(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
029


__ADS_3

Ceklek...


Pintu ruang kerja milik pria tampan itu nampak terbuka. Natasya keluar dari ruangan itu diikuti Louis di belakangnya.


Natasya yang sudah berada di depan pintu itupun lantas berbalik badan. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, Kak," ucap Natasya manis.


Louis tersenyum. "Iya. Hati hati, ya. Makasih makan siangnya," ucap Louis.


Natasya tersipu malu. "Sama sama, Kak. Aku juga seneng kok, akhirnya aku bisa ketemu dan ngobrol berdua sama Kakak."


Louis tak menjawab. Baru saja Natasya hendak berpamitan lagi, tiba tiba...


"Louis." Suara itu berhasil membuat Natasya dan Louis menoleh. Dilihatnya disana, sepasang pria wanita yang baru datang dari luar kantor nampak mendekat ke arah mereka.




Ya, itu Betrand dan Rhea, kekasihnya. Mereka kembali ke kantor itu setelah menghabiskan waktu makan siang berdua.


Louis terlihat tenang. Ia nampak mengangkat dagunya menatap sepasang kekasih yang kini mendekat ke arahnya dan Natasya.


"Hai, Louis!" sapa Rhea ramah dan manis. Louis hanya tersenyum seperlunya. Wanita itu diam diam mencuri pandang pada pria bertubuh tegap itu tanpa melepaskan tangannya yang kini nampak menggandeng hangat lengan Betrand, kekasihnya.


"Hai, Tasya!" sapa Betrand pada Natasya.


"Hai, Kak!" jawab gadis berkerudung merah muda itu.


Rhea memperhatikan penampilan Natasya dari atas sampai bawah. "Ini... pacar kamu, Louis?" tanyanya.


Louis tersenyum samar, ia memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan!" ucapnya. Sedangkan Natasya nampak menunduk sambil tersipu malu. Mungkin dalam hatinya ia meng-Amin-kan ucapan wanita berpenampilan anggun itu.


"Ini Natasya, cucunya tuan Wijaya, temannya Kakek!" ucap Betrand.


Rhea membulatkan bibirnya. "Ooo...! Hai, apa kabar? Maaf ya, aku nggak tahu!" ucap Rhea berbasa-basi khas seorang wanita. Ia berucap sangat ramah sembari menyentuh pundak Natasya dengan lembut. Gadis muda itu hanya tersenyum. Rhea kemudian mengulurkan tangannya.


"Namaku Rhea, aku pacarnya Betrand," ucap wanita cantik itu.

__ADS_1


Natasya tersenyum, ia menyambut uluran tangan wanita itu dengan hangat. "Aku Natasya, Kak. Temennya Kak Louis," ucapnya.


"Temen? Masa sih? Kalian cocok kok kalau jadi pacar!" celetuk Rhea membuat Louis menghela nafas panjang.


"Apasih?" ucap pria itu. Rhea dan Betrand hanya terkekeh.


"Udah ah! Kalian masih pada malu malu aja. Aku mau pulang," ucap Rhea. "Tasya, kamu juga udah mau pulang? Kamu bawa mobil sendiri atau gimana?" tanyanya lagi kini pada Tasya.


"Aku dijemput, Kak. Supir aku udah ada di bawah," ucap Natasya.


"Oh, gitu. Kita turun bareng aja yuk kalau gitu!" ajak Rhea.


Natasya tersenyum manis. "Boleh, Kak," jawab gadis cantik itu.


Kedua wanita beda usia itupun lantas pergi setelah berpamitan pada kedua pria tampan itu. Tak lupa, Rhea melakukan cipika-cipiki dan diakhiri dengan sebuah kecupan bibir singkat dengan Betrand sebelum keduanya berpisah. Hal itu membuat Louis reflek berdecih melihat pemandangan yang sepasang sejoli itu tampilkan.


Seperginya dua gadis itu...


"Cantik kan Tasya sekarang?" tanya Betrand pada sang sepupu. Louis menoleh ke arah Betrand lalu berdecih tanpa berucap sepatah katapun. Laki laki itu kemudian berbalik badan.


"Bawa materi meeting kita selanjutnya ke ruangan gue, ada yang mau gue omongin sama lo!" titah pria itu sembari melenggang santai masuk ke dalam ruangannya.


Laki laki berjambang tipis itu lantas bergegas menuju mejanya. Ia mengambil sebuah map hijau di sana dan membawanya masuk ke dalam ruangan sang atasan.


Ceklek...


Pintu terbuka. Dilihatnya di sana, Louis sudah berada di dalam ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya sembari menatap layar laptop miliknya. Betrand mendekat. Ia melempar ringan map itu ke atas meja kerja Louis lalu mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di depan meja itu.


Louis tak menoleh. Matanya terus fokus pada layar laptopnya.


"Lo bisa nggak ngirim orang buat masuk ke bar-nya Luke?" tanya Louis.


"Buat apa?" tanya Betrand.


Louis menghentikan pergerakan tangannya. Ia lantas menoleh ke arah sang sepupu. "Lo pernah bilang kan, bahwa mungkin ada praktek prostit*si dan jual beli nark*ba di bar itu?" tanya Louis.


Betrand sedikit terkejut. Ia menegakkan posisi duduknya. "Lu mau ngapain?" tanyanya.

__ADS_1


Louis terkekeh.


"Jangan bilang lu mau jeblosin adik lo sendiri ke penjara?!" tanya Betrand.


Louis tersenyum. Ia masih tak menjawab.


"Bro, lu jangan gila! Kalau Kakek tahu bisa jantungan dia!" ucap Betrand. "Kalau prostit*si, gue yakin udah pasti ada. Tapi kalau obat obatan, mungkin Luke nggak terlibat. Namanya tempat kayak gitu ya lo tahu lah orang orang yang datang kesana kek apa. Luke cuma pemilik tempat usaha aja!" ucap Betrand.


"Tapi dia akan tetap kena imbasnya kalau sampai polisi mencium aktivitas terlarang di bar itu!" ucap Louis tenang.


Betrand nampak menggelengkan kepalanya. "Louis, lu mau ngapain?!" tanyanya tak mengerti. Juga tak habis pikir.


Louis mengangkat satu sudut bibirnya. "Lu tenang aja! Gue cuma mau mancing dia keluar. Gue cuma mau lu cari bukti tentang aktivitas terlarang di tempat itu, gue akan pakai itu buat ngancam dia agar pulang. Sudah waktunya dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!" ucap Louis tenang.


Betrand menghela nafas panjang. "Gue kira lu mau nekat!" ucapnya.


"Gue juga bisa nekat kalau dia nggak nurut ama gue kali ini. Untuk kali ini gue nggak main main. Dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya ke Anisa!" ucap Louis.


"Gue rasa untuk kali ini lu terlalu perhatian ama korbannya Luke. Lo sampai banyak ngabisin waktu buat dia," ucap Betrand.


Louis diam. "Dia beda. Dia benar benar korban. Peristiwa diantara mereka terjadi benar benar karena paksaan dari Luke. Bukan suka sama suka seperti yang sebelum sebelumnya."


"Dia perempuan baik baik. Dan dia berhak mendapatkan keadilannya!" ucap Louis.


Betrand menatap penuh tanya ke arah Louis. "Andai lu berhasil bawa Luke pulang, dan lu berhasil menikahkan dia dengan perempuan itu, apa lu yakin Luke bisa berubah? Apa lu yakin pernikahan mereka akan bahagia?" tanya Betrand.


Louis tak menjawab.


"Bro, laki laki kalau udah doyan ngumbar sya*watnya ke banyak perempuan, itu udah penyakit. Itu susah buat disembuhin. Mungkin menurut lu perempuan itu perempuan yang baik buat adik lo, tapi apa adik lo adalah laki laki yang baik buat perempuan itu? Bukannya lo yang bilang, dia cuma korban, hidupnya udah menderita. Apa lu yakin, setelah menikah dengan Luke dia akan bahagia? Atau justru dia makin menderita?!" tanya Betrand.


"Louis, gue yakin lo udah hafal dengan sifat Luke. Gue harap lo nggak gegabah. Jangan sampai lo mengorbankan kebahagiaan seseorang cuma demi menyadarkan adik lo yang udah terlanjur salah jalan! Itu nggak adil," ucap Betrand.


Louis tak menjawab. Ia bingung juga sekarang.


"Gue akan bantu lo buat cari bukti yang lo mau. Tapi saran gue, lo pikir pikir dulu. Nggak apa apa kalau lo masih mau ngaku sebagai Luke di depan Anisa. Tapi saran gue, kalau suatu saat lo pengen ngungkapin yang sebenarnya, cari waktu dan kata kata yang tepat. Jangan sampai dia berpikir kalau lu cuma mau mainin dia, apalagi kalau sampai dia berpikir lu pengen nutupin kebusukannya Luke. Dan satu lagi, jangan lama lama lu pura puranya. Takutnya seiring berjalannya waktu lo malah jatuh cinta ama dia. Inget, lu pewaris. Calon istri lo harus dari orang dengan latar belakang yang jelas. Sedangkan dia cuma perempuan kampung yang hamil di luar nikah. Lo tahu lah, gimana pandangan orang orang ke lo kalau sampai hal itu terjadi," ucap Betrand.


Louis diam tak bergerak. Betrand lantas bangkit.

__ADS_1


"Dah, gue mau lanjut kerja. Meeting satu jam lagi!" ucap pria itu kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut. Louis menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya hingga ke bagian belakang kepalanya sembari mengucap istighfar. Sungguh, ia lelah dan bingung!


...----------------...


__ADS_2