(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
080


__ADS_3

Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Anisa sudah diizinkan untuk pulang setelah dinyatakan sehat oleh dokter yang menanganinya.


Sesuai rencana, pasca pulang dari rumah sakit, kini Anisa mulai ditempatkan di kediaman Bik Susi yang berada di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Ya, ini hanya untuk sementara. Hanya sampai nanti saat situasi dirasa aman dan Louis resmi menikahi Anisa, maka laki laki itu akan membawa wanita pujaan hatinya tersebut untuk tinggal di kediaman mewahnya.


Satu restu dari Tante nya sudah mereka dapatkan. Kini tinggal dari Steve serta Tuan James lah yang harus mereka dapatkan. Louis optimis. Ia yakin bahwa ia akan mendapatkan restu itu secepatnya.


Malam menjelang, di permukiman padat penduduk di pinggir kota. Sebuah mobil mewah milik pria tampan itu nampak berhenti tepat di depan sebuah rumah petak sederhana yang berada di ujung jalan sempit itu. Seorang laki laki tampan dengan penampilan yang lebih santai nampak turun dari kendaraan roda empat tersebut.


Lantunan musik dangdut menggema dari sebuah bangunan yang mirip seperti pos ronda, tepat berada di samping sebuah lapangan futsal yang sepertinya sudah tak terpakai. Tempat itu terlihat lusuh. Beberapa sofa usang, kursi, meja, kendaraan para anak muda yang menghuni tempat itu, nampak terlihat disana. Dinding dinding pembatas lapangan dengan rumah warga itu nampak dipenuhi gambar dan coretan pilox yang tak jelas bentuk dan maksudnya.


Beberapa pemuda juga tengah berkumpul disana. Ada yang mengasah senjata, seperti celurit, pisau dan sejenisnya. Ada yang tengah merakit bom molotov. Dengan bahan dasar botol, bensin, dan sumbu. Ada juga yang tengah bernyanyi nyanyi ria di atas sebuah kursi disana sembari menikmati alkoholnya.


Louis menghela nafas panjang. Itu markas para pemuda kampung tersebut. Tempat itu adalah tempat dimana Elang dan kawan kawan berandalannya berkumpul. Sebuah tempat yang kata Elang tidak pernah sepi. Selalu ada saja orang yang stand by disana.


Louis tersenyum samar. Ia dengan beberapa kotak pizza di tangan itu kemudian melangkahkan kakinya, hendak menuju rumah Bik Susi yang berada di seberang jalan kecil itu. Namun tiba tiba....


"Whooee..! Tunggu!!"


Suara itu berhasil membuat Louis menghentikan langkah kakinya. Dilihatnya disana, dua orang pria berpenampilan preman nampak mendekat ke arahnya. Mereka adalah kawan kawan Elang yang sejak tadi berada di markas para pemuda kampung itu.


Louis diam. Ia nampak tersenyum ke arah dua pria bertato dan bertindik itu. Satu diantaranya adalah Bruno, pria tinggi besar bak algojo yang tempo hari membantu menjaga Anisa di rumah sakit.


"Bang," ucap Louis.


Kedua pria itu berdiri di hadapan Louis.


"Siapa lo?!" tanya rekan Bruno yang diketahui bernama Anjas.


"Saya, saya Louis. Sama calon suaminya Anisa. Yang tinggal di sini. Nih, masnya kenal. Ya kan, Mas?" tanya Louis pada Bruno.


Laki laki berpenampilan sangar itu lantas mengangkat dagunya.


"Kalau Louis sih gue kenal. Tapi masalahnya sesuai instruksinya si Elang, ada siluman satu yang bentukannya sama kayak Louis. Nah, si siluman itu tuh yang diharamkan buat memasuki wilayah sini. Sekarang pertanyaan gue, lu Louis apa siluman?" tanya Bruno kemudian.


Louis terkekeh. "Saya Louis, bang. Bukan siluman!"


"Yakin?" tanya Bruno.


"Yakin..." jawab Louis.


"Njay! Coba cek!" titah Bruno.


"Nama gue Anjas, bukan Anjay!" protes pria itu.


"Sama aja!" jawab Bruno.


"Lihat lengan lo!" titah Anjas meminta Louis untuk menunjukkan lengannya. Lantaran sesuai penuturan Elang, salah satu pembeda antara Luke dan Louis adalah, Luke memiliki tato bergambar ular naga di salah satu lengannya.


"Aman, Bro! Mulus!" ucap Anjas.


Bruno mengangguk. "Ya udah, masuk sana! Sorry ya ganggu, sesuai perintah Elang soalnya!" ucap laki laki berbadan algojo itu.


Louis tersenyum. "Nggak apa apa. Makasih udah bantu jagain calon istri saya," ucap Louis


"Oh ya, ini buat kalian!" ucap laki-laki itu lagi sembari menyerahkan satu kotak pizza di tangannya untuk kedua pria itu.


Bruno dan Anjas pun nampak berbinar. Dengan cepat laki laki berkulit legam itu meraih kotak itu dari tangan Louis.


"Weeeh... makasih, Bro! Baik banget lo!" ucap Bruno.


Louis tersenyum. "Sama sama. Ya udah, kalau gitu gue masuk dulu, ya!"

__ADS_1


"Oke oke!" jawab kedua pria itu.


Louis kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah Bik Susi. Sedangkan Bruno dan Anjas, keduanya nampak berlari menghampiri kawan kawannya yang berada di markas itu sembari membawa satu kotak makanan mahal tersebut di tangannya. Mereka benar benar makan enak malam ini!


Sementara itu di rumah Bik Susi,



Tok... Tok... Tok...


Louis mengetuk pintu itu.


Ceklek...


Pintu terbuka tak berselang lama. Seorang wanita hamil yang terlihat cantik dengan rambut panjangnya nampak muncul dari balik pintu itu



"Assalamualaikum, Sayang," sapa Louis dengan manis.


Anisa tersenyum lebar. "Wa Alaikum Salam," jawabnya dengan bahagia.


Louis mengangkat pizza di tangannya. "Aku bawa sesuatu buat kamu!" ucap laki laki itu yang kemudian menyerahkan pizza di tangannya untuk sang kekasih.


"Makasih!" ucap Anisa.


"Suka?" tanya Louis.


Anisa menatap pria itu lalu mengangguk.


"Kok jam segini baru kesini?" tanya Anisa.


Louis menyipitkan matanya. "Kok nanyanya gitu?"


Louis mencubit pipi wanita itu. "Kangen, ya?" tanyanya.


Anisa terkekeh. "Dikit!" jawabnya. "Biasanya kan kamu kesini tiap sore. Paling jam lima udah ada di rumah. Ini udah hampir jam delapan kamu baru datang!" ucap Anisa.


Louis terkekeh. "Maaf, ya. Mungkin selama kamu disini, aku nggak bisa sering sering nemuin kamu. Kamu kan tahu sendiri, kamu sekarang lagi aku umpetin!" ucap Louis.


Anisa terkekeh. "Iya, nggak apa apa. Yang penting tiap hari kabarin!" ucap wanita itu.


"Pasti dong!" jawab Louis.


Anisa tak menjawab. Namun senyumannya terus mengembang. "Yaudah, masuk, yuk!" ucapnya.


Louis menurut. Keduanya pun masuk ke dalam rumah itu. Sebuah rumah sederhana dengan beberapa lukisan dan patung khas umat Nasrani berjejer di dinding ruang tamunya. Louis diam. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa panjang di sana bersama Anisa di sampingnya.


"Budhe kamu mana?" tanya Louis.


Anisa celingukan. "Kayaknya di kamar. Nggak tahu. Dari tadi belum keluar," ucap Anisa.


Louis mengangguk. "Kamu nyaman tinggal disini?" tanyanya kemudian.


Anisa mengangguk. "Budhe sama Kak Elang baik banget. Orang orang disini juga ramah," ucap Anisa.


Louis mengangguk. "Syukur kalau gitu. Setidaknya aku bisa tenang ninggalin kamu disini," ucap Louis.


Anisa tersenyum. Laki laki itu kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak wanita hamil tersebut.


"Kangen,” ucapnya manja.

__ADS_1


Anisa terkekeh. "Sabar, ya..." ucapnya sembari menepuk nepuk pipi pria tampannya. Obrolan santai keduanya pun berlanjut di ruang tamu rumah itu.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Disebuah jalan tikus yang cukup sepi dan gelap.


"B*ngke...b*ngke!!" Gerutu pemuda bertindik bernama Dito itu. Laki laki berusia dua puluh tahun itu berucap sembari terus mendorong motor kesayangannya yang tiba tiba mogok tersebut. Sedangkan si sampingnya, Elang nampak mengayunkan kakinya dengan tenang sembari memainkan ponselnya. Membalas sebuah pesan dari Bruno yang mengatakan bahwa Louis baru saja tiba di kediamannya.


"Ampun, Tuhan! Cuma pengen nakal semalem doang ini! Gini amat Tuhan ngasih hukumannya. Capek ini!!!" ucap Dito terus mengeluh sepanjang perjalanan. Malam ini ia dan Elang baru saja pulang dari membeli miras. Namun di tengah perjalanan, tiba tiba saja motor mereka mogok, sedangkan hari sudah malam, dan semua bengkel pun sudah tutup. Alhasil, pemuda itupun dengan terpaksa harus mendorong motornya. Sedangkan Elang yang ikut bersamanya sejak tadi justru asyik menikmati rokoknya sambil main ponsel. Ia berjalan dengan santainya sembari menenteng beberapa alkohol dalam kantong kresek di tangannya. Laki-laki itu seolah tak memiliki niat sedikitpun untuk membantu kesusahan yang Dito alami. Padahal postur tubuh Elang jauh lebih besar dibandingkan ia.


Dito terus menggerutu. Hingga....


"Bang, Bang. Stop dulu, Bang!" ucap Dito tiba tiba sembari menarik baju Elang yang berjalan sambil melihat layar ponsel. Elang pun terkejut. Ia pun reflek menghentikan langkah kakinya.


"Apa sih, anj*ng?" tanya Elang.


"Itu bukannya Louis? Pacar adek lo?" tanya Dito sembari menunjuk ke suatu arah. Dilihatnya di sana sepasang pria dan wanita nampak terlibat keributan. Mereka nampak bertengkar di samping sebuah mobil yang berhenti tepat di bawah lampu pinggir jalan.


Keduanya terlibat adu mulut. Saling cek cok dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulut keduanya.


Elang menyipitkan matanya. Wajah laki laki itu sama persis dengan Louis. Namun ia ingat, baru saja Bruno mengatakan padanya bahwa kini Louis sedang berada di rumahnya. Itu artinya laki-laki yang berada di sana itu adalah Luke. Ia sedang berdebat dengan.........



Degghh...


Itukan wanita yang tempo hari pernah melabrak Anisa?


Iya! Itu wanita yang sempat mencaci maki Anisa dengan kata katanya yang kasar! Elang masih ingat jelas wajahnya.


Sedang apa mereka? Apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya wanita itu sangat marah dengan Luke. Sedangkan Luke terlihat memasang wajah menyebalkan seolah tidak punya salah.


Elang jadi penasaran. Laki laki itu kemudian menoleh ke arah Dito.


"Ikut gue!"


"Kemana, Bang?!" tanya Dito.


"Udah, ikut aja! Tinggalin dulu motor lo!" ucap pria itu. Dito hanya menurut. Elang menembus semak semak. Diam diam mendekati sepasang manusia yang tengah bertengkar itu dan menguping pembicaraan mereka.


Plaakk...


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Luke.


"Emang anj*nk lu, ya! Pantes aja semua keluarga lo tuh nggak peduli sama lo! Pantes aja lo dibuang! Lo tuh emang sampah! Ta* tau nggak lo! Sampai kapan lo mau gangguin gue terus?! Gue capek! Kenapa lo nggak cari perempuan yang namanya Anisa itu. Bukannya dia lagi hamil anak lo?! Cari dia, nikahin dia! Jangan usik gue terus!!" bentak Rhea murka.


"Gue nggak butuh perempuan kampung itu! Gue nggak peduli sama dia. Mau dia hamil, dia mati, dia sekarat, gue nggak peduli. Dia bukan tipe gue. Karena tipe gue adalah lo!" ucap Luke sembari berusaha menyentuh dagu Rhea, namun wanita itu menepisnya.


"Jangan gila lo, ya! Lo tuh harusnya cari Anisa. Bukan gue! Dia hamil anak lo!" bentak Rhea.


"Dan lo juga hamil anak gue!"


"INI ANAK BETRAND!!!" bentak wanita itu dengan lantang. "Ini anak Betrand dan gue akan menikah dengan ayah dari anak ini sebentar lagi. Dan lo...jangan ganggu gue!!"


Elang dan Dito melongo di balik persembunyiannya. Sebuah kamera ponsel di tangan Elang bahkan sukses merekam semua pembicaraan dua manusia itu. Rupanya kedua iblis yang pernah mencoba mengusik Anisa itu ada main di belakang keluarga besar Davis?


Elang mengangkat satu sudut bibirnya. Ia punya mainan yang menyenangkan!


"Dari mana lo bisa yakin kalau itu anak Betrand, sedangkan gue lebih sering pakai lo dua tahun terakhir ini di bandingkan calon suami lo itu? Ingat, selama di luar negeri, kita hampir setiap hari berdua, Sayang," ucap Luke lagi dengan santainya. Ia bahkan berucap sambil mencoba merengkuh pinggang ramping Rhea, namun wanita itu dengan cepat mengelak.


"Ini anak Betrand. Gue nggak mungkin mengandung anak dari bajing*n kayak lo!" ucap Rhea.

__ADS_1


Luke tertawa. "Bajing*n lo bilang?! Hemmh, bajing*n bajing*n gini juga lo doyan!" ucap laki laki itu dengan entengnya. Pria itu kemudian menggerakkan tangannya. Ia menarik tubuh ramping itu. Memaksa untuk mencium dan menjamahnya. Dito hendak bangkit dari persembunyiannya. Berniat untuk menolong wanita yang sepertinya sedang dalam kesusahan itu lantaran Luke kini bergerak brutal memaksa Rhea untuk menuruti nafsu bej*tnya. Namun Elang dengan segera menahan pergerakan Dito tanpa berucap sepatah kata pun. Ia meminta pemuda itu tetap berada dalam persembunyiannya. Wanita itu tidak perlu ditolong. cukup disaksikan saja. Pikir Elang.


...----------------...


__ADS_2