(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
082


__ADS_3

Sore menjelang, di sebuah perkampungan padat penduduk di pinggiran kota itu.


Pria gondrong itu nampak keluar dari kamarnya. Sembari mengikat rambut sepundak miliknya, ia berjalan menuju ruang tamu tempat dimana sang adik kini tengah berada di sana.


"Kakak mau kemana?" tanya Anisa.


Elang tersenyum. Ia mendekati sang adik berperut buncit yang kian hari semakin sering bermalas-malasan itu. Usia kandungan Anisa memang semakin bertambah. Hari perkiraan kelahiran sang buah hati pun juga sudah semakin dekat. Sepertinya apa yang terjadi pada Anisa kini juga adalah efek dari kehamilannya. Membuat Elang dan Bik Susi tak bisa tenang jika berlama lama meninggalkan Anisa di rumah sendirian.


"Gue mau jemput Budhe dulu. Gue tinggal bentar nggak apa apa, ya. Kalau ada apa apa, lo panggil anak anak aja," ucap Elang yang selalu mempercayakan Anisa pada teman teman tongkrongannya jika ia sedang tidak ada di rumah.


Anisa tersenyum, lalu mengangguk. Elang tersenyum menggerakkan tangannya mengacak acak lembut pucuk kepala Anisa. Wanita itu kemudian membuka telapak tangan sebelah kanannya seolah meminta sesuatu pada Elang.


Laki laki itu tersenyum. Ia lantas meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan Anisa. Wanita itu kemudian menariknya dan menempelkannya di kening sebagai tanda bakti.


Elang tersenyum lagi. Laki laki itu kemudian keluar dari rumah itu di ikuti Anisa dibelakangnya. Pria itu kemudian menaiki motornya yang terparkir di teras rumah tersebut.


"Anjaaaayyyyy......!!" ledek Elang kala melihat Anjas, salah satu temannya yang baru pulang dari sekolah dan langsung mampir ke tongkrongan.


Ya, kawan kawan Elang memang terdiri dari berbagai golongan agama, usia, dan latar belakang yang berbeda. Anjas sendiri adalah seorang anak piatu yang hanya tinggal bersama ayahnya. Usianya masih delapan belas tahun. Ia masih duduk di bangku SMA. Terkadang ia juga nyambi bekerja juru parkir di sebuah minimarket saat malam.


"Nama gue Anjas! Dasar lo burung Gagak!" ucap pemuda itu sembari mematikan mesin motornya. Ia turun dari kendaraan roda duanya itu dan langsung bergabung dengan dua temannya yang nampak bersantai di sebuah gazebo yang berada di markas mereka.


Elang terkekeh. Begitu juga Anisa.


"Njay, gue pergi dulu, ya. Titip adek gue! Jagain! Awas kalau sampai kenapa-kenapa!" ucap Elang dengan sedikit ancaman di akhir kalimatnya.


"Iya, iya!" ucap pemuda itu sembari mendudukkan tubuhnya di samping dua kawannya yang nampak asyik main kartu.


Elang pun berlalu pergi. Anisa menoleh ke arah para pemuda kawan Elang itu.


"Kalian udah pada makan?" tanya Anisa.


Para pemuda itu menggelengkan kepalanya.


"Belum, Kak," jawab Anjas.


"Mampir makan dulu, yuk. Aku masak banyak hari ini," ucap Anisa.


Anjas dan rekan rekannya nampak saling pandang.


"Ayok!" ucap Anisa lagi.


"Boleh, Kak?" tanya Anjas.


"Ya boleh, lah. Kayak sama siapa aja. Yuk!" ajak Anisa lagi.

__ADS_1


Ketiga pemuda itupun nampak sumringah. Mereka kemudian bergegas menuju kediaman Bik Susi. Mengikuti langkah Anisa dan makan disana.


...****************...


Sementara itu, selang beberapa menit kemudian. Elang sampai di apartemen mewah tempat tinggal Louis. Laki laki itu kemudian berjalan memasuki bangunan tinggi itu dan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas tempat dimana unit apartemen Louis berada.


Budhenya baru saja mengirimkan pesan untuknya. Wanita itu meminta untuk Elang langsung masuk saja ke salam apartemen. Ada barang harus di angkat, sedangkan Bik Susi tidak kuat.


Elang pun sampai di depan apartemen pintu apartemen itu. Setelah menekan bel disana beberapa kali, seorang wanita paruh baya pun muncul dari balik pintu itu. Bik Susi pun segera mengajak keponakannya itu untuk masuk ke dalam apartemen.


"Louis belum pulang, Budhe?" tanya Elang.


"Udah. Kayaknya capek, masih istirahat di kamarnya, dari tadi belum keluar keluar," ucap Bik Susi.


Elang mengangguk. Keduanya pun berjalan menuju dapur apartemennya itu. Namun belum saja mereka sampai di dapur, tiba tiba...


Ting... Tong...


Bel apartemen berbunyi lagi. Keduanya pun menghentikan langkah mereka lalu menoleh ke arah pintu.


"Siapa, Budhe?" tanya Elang.


Bik Susi menggelengkan kepalanya.


Elang mengangguk. Bik Susi pun kemudian berjalan menuju pintu apartemen tersebut. Sedangkan Elang mulai mengangkat beberapa kardus berisi air mineral milik Louis dan membawanya menuju dapur untuk dimasukkan ke dalam kulkas.


Ceklek...


Pintu apartemen kembali terbuka.


Bik Susi terdiam. Sepasang pria wanita dengan tampilan berkelas nampak berdiri di balik pintu itu. Bik Susi terdiam sejenak. Ia hafal betul siapa sepasang pria dan wanita tersebut.


Ya, itu adalah Betrand dan Rhea, calon istrinya. Wanita yang dulu pernah datang menyatroni Anisa dan berusaha melukai keponakannya itu.


Bik Susi diam sejenak. Ia menatap ke arah Betrand dan Rhea secara bergantian.


"Cari siapa, Tuan, Nona?" tanya Bik Susi tetap terlihat tenang.


"Memangnya siapa lagi yang akan kami cari di apartemen mewah ini kalau bukan pemiliknya? Masa iya yang numpang disini?!" ucap Rhea ketus dengan penekanan di salah satu kata yang ia ucapkan.


Bik Susi menghela nafas menahan amarah mendengar ucapan wanita angkuh itu.


"Silahkan masuk! Silahkan duduk. Tuan sedang istirahat. Akan saya panggilkan," ucap wanita itu kemudian.


Rhea dan Betrand pun masuk, lalu duduk di sebuah sofa panjang disana tepat saat Elang keluar dari dapur guna mengambil satu kardus lagi yang masih tertinggal disana.

__ADS_1


Rhea terlihat angkuh. Betrand nampak menatap datar ke arah laki laki yang sudah ia ketahui adalah kakak kandung Anisa itu. Sedangkan Elang, ia terlihat sangat santai. Ia mengangkat kardus itu tanpa melepaskan pandangannya dari sepasang kekasih itu. Tanpa bicara, tidak berisik, sangat santai, laki laki itu menatap ke arah Rhea, lalu mengulum senyum nakal. Melihat wajah wanita itu ia jadi teringat sebuah vidio yang kini tersimpan rapi di ponselnya.


"Jangan sombong, Nona. Kartu As lo ada di tangan gue," batinnya sembari berlalu kembali ke dapur dengan gaya tengilnya.


Rhea mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"Kampungan!" ucap wanita itu.


Betrand menoleh, lalu meraih punggung tangan wanita itu dan mengusap usapnya lembut.


"Biarin aja," ucap Betrand.


Rhea mendengus kesal.


Tak berselang lama, Louis dengan muka bantalnya nampak keluar dari kamar utama. Rupanya laki laki itu baru bangun tidur.


"Kalian kesini?" ucap Louis sembari mendudukan tubuhnya disana sambil meletakkan ponsel miliknya di atas meja ruang tamu.


Betrand tak menjawab. Sedangkan Rhea nampak tersenyum. Ia kemudian merogoh tas jinjing mahal miliknya kemudian mengeluarkan sebuah undangan pernikahan berwarna cream di sana.


"Kita datang buat nganterin ini. Undangan pernikahan kita," ucap Rhea terdengar lembut. Louis diam sejenak, lalu mengulurkan tangannya menerima surat undangan itu.


"Datang, ya. Tapi sorry, gue harap, lo cukup datang sendiri aja. Kita cuma ngundang lo, nggak cewek lo," ucap Rhea dengan sedikit ragu seolah merasa takut menyinggung perasaan Louis.


Louis diam tak menjawab. Ia mengangguk kemudian tersenyum samar.


"Gue usahain buat datang," ucap pria itu.


Rhea tersenyum lagi. "Ya udah, kita kesini cuma buat nyampaiin itu, kok. Kalau gitu, kita pamit pulang dulu ya, Louis. Jangan lupa datang," ucap Rhea.


Louis tak menjawab. Ia hanya tersenyum kemudian mengangguk samar. Sepasang calon suami istri itu kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Louis menatap surat undangan di tangannya. Ia berdecih, lalu melempar ringan undangan itu ke atas meja dan bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya.


Seperginya Louis, pria gondrong yang rupanya sejak tadi menguping pembicaraan Rhea, Louis, dan Betrand itu nampak keluar dari tempat persembunyiannya. Dilihatnya pintu kamar utama itu tertutup rapat. Louis sudah berada di dalam sana.


Elang kemudian menatap meja ruang tamu. Sebuah surat undangan pernikahan dan sebuah ponsel tergeletak disana.


Elang mengulum senyuman licik. Ia kemudian merogoh ponselnya, mencari nama salah satu rekannya dan menelfonnya.


Tuuttt... Tuuttt... Tuuttt...


"Halo!" ucap seorang pria dari seberang sana.


"Anjaaayyyyy.....main, yuk!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2