(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
045


__ADS_3

Malam menjelang, di sebuah kamar hotel mewah yang berada di kota itu.


Seorang wanita cantik dengan kimono handuk yang membalut tubuh indahnya itu nampak keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar hotel berbintang lima itu. Dengan sebuah handuk kecil di tangan yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut basahnya, Rhea berjalan mendekati pria tampan yang kini nampak menikmati sebatang rokok di atas ranjang yang nampak kusut itu.


"Baby," ucap Rhea manja sembari mendudukkan tubuhnya di samping ranjang.


Betrand menoleh. Ia membuang asap dari mulutnya. Ditatapnya paha mulus yang tertutup kimono milik wanita yang baru saja ia jamah itu. Tangan kekarnya lantas tergerak, menyingkap kain kimono itu lalu mulai membelai paha mulus milik sang kekasih. Tatapannya terlihat nakal. Menatap kearah wanita yang sudah sangat sering bertukar keringat dengannya sepanjang mereka menjalin hubungan percintaan.


"Kamu nggak mandi?" tanya Rhea pada pria yang kini nampak bertelanjang dada itu.


"Tadi aku pengennya mandi bareng kamu. Kamunya malah mandi duluan!" ucap Betrand.


Rhea tertawa lembut. Digerakkannya tangan ramping itu mencubit gemas pipi dangan jambang indah di rahangnya itu.


"Ya udah, sekarang mandi. Biar wangi!" ucap wanita itu.


"Aku udah wangi! Kamu tahu itu!" ucap Betrand. Ia mematikan rokoknya dengan menekan ujung yang terbakar itu di asbak. Laki laki itu lantas meringsut. Mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rhea dan memeluk pinggang ramping itu dengan posesif. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak sang kekasih dengan begitu manja bak seorang bocah.


Rhea tersenyum. Se-cinta dan se-manja itulah Betrand padanya.


"Kamu kenapa, sih? Akhir akhir ini kayaknya kamu sering badmood," tanya Rhea sembari membelai wajah berjambang Betrand.


Laki laki itu tak menjawab. Ia nampak menghela nafas panjang.


"Masih tentang Louis?" tanya Rhea lagi.


Betrand di sejenak. "Aku cuma kebayang-bayang aja, apa jadinya kalau suatu saat Louis benar benar menikah dengan perempuan itu. Dia menikahi bekas adiknya. Dan apa jadinya kalau suatu saat Papa, Mama, dan Kakek tahu tentang asal usul perempuan pilihan Louis. Dididik susah susah, gedenya dapet bekas orang!" ucap Betrand menggerutu.


"Mungkin Louis cuma kasihan aja. Dia ngomong kayak gitu karena kebawa perasaan," ucap Rhea.

__ADS_1


"Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi lama lama kayaknya perhatian dia ke perempuan itu mulai berlebihan. Sampai sampai dia ngizinin perempuan itu tinggal di apartemennya!" ucap Betrand.


Rhea diam sejenak, lalu terkekeh. "Aku jadi penasaran, kayak apa sih perempuan yang udah berhasil membuat seorang Louis tergila gila? Padahal Louis itu susah banget loh buat bisa deket ama cewek. Kalau dia berhasil menaklukkan hatinya Louis, itu artinya dia istimewa!" ucap Rhea.


Betrand berdecih. "Istimewa apanya? Jelek! Kampungan! Penampilannya udik!" ucap Betrand kesal.


Rhea terkekeh lagi. "Kalau sama aku, cantikan mana?" tanyanya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.


Betrand menegakkan posisi duduknya. Di tangkupnya wajah cantik itu sembari menatapnya gemas.


"Ya kamu, lah! Gila aja kamu dibanding bandingin ama perempuan itu!" ucap Betrand.


Rhea tergelak. Betrand menggerakkan kepalanya. Ia kembali menghujani bibir merah muda itu dengan kecupan kecupan singkat.


"Udah gih, mandi! Katanya mau ketemu Papa sama Mama kamu!" ucap Rhea sembari memukul dada bidang berbulu halus itu.


Rhea terkekeh. "Ya udah, ayok!" jawab wanita itu. Keduanya pun lantas berjalan menuju kamar mandi. Rhea kembali masuk ke dalam ruangan itu untuk membantu membersihkan tubuh lelaki yang tak lama lagi akan segera mempersuntingnya itu.


Ya, keduanya memang sudah mempersiapkan pernikahan mereka jauh jauh hari. Kedatangan Rhea ke negara ini salah satunya juga untuk membahas tentang pernikahan yang rencananya akan berlangsung kurang dari enam bulan lagi itu. Betrand sepertinya benar benar sudah mantap untuk menikahi pujaan hatinya yang begitu sempurna di matanya tersebut.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah tempat hiburan malam yang berada di kota itu. Sekelompok anak muda nampak memarkirkan kendaraan roda dua berknalpot bising milik mereka di sebuah lahan parkir di sana. Satu diantara mereka, adalah seorang pria berambut gondrong dan berjambang tipis yang merupakan ketua kelompok pemuda tersebut, Elang.


Elang tak beranjak dari motornya. Ia menatap datar ke arah bangunan yang identik dengan musik DJ itu. Sebenarnya ia tak berminat untuk datang ke tempat ini, namun karena desakan dari rekan rekannya, akhirnya ia pun ikut juga.


"Ck! Lu pada ngapain sih ngajak gue kesini?" tanya Elang dengan mode tenangnya.


"Ah elah! Ya sekali sekali cari suasana baru lah, Bro! Bosen mabuk di markas mulu. Sekali sekali kita kesini! Lihat cewek cewek seksi! Siapa tahu ada yang nyantol ama kita!" ucap salah satu rekan Elang, Bima namanya.

__ADS_1


Elang tak menjawab. Ia hanya memutar bola matanya.


"Udah, Lang! Kita masuk aja dulu! Siapa tahu asyik tuh suasana di dalam!" tambah seorang rekan lainnya bernama Anjas itu.


Elang lagi lagi tak menjawab. Ia merogoh saku celananya. Mengambil satu batang rokok dari dalam kemasannya lalu menyalakannya. Tanpa kata kata, ia lantas turun dari kendaraannya, dan mengayunkan kakinya masuk ke dalam bangunan itu bersama teman temannya.


Suara hentakan musik yang memekakkan telinga menjadi lagu penyambut kedatangan sekelompok anak muda kampung itu. Wanita wanita berpenampilan seksi serta pria pria mabuk nampak menari nari dibawah gemerlap lampu warna warni itu, mengikuti alunan musik yang dimainkan begitu keras oleh seorang pria bertato disana.


Sejumlah pemuda itu mulai menggerak-gerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik. Elang yang tak terlalu suka tempat semacam ini hanya diam, mengedarkan pandangannya ke segala arah tanpa melakukan pergerakan apapun.


Ya, laki laki itu memang tak begitu menyukai keramaian semacam ini. Ia lebih suka mabuk dan menikmati minumannya sendiri dirumahnya atau di markas bersama teman temannya, daripada menghabiskan waktu berkumpul dengan orang orang asing di dalam satu ruangan pengap seperti ini. Itu sama sekali tidak menarik bagi Elang!


Elang mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku disana, tepat di depan meja seorang bartender yang tengah melayani sejumlah pengunjung. Elang melihat ke sekelilingnya, beberapa rekannya sudah turun ke lantai dansa, berbaur dengan pengunjung lain, menikmati suguhan musik dari seorang DJ disana. Elang kemudian memesan satu gelas kecil miras disana dan mulai menenggaknya.


Satu dua tenggakan lolos dengan sempurna. Masuk ke dalam tubuh pria yang tak banyak bicara itu. Belum lama ia di tempat itu, Elang sudah merasa bosan. Ingin rasanya ia pulang duluan meninggalkan teman temannya. Hingga tiba tiba...


Keponakan Bik Susi itu menyipitkan matanya. Pandangannya tertuju pada seorang pria tampan yang nampak duduk di sebuah sofa merah disana. Ia nampak dikelilingi dua wanita berpenampilan sensual yang terlihat begitu bin*l. Bergerak menggeliat bak cacing kepanasan, seolah ingin menggesek gesekkan tubuhnya pada tubuh pria yang nampak memegang sebuah gelas sloki itu.



"Itukan.....?" ucap Elang menggantung. Laki laki itu nampak terkejut. Ia hafal betul wajah itu. Wajah pria yang beberapa kali ia lihat ketika menjemput budhe nya bekerja. Wajah laki laki yang dulu pernah tanpa ragu menjabat tangannya. Laki laki yang menurut penuturan budhenya adalah sosok pria kaya yang baik hati dan religius.


Elang nampak menyipitkan matanya. Laki laki yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya itu kini bahkan terlihat beradu bibir dengan seorang wanita malam disana.


Elang menggelengkan kepalanya. Ia kaget. Bukankah di apartemennya kini sedang ada seorang wanita yang tengah hamil? Bisa bisanya ia bermesraan dengan wanita lain di sini? Seperti inikah gambaran asli seorang pria yang katanya baik hati dan religius itu?


"Astaga!" ucap Elang tak habis pikir. Kasihan sekali wanita hamil yang berada di apartemen itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2