(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
040


__ADS_3

"Permisi," ucap Louis tenang. Pria dengan rambut gondrong, jambang tipis, serta sebuah kalung salib tergantung di leher itu nampak menoleh.


"Ya?" jawab pria yang kira kira berusia dua puluh lima tahunan itu.



"Maaf, mas nya cari siapa, ya? Ngapain berdiri di depan pintu apartemen saya?" tanya Louis.


Laki laki itu menatap datar penampilan Louis dari atas sampai bawah, lalu melepaskan rokok di bibirnya.


"Saya nungguin Buk Susi yang bekerja di sini!" ucap laki laki itu.


Louis mengangkat dagunya dengan mata menyipit.


"Anda siapanya?" tanya Louis.


Laki laki itu diam sejenak. "Saya keponakannya," jawabnya kemudian.


Louis lantas tersenyum simpul. "Oh, keponakan?" ucap pria itu kemudian.


"Saya Louis, pemilik apartemen ini!" ucap laki laki itu ramah sembari mengulurkan tangannya tanpa ragu meskipun pria dihadapannya itu hanyalah keluarga dari ART nya.


Laki laki gondrong itu diam lagi, ditatapnya telapak tangan pria kaya yang tak segan mengajak saudara pembantu sepertinya untuk berjabat tangan. Ia pun kemudian mengangkat tangannya, menyambut uluran tangan pria tampan berparas kebarat baratan itu.


"Saya Elang!" jawabnya.


Louis tersenyum. Mereka saling melepaskan tangan masing masing.


"Bik Susi masih di dalam. Mas silahkan masuk aja!" ajak Louis.


Elang menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, saya tunggu disini aja!" jawabnya.


"Nggak apa apa, Mas. Masuk aja!" ucap Louis.


"Nggak usah. Saya disini aja. Beneran!" ucap Elang yang lagi lagi menolak ajakan Louis.


Louis tersenyum. "Ya udah, kalau gitu tunggu sebentar, ya. Bik Susi sebentar lagi keluar," ucapnya.


Elang hanya mengangguk. Louis kemudian masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Elang yang masih berdiri disana.


Ceklek...


Pintu apartemen terbuka.


Louis masuk ke dalam ruangan itu sembari melepas dasinya.


"Bik!" ucap Louis.

__ADS_1


"Iya, Tuan!" jawab Bik Susi yang berada di ruang dapur. Ia setengah berlari mendekati sang Tuan yang baru saja tiba.


"Saya, Tuan!" jawab wanita paruh baya itu setelah sampai di hadapan Louis.


"Anisa mana?" tanya laki laki itu sembari melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.


"Ada di balkon, Tuan," jawab wanita paruh baya itu.


Louis mengangguk. "Oke!" jawabnya.


"Oh ya, kalau udah selesai Bibik boleh pulang. Udah ditungguin sama ponakan Bibik di luar. Saya ajakin masuk dianya nggak mau," ucap Louis.


"Oh ya? Elang sudah di luar?" tanya Bik Susi. Louis hanya mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu, Tuan. Semua pekerjaan Bibik sudah selesai. Makan malam sudah Bibik siapkan, tinggal di hangatkan. Kalau begitu Bibik pamit pulang dulu. Kasihan itu si Elang udah nungguin," ucap Bik Susi.


Louis mengangguk. "Iya, Bik. Makasih, ya," jawab Louis.


"Sama sama, Tuan," jawab Bik Susi yang kemudian meraih tas selempangnya dan bergegas untuk pergi dari tempat tersebut. Namun baru beberapa langkah wanita itu hendak menuju pintu utama apartemen tersebut, tiba-tiba...


"Bik..." ucap Louis.


Bik Susi berbalik badan lagi. "Iya, Tuan?" jawabnya.


Louis merogoh saku celananya, mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya pada Bik Susi.


"Besok kan Jumat, Bibik kesini agak siang, kan? Tolong sekalian beliin susu buat Anisa, ya. Kayaknya stok susunya habis. Sama sekalian belanja bulanannya. Nanti kalau Nisa butuh sesuatu, saya WhatsApp Bibik, tolong beliin sekalian," ucap Louis.


Louis tersenyum. Bik Susi lantas pergi meninggalkan apartemen itu. Sedangkan pria tampan itu kini berbalik badan, berjalan menuju meja makan yang terhubung langsung dengan balkon apartemen tempat dimana Anisa berada.


Laki laki itu mengulum senyum melihat Anisa yang duduk santai di balkon kamar sembari memangku boneka beruang kesayangannya. Louis kemudian menuju meja dapur, membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Ia sesekali terkekeh. Anisa yang berada di balkon apartemen itu terdengar bicara seorang diri dengan boneka beruangnya. Seolah olah boneka itu adalah teman bicaranya.


Louis selesai dengan kopinya. Ia kemudian membawa kopi itu mendekati Anisa. Laki laki itu berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu kaca besar itu. Tepat di belakang Anisa yang duduk di sebuah kursi rotan dalam posisi membelakanginya. Wanita itu bahkan belum menyadari kepulangan Louis.


"Hem? Apa? Sabar, ya. Harus nunggu tujuh bulan lagi baby nya keluar. Biar kalian bisa main bareng!" ucap Anisa sembari memainkan tangan bonekanya bak bocah kecil.


Louis mengulum senyum sembari menyeruput kopinya. Tontonan yang menarik. Lebih menarik dibanding sekedar ngopi di cafe yang membosankan bersama Betrand.


"Apa? Mukaku pucet? Masa sih? Emang iya? Aku emang belum mandi! Males mandi! Airnya dingin! Lagian nggak mandi juga nggak apa apa kali, ya. Kan nggak ada orang, cuma ada aku, kamu, sam Bik Susi!" ucap Anisa lagi, masih dengan bonekanya.


Louis terkekeh lagi sembari menggelengkan kepalanya. Wanita ini makin hari makin lucu saja. Bisa bisanya ia heboh sendiri dengan benda mati itu.


"Loh, ya jelas, dong! Aku emang cantik alami. Debu dan keringat memang tidak bisa menutupi aura kecantikanku walaupun aku nggak mandi!" ucap Anisa PD.


Louis makin cekikikan.


"Pantesan dari tadi saya nyium bau asem! Ternyata kamu belum mandi?!" Suara itu berhasil mengagetkan Anisa. Dengan cepat wanita hamil itu bangkit dari posisi duduknya dan berbalik badan sembari memeluk bonekanya

__ADS_1


Anisa melotot. Dilihatnya disana, Louis rupanya sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Dengan secangkir kopi di tangan, laki laki itu nampak menyandarkan tubuhnya di dinding kaca itu sembari mengulum senyum lucu ke arah Anisa.


"Kamu? Sejak kapan kamu di situ?" tanya Anisa dengan wajah kaget sekaligus merah merona karena malu. Louis pasti mendengar pembicaraannya yang aneh dengan boneka beruangnya.


Louis tak menjawab. Ia berjalan mendekati Anisa dan berdiri di hadapannya. Anisa mendongak. Keduanya nampak saling pandang untuk beberapa saat. Laki laki itu tersenyum. Ia sedikit membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Anisa dengan mata yang nampak menyipit. Membuat Anisa pun reflek sedikit mundur menjauh dari Louis.



"Apa?!" tanya Anisa sedikit panik.


Louis mengangkat satu sudut bibirnya.


"Pucet!" ucapnya.


Anisa melotot. Louis tersenyum. Ia lantas menoleh ke arah boneka dalam pelukan Anisa. Digerakkannya tangan kekar itu menyentuh ujung hidung boneka beruang tersebut.


"Pinter kamu! Mata kamu jeli!" ucapnya seolah berbicara pada boneka itu.


Louis kembali mengarahkan pandangannya pada Anisa. Wanita itu nampak mengerucutkan bibirnya, namun sepersekian detik kemudian ia menunduk malu. Sebuah ekspresi yang justru terlihat semakin lucu dan menarik di mata Louis.


"Ini cewek apa cowok?" tanya Louis.


Anisa nampak mendongak masih dengan bibir yang mengerucut.


"Cewek kalik!" ucap Anisa.


"Pantes suaranya nyaring tadi!" ucap Louis membuat Anisa menoleh ke arah laki laki itu. Suaranya nyaring katanya. Padahal jelas jelas itu adalah benda mati yang tak bisa mengeluarkan suara.


"Kalau dia cewek, berarti dia masih muhrim kamu. Aman buat dipangku!" ucap laki laki itu lagi, membuat Annisa pun sedikit terkekeh mendengarnya.


"Ini kan boneka, mana ada gender nya?!" tanya Anisa sambil tertawa. Laki laki Ini ternyata lucu juga.


"Dia juga nggak bisa ngomong, ngapain kamu ajak ngobrol?" tanya Louis balik.


"Udah tahu dia nggak bisa ngomong, napa kamu bilang suara dia nyaring? Tahu darimana coba?" jawab Anisa tak mau kalah. Keduanya diam untuk beberapa saat dengan mata yang saling memandang. Kemudian...


"Hahahaha...!!" Sepasang anak manusia itu tergelak bersama-sama.


Kenapa jadi lucu begini? Keduanya berdebat gara-gara boneka yang jelas-jelas hanya seonggok benda mati.


Louis tanpa sadar menggerakkan satu tangannya yang bebas itu dan mengacak-acak lembut pucuk kepala Anisa. Wanita itu terkekeh sembari menutupi wajahnya dengan boneka di pelukannya. Louis lucu juga. Membuat wanita itu terus cekikikan di hadapan pria berbadan tegap itu.


"Udah ah, buruan mandi sana, biar seger! Jam segini bukannya mandi malah ngobrol ama boneka!" ucap Louis.


Anisa menghentikan tawanya. "Kamu udah lama sampainya? Saya sampai nggak nyadar kalau kamu udah datang," ucap Anisa.


"Udah dari tadi! Bik Susi aja udah pulang, kok!" ucap Louis.

__ADS_1


"Oh ya?" tanya Anisa. Louis hanya terkekeh.


"Udah, mandi sana. Biar bersih. Abis itu kita makan malam!" ucap Louis. Anisa tersenyum. Ia lantas mengangguk. Wanita itu berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Louis kini memilih duduk di sebuah kursi rotan yang berada di balkon apartemennya. Menikmati waktu sorenya dengan secangkir kopi racikannya sendiri.


__ADS_2