(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
046


__ADS_3

Hari berganti. Saat pagi menjelang, di sebuah rumah petak di pinggiran kota. Sebuah rumah sederhana dengan patung salin serta lukisan lukisan bernuansa Kristiani yang melekat di dindingnya.


"Elang!! Buruan...!" teriak seorang wanita paruh baya disana.


"Iya, bentar!!" sahut seorang pemuda yang nampak keluar dari kamarnya sembari mengenakan kaos oblongnya.


"Ini udah siang! Buruan!" ucap Bik Susi yang nampak menenteng kantong kresek berisi susu ibu hamil dan beberapa keperluan dapur yang ia beli kemarin sepulang dari bekerja itu.


Laki laki berjambang tipis itu nampak menuntun motornya keluar rumah. "Siang dari mananya sih, Budhe. Matahari aja belum kelihatan, kok!" ucap Elang.


Saat ini jam memang baru menunjukkan pukul setengah lima pagi. Namun Bik Susi seolah sudah tak sabar untuk segera pergi ke tempat kerjanya itu.


Elang segera menyalakan mesin motornya. Wanita paruh baya itu kemudian naik, duduk membonceng di belakang sang keponakan sembari menenteng beberapa barang belanjaan di tangannya. Elang melirik ke arah kantong kresek di tangan budhenya.


"Itu apa, Budhe?" tanya Elang.


"Ini?" jawab Bik Susi sembari mengangkat ringan kantong kreseknya.


"Iya," jawab Elang sembari mulai melajukan kuda besinya.


"Susunya Non Anisa. Sama beberapa keperluan dapur. Kenapa emangnya?" tanya Bik Susi.


Elang diam sejenak. Ia kembali teringat sosok pria yang ia temui di club tadi malam. Wajahnya mirip sekali dengan Louis. Entah mengapa tiba-tiba Elang merasa penasaran tentang hubungan antara Anisa dan Louis. Jika diamati, Anisa sepertinya adalah gadis baik-baik. Hal itu dapat dilihat dengan jelas dari penampilan dan tutur bahasanya. Sedangkan Louis, laki-laki itu juga terlihat sangat baik dan ramah. Tak seperti pria brengs*k yang sering main perempuan dan berfoya-foya di tempat hiburan malam. Tapi kenapa laki-laki itu terlihat menjadi sosok yang berbeda malam tadi? Seperti bukan Louis.


Rasa penasaran itu lantas bergejolak begitu saja. Elang pun mulai kepo tentang sesuatu yang sebenarnya bukan ranahnya itu. Ia pun mulai mencoba mengulik hubungan antara Anisa dan Louis melalui Budhe nya.


"Emang mereka udah menikah ya, Budhe?" tanya Elang sembari melajukan kendaraannya.


"Siapa?" tanya Bik Susi.


"Majikannya Budhe!” ucap Elang.


"Belum! Mereka belum menikah. Tapi Non Anisa hamil duluan. Budhe juga kaget. Padahal Budhe lihat, dua duanya orang baik. Non Anisa itu polos, baik, ibadahnya juga baik. Apalagi Tuan Louis! Ya Tuhan, dia itu baik banget, Lang! Budhe nggak nyangka kalau dia bisa menghamili anak orang begitu," tutur sang Budhe yang memang mudah sekali dipancing untuk bergunjing.


Elang diam tak menjawab. Mungkinkah Louis itu adalah sejenis buaya darat yang pandai merayu wanita? Dan Anisa adalah salah satu korbannya.


Ah, kasihan sekali..! Pikir Elang.

__ADS_1


"Kamu kenapa kok tiba tiba penasaran sama Non Anisa dan Tuan Louis? Biasanya kamu nggak pernah peduli sama urusan orang lain!" ucap Bik Susi.


Elang tersenyum. "Enggak. Cuma penasaran aja, Budhe," ucap Elang.


Bik Susi nampak menghela nafas panjang.


"Budhe pikir kamu punya perasaan yang sama kayak Budhe, Lang!" ucap Bik Susi.


"Perasaan apa?" tanya Elang.


"Non Nisa itu kalau tertawa mukanya ngingetin Bibik sama seseorang," ucap Bik Susi.


Elang diam sejenak. "Siapa?" tanya laki laki itu.


"Coba aja lihat pas dia ketawa. Kamu pasti akan mikirin hal yang sama kayak Budhe!" ucap wanita itu.


Elang tak menjawab. Ia nampak mencoba berfikir sembari terus melajukan kendaraan roda duanya menembus jalan raya ibu kota yang masih belum terlalu ramai itu.


Tak berselang lama, kendaraan roda dua itu sampai di bangunan tinggi hunian para orang berduit itu. Bik Susi turun dari motor itu. Dilepaskannya helm yang membungkus kepalanya itu lalu menyerahkannya pada Elang.


"Nggak usah! Budhe minta tolong satpam aja nanti!" ucap Bik Susi. Elang hanya mengangguk. Ia lantas menggantungkan helm di tangannya itu di salah satu stang motornya.


"Lang," ucap Bik Susi.


"Apa?" tanya Elang.


"Kalau ada waktu, kunjungin makam ibu, bapak, sama pakde mu, ya!" ucap Bik Susi. "Sudah lama kita nggak berkunjung ke sana. Sekalian bersihin rumput rumputnya," ucap Bik Susi.


Elang diam lagi. Membahas tentang ibu, orang tua, dan keluarga memang selalu membuat Elang teriris. Laki laki itu kemudian menoleh, lalu tersenyum, dan mengangguk.


"Ya udah, Budhe masuk. Kamu langsung pulang, ya. Nggak usah mampir-mampir!" ucap Bik Susi seraya melangkahkan kakinya menjauh dari Elang. Pemuda itu hanya tersenyum menatap kepergian wanita yang merupakan satu satunya keluarga yang ia punya itu.


...****************...


Sementara itu, beberapa jam kemudian di tempat terpisah. Pria tampan berbadan atletis itu nampak sudah sudah bersiap di kamarnya. Penampilannya sudah rapi dengan setelan jas lengkap hingga sepatu mengkilap membalut kakinya. Sebuah jam tangan mewah melingkar di lengannya. Aroma parfum mahal juga sudah menyeruak dari tubuhnya. Louis nampak merapikan pakaiannya di depan kaca. Laki laki itu tersenyum. Ia kemudian berbalik badan, mendekati meja nakas yang berada di samping ranjangnya dan meraih sebuah ponsel yang baru saja berbunyi itu.


Satu pesan masuk dari Anisa. Louis nampak mengulum senyum. Ia kemudian membuka pesan dari wanita yang mulai menguasai pikiran Louis itu.

__ADS_1


"Ceyamat pagi," tulisnya.


Louis terkekeh. Ia kemudian mulai mengetikkan pesan balasan disana.


"Selamat pagi, Dek. Ada yang bisa dibantu?" balasnya.


"Pagi, Om. Mau pesen nasi uduk satu dong, buat makan malam," tulis Anisa lagi.


Louis terkekeh. Pesan yang tak penting namun cukup menghibur bagi Louis.


"Maaf, Dek. Di sini damkar, bukan warteg," tulis Louis.


Laki laki itu nampak menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Wanita hamil itu kian hari kian terlihat lucu di mata Louis.


Pria itu kemudian memasukkan ponsel dengan wallpaper foto Anisa itu ke dalam saku celananya. Ia lantas berjalan menuju pintu kamar tidurnya tersebut, berniat untuk turun dan memulai santap paginya. Namun tiba tiba...


Ceklek....


Pintu kamar terbuka dengan cukup kasar. Louis terdiam. Betrand muncul dari balik pintu dengan mimik wajah tak bersahabat. Pria kembaran Luke itu kemudian tersenyum hangat,


"Bro, gue baru aja mau tu..........."


Buughh!!!


"Anj*nk lu ya..!!"


.


.


.


Ada apa ini?


Bersambung dulu ya 🤭😁


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2