(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
050


__ADS_3

Malam menjelang,



Di sebuah apartemen mewah tempat tinggal Anisa. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Wanita dengan perut yang sedikit mulai membuncit itu nampak mondar mandir di ruang tamu apartemen mewah itu.


Sejak pagi Louis tidak bisa dihubungi. Terakhir mereka berbalas pesan masih pagi pagi sekali. Setelah itu sudah tidak ada kabar lagi yang dikirimkan oleh pria tampan itu.


Ini juga sudah malam. Biasanya Louis selalu datang ke apartemen ini sebelum Maghrib, tapi entah mengapa sampai jam segini pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Membuat Anisa pun khawatir di buatnya.


"Non, lebih baik Nona duduk dulu. Jangan terlalu khawatir, takutnya nanti berpengaruh pada janin Nona," ucap Bik Susi yang masih menemani Anisa di apartemen itu.


Anisa diam. Ia menoleh ke arah Bik Susi.


"Saya takut terjadi sesuatu sama dia, Bik. Nggak biasanya dia seperti ini," ucap Anisa.


"Tuan pasti baik baik saja, Non. Mungkin dia sedang banyak kerjaan makanya nggak sempat menghubungi Nona. Nona nggak usah khawatir. Sebentar lagi Tuan pasti akan segera pulang," ucap Bik Susi.


Anisa tak menjawab. Ia nampak menggigit ujung jari telunjuknya guna menyalurkan kekhawatirannya. Raut wajahnya terlihat gusar. Sesekali ia melongok menatap ke arah jam dinding. Jarum jam terus bergerak ke kanan, pertanda detik demi detik terus berlalu, dan malam pun semakin larut, namun Louis belum juga ada kabarnya.


Anisa bingung, kemana perginya pria itu. Ingin rasanya ia berlari mencari keberadaan pria itu. Tapi kemana ia harus pergi. Louis melarangnya keluar dari apartemen itu tanpa seijinnya.


Anisa masih mondar mandir, sibuk dengan pemikirannya. Hingga tiba-tiba,


Ceklek...


Pintu apartemen terbuka tanpa diketuk. Seorang pria tampan dengan penampilan yang cukup acak acakan muncul dari balik pintu apartemen mewah itu. Rambutnya lepek, wajahnya lelah dengan sebuah luka memar di ujung bibirnya, kemeja dan celananya sedikit basah karena air hujan.


Ya, itu Louis! Penampilannya tak serapi biasanya. Anisa reflek mengucap hamdalah sembari mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya kala melihat kedatangan pria yang sejak tadi ditunggunya itu. Lega rasanya melihat Louis datang dalam keadaan sehat dan baik baik saja.


Anisa setengah berlari mendekati pria itu. Ia berdiri di hadapan Louis, mendongak menatap wajah tampan dengan postur tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar darinya itu dibarengi dengan sebuah senyuman manis.


"Akhirnya kamu pulang juga. Aku khawatir sama kamu. Dari pagi kamu nggak ada kabar!" ucap Anisa.


Louis tak menjawab. Wajahnya tak menampakkan senyuman. Ia menatap nanar ke arah wanita cantik dengan rambut panjang tergerai itu. Setitik kebahagiaan tiba tiba muncul diantara remuk redam dan panasnya hati Louis manakala ia melihat senyuman manis wanita cantik itu. Hanya sebuah senyuman kecil, namun seolah berhasil menjadi penyejuk di tengah rapuh dan pilunya hati seorang Louis Edgar Davis.


Anisa diam sejenak. Ia mengamati penampilan Louis yang kacau itu dari atas sampai bawah. Ia kemudian memiringkan kepalanya yang terdongak itu, menatap paras laki laki yang terlihat lelah dengan memar di ujung pipinya. Tangan ramping itu lantas tergerak menyentuh wajah tampan yang hari ini nampak tak biasa itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Ini kenapa?" tanya wanita itu sembari menyentuh ujung bibir Louis. Laki laki itu samar samar mengulum senyum mendapati perhatian kecil dari Anisa itu. Ia menatap dalam wanita cantik di hadapannya.


"Kamu berantem? Kok wajahnya memar gini?" tanya Anisa.


Louis tersenyum samar. "Saya capek, Nis," ucapnya.


Anisa diam menatap paras tampan itu. Netra keduanya bertemu. Saling pandang untuk beberapa saat. Anisa sepertinya menyadari bahwa telah terjadi sesuatu pada pria itu. Louis terlihat beda malam ini. Tapi entah apa yang terjadi, Anisa tidak tahu.


Sedangkan Louis. Kehangatan tiba tiba muncul menyentuh hati Louis yang kacau kala bertemu dengan Anisa. Apartemen ini jauh lebih menenangkan. Wanita ini jauh lebih bisa membuatnya nyaman dibandingkan rumahnya sendiri.


"Tuan, Nona," ucap Bik Susi yang masih berada di tempat itu. Suaranya berhasil membuat kedua insan itu tersadar dari lamunan mereka dan menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"Kalau Tuan lelah, biar saya bereskan kamar tamunya, Tuan. Biar Tuan bisa istirahat," ucap Bik Susi.


Louis tersenyum samar. "Nggak usah, Bik. Kalau pekerjaan Bibik udah selesai, Bibik bisa pulang aja. Saya mau ngobrol berdua sama Anisa," ucap laki laki itu.


Bik Susi diam sejenak. "Oh, baik kalau begitu, Tuan," ucap Bik Susi.


Wanita itu kemudian bergegas beranjak dari tempatnya, mengambil tas selempangnya yang berada di dapur kemudian pamit undur diri dari apartemen mewah itu. Anisa kemudian menutup pintu apartemen tersebut setelah Bik Susi keluar dari sana.


Seeeeeetttt...


Louis meraih lengan Anisa, ia menahan pergerakan wanita itu seolah tak mengizinkannya pergi. Anisa pun menoleh.


"Aku nggak butuh minum. Aku butuh kamu," ucap laki laki itu.


Anisa diam lagi. Ditatapnya lagi paras itu dengan sorot mata dalam untuk beberapa saat.


"Aku pengen ngobrol sama anak kita, Nis," ucapnya kemudian. Wanita itu tersenyum manis, lalu mengangguk. Keduanya lantas berjalan menuju sofa ruang tamu. Anisa duduk di ujung sofa panjang itu. Louis kemudian meringkuk, merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan paha Anisa sebagai bantalnya. Ia merebahkan tubuh tegap itu dalam posisi miring menghadap perut yang kini mulai terlihat membuncit itu.


Suasana hening. Louis diam menatap nanar perut berbalut sweater biru over size di hadapannya. Setitik air mata bahkan menetes dari pelupuk mata Louis. Sesuatu yang dapat di tangkap dengan sangat jelas oleh mata lentik Anisa. Entah apa yang terjadi pada pria itu. Tapi Anisa yakin, saat ini Louis sedang tidak baik baik saja.


Anisa tersenyum lembut. Tangan ramping itu tiba tiba saja bergerak, membelai wajah tampan yang kini berada di pangkuannya itu.


"Nak, lihat, Papa kamu datang, dia pengen ngobrol sama kamu," ucap Anisa sembari membelai wajah Louis. Louis menoleh, menatap wajah wanita cantik yang kini menunduk menatapnya sembari menampilkan senyumannya.


Senyuman itu terlihat indah dan menenangkan. Kata kata yang keluar dari mulutnya lembut dan menyejukkan. Belaian tangannya terasa hangat dan menentramkan. Louis tersenyum haru. Inilah rumah yang ia cari. Inilah rumah yang nyaman yang bisa mengerti akan dirinya. Yang menghargainya. Memberikan perhatian padanya walaupun hanya dengan sentuhan dan senyuman sederhana. Ini yang Louis cari. Tempat dimana ia merasa didengar, diperhatikan, diperlakukan seperti manusia yang juga butuh didengarkan dan ditenangkan. Bukan hanya dituntut dan dipaksa sempurna.

__ADS_1


Louis tersenyum. Tangan kekar itu tergerak menyentuh telapak tangan yang bermain main di wajahnya itu.


"Terima kasih, Nis," ucapnya.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Anisa.


"Terima kasih untuk senyuman dan perhatian kamu," jawab Louis.


Anisa mengernyitkan dahinya.


"Nis, tolong, janji sama saya. Apapun yang terjadi, tetap sambut saya dengan senyuman itu meskipun saya datang dengan wajah yang murung. Karena dengan senyuman itu, setidaknya saya tahu, bahwasanya saat ini saya masih punya tempat yang nyaman untuk pulang," ucap Louis.


Anisa diam tak menjawab. Sedangkan Louis kini nampak mengusap usap punggung tangan nya yang putih.


"Senyuman yang ini?" tanya wanita itu sembari menampilkan senyuman paling manis di akhir ucapannya.


Louis terkekeh lembut. Ia kemudian mengecup punggung tangan wanita cantik itu. Anisa kembali membelai rambut Louis dengan satu tangannya yang bebas.


"Nis," ucap Louis.


"Ya," jawab Anisa.


"Untuk beberapa hari kedepan, saya boleh ya nginep disini," ucap Louis.


Anisa tersenyum lagi. "Kan ini apartemen kamu. Aku yang cuma numpang disini. Kenapa malah kamu yang minta izin tinggal di sini?" tanya Anisa.


Louis terkekeh lagi. "Ini bukan apartemen saya. Tapi ini rumah kita," ucapnya.


Anisa diam sejenak. Ia lantas kembali tersenyum lembut. Louis mengecup lagi punggung tangan Anisa, lalu melepaskannya. Ia kemudian meringsut. Memeluk pinggang ramping dihadapannya itu dengan kedua lengannya. Lalu mencium lembut perut buncit di hadapannya itu beberapa kali.


"Hai anak Papa, lagi apa kamu di dalam, Sayang?" tanya Louis seolah mengajak bayi dalam kandungan Anisa itu berbicara.


"Senam lantai!" celetuk Anisa seolah menjawab ucapan Louis. Laki laki itu reflek menoleh ke arah wajah Anisa. Tangannya kemudian tergerak mencubit gemas pipi mulus wanita dua puluh tahun itu.


"Nggak ada lantainya, dong!" ucap Louis. Anisa tergelak. Malam pun berlanjut. Sepasang pria wanita itu lantas melanjutkan obrolan santai mereka di dalam unit apartemen mewah itu hingga malam makin larut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2