(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
038


__ADS_3

Sementara itu di kediaman mewah milik keluarga Davis. Louis keluar dari kamar pribadi Tuan James. Seperti biasa, setiap hendak berangkat kerja, ia selalu menemui kakeknya terlebih dahulu untuk berpamitan. Laki laki itu lantas menuruni tangga rumahnya, lalu berjalan keluar dari bangunan itu menyusul Betrand yang sudah menunggunya di mobil.


Klek...


Louis membuka pintu samping kemudi mobil itu dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Yok, jalan!" ucap Louis sembari mengenakan sabuk pengamannya. Tiba tiba...


Seettt...


Betrand menyodorkan sebuah ponsel ke arah Louis. Laki laki itu terdiam. Ia menatap ponsel di tangan Betrand dan menoleh ke arah sang sepupu secara bergantian.


"Apa?" tanyanya.


"Bukti yang lo minta. Ada foto, vidio, dan rekaman suara disitu. Semua lengkap," ucap Betrand.


Louis menerima ponsel itu dan membukanya. Ia pun lantas menuju galeri ponsel itu.


"Ada beberapa perempuan yang dijajakan. Penari strip**s, jual beli obat-obatan terlarang, dan sebagainya. Dan satu hal yang lo harus tahu, selama dua bulan lebih adik lo minggat, dia pernah beberapa kali menghubungi jal*ng piaraannya buat nyusul dia ke luar negeri. Gue nggak tahu, di sana mereka di suruh kerja atau buat nemenin Luke," ucap Betrand.


Louis diam sejenak. "Dia bisa dibilang mucik*ri juga nggak sih?" tanyanya kemudian.


Betrand menyibikkan bibirnya sembari menggerakkan kepalanya. "Mungkin," jawabnya.


Louis tak menjawab. Dadanya mulai terasa berat untuk bernafas. Beban emosi dan kekecewaan lagi lagi memenuhi hatinya.


"Oh ya, satu lagi. Selama sebulan, terhitung ada dua perempuan yang datang ke bar nya, nyariin Luke. Dan ada dua lagi yang kasusnya kayak Anisa, datang ke kantor kita buat nyari adik lo. Tapi lo tenang aja, semua udah gue handle. Dari penampilan mereka juga udah kelihatan kok mereka perempuan kek apa. Cukup kasih duit, selesai!" ucap Betrand sembari mulai melajukan kendaraannya.


Louis menghela nafas kasar. "Gue matiin aja apa gimana sih nih orang biar nggak asal ngerusak anak orang!" ucapnya kemudian.


"Lah ceweknya juga mau mau aja dirusak, gimana dong!" ucap Betrand.


Louis membuang nafas kasar. "Bisa nggak sih dia berubah?" tanyanya lagi.


"Bisa, kalau udah nggak berfungsi lagi! Hahaha..." jawab Betrand sambil tertawa. Louis menatap sinis ke arah sang sepupu.

__ADS_1


Louis melempar ringan benda pipih di hadapannya. Diusapnya wajah tampan itu dengan kasar sembari mengucap istighfar. Sungguh, ia pusing menghadapi adik kandungnya itu.


"Udah, lu telfon aja dia. Kasih tuh salah satu bukti yang ada di tangan lo. Ancam dia, suruh pulang sekarang. Biar bisa secepatnya nikahin tuh perempuan hamil. Jadi lo nggak perlu lagi buang buang waktu buat ngurusin tuh perempuan!" ucap Betrand. Louis tak menjawab. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Lima belas menit perjalanan, mobil mewah itu sampai di sebuah bangunan tinggi bertuliskan Davis Corp. Betrand memarkirkan kendaraannya di lahan parkir luas tersebut, berdampingan dengan sederet mobil mobil lain milik petinggi perusahaan juga karyawan kantor.


Sepasang cucu Tuan James itu turun dari kendaraan yang mereka tunggangi. Keduanya lantas berjalan bersama-sama memasuki lobby perusahaan besar milik keluarga Davis itu. Tiba-tiba...


"Kak Louis!" Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Louis dan Betrand. Kedua pria itupun lantas menghentikan langkah kaki mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana seorang gadis muda dengan hijab berwarna hijau nampak berjalan mendekati mereka.



"Tasya?" ucap Louis. Sedangkan Betrand nampak mengangkat dagunya. Ia tersenyum ke arah gadis pengagum Louis Edgar Davis itu.


"Kak!" ucap Tasya yang kini berdiri di hadapan Louis. Laki laki itu hanya tersenyum menatap wanita dengan sebuah paper bag di tangannya itu.


"Kamu kesini?" tanya Louis mencoba ramah.


"Iya, Kak. Aku mau ke kampus. Terus, sengaja mampir kesini. Aku bawa sandwich buat Kakak. Bisa buat ganjal perut," ucap Tasya sembari menyodorkan sebuah paper bag di tangannya untuk Louis.


Louis pun dengan sangat terpaksa menerima makanan itu.


"Makasih, ya!" ucapnya. Tasya mengulum senyum bahagia sembari mengangguk.


"Sama sama, Kak. Dimakan, ya," ucap Natasya. Louis hanya mengangguk.


"Ya udah, kalau gitu aku pamit dulu. Mau kuliah," sambung Natasya lagi. Lagi lagi, Louis hanya mengangguk sembari terus menampilkan senyuman ramahnya. Tasya pun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Louis menghela nafas panjang. Ia kemudian menoleh ke arah Betrand dan menyodorkan paper bag itu pada sang sepupu.


"Apaan?" tanya Betrand.


"Buat lo deh!" ucap Louis.


"Idih! Tasya jauh jauh datang ke sini buat ngasih ini ke elu! Makanlah! Masa iya lu kasih ke gue?!" ucap Betrand tak habis pikir.

__ADS_1


"Masalahnya, gue udah kenyang. Gue juga nggak terlalu suka sama sandwich," ucap Louis.


"Ya udahlah, makan aja sekali sekali," ucap Betrand.


Louis menghela nafas panjang. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah, lalu memanggil seorang security yang bertugas di sana. Laki-laki dengan baju satpam itu nampak mendekat.


"Saya, Tuan!" ucap si security.


Louis menyodorkan paper bag di tangannya. "Buat sarapan!" ucap laki laki itu.


Betrand berdecih sembari menggelengkan kepalanya . Sang security pun nampak berbinar.


"Buat saya, Tuan?" tanya si satpam. Louis hanya mengangguk.


*Terima kasih, Tuan!" ucap laki laki paruh baya itu dengan raut wajah bahagia. Louis hanya tersenyum. Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikan Betrand yang sibuk berceramah atas tindakan Louis yang memberikan sandwich pemberian Tasya untuk si security kantor.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah apartemen mewah milik Louis. Wanita paruh baya itu nampak menatap iba ke arah wanita hamil di hadapannya.


Ia baru saja berbincang dengan Anisa. Wanita muda itu baru saja menceritakan kisahnya dengan Louis pada Bik Susi. Dimana ia telah direnggut mahkotanya oleh laki-laki yang dikenal alim dan tenang itu. Sesuatu yang sempat membuat Bik Susi syok mendengarnya. Mengingat selama bertahun-tahun ia bekerja dengan Louis, laki laki itu dikenal sebagai seorang pria yang bertanggung jawab, baik, ramah, dan juga religius. Ia tak menyangka jika Louis berani berbuat demikian pada Anisa.


Ya, sebagai seorang ART panggilan yang hanya datang ke apartemen itu seminggu sekali di saat pagi dan pulang ketika sore hari, Bik Susi memang tidak tahu menahu tentang silsilah keluarga Louis. Ia juga tak tahu jika laki-laki itu rupanya memiliki saudara kembar. Yang ia tahu, Louis adalah seorang pengusaha muda yang kaya raya. Tapi mengenai silsilah keluarga dan latar belakang laki-laki itu, ia tak begitu paham. Toh, baginya juga itu bukan urusannya. Yang terpenting baginya adalah bekerja dan memiliki majikan yang baik. Selebihnya, itu bukan urusannya.


Bik Susi menghela nafas panjang.


"Saya nggak menyangka jika Tuan Louis bisa berbuat seperti itu. Setahu saya, beliau itu adalah pemuda yang baik, Non. Bahkan sangat baik. Saya benar benar nggak nyangka!" ucap Bik Susi.


Anisa tersenyum. "Saya juga nggak nyangka jika laki laki yang memperk*sa saya adalah laki laki dengan image baik di mata masyarakat, Bik. Dia yang sekarang saya kenal sangat jauh berbeda dengan dia yang dulu merenggut kebahagiaan saya. Dia sangat perhatian dan benar benar menunjukkan tanggung jawabnya," ucap Anisa.


Bik Susi tersenyum. "Tuan Louis memang sangat baik, Non. Itu setahu Bibik!" ucap wanita paruh baya itu.


Bik Susi menatap dalam paras wanita cantik itu.


"Cantik sekali gadis ini. Dia juga sangat lembut. Dia benar benar cocok andai menikah dengan Tuan Louis yang tampan dan sempurna baik paras maupun hatinya. Semoga kalian berjodoh..." batin wanita paruh baya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2