
Wanita itu meringis kesakitan diatas ranjang dorong yang hendak membawanya menuju ruang bersalin. Gadis muda itu nampak kesakitan merasakan sakit di perutnya yang sudah tak bisa lagi dijelaskan dengan kata kata.
"Kak..." rintihnya.
"Sabar, Nis..! Tenang! Semua akan baik baik aja, Dek!" ucap Elang yang kini membantu para suster dan dokter membawa Anisa masuk ke dalam ruang bersalin.
Tak ada teman, tak ada kawan. Elang hanya seorang diri membawa Anisa menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dengan menggunakan mobil milik salah satu kawannya. Sedangkan Louis kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari calon kakak iparnya tadi.
Anisa masuk ke dalam ruang bersalin. Wanita itu tak lepas menggenggam lengan sang kakak sejak tadi, seolah tak ingin laki laki itu jauh darinya. Ia mau saudara seibunya itu ikut masuk ke dalam ruang bersalin. Ia tak mau ditinggal sendiri. Ia takut!!
Ya, ini adalah pengalaman pertama melahirkan bagi seorang Anisa diusianya yang masih sangat muda. Tentu, perasaan takut bercampur khawatir serta panik bercampur jadi satu. Terlebih lagi ia harus berjuang sendiri. Tidak ada suami ataupun orang tua di sampingnya. Hanya ada Elang sang kakak yang juga minim pengetahuan mengenai hal seperti ini. Sedangkan Louis dan Bik Susi kini juga masih berada di perjalanan. Sungguh, ini adalah saat yang menegangkan untuk seorang Anisa.
"Aku nggak mau sendiri!!" ucap Anisa menangis.
"Tapi, Nis..." ucap Elang ragu.
"Nggak apa apa, Mas. Ditemenin aja mbaknya.." ucap seorang suster yang turut membantu Anisa masuk ke dalam ruang bersalin.
Elang diam sejenak, lalu mengangguk. Ia kemudian masuk ke dalam ruang bersalin itu bersama Anisa serta dokter dan sejumlah suster disana. Anisa terus merintih, membuat Elang makin khawatir dibuatnya. Ranjang dorong diposisikan di tempat yang semestinya. Dokter dan para perawat yang bertugas disana pun bersiap di posisi mereka. Anisa menggenggam erat tangan sang kakak. Ia terus merintih. Elang makin gugup. Perasaannya campur aduk. Ingatannya melayang layang, kembali pada masa dulu, dimana ibunya harus meregang nyawa ketika melahirkan Anisa ke dunia.
Kini gadis kecil yang dilahirkan sang ibu dua puluh tahun yang lalu itu tengah berada di situasi yang sama. Kepanikan, ketakutan, dan kekhawatiran tentunya Elang rasakan. Ia takut terjadi hal hal yang tak diinginkan pada adik kesayangannya itu.
Anisa mendekatkan wajah itu ke telinga Anisa. Pria itu berbisik lirih, memberi semangat dan kata kata penenang untuk sang wanita yang tengah bertaruh nyawa. Anisa yang kini hendak melahirkan, namun sakit dan perihnya seolah ikut dirasakan oleh Elang kala mendengar rintihan wanita itu.
__ADS_1
Hingga....
Daaghh....
Semua orang di ruangan itu menoleh. Dilihatnya disana seorang pria berpenampilan rapi nampak masuk tanpa permisi ke dalam ruangan itu. Nafasnya memburu. Sorot matanya langsung tertuju pada wanita yang kini berada di atas ranjang pasien itu.
"Anda siapa? Sedang apa anda di sini?!" tanya sang dokter kala melihat kedatangan pria asing itu, Louis.
Louis gelagapan.
"A, e..maaf. Sa, saya suaminya. Maaf saya telat!" ucap Louis gugup.
Sang dokter menghela nafas panjang. Dokter wanita yang memang bukan dokter ahli yang biasa memeriksa kandungan Anisa itupun menghela nafas panjang. Ya, Elang yang gugup memang hanya membawa Anisa ke rumah sakit terdekat. Tak peduli siapa dokternya. Yang penting Anisa segera mendapatkan penanganan.
"Ma, maaf, Dok!" ucap Louis yang kemudian mendekati Anisa yang sudah tak mampu bicara apa apa lagi. Tangannya terus mencengkeram tangan Elang. Louis duduk di sebuah kursi di samping ranjang pasien. Tangannya membelai rambut Anisa yang sudah berkeringat itu.
Perjuangan bertaruh nyawa pun dimulai. Sesosok bayi mungil yang selama sembilan bulan hidup dalam kandungan Anisa itu kini memaksa merangsek keluar dari tempatnya tercipta. Anak hasil pemaksaan yang dilakukan oleh Luke itu seolah sudah tidak sabar untuk segera melihat dunia yang indah.
Anisa terus meringis sambil sekuat tenaga membukakan 'jalan' untuk sang jabang bayi. Darah, keringat, air ketuban, semua berbaur di sana. Berbeda dengan Louis yang begitu tegar meskipun sedikit tegang lantaran proses persalinan yang cukup lama, Elang kini justru nampak memejamkan matanya. Menundukkan wajahnya sambil terus menggenggam erat telapak tangan sang adik. Ia tak kuasa melihat wajah kesakitan Anisa. Laki laki itu seolah memiliki kelemahan tersendiri dibalik sikap gahar dan sangarnya.
Waktu terus berjalan, hingga....
.
__ADS_1
.
.
Oooooeeeeekkk..... Oooooeeeeekkk....
"Alhamdulillah...."
Sesosok bayi laki laki terlahir dengan selamat ke dunia. Anisa lemah. Louis tersenyum. Dikecupnya kening Anisa dengan lembut sembari mengucap terima kasih. Anisa tak menjawab. Ia lelah. Louis menoleh ke arah sang putra yang masih merah itu bergerak gerak di tangan dokter perempuan yang kini menggendongnya.
Elang mengangkat kepalanya. Ia mengucap syukur sesuai keyakinannya. Sang dokter mendekat ke arah Louis.
"Selamat, Nyonya, Tuan, bayinya laki laki, tampan dan sehat," ucap sang dokter.
"Alhamdulillah," jawab Anisa dan Louis secara bersamaan.
"Boleh saya gendong sebentar, Dok?" tanya Louis.
"Silakan, Tuan!" jawab sang dokter. Wanita itu kemudian menyerahkan bayi mungil itu pada Louis. Laki laki itu tersenyum. Ditatapnya paras tampan bayi yang baru terlahir ke dunia itu. Kulitnya putih, parasnya tampan, darah masih berlumuran di tubuhnya. Mata mungil itu masih terpejam dengan bibir yang nampak bergerak gerak.
Louis tersenyum haru.
"Selamat datang di dunia, Sayang. Ini Papa. Papa kamu yang akan menyayangi kamu. Kamu adalah takdir yang Tuhan buat untuk mendekatkan Papa dan Mamamu. Terimakasih sudah menjadi jalan untuk Papa menemukan bidadari secantik ibumu, Nak. Papa janji akan menyayangi dan mencintai kalian sepenuh hati Papa. Selamat datang di dunia, Gerhana Ardhiona Davis. Makhluk yang menjadi jembatan untuk bertemunya dua manusia yang tidak saling mengenal. Laki laki yang akan tumbuh menjadi pria dewasa yang kuat, teguh dan bertanggung jawab. Kamu anak Papa meskipun Papa bukan ayah biologismu. Papa akan mendidik kamu menjadi pribadi yang berbudi pekerti baik, jauh dari perangai ayah kandungmu. Terimakasih, Nak. Selamat datang di kehidupan kami..."
__ADS_1
...----------------...