan Elang.


"Siapa kalian?!" tanya Rhea melotot.


"Saya yang harusnya tanya sama kalian. Kalian ini siapa? Ngapain kalian disini? Apa yang kalian lakukan pada nona kami?!" tanya Bik Susi nampak khawatir melihat Anisa yang kini meringis dengan pundak di cengkeram kuat oleh Rhea.


"Ini bukan urusan kalian! Gue cuma ada perlu sama perempuan murahan ini. Dia harus keluar dari apartemen ini. Minggir kalian!" bentak Rhea sembari menggerakkan tangannya menjambak rambut panjang Anisa.


"Ikut gue!" bentak Rhea pada Anisa yang meringis kesakitan. Ia menarik wanita itu, menyeret paksa ibu hamil tersebut keluar dari apartemen mewah itu. Hal itupun membuat Tasya dan Bik Susi kaget. Tasya ingin melerai Rhea tapi ia tak berani, sedangkan Bik Susi nampak menjerit melihat wanita baik baik itu meronta kesakitan. Satu tangannya memegangi perutnya sedangkan tangan lainnya berusaha berontak.


Rhea tak peduli, bahkan saat Bik Susi mulai menghadang jalannya. Wanita itu berusaha melewati Bik Susi yang panik dan Elang yang terlihat berdiri diam dengan sorot mata dingin.


Hingga tiba tiba...


Seeettt...


Daaghh..


Pyaarrr...


Buughh...

__ADS_1


"Awww!"


"Kak Rhea!!"


Tasya memekik. Ia berlari mendekati Rhea yang nampak jatuh tersungkur ke lantai. Tangannya bahkan terluka hingga mengeluarkan darah.


Laki laki yang sejak tadi diam itu tiba tiba saja menghempaskan tangan Rhea dengan paksa. Ia menarik tubuh wanita hamil itu dan mendorong calon istri Betrand itu hingga jatuh membentur meja di samping pintu. Tubuh Rhea yang ramping pun terpelanting jatuh ke lantai. Sebuah vas bunga bahkan ikut jatuh membentur lantai hingga pecah tak beraturan. Membuat Rhea yang malang pun kini terluka di bagian tangan akibat terkena serpihan vas bunga.


Anisa terkejut. Begitu juga Bik Susi yang nampak reflek menutup mulutnya, menahan suaranya agar tak berteriak.


Tasya mendekati Rhea. Ia membantu wanita dengan darah di telapak tangannya itu untuk bangkit.


"Aahh! Tangan gue!!" ucap Rhea.


"Udah, Kak. Kita pulang aja, yuk!" ucap Tasya khawatir.


Rhea tak peduli. Ia bangkit. Menghempaskan tangan Tasya yang berusaha menolongnya. Ia kemudian menatap tajam ke arah Elang yang kini nampak memegang erat pergelangan tangan Anisa. Seolah tak mengizinkan Rhea menyentuh wanita cantik berkulit putih itu.



"Keluar lo berdua!" ucap Elang dingin dan mengerikan.


Rhea mengangkat dagunya.


"Siapa lo berani beraninya ngusir gue?! Yang harusnya pergi tuh kalian! Dasar orang orang udik! Miskin! Minggir lo!!" ucap Rhea menantang.


Elang mengangkat satu sudut bibirnya.


"Jangan pernah usik dia, atau gue patahin tangan lo!" ucap Elang mengerikan.


Rhea menatap tajam ke arah Elang, lalu beralih menatap Anisa dengan penuh kebencian. Ia kemudian bergerak hendak menarik tangan Anisa namun wanita hamil yang mulai ketakutan itu dengan cepat bersembunyi di balik tubuh Elang. Ia mencengkeram kaos hitam itu sambil sesenggukan.

__ADS_1


Elang menarik tangan Rhea. Ia menatap tajam wajah cantik itu sambil mengikis jarak dengannya.


"Gue Elang. Tapi orang orang sering memanggil gue dengan sebutan Dewa Kematian. Bukan hal sulit buat gue misahin leher dari badan lo! Saran gue, pergi, sebelum gue bertindak dan abisin lo hari ini juga. Gue nggak suka sama orang yang semena mena dengan sesamanya. Dan gue nggak suka melihat perempuan disakiti, apalagi dia lagi hamil!"


"Pergi jauh jauh, dan jangan coba coba buat ganggu dia lagi. Atau lo akan berurusan langsung ama gue. Paham?" tanya Elang tenang, dingin, namun mengerikan.


Rhea mencoba berontak. Elang kemudian mengalihkan pandangannya atas Rhea tanpa melepaskan cengkeraman tangannya. Laki laki itu kemudian menenggak air mineral dalam botol yang dipegangnya, dan.....


Buuufffftttttt.......


"Aaakkhh!"


Elang menyemburkan air itu ke wajah Rhea. Ia kemudian menarik tubuh ramping itu dan melemparnya keluar apartemen. Laki laki itu kemudian menoleh ke arah Tasya. Menatap tajam wanita itu seolah mengusirnya. Tasya yang ketakutan pun setengah berlari keluar dari apartemen itu. Elang kemudian membanting pintu dengan kasarnya. Menutupnya lalu menguncinya dari dalam.


Bik Susi meraih tubuh Anisa yang sesenggukan. Ia memeluk tubu ramping itu, seolah ingin memberikan ketenangan pada wanita hamil tersebut.


"Tenang, Sayang. Kamu aman. Kamu nggak apa apa, kan? Nggak diapa apain, kan?" tanya Bik Susi. Anisa menggelengkan kepalanya dalam dekapan wanita paruh baya itu. Ia terus menangis ketakutan. Elang yang menyaksikan pemandangan itu nampak diam. Entah mengapa ia merasa iba mendengar tangisan wanita cantik itu.


Tangan sang Elang tergerak, mendekat ke arah rambut hitam yang nampak sedikit acak acakan itu. Ingin sekali rasanya ia membelai rambut tersebut. Ikut memberikan ketenangan pada wanita yang kini nampak kacau tersebut. Namun Elang mengurungkannya. Ia menarik kembali tangannya, lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah guna menetralkan hatinya yang entah mengapa tiba tiba merasa bergejolak. Ada rasa iba, sakit, dan tak terima melihat wanita yang tak begitu ia kenal itu disakiti oleh dua wanita sial*n tadi.


"Lebih baik kita duduk. Budhe bisa bikinin dia minum biar lebih tenang," ucap Elang.


Anisa terdiam. Ia mencoba menyudahi tangisannya. Wanita itu kemudian berbalik badan, menoleh ke arah Elang yang berdiri tegak di belakangnya.


Sorot mata sendu itu bertemu dengan mata Elang yang tajam.


"Makasih, Mas. Udah bantuin saya," ucap Anisa lirih dengan setitik air mata yang menetes di pipi. Elang mengepalkan tangannya. Bukan karena marah, namun menahan tangan itu agar tak bergerak mengusap lelehan air mata Anisa.


Laki laki itu mengangguk. "Sama sama. Lain kali jangan mau ditinggal di rumah sendirian," ucap Elang.


Anisa mengangguk. Ia kembali mengusap lelehan air matanya. Bik Susi kemudian mengajak Anisa duduk di sofa ruang tamu itu. Elang pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2