(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
060


__ADS_3

Sementara itu, beberapa saat kemudian di kediaman mewah milik keluarga Davis.


Laki laki tampan itu menarik selimut tebal tersebut, menutupi separuh badan pria renta yang kini sudah tertidur lelap itu.


Louis tersenyum menatap paras tenang sang kakek.


"Selamat beristirahat, Kek. Louis pamit pulang dulu, ya," ucap laki laki itu pada pria yang begitu ia sayangi tersebut. Louis meraih punggung tangan sang kakek yang tertidur, lalu menciumnya beberapa kali sebagai tanda bakti sekaligus sayangnya.


Louis kemudian bangkit. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ia sudah sejak pagi berada di tempat itu guna menemui sang kakek. Belum genap sehari ia meninggalkan apartemennya, kini ia sudah sangat merindukan wanita yang ia tinggal di hunian mewah miliknya itu. Terlebih lagi tadi sang ART sempat menelponnya diam diam. Mengabarkan tentang sebuah insiden yang sempat terjadi di apartemen itu selepas kepergiannya dari tempat tinggal sementaranya tersebut. Hal itupun tentu saja membuat Louis khawatir. Ia takut terjadi sesuatu dengan Anisa dan calon buah hatinya. Membuatnya seolah ingin buru buru pulang dan memastikan bahwa Anisa baik baik saja.


Ceklek...


Pintu kamar Tuan James terbuka. Louis keluar dari ruangan itu. Ia kemudian berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar. Kondisi rumah sepi. Martha pergi, Steve ke kantor, begitu juga dengan Betrand. Laki laki itu terus mengayunkan kakinya menuju pintu utama rumah itu. Hingga...


Ceklek...


Pintu utama terbuka. Betrand muncul dari balik pintu dengan sorot mata garang. Sesuatu yang dapat ditangkap dengan jelas oleh mata Louis dan dibalas dengan tatapan mata yang sama oleh pria tampan itu.


Kedua pria itu saling menatap dengan sorot mata tajam membunuh, seolah menggambarkan sebuah kebencian yang kini tengah membakar dada masing masing. Betrand terbakar emosi karena cerita mengada ada dari Rhea, sedangkan Louis tersulut amarahnya karena cerita fakta dari ART nya.


Sepasang saudara yang masih satu keluarga itu nampak berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap dengan sorot mata tajam penuh emosi. Keduanya saling mengikis jarak. Seolah menggambarkan betapa keduanya saling muak dan membenci satu sama lain.


"Mau kemana?" tanya Betrand dingin.


"Tugas gue udah selesai. Kakek sudah tidur," jawab Louis tak kalah dingin.


"Lo masih ada urusan ama gue!" ucap Betrand.


"Urusan apa? Gue sibuk. Gue harus pulang. Ada hama menyebalkan yang menyusup ke apartemen gue pagi ini!" ucap Louis.


Betrand mengangkat satu sudut bibirnya.


"Perempuan kesayangan lo itu ngadu sama lo? Cerita bohong apa yang udah dia buat?" tanya Betrand.

__ADS_1


Louis tertawa sumbang.


"Bidadari lo juga udah ngomong sesuatu? Apa yang dia bilang?" tanya Louis seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan Betrand.


"Dia bukan perempuan baik baik!" ucap Betrand.


Louis diam. Ia memejamkan matanya, tersenyum lalu manggut manggut seolah mengiyakan saja ucapan sepupunya itu.


"Ada laki laki yang masuk ke apartemen itu setelah lo pergi," tambah Betrand.


Louis masih diam dengan senyuman samarnya.


"Luke benar. Dia sama seperti korban korban adik lo dulu. Buka mata lo! Dia cuma perempuan munafik yang ngincer harta lo!" ucap Betrand.


Louis mengembangkan senyumnya.


"Ucap pria yang sudah berhasil dibodohi wanitanya!" jawab Louis sambil tersenyum, membuat Betrand melotot mendengarnya. Bukannya menerima nasehatnya, Louis sepertinya masih bersikeras dengan pendiriannya. Ia tak percaya dengan ucapan Betrand.


"Lo emang benar benar udah buta!" ucap Betrand dengan gigi yang mengetat.


"Emang apa sih yang udah Rhea ceritain ke lo? Kejelekan apa yang sudah ia dongengkan buat lo?" tanya Louis.


Kedua laki-laki itu diam sejenak. Louis nampak memiringkan kepalanya menatap wajah sang sepupu yang kini terlihat berang.


"Emang bener ya kata orang. Sepintar-pintarnya seorang laki-laki, akan bodoh juga jika sudah berhadapan dengan perempuan. Lo itu laki-laki berpendidikan tinggi, masa iya lo nggak bisa ngebedain mana yang benar mana yang salah? Masa iya lo bisa segampang itu percaya sama seseorang? Ya... walaupun seseorang itu sudah sangat dekat dengan lo sejak lama," ucap Louis santai.


"Apartemen gua bukan apartemen kaleng-kaleng, Bro. Gua punya ART yang kerja di sana. Dan gua memasang kamera CCTV hampir di setiap sudut ruangan apartemen itu. Kalau lo mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, lo boleh kok datang ke apartemen gua. Sekalian aja, ajak cewek lo yang maha baik itu."


Louis menggerakkan tangannya merapikan jas Betrand yang sebenarnya sudah rapi itu. "Kita nobar," ucapnya kemudian sambil tersenyum.


Louis menjauh. Ia kemudian berjalan melewati Betrand yang mematung. Louis kemudian pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan istana keluarga Davis dan bergegas pulang menuju apartemen tempat tinggalnya bersama Anisa.


Louis melajukan kendaraan mewahnya seorang diri. Kecepatannya sedang. Ia melajukan mobil itu sembari memainkan ponselnya. Menuju sebuah aplikasi yang terhubung langsung dengan CCTV apartemen miliknya dan mulai menyaksikan rekaman yang berhasil ditangkap kamera pengawas itu pagi tadi.

__ADS_1


Sesuai dengan apa yang Bik Susi sampaikan padanya pagi tadi. Rekaman keributan di depan pintu apartemen yang dibuat oleh Rhea dan Natasya terekam dengan sangat jelas disana. Ditangkap dengan sempurna oleh kamera yang ia pasang di beberapa sudut apartemen mewah itu.


Louis menajamkan sorot matanya. Ia nampak fokus dengan kemudinya sambil sesekali menatap tajam ke arah layar ponsel yang kini tersandar di dashboard mobil mahal itu. Telinganya menangkap jelas suara suara yang terdengar dari rekaman CCTV itu. Betapa kotornya mulut Rhea. Betapa pilunya tangisan Anisa. Untung Elang dan Bik Susi cepat datang dan membantu wanita itu. Semoga Anisa dan calon bayinya baik baik saja. Louis pun dengan segera tancap gas. Ia menambah kecepatan laju kendaraannya agar segera sampai di apartemen miliknya.


Kurang lebih lima belas menit berselang, mobil mewah itu sampai di basemen apartemen tempat tinggal Anisa dan Louis. Laki laki itu turun dari kendaraannya. Dengan segera Louis pun setengah berlari masuk ke dalam bangunan tinggi itu. Ia melangkah menuju lift disana yang akan membawanya menuju lantai atas tempat di mana unit apartemennya berada.


Ting...


Pintu lift terbuka. Louis keluar dari kotak besi raksasa itu. Ia mengayunkan kakinya cepat dan lebar menuju unit apartemennya. Samar samar dari kejauhan, dilihatnya sosok pria gondrong yang nampak berdiri di depan pintu apartemen itu sembari menikmati sebatang rokok di tangannya. Ya, itu Elang.


Louis pun mendekat. "Elang," ucapnya.


Elang menoleh. Ia tak menjawab. Laki laki itu hanya mengangkat satu sudut bibirnya sembari menatap datar ke arah majikan budhenya itu. Bayang bayang pria mirip Louis yang ia lihat tengah bercumbu mesra dengan beberapa wanita di club malam beberapa waktu lalu masih menari nari di ingatannya. Membuatnya seolah bertanya tanya, siapa laki laki ini sebenarnya.


"Kamu masih disini?" tanya Louis.


Elang diam lagi. Ia kemudian mengangguk tanpa mengucap sepatah katapun. Louis paham. Sepertinya Elang memanglah tipe manusia yang sangat irit bicara.


Louis mengangguk. Ia kemudian membuka pintu utama apartemen itu dan berniat masuk ke dalamnya. Namun tiba tiba...


Louis menghentikan pergerakannya. Ia menoleh ke arah Elang yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan dari Louis.


"Lang, makasih sudah menolong calon istri saya pagi tadi. Saya berhutang budi sama kamu," ucap Louis.


Elang masih diam. Sorot matanya masih datar, bahkan kini nampak mengamati penampilan pria itu dari atas sampai bawah.


"Saya tidak suka melihat perempuan disakiti," ucap pria gondrong itu kemudian.


Louis tersenyum. "Saya juga," ucapnya.


"Sekali lagi terimakasih," tambah Louis.


Elang diam. Ia hanya menjawab ucapan Louis menggunakan satu anggukan kepala. Louis kemudian membuka pintu utama apartemen itu, lalu masuk ke dalamnya untuk menemui Anisa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2