(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
039


__ADS_3

Sore menjelang.


Louis keluar dari dalam ruangannya sembari memainkan ponselnya.


"Sore, Kak. Udah pulang belum?" bunyi sebuah pesan yang dikirim oleh gadis penggemarnya, Natasya.


Louis menghela nafas panjang lalu mengetikkan sebuah pesan balasan di sana."Udah"


"Kok singkat banget. Aku ganggu, ya?" balas Natasya.


Louis menghela nafas panjang. Baru saja ia hendak mengetikkan sesuatu, tiba tiba Betrand datang menghampiri laki laki itu.


"Bro!" ucap Betrand. Louis mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Betrand sebelum sempat menuliskan pesan balasan untuk Natasya.


Laki laki berjambang lebat itu mendekat. "Ngopi, yuk! Udah lama kita nggak nongkrong. Bosen gue di rumah terus!" ucap Betrand.


"Ngopi di apartemen gue aja gimana?" tanya Louis menawarkan.


Betrand berdecih. "Anisa lagi?" tanya Betrand nampak kesal.


Louis tersenyum.


"Dia sendirian di apartemen. Kasihan. Gue mau nemenin dia bentar. Mau ikut nggak?" tanya Louis.


Betrand melengos. "Nggak!" ucapnya.


"Ya udah! Kalau gitu gue duluan, ya. Bawa aja mobilnya, gue naik taksi aja!" ucap Louis sembari menepuk pundak sang sepupu kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut. Betrand membuang nafas kasar. Entah mengapa ia khawatir jika sepupunya itu jatuh ke pelukan Anisa. Louis kian hari kian aneh. Ia seolah tak bisa berjauhan dengan Anisa. Ia takut niatnya membantu wanita itu justru membuatnya jatuh cinta pada wanita kampung yang tidak jelas asal usulnya itu.


Betrand menghela nafas panjang. Laki laki itu kemudian meraih ponselnya, mencari nomor seorang wanita dengan foto profil mereka berdua yang nampak saling berpelukan hangat, Rhea.

__ADS_1


"Hai, baby!" sapa Rhea dari seberang sana kala sambungan telepon diantara keduanya sudah terhubung.


"Hai, babe. Kamu lagi sibuk nggak. Aku lagi suntuk, nih!" ucap laki laki itu sembari berjalan mendekati lift.


"Suntuk kenapa? Ada masalah di kantor?" tanya Rhea lembut.


"Aku lagi kesel sama Louis!" ucap Betrand.


"Emangnya kenapa?" tanya Rhea.


Betrand pun mulai menceritakan semuanya. Menceritakan tentang Louis yang kini diam diam memelihara wanita hamil hasil perbuatan Luke. Rhea yang memang selalu menjadi tempat curhat Betrand pun mendengarkan keluh kesah kekasihnya itu dengan seksama.


Sementara itu di tempat terpisah, di sebuah mobil taksi yang ditumpangi oleh Louis. Laki laki itu nampak tersenyum menatap layar ponsel miliknya. Sebuah ponsel yang kini menampilkan gambar hasil tangkapan kamera cctv yang terpasang hampir di seluruh penjuru ruangan apartemennya.


Ya, keamanan memang menjadi prioritas penting bagi seorang Louis. Kamera pengintai itu sudah terpasang sejak lama di apartemennya, hampir di seluruh penjuru ruangan unit hunian mewahnya itu, termasuk kamar utama serta dua kamar tamu disana.


Louis tersenyum manis. Sejak pagi ia terus bolak balik mengecek aplikasi yang terhubung langsung dengan kamera pengintai itu. Ia mengecek kondisi seluruh ruangan di apartemennya beserta wanita yang kini menghuninya. Semua rekaman kamera ia cek, kecuali kamar utama yang merupakan tempat tidur Anisa. Laki laki itu sangat menghargai privasi wanita hamil itu.


Louis menatap lembut layar ponsel itu. Pikirannya lantas melayang layang membayangkan sesuatu yang aneh.


Sifat dan kehidupan Anisa sangat bertolak belakang dengan adiknya. Wanita itu begitu baik dan lugu. Sangat berbeda dengan Luke yang hobi foya foya dan maksiat.


Louis jadi berfikir, bagaimana nasib Anisa kedepannya jika ia benar-benar menikah dengan Luke. Sedangkan Luke adalah pria pemuja selangk*ngan yang merangkap sebagai mucik*ri. Apakah Anisa akan bahagia jika hidup bersama Luke nantinya? Apakah Luke bisa berubah nantinya? Apakah mereka bisa menjadi keluarga yang harmonis? Atau mungkin pernikahan mereka justru akan menjadi kesengsaraan baru bagi Anisa?


Bagaimana jika Luke masih hobi gonta ganti pasangan jika sudah menikah dengan Anisa? Bagaimana jika Luke terus membodohi Anisa jika mereka sudah menikah? Bagaimana jika Luke justru merusak Anisa dan menjerumuskannya ke lembah maksiat seperti dirinya?


Amankah Anisa di tangan Luke nantinya?


Louis memejamkan matanya sembari menjatuhkan kepalanya di sandaran jog belakang taksi itu. Ia yang semula yakin untuk menjodohkan Anisa dengan Luke itu memang sudah mulai ragu akan keputusannya kala ia sudah mulai mengenal lebih dekat sosok Anisa. Dan kini, ia semakin ragu bahkan bimbang untuk menyatukan Anisa dan Luke kala ia mengetahui tentang sang adik yang rupanya diam diam merangkap profesi sebagai mucik*ri.

__ADS_1


Ia meragukan keselamatan Anisa dan calon bayinya. Ia takut jika wanita seistimewa Anisa rusak jika berada di tangan Luke. Seorang laki laki adalah pemimpin. Baik buruknya seorang istri itu tergantung dari bagaimana cara suaminya mendidiknya. Karena laki laki adalah imam, sedangkan sang istri adalah makmum yang mengikutinya. Apa jadinya Anisa yang polos jika harus tunduk pada pria yang tak bisa menjadi imam yang baik untuknya?


Louis menggelengkan kepalanya. Sungguh, sepertinya ia mulai goyah. Sangat tidak pantas seorang Anisa yang suci jatuh dalam pelukan pria bej*t seperti Luke.


Louis tidak bisa. Ia tidak rela!


Mobil terus melaju, melesat menuju apartemen mewah milik Louis. Hingga kurang lebih lima belas menit perjalanan, taksi biru itu sampai di sebuah bangunan tinggi yang rata rata dihuni oleh sekumpulan manusia berdompet tebal itu.


Louis turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Dengan segera ia masuk ke dalam lobby apartemen dan masuk ke dalam lift guna menuju ke lantai atas tempat dimana unit apartemennya berada.


Ting...


Pintu lift terbuka. Louis keluar dari kotak besi raksasa itu dan segera berjalan menuju unit hunian mewahnya.


Laki laki itu lantas menyipitkan matanya. Dilihatnya disana, di samping pintu apartemennya, seorang pria gondrong nampak berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding apartemen sembari menikmati sebatang rokok. Penampilannya tak terlalu rapi, bahkan terkesan berantakan dan sedikit urakan. Membuatnya pun menjadi sedikit curiga pada pria itu.


Louis mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak ada manusia lain disana. Hanya laki laki itu yang nampak berdiri disana seorang diri. Membuatnya pun mulai menaruh curiga pada pria itu.


Louis berjalan mendekati pria tersebut. Diamatinya sejenak pria dengan kalung salib yang menghiasi lehernya.


"Permisi," ucap Louis. Laki laki gondrong dengan jambang tipis itu menoleh. Dan...


.


.


.


Bersambung 🤭😁

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2