(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
083


__ADS_3

Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Kian hari kandungan Anisa kian membesar. Hari perkiraan kelahiran pun juga semakin dekat. Louis sebagai seorang pria yang sudah berjanji untuk menikahi wanita itu setelah melahirkan pun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiran calon anaknya, sekaligus pernikahannya. Bukan sebuah pernikahan mewah, hanya prosesi akad nikah sederhana yang akan menjadi momen paling indah bagi ia dan Anisa nantinya. Yang terpenting adalah sah di mata hukum agama dan negara, dan ia bisa bertanggung jawab penuh atas wanita itu. Tak penting tentang resepsi, tamu undangan dan apalah itu. Ia hanya ingin menikahi Anisa dan menghalalkan wanita itu. Sudah, selesai.


Berbeda dengan angan angan sederhana Louis, pesta pernikahan besar besaran justru kini siap diselenggarakan oleh Betrand dan Rhea. Keluarga Davis akan segera punya hajat besar. Pernikahan cucu ketiga keluarga Davis dengan seorang wanita kelas atas yang berprofesi sebagai desainer sukses digadang gadang akan menjadi pernikahan paling mewah dan paling mahal tahun ini.


Semua persiapan sudah selesai seratus persen. Tinggal menunggu hari H yang akan tiba tiga hari dari sekarang. Kebahagiaan jelas bersarang di hati kedua mempelai. Kian hari, hubungan kedua anak manusia yang sudah terjalin sejak lama itu kian hangat dan mesra saja. Betrand seolah tak bisa jauh jauh dari Rhea.


Seperti hari ini. Saat malam menjelang, di sebuah kamar hotel yang berada di pusat kota itu.


Wanita itu nampak meremas sepreinya. Ia menggel*njang. Kepalanya terangkat dengan mata terpejam dan bibir yang sedikit terbuka.


"Emmhh..." Suara itu lolos dari bibir merahnya, manakala mulut, lidah dan bulu bulu halus dari wajah Betrand bergesekan dengan daging indah miliknya disana.


Rhea meracau tak jelas. Sesuatu yang selalu terjadi ketika ia sudah bergelut di atas tempat tidur dengan kekasih tersayangnya itu. Suara itu membuat Betrand makin bersemangat memangsa santap malamnya yang begitu nikmat disana.


Cukup puas dengan daging kesukaannya, laki laki itu kemudian menggerakkan kepalanya, naik ke perut rata milik wanita cantik itu sembari menggerak gerakkan lidahnya menyapu seluruh area kulit wanita yang kini diyakini tengah mengandung jabang bayi mungil hasil dari kerja keras Betrand di atas ranjang.


Betrand menciuminya berkali kali dengan gerakan lembut. Rhea yang ngos-ngosan itu nampak tersenyum. Tangannya tergerak membelai rambut panjang laki laki itu.


Betrand kembali merangkak. Bermain main sejenak dengan kedua benda kenyal disana tanpa meninggalkan jejak kemerahan. Satu yang menjadi kebiasaan seorang Betrand, ia tak pernah meninggalkan jejak gigitan di tubuh Rhea. Ia tak mau ada bekas jamahannya di tubuh wanita itu. Mengingat Rhea memang cukup sering mengenakan pakaian yang banyak mengekspos beberapa bagian tubuhnya dan berbaur dengan banyak orang. Ia takut jika wanita cantik itu menjadi bahan gunjingan orang orang di sekitarnya jika sampai ada tanda merah di tubuhnya.


Puas bermain main di kedua benda kenyal itu, Betrand kembali bergerak naik. Menyusuri leher jenjang itu sambil memberikan kecupan kecupan lembut disana. Rhea makin meremang. Suara suara indah itu terus terdengar. Ia tersenyum mendapatkan sentuhan sentuhan itu dari calon suaminya tersebut. Sedangkan Betrand yang masih asyik dengan kegiatan nakalnya itu kini mulai menggerakkan kepalanya, mendusel masuk ke ceruk leher wanita itu dan memainkan mulut serta lidahnya. Namun tiba tiba....


Deeghh...


Betrand menghentikan pergerakan. Sebuah tanda merah yang mulai pudar terpampang samar di tengkuk wanita cantik itu. Laki laki itu terdiam. Ini seperti tanda gigitan. Sebuah tanda yang tersembunyi dan baru ia sadari sekarang lantaran bagian tubuh itu selalu tertutup rambut.


Tanda sesapan seseorang kah itu? Batin Betrand yang tiba tiba diliputi rasa curiga. Ia menghentikan pergerakannya. Membuat Rhea yang menantikan sentuhan yang lebih dari pria itupun menoleh ke arah Betrand kala menyadari pria itu diam tak bergerak.


"Ada apa, Baby?" tanya Rhea.


Betrand diam. Rhea menyentuh pipi berjambang itu dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang? Kenapa?" tanyanya.


Betrand tersenyum lembut.


"Nggak apa apa. Kamu di atas, ya," ucap laki laki. Rhea tersenyum, lalu mengangguk. Betrand menjatuhkan tubuhnya di samping Rhea. Wanita yang sejak tadi terlentang pasrah itu kemudian bangkit dan mulai bekerja. Wanita itu bergerak begitu erotis, memberikan kenikmatan untuk pria yang belum resmi menjadi kekasihnya itu.


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah gazebo yang menjadi markas besar anak anak gang tempat tinggal Elang. Wanita hamil itu nampak berjalan mendekati gazebo sambil membawa sebuah piring berisi beberapa potong kue disana.


"Eh, Kak Nisa," sapa Dito. Elang yang nampak sibuk dengan ponselnya itu pun menoleh ke arah sang adik yang nampak mendekat ke arahnya.


"Lagi pada ngapain?" tanya Anisa.


"Biasa, Kak," ucap Dito.


"Aku punya kue buat kalian," ucap Anisa lagi sembari menyodorkan piring ke arah para pemuda itu.


"Wih, Kak Nisa ama pacarnya baik banget. Tiap hari gantian pada ngasih makanan. Makasih ya, Kak. Semoga persalinannya nanti lancar. Semua sehat, semua selamat..." ucap Dito.


"Amin..." jawab Anisa.


"Udah malem, napa belum tidur?" tanya Elang.


Anisa menoleh. "Nggak bisa tidur, Kak."


"Ya udah, masuk sana ke rumah. Ini udah malam. Perempuan nggak baik malam malam kelayapan," ucap Elang tanpa melepaskan ponsel di tangannya.


"Di rumah sepi, Kak. Budhe udah tidur. Aku nggak ada temennya," ucap Anisa.


"Ah, pasti nggak bisa tidur gara gara hari ini ayank nggak ngapel, ya?" tanya Bruno meledek.


"Apasih, Bang. Enggak...! Hari ini Louis pulang ke rumahnya. Kan tiga hari lagi sepupunya nikah," ucap Anisa.

__ADS_1


Elang diam. Kontak mata tanpa suara terjadi diantara para pemuda itu tanpa sepengetahuan Anisa.


"Lo juga kesana dong, Nis?" tanya Bruno.


Anisa tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak diundang," ucapnya.


"Yah ..." ucap Bruno terdengar menyayangkan.


"Berarti Kak Louis datang kesana sendirian dong?" tanya Dito.


"Dia bilang sih katanya juga nggak mau datang. Tapi aku bujuk. Masa iya anggota keluarga ada yang nikah dia nggak datang," ucap Anisa.


Anjas yang juga berada di sana pun nampak mengangguk paham.


"Harusnya Kak Louis nggak akan datang ke tempat itu kalau Kak Nisa nggak diundang," ucap Anjas.


"Kalau perlu semua tamu nggak datang!" tambah Dito.


"Sekalian kita gagalin tuh acara nikahan!" ucap Elang sambil mengulum senyum. Menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah percakapan pesan dengan sebuah nomor berfoto profil sepasang calon pengantin di sana.


"Ih, Kakak. Kalau ngomong suka sembarangan! Udah ah, aku mau pulang, mau tidur!" ucap Anisa sembari bangkit dari duduknya.


"Katanya tadi nggak bisa tidur?!" tanya Elang ngegas.


"Sekarang udah bisa!" jawab Anisa sembari mengayunkan kakinya menjauh dari tempat itu.


Elang hanya menggelengkan kepalanya. Anjas kemudian melongok menatap layar ponsel Elang.


"Gimana?" tanya Anjas.

__ADS_1


"Beres!" ucap Elang sambil tersenyum.


Para pemuda itupun ikut tersenyum. Mereka pun kembali asyik dengan kegiatan mereka di gazebo kebanggaan mereka itu.


__ADS_2