(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
119


__ADS_3

Di dalam salah satu kamar luas kediaman keluarga Davis. Kamar yang dulunya adalah kamar tidur Louis sebelum ia menikah.


Bayi tampan itu nampak terlelap di atas ranjang besar itu. Dalam posisi terlentang, bocah tampan itu nampak begitu nyenyak hanyut dalam buaian mimpi mimpinya yang indah. Tangisannya sudah tak terdengar. Bayi itu kini sudah sangat tenang terlelap diapit dua bantal di sisi kanan dan kirinya.


Di tepi ranjang, sepasang suami istri itu nampak duduk berdampingan. Anisa nampak sesenggukan. Isak tangisnya terdengar jelas. Sesekali ia nampak mengusap lelehan air mata di pipinya menggunakan tisu yang berada di tangannya. Disampingnya, Louis nampak diam. Ia menatap dalam wanita cantik yang sangat ia sayangi itu.


"Udah nangisnya,” ucap Louis begitu sabar.


"Hiks..aku nggak mau...!!!" ucap Anisa menangis.


"Nis........."


"Dia anak aku! Gerhana itu anak kita, Louis! Aku nggak mau anakku dibawa sama dia..!" ucap Anisa lagi.


"Nis, kamu nggak boleh egois," ucap Louis lagi.


"Ini bukan masalah egois! Aku yang mengandung dia. Aku yang rawat dia. Aku yang berjuang mati matian, sendirian, agar Gerhana bisa tetap hidup. Kalau emang dia sayang sama Gerhana, kemana dia dulu?! Kamu lupa, aku hampir di perk*sa untuk kedua kalinya saat aku lagi hamil besar! Hamil Gerhana!! Dan sekarang kamu minta aku ngizinin anak aku ketemu sama dia?! Nggak mau...!!!!!" ucap Anisa histeris. Wanita itu menangis sesenggukan. Ya, Louis baru saja menyampaikan niatannya yang ingin mempertemukan Gerhana dan Luke. Ia ingin mengajak sang putra untuk menemui adiknya barang sebentar saja. Setidaknya memberikan ruang agar sepasang ayah dan anak kandung itu bisa menghabiskan waktu bersama.


Namun sepertinya Anisa menolak. Sejak tadi wanita itu seolah tidak tenang. Ia bahkan tak henti mengajak pulang. Ia tak mau lama-lama berada di rumah ini setelah mengetahui bahwa Luke rupanya sudah pulang dari rumah sakit.


Ya, mungkin Anisa masih trauma. Siapa yang tak tergores hatinya ketika kehidupannya yang memang sudah tak bahagia sejak kecil justru makin dirusak oleh seorang laki laki bej*t. Dinodai, diancam, hamil, ditinggal, tidak mau bertanggung jawab, bahkan ia sempat hampir kembali dirudapaksa saat tengah hamil besar.


Perlakuan buruk Luke masih sangat membekas di ingatan Anisa. Mungkin sampai kapanpun ia tak akan pernah lupa.

__ADS_1


Kini, ketika ia sudah mulai merengkuh hasil manis atas semua perjuangannya, disaat dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, Luke datang dan ingin dekat dengan Gerhana? Hei...dulu kemana aja?!!


Giliran sudah susah, kaki tinggal satu, Luke datang dengan segala drama penyesalan, kesedihan, dan air matanya! Apakah Anisa akan begitu saja luluh?


Oh, tidak!


Mungkin kini sisi egois Anisa telah muncul. Ia tak akan luluh hanya karena satu kaki Luke yang hilang!


Sakit hati itu sudah terlampau dalam. Anisa pernah berada di posisi bak gembel pontang panting mencari keadilan karena ulah seekor Luke. Anisa pernah diragukan hamil anak laki laki itu. Anisa pernah dihina dina bukan hanya oleh satu dua orang! Dia hamil, dia mengandung, tapi dia sendirian. Ibunya membencinya, pemerk*sanya melarikan diri, keluarga besar Davis merendahkannya. Betrand, Rhea, Tasya, semuanya!!


Lalu dimana Luke waktu itu?


Dia asyik dengan kesenangannya sendiri. Dia asyik dengan puluhan, bahkan ratusan wanita yang siap melayani naffsu biraahinya.


Mungkin Louis bisa berlapang dada memaafkan Luke, karena mereka saudara. Tapi Anisa? Dia hanya wanita desa yang dirusak hidupnya oleh Luke. Ya, mungkin saat ini Anisa masih belum bisa memaafkan pria itu. Mungkin saat ini Anisa masih terlanjur sakit hati. Ia tak mau Gerhana disentuh oleh laki laki itu. Ia tidak rela. Sangat tidak rela...!


.


.


Louis menghela nafas panjang. Ia kemudian menggerakkan tangannya meraih tubuh sang istri dan mencoba menenangkannya.


"Oke. Sorry, aku minta maaf!" ucap Louis sambil memeluk tubuh Anisa yang kini terus menangis.

__ADS_1


"Dah, kamu tenang dulu. Jangan histeris kayak gini. Nanti Gerhana bangun," ucap Louis dengan sangat sabar. Louis mengecup pucuk kepala itu beberapa kali guna menenangkan wanita kesayangannya.


"Aku mau pulang. Kita pulang...! Hiks...." ucap Anisa lagi. Ia benar benar tak mau lama lama di tempat ini. Ia takut. Takut jika putranya diambil oleh laki laki itu.


"Ya udah, kita pulang. Tapi kamu jangan nangis. Udah, ya. Kita pulang. Aku pamit dulu sama Kakek. Udah kamu jangan nangis..." ucap Louis sambil meraih kepala sang istri dan menghujaninya dengan kecupan kecupan singkat.


Louis memeluk erat tubuh ramping itu. Terus mendekapnya hingga tangisan itu perlahan berhenti dengan sendirinya.


Setelah Anisa menyudahi tangisannya, Louis kemudian keluar dari kamar itu. Berniat untuk kembali ke kamar sang kakek guna berpamitan dengan pria tua tersebut. Namun saat melewati tangga, tiba tiba....


"Louis!"


Suami Anisa itu menghentikan langkah kakinya. Ia melongok ke lantai bawah, tepat dimana seorang pria yang kini tengah duduk di atas kursi roda itu menatap ke arahnya tepat di ujung tangga.


Louis diam. Itu Luke.


"Gue mau ngomong sama lo," ucap laki laki berkaki satu itu.


...----------------...



__ADS_1


__ADS_2