
Malam menjelang di sebuah rumah sederhana berlantai dua milik Salma, tantenya Tami.
Gadis cantik berhijab itu nampak berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar Almeer yang tak lain adalah Om nya sendiri itu berada.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
"Om!" ucap Tami sembari mendekati laki laki yang kini berusia dua puluh sembilan tahun itu.
"Hmm..." jawab Almeer yang nampak fokus dengan laptopnya.
"Keluar, yuk! Aku pengen jajan!" ucap Tami sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, tepat di samping meja kerja Almeer.
Laki laki itu tersenyum.
"Jajan apa?" tanya pria itu.
Tami nampak berfikir sejenak. Mengedarkan pandangannya menyapu area kamar sambil menggerak gerakkan jari jari tangannya di dagu lancipnya.
"Pengen donat! Beli yuk, Om!" ucap wanita itu pada pria yang sembilan tahun lebih tua darinya tersebut.
Almeer menghela nafas panjang.
"Ya udah, tapi bentar, ya. Om selesaiin ini dulu," ucap Almeer yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Sekarang!" rengek Tami manja.
"Bentar, Tam. Dikit lagi ini. Di luar juga masih hujan, kok," jawab Almeer.
"Kan bisa pakai mobil. Keburu tutup! Ayookk...." rengek gadis muda itu sambil menarik narik celana panjang laki laki berlesung pipi itu.
Almeer lagi lagi menghela nafas panjang.
"Kamu tuh ya, jadi anak manja banget. Ya udah ayok! Pakai jaket. Dingin!" ucap Almeer.
Tami nampak berbinar.
"Gitu, dong! Bentar ya, aku ambil jaket dulu," jawab gadis muda itu kemudian. Tami pun bangkit dari posisi rebahannya. Wanita berhijab itu kemudian keluar dari kamar laki-laki tersebut lalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Tak berselang lama, Almeer pun keluar dari kamarnya dengan sebuah jaket membalut tubuh tegapnya. Keduanya kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah itu menggunakan sebuah mobil sederhana milik Almeer.
Guyuran air hujan terasa semakin lebat. Almeer melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang lantaran air hujan yang turun membuat jalanan beraspal itu terasa sedikit lebih licin.
"Om, cariin kerjaan dong di sini. Aku kan nganggur sekarang," ucap Tami.
__ADS_1
"Kerjaan apa? Di sini kalau cuma lulusan SMA susah, Tam. Lagian udah bener bener dapat kerja di kampung, ngapain pakai keluar segala?" tanya Almeer sambil terus sibuk dengan kemudinya.
"Bos nya tuh ngeselin, Om. Nggak asyik. Judes. Marah marah terus. Mana senior seniornya juga semena mena, lagi. Om inget kan, kejadian yang terjadi sama Anisa waktu itu. Itukan juga gara gara dikerjain sama senior. Disuruh bersihin cafe sendiri, eh dianya malah pergi. Trus Anisa ditinggal sendirian sampai kejadian kayak gitu! Emang jelmaan dajjal semua!" ucap Tami justru jadi uring uringan sendiri.
"Huuss! Nggak boleh ngomong kayak gitu!" ucap Almeer.
"Ya abisnya ngeselin!" ucap Tami.
Almeer hanya menggelengkan kepalanya samar. Mobil terus melaju menembus guyuran air hujan. Hingga tiba tiba....
Almeer memperlambat laju kendaraannya. Dilihatnya di depan sana, sesosok manusia yang sepertinya laki laki nampak berjalan gontai di tengah guyuran air hujan. Dengan hoodie hitam membungkus tubuhnya, laki laki itu nampak menunduk. Ia seolah tuli dan abai dengan suara klakson mobil Almeer yang terus berbunyi seolah memintanya menepi.
"Itu manusia bukan sih?" tanya Tami.
"Kayaknya orang gila deh!" jawab Almeer.
"Bukan, Om! Sepatunya aja bagus gitu. Kasihan. Ujan ujanan. Kayaknya dia depresi atau orang lagi galau deh. Samperin yuk, Om. Takutnya bunuh diri, lompat dari jembatan!" ucap Tami.
Almeer berdecih. "Korban sinetron!" jawabnya.
Tami tak peduli. Ia memutar tubuhnya. meraih sebuah payung yang tergeletak di belakang kursi kemudi mobil tersebut.
"Tam, mau ngapain?" tanya Almeer.
"Nggak usah! Kalau orang jahat gimana?" tanya Almeer.
"Bukan!" jawab Tami sekenanya. Wanita itupun kemudian turun dari kendaraan roda empat tersebut. Mengabaikan Almeer yang terus memanggil manggil namanya.
Tami mendekati pria yang terus berjalan lunglai di tengah guyuran air hujan tersebut sambil membawa payungnya.
"Mas! Mas ngapain ujan ujanan malam malam begini?" tanya Tami.
Laki laki itu, Betrand, nampak menoleh tanpa suara. Wajahnya datar. Tak menunjukkan ekspresi yang berarti.
"Mas? Mas mau kemana? Ini ujannya lebat banget!" ucap Tami. Betrand tak menjawab. Ia hanya diam menatap datar wanita berkerudung hitam itu.
Tak mendapatkan jawaban apapun dari pria itu, Tami kemudian menggerakkan tangannya melambai-lambaikannya di depan wajah Betrand yang terus diam.
"Mas? Haloo..." ucap Tami.
Betrand sama sekali tak merespon. Laki laki itu kemudian kembali mengayunkan kakinya. Melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Melewati Tami yang masih mencoba memanggil manggil dirinya.
"Ish! Aneh. Udah jelek, bud*g, lagi!" gerutu wanita itu yang kemudian memilih untuk kembali ke dalam mobil Almeer.
__ADS_1
...***************...
Sementara itu, beberapa jam kemudian di tempat terpisah. Di sebuah apartemen mewah milik Louis. Wanita paruh baya berpenampilan anggun itu nampak sesenggukan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hingga saat ini, putra semata wayangnya belum juga ditemukan. Entah kemana perginya pria patah hati itu. Sejak tadi pagi tak ada kabar. Membuat sang Ibu kini benar-benar dibuat khawatir olehnya. Nyonya Marta seolah tak bisa tenang. Ia takut terjadi sesuatu pada Betrand yang bisa dibilang masih tergoncang jiwanya hingga saat ini.
"Baik, Pak. Terimakasih atas informasinya," ucap Louis yang kini nampak berdiri tak jauh dari Nyonya Martha.
"Gimana, Louis? Ada kabar dari polisi?" tanya Nyonya Martha khawatir.
Louis yang baru saja mencoba menghubungi polisi yang kini tengah mencari keberadaan Betrand itu nampak menggelengkan kepalanya.
"Belum ada, Tante," jawabnya.
Nyonya Martha kembali menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa panjang itu. Sungguh, ia benar benar khawatir sekarang. Louis mendekat. Ia menyentuh pundak sang tante lalu mengusap usapnya.
"Tante yang sabar, ya. Betrand pasti baik baik aja," ucap Louis.
Wanita itu tak menjawab. Dia terlalu pusing saat ini. Suasana hening sejenak. Kedua manusia beda usia itu nampak sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba...
Ceklek ...
Pintu apartemen itu terbuka. Nyonya Martha dan Louis nampak menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana, seorang pria basah kuyup nampak muncul dari balik pintu. Kondisinya menyedihkan. Wajahnya pucat. Penampilannya acak acakan. Seluruh tubuhnya basah karena guyuran air hujan.
"Betrand!!!" ucap Louis dan Nyonya Martha bersamaan. Keduanya kemudian berlari mendekati pria patah hati itu. Nyonya Martha menggerakkan tangannya, menyentuh pipi pria itu seolah ingin memastikan bahwa sang putra baik baik saja.
"Sayang....kamu kenapa, Nak?!" tanya wanita itu khawatir. "Kamu dari mana aja?! Kamu kenapa pergi nggak bilang bilang? Mama khawatir sama kamu, Sayang!!"
Nyonya Martha menangis antara lega, bahagia, serta haru yang bercampur menjadi satu. Sedangkan Betrand, pria itu sama sekali tak bereaksi. Ia hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.
"Tolong jangan begini terus, Nak! Stop! Jangan buat Mama terus menerus khawatir sama kamu. Bangkit, Sayang!!" ucap Martha sambil menyentuh pipi putranya dan mengarahkannya untuk menatap wajahnya.
Namun lagi lagi, Betrand tak bereaksi. Pria dengan jambang yang makin lebat itu kemudian menoleh ke arah Louis. Keduanya saling pandang sejenak. Lalu...
.
.
.
.
.
"Bawa gue pergi dari kota ini. Gue butuh ketenangan..." ucapnya.
...----------------...
__ADS_1