
Sore menjelang. Di ruangan VVIP tempat dimana Anisa tengah dirawat. Wanita itu nampak menunduk. Menikmati sepotong demi sepotong apel yang dikupaskan oleh seorang pria gondrong yang sejak tadi duduk di samping ranjangnya.
Anisa menitikkan air matanya. Ia kembali mengusap cairan bening itu, lalu menggigit lagi apel di tangannya sambil sesenggukan.
Ya, pagi ini, Bik Susi baru saja menceritakan tentang Anisa, Silvia, Elang, dan keluarga mereka. Ia mengungkapkan fakta perihal hubungan keluarga antara dirinya, Anisa, dan Elang disertai dengan bukti bukti mulai dari foto keluarga kecil Silvia dan Herman. Kecocokan tanggal lahir Anisa, dan lain lain.
Kaget? Tentu...
Syok? Sedikit..
Anisa yang datang ke kota untuk mencari keadilan untuk dirinya dan calon anaknya tak menyangka jika rupanya di kota ini pula Tuhan mempertemukan dirinya dengan keluarga kandung yang selama ini ia idam idamkan.
Anisa merasa haru.Setelah dua puluh tahun ia hidup, kini ia menemukan keluarga kandungnya. Keluarga dari ibunya. Keluarga yang sejak kecil ia pikir tak akan pernah bisa ia temui.
Ia tak peduli dengan status sosial keluarga kandungnya itu. Ia tak peduli dengan latar belakang keluarga kandungnya yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya. Yang terpenting baginya adalah, ia punya keluarga. Ia memiliki tempat untuk bersandar. Ia menemukan yang ia cari cari selama ini.
Anisa bukan anak haram. Anisa bukan anak wanita murahan, pelac*r, atau sejenisnya. Ia anak dari Silvia. Seorang wanita baik baik yang dinikahi atas dasar kebohongan oleh ayahnya, Herman.
Elang yang sejak tadi tak lepas menatap wajah sang adik itu nampak tersenyum. Anisa terus mengunyah apel di tangannya sambil sesekali mengusap lelehan air matanya.
"Makannya jangan sambil nangis lah," ucap pria itu lembut.
"Hiks..." wanita hamil itu justru kembali sesenggukan. Elang kembali menyodorkan apel itu yang kemudian di terima oleh Anisa. Tangan kekar pria berpenampilan berandalan itu kemudian tergerak mengusap lelehan air mata wanita hamil tersebut.
"Hiks..." Anisa menangis lagi.
"Udah, kok malah nggak berhenti nangisnya," ucap Elang lagi.
"Terharu... Hiks!" ucap wanita itu. "Aku punya keluarga. Aku punya kakak! Huhuhu..."
Anisa menangis lagi. Elang terkekeh. Ia menggerakkan tangannya menyentuh perut buncit yang kini sering kali berdenyut, pertanda si jabang bayi dalam rahimnya mulai aktif menendang nendang dinding rahim ibunya.
"Udah, jangan nangis terus. Mulai sekarang, lo aman. Bukan hanya ada Louis yang bener bener sayang sama lo. Tapi juga ada gue yang akan selalu jagain lo. Gue saudara lo. Mungkin gue nggak punya cukup uang untuk meratukan lo. Tapi gue punya anggota tubuh yang sehat dan kuat, yang bisa lo jadiin tameng untuk berlindung dari orang orang yang pengen jahatin lo."
__ADS_1
"Kita adalah saudara. Kita adalah dua manusia yang pernah tumbuh dan hidup di dalam rahim yang sama, tapi dalam waktu yang berbeda. Meskipun pada akhirnya kita harus terpisah ketika sudah berada di dunia," ucap Elang.
Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, lalu menjentikkan jari kelingkingnya. "Janji, ya. Kita akan jadi saudara yang akan selalu akur. Nggak boleh berantem kecuali bercanda. Nggak boleh saling ngejatuhin. Nggak boleh diem dieman. Harus kompak. Saling sapa. Saling sayang. Saling mendukung, dan saling melindungi. Janji, Dek?" tanya Elang.
Anisa mengangguk. Dengan mulut penuh buah apel, ia menautkan jari kelingkingnya pada kelingking pria gondrong itu.
"Janji!" jawab wanita itu. Elang tersenyum.
"Terus aku manggilnya gimana sekarang?" tanya Anisa.
"Kakak aja! Setuju?" tanya Elang.
Anisa mengangguk. Keduanya tersenyum. Elang menggerakkan tangannya mengacak acak pucuk kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Betapa bahagianya ia bisa menemukan gadis ini. Sosok gadis yang sama sekali tak pernah ia duga akan menjadi adik kandungnya.
Keduanya kembali melanjutkan aktivitas makan apel mereka. Tiba tiba...
Ceklek...
Pintu kamar rawat inap itu terbuka. Seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan itu bersama seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun disana.
Ya, sepertinya wanita itu ingin mencoba membuka diri. Sebagai seorang wanita, tante, yang juga merangkap sebagai ibu untuk Louis dan Luke pasca meninggalnya kedua orang tua si kembar, Martha seolah merasa tersentuh hatinya atas keukeuh nya hati Louis.
Louis adalah seorang pemikir. Dia adalah pria yang mampu bersikap dewasa dan berfikir secara matang. Ia juga seorang laki laki yang sangat taat akan agama. Seleranya tinggi. Hatinya tidak mudah disentuh oleh sembarang wanita.
Jika ia bisa begitu yakin membela seorang gadis hingga rela meninggalkan rumah, itu artinya wanita itu bukanlah wanita sembarangan. Ia pasti memiliki daya tarik tersendiri yang bisa membuat Louis begitu tunduk padanya. Mungkin bukan dari derajat ataupun hartanya. Mungkin bisa dari hati, tindak tanduk, paras, atau yang lainnya.
Louis adalah putra harapan keluarga Davis. Ia yang paling diagung agungkan dibanding Luke ataupun Betrand. Louis adalah kunci keluarga itu saat ini. Louis adalah cucu kesayangan Tuan James. Sudah cukup seolah Luke yang 'mbalelo' . Cukup seorang Luke yang memberontak. Cukup seorang Luke yang keluar dari jalur yang semestinya. Ia tak mau Louis ikut ikutan lepas dari ikatan keluarga Davis hanya demi seorang wanita.
Kini Martha seolah mencoba untuk mengalah. Ia memilih untuk menurunkan egonya. Mencoba untuk mendekati Louis, dan mengenal Anisa lebih dekat. Barangkali ia bisa menemukan keistimewaan dalam diri wanita itu.
Sungguh, kini Martha benar benar penasaran dengan sosok wanita kampung bernama Anisa itu. Seperti apa ia sampai bisa membuat Louis begitu terpikat padanya.
"Assalamualaikum," sapa Louis.
__ADS_1
Anisa tersenyum sangat manis. "Wa Alaikum Salam," ucap wanita itu.
Louis mendekat. Ia menyentuh pucuk kepala wanita itu. "Hai, Sayang," ucap laki laki itu. Louis kemudian sedikit membungkuk. Mengusap perut buncit yang sesekali berdenyut itu lalu mengecupnya singkat.
"Hai, Papa," sapa wanita itu.
Louis tersenyum manis. Anisa nampak memiringkan kepalanya, menatap ke arah seorang wanita yang sejak tadi diam dengan membawa sebuah parcel buah di tangannya.
Anisa menoleh ke arah pria tampan kesayangannya itu.
"Louis," ucap Anisa.
"Ya," jawab pria itu.
"Siapa?" tanya Anisa pelan sembari menoleh ke arah Louis dan Martha bergantian.
Laki laki itu tersenyum. Ia kemudian menoleh ke arah tantenya yang kini nampak mendekati ranjang.
"Kenalin, ini Tante Martha. Ibunya Betrand," ucap Louis.
Anisa diam. Ia nampak sedikit bingung. Setahu dia, Betrand dan keluarganya menentang hubungannya dengan Louis. Lalu kenapa tiba tiba wanita itu datang padanya?
"Halo, Anisa!" sapa Martha sambil tersenyum.
Anisa ikut menampilkan senyumannya yang terlihat sedikit kaku.
"Ha, halo, Tante," jawabnya.
Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya. "Saya Martha, tantenya Louis."
Anisa menyambut uluran tangan wanita itu lalu menciumnya sebagai tanda hormat. "Saya Anisa, Tante," ucapnya.
Martha tersenyum. Kedua wanita beda usia itu kemudian berbincang bincang ringan ditemani Louis dan Elang disana. Martha mencoba untuk lebih mengenal dekat dengan Anisa. Ia ingin tahu, daya pikat apa yang membuat Louis begitu tergila gila pada wanita itu.
__ADS_1
...----------------...