
NB: Bab cukup panjang dan ditulis agak terburu-buru. Minta tolong bantu koreksi, ya. Jika ada yang typo atau kurang kata-katanya bisa diinformasikan ke author. Terima kasih 🙏
20:00
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."
"Alhamdulillahirabbil alamin..."
Dua kalimat salam dan hamdalah menandai akhir ibadah sepasang anak manusia tanpa ikatan itu. Louis dan Anisa mengusap wajah masing masing dengan kedua telapak tangan mereka.
Diatas dua buah sajadah yang tergelar di ruang televisi apartemen mewah itu, Anisa dan Louis baru saja selesai menjalankan penutup ibadah lima waktu mereka, setelah sebelumnya keduanya sempat menghabiskan santap malam mereka bersama sama.
Louis yang berada di atas sajadah merahnya berbalik badan. Menatap ke arah wanita cantik dengan mukena putih yang terlihat bersih dan wangi itu. Penampilan polos dan apa adanya di balut dengan pakaian ibadah yang sederhana nyatanya tak mengurangi kadar kecantikan Anisa. Wanita itu justru terlihat makin memancarkan keindahan yang tersendiri di mata pria nyaris sempurna itu.
Louis tersenyum. Anisa memiringkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya wanita itu.
Louis tak langsung menjawab. "Terimakasih sudah mau jadi makmum saya untuk yang kedua kalinya," ucap laki laki itu dari atas sajadahnya.
Anisa tersenyum. "Kan mumpung ada disini," ucapnya.
Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum menatap wanita hamil yang kini nampak menunduk itu.
"Udah selesai, kan. Berdiri, yuk!" ucap Anisa sembari tersenyum ke arah Louis. Laki laki itu hanya tersenyum sembari mengangguk.
Anisa kemudian menggerakkan tangannya, melepaskan mukena bagian atasnya dan melipatnya rapi. Sedangkan Louis masih berada di posisinya tanpa melakukan pergerakan apapun. Matanya masih menatap lembut pergerakan wanita hamil yang kian hari kian terlihat cantik itu.
Setelah selesai dengan mukena atasnya, wanita itu kemudian bangkit. Ia hendak melepaskan mukena bagian bawah yang masih melekat di tubuhnya. Lagi lagi Louis hanya diam menatap pergerakan wanita itu.
Tiba tiba...
"Nisa," ucap Louis dengan kepala mendongak ke arah Anisa. Wanita itu kemudian menghentikan pergerakannya.
"Ya," jawabnya. Kedua pasang mata itu saling pandang untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Saya boleh pegang perut kamu?" tanya laki laki itu. "Saya juga pengen ngobrol sama... anak kita," ucap Louis kemudian.
Anisa diam sejenak. Suasana hening dengan dua pasang mata yang kembali saling beradu. Anisa diam menatap dalam pria itu, begitupun sebaliknya. Suasana terasa hening sejenak. Anisa kemudian tersenyum samar. Ia lantas mengangguk, mengizinkan laki laki itu untuk menyentuh perutnya yang masih belum begitu terlihat membuncit di usia kandungannya yang sudah hampir memasuki usia empat bulan itu.
"Iya, boleh," jawabnya.
Louis tersenyum. Anisa bergegas melepas mukena bawahnya dan melipatnya. Louis bangkit, melipat sajadah itu dan meletakkannya di atas bangku bersama dengan peralatan sholat milik Anisa.
Laki laki itu kemudian membimbing Anisa untuk duduk di sebuah sofa panjang tepat di depan televisi. Louis tersenyum lalu sedikit membungkuk. Cucu kebanggaan Tuan James itu mendekatkan wajah tampannya ke perut Anisa yang belum terlihat besar itu. Satu telapak tangan besarnya tergerak menyentuh perut berbalut daster hitam itu dan mengusap usapnya lembut.
"Hai, Sayang. Selamat malam!" ucap pria itu lembut seolah tengah berbincang dengan si jabang bayi yang kini tengah tumbuh di rahim Anisa.
Anisa diam. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat.
"Sehat sehat di tempat ternyamanmu saat ini, Sayang. Tumbuh jadi anak baik, ya. Jangan ngrepotin mamamu selama dalam kandungan. Sehat ya , Sayang. Kita ketemu tujuh bulan dari sekarang," ucap laki laki itu dengan sangat lembut dan manis dibarengi sebuah senyuman di akhir kalimatnya.
Anisa hanya ikut tersenyum. Louis kemudian menggerakkan kepalanya. Dikecupnya perut itu lembut sembari memejamkan matanya.
"Nak, mungkin aku bukan ayah biologismu. Tapi malam ini aku bersumpah, kelak kau akan mengenalku sebagai ayahmu. Sebagai orang yang akan selalu menyayangimu dan ibumu dalam keadaan apapun. Maaf jika aku egois. Tapi aku tidak mau kau tumbuh di tangan yang salah. Kau adalah titisan bidadari. Kau adalah malaikat yang tumbuh dari rahim wanita yang sempurna. Aku tidak mau kau terjebak di tangan yang keliru," batin Louis berucap.
"Tuhan, maafkan hambaMu yang tamak ini. Wanita ini ku ibaratkan sebuah berlian. Ia akan tetap menjadi berlian yang mahal meskipun terjebak di tengah lumpur yang kotor. Aku yang menemukannya. Aku yang merawatnya. Aku yang membersihkannya. Dan aku pula yang akan memilikinya. Aku tidak akan pernah memberikan berlian yang indah ini pada orang bodoh yang sudah menyia-nyiakannya. Maaf, Tuhan. Aku mau dia. Dan aku akan mengambilnya dari adikku sendiri!" ucap Louis dalam hatinya dengan setitik air mata yang menetes di pipi.
Niat hatinya berubah. Ia yang semula ingin menikahkan Luke dengan Anisa kini justru berubah pikiran. Anisa terlalu baik untuk Luke yang buruk. Ia terlalu sempurna untuk Luke yang penuh dosa.
Ia tidak akan pernah menyerahkan Anisa pada Luke! Ia tak akan pernah mempertemukan Anisa dengan adiknya itu! Ia tak peduli, dimana Luke sekarang. Ia tak akan meminta Luke pulang! Ia tak akan meminta pertanggungjawaban dari kembarannya itu!
Persetan dengan keserakahan. Persetan dengan nama baik, derajat, harta, tahta, latar belakang, dan hal hal sampah lainnya!
Anisa miliknya. Anisa wanita terhormat!
Ia akan menjadi suami wanita itu kelak setelah anak dalam kandungan Anisa lahir. Ia akan menceritakan semuanya pada Anisa dan mengakui semua tentang siapa dirinya. Ia akan memperkenalkan Anisa pada keluarganya. Tapi lagi lagi, nanti, setelah bayi itu lahir. Ia tak mau membebani pikiran Anisa.
Untuk saat ini, biarkan Anisa tetap di tempat ini. Biarkan ia tetap bersembunyi demi keamanan dan kenyamanan hati wanita itu. Nanti, jika waktunya sudah tiba, ia akan mengajak Anisa datang ke keluarganya. Ia akan memperkenalkan wanita itu sebagai wanita pilihannya. Dan ia akan meminang wanita itu dengan sah di mata hukum agama dan negara.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah apartemen mewah di belahan bumi lain,
Wanita cantik dengan kemeja putih panjang itu nampak duduk di sebuah sofa di kamar utama apartemennya. Menatap ke arah layar laptop yang menampilkan wajah kekasihnya, wanita itu nampak sesekali tersenyum samar mendengarkan curahan hati sang kekasih yang kini berada di tanah air.
Ya, itu adalah Rhea, kekasih Betrand. Kini wanita itu tengah melakukan panggilan video dengan sang kekasih. Betrand yang sejak sore masih kesal dengan Louis itu rupanya masih betah ber-curhat ria dengan wanita pujaan hatinya itu bahkan ketika malam sudah mulai menjelang.
Rhea pun sepertinya tak keberatan. Ia dengan sabar dan penuh perhatian mendengarkan semua curahan hati laki laki itu. Membuat Betrand pun merasa begitu beruntung memiliki wanita sebaik dan se-perhatian Rhea.
"Aku nggak tahu, kapan Louis akan menghubungi adiknya itu. Aku harapkan sih segera. Biar Luke bisa cepet cepet pulang dan nikahin perempuan kampung itu!" ucap Betrand.
Rhea tersenyum. "Iya, semoga ya, Babe. Tapi, Louis nggak akan serius masukin adiknya sendiri ke penjara, kan? Kasihan juga kalau sampai Luke masuk penjara. Kakek kalian pasti akan sedih, baby. Jahat loh itu!" ucap Rhea.
"Aku rasa sih enggak. Cuma gertakan sambel doang biar Luke mau pulang. Louis juga udah capek banget sebenarnya ngadepin ulah kembarannya itu!" ucap Betrand.
"Iya! Aku juga nggak habis pikir kenapa Luke tuh segila itu. Beda banget sama Louis yang hidupnya lebih tertata," ucap Rhea.
"Entahlah, aku juga bingung. Ada aja ulahnya yang bikin geleng geleng kepala," ucap Betrand.
Rhea mengulum senyum. "Ya udah, kamu yang sabar aja. Jangan marah-marah terus! Dari tadi kamu tuh emosi terus, tau nggak? Mending sekarang kamu istirahat, pasti di sana udah malam, kan? Aku juga mau lanjut kerja dulu. Habis ini aku juga mau pergi sama teman-teman aku," ucap wanita itu sembari menyeruput secangkir teh panas di samping laptopnya.
Betrand menghela nafas panjang sembari mengusap wajahnya. "Ya udah. Emang udah malam sih disini. Kamu jaga kesehatan ya di sana. Jangan capek-capek. Kalau udah selesai langsung istirahat!" ucap laki laki itu.
Rhea tersenyum. "Iya, Sayang. Oh ya, jangan lupa ya, dua minggu lagi aku pulang. Kita ketemu lagi!" ucap Rhea.
"Pasti! Aku nggak akan lupa. Karena kepulangan kamu itu adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Aku pasti akan jadi orang pertama yang kamu lihat di bandara!' ucap laki-laki itu membuat Rhea tersenyum bahagia.
Betrand tersenyum manis. "Ya udah, matiin, gih!" ucap Betrand.
"Okey! Good night, Sayang. Have a nice dream!" ucap Rhea manis. Sambungan vidio pun terputus. Rhea menutup layar laptop dihadapan nya. Ia menghela nafas panjang. Lalu menatap lurus ke depan, tepat di sebuah ranjang besar dimana seorang pria dewasa bertelanjang dada sudah menunggunya disana sejak lima belas menit yang lalu.
Laki laki dengan tato naga di pergelangan tangannya itu menyeringai.
"Kamu denger sendiri?" tanya Rhea pada pria yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Rhea dan Betrand itu.
__ADS_1
Laki laki itu, Luke Edgar Davis, nampak mengangkat dagunya.
"Tolol!" ucapnya. Rhea terkekeh. Luke menatap angkuh ke arah wanita itu. Rhea bangkit. Ia berjalan mendekati ranjang sembari melepas satu demi satu kancing kemejanya lalu membuang kain putih itu asal. Tubuh ramping yang kini hanya mengenakan pakaian dalam itu lantas naik ke atas ranjang. Ia merangkak, mendekati laki laki yang sudah lapar itu, dan memulai aktifitas panas mereka. Aktifitas terlarang yang diam diam sudah sangat sering mereka lakukan kurang lebih selama dua tahun terakhir.