(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
049


__ADS_3

NB: Seperti biasa, jika ada typo, kasih tau author ya...


Mobil mewah itu melesat dengan kecepatan tinggi. Laki laki yang biasanya selalu terlihat tenang itu kini melajukan mobilnya ugal ugalan. Emosi, kesal, jengah, marah, semua bercampur menjadi satu.


Sang pewaris dengan segudang beban di pundaknya itu kini tengah rapuh. Sejak masih kecil ia sudah digadang gadang sebagai penerus kepemimpinan ayah dan kakeknya. Ia dididik dengan sangat hati hati. Pergaulannya dibatasi. Pendidikan, pertemanan, dan semua tindak tanduknya diawasi. Membuat hidupnya seolah jauh dari kata bebas. Tak seperti anak seumurannya. Tak juga seperti adik dan sepupunya yang masih bisa memilih untuk berkawan dengan siapa ataupun melakukan aktivitas apa.


Kehidupan Louis tertata. Apapun yang ia lakukan harus serta merta membawa nama baik keluarga. Hingga pada usia dua puluh satu tahun, ayah dan ibunya meninggal. Di usianya yang masih sangat muda itu ia kemudian didesak untuk mengambil alih kepemimpinan sang ayah di perusahaan milik keluarga besarnya. Mengingat kondisi sang kakek yang sudah tua dan tidak memungkinkan untuk memimpin perusahaan sebesar itu. Sedangkan kakeknya juga lebih percaya pada Louis dibandingkan pada Steve sang merupakan ayah kandung dari Betrand itu.


Dengan pengalaman yang masih minim, anak muda itu dipaksa untuk mengemban tugas yang berat dibawah bayang bayang nama besar perusahaan dan keluarga. Ia dituntut sukses di usia muda. Menjadi pewaris yang bisa di banggakan keluarga hingga membuatnya seolah lupa akan masa mudanya.


Pacaran tidak pernah. Dekat dengan wanita tidak pernah. Pergi bersenang senang bersama teman temannya sangat jarang bahkan juga nyaris tidak pernah. Ia tidak punya teman yang bisa diajak berkeluh kesah. Ia hanya punya rekan bisnis dan bawahan yang tak bisa ia jadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Keluarga pun juga sibuk dengan kegiatan meraka sendiri.


Ditambah lagi dengan ulah saudara kembarnya yang seolah tak pernah berhenti membuat onar. Semua membuat Louis kini merasa begitu muak. Ia lelah. Ia jengah. Ingin rasanya ia lari sejenak dari bumi ini. Mengasingkan diri guna menenangkan pikirannya yang kini tengah kacau balau.


Mungkin di mata orang banyak, Louis adalah sosok pria sempurna yang memiliki segalanya. Tampan, sukses, kaya raya, baik hati, rasanya cukup untuk menggambarkan betapa sempurnanya hidup dari cucu pertama Tuan James itu. Namun pada kenyataannya justru berlawanan. Ia hanyalah anak malang yang kosong tanpa memiliki sandaran dalam hidupnya.


Ia sepi. Hidupnya hampa. Seluruh waktu yang ada hanya ia gunakan untuk membanggakan, mengharumkan, dan membesarkan nama keluarga Davis. Ia bahkan lupa, bahwa ia juga punya kepentingan pribadi yang justru terabaikan.


Louis menambah lagi laju kendaraannya. Tak berselang lama, mobil mewah berharga fantastis itu sampai si sebuah bangunan yang merupakan markas para aparat penegak hukum itu.


Louis turun dari mobilnya. Wajahnya terlihat garang tanpa senyuman. Penampilannya sudah tak serapi pagi tadi. Jasnya sudah terlepas entah kemana. Kemejanya nampak kusut. Dasi pun juga sudah hilang melayang entah kemana. Ya, sejak pagi hingga kini saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, Louis hanya berkeliling kota dengan menggunakan mobilnya tanpa ada tujuan pasti sembari menunggu jam besuk kantor polisi dibuka.


Dan kini setelah waktu besuk itu tiba, Louis langsung mendatangi kantor polisi itu tanpa mengulur waktu.


Laki laki berkulit putih itu lantas masuk ke dalam ruang tunggu setelah melapor pada petugas yang berjaga disana. Seperti selayaknya pembesuk lainnya, ia pun duduk di ruangan itu sembari menunggu sang adik keluar dari selnya.


Tak berselang lama, seorang petugas datang bersama pria tampan yang nampak terborgol tangannya. Louis diam. Dengan dua lengan yang dilipat di depan dada, laki-laki itu menatap tajam ke arah sang adik yang kini mendekat ke arahnya.


Laki laki dengan baju tahanan berwarna oren itu kemudian duduk di sebuah kursi, berhadap hadapan langsung dengan Louis dengan sebuah meja kayu berbentuk persegi panjang di tengah tengah keduanya.


Sorot mata kedua pria itu saling beradu, menatap tajam satu sama lainnya. Keduanya nyaris sama persis. Mulai dari wajah, tubuh, potongan rambut, warna kulit, warna mata, dan semuanya. Orang yang tak begitu mengenal mereka pasti akan kesulitan untuk membedakan antara Luke dan Louis. Hanya sebuah tato di salah satu pergelangan tangan Luke serta sebuah kalung di leher lah yang menjadi pembeda di antara mereka.


Luke mengangkat dagunya. Ia menatap angkuh ke arah pria yang sudah berbulan bulan tak ia temui itu. Sedangkan Louis sejak tadi tak bergerak. Sorot matanya tajam tertuju pada sang saudara kembar.

__ADS_1


"Ulah apa lagi yang lu buat?" tanya Louis.


Luke tak langsung menjawab. Ia menatap tajam Louis tanpa senyuman.


"Nggak ada capek capeknya lo bikin ulah. Lo hamilin banyak perempuan. Lu main ama calon istri orang. Dan sekarang lo masuk penjara karena bisnis lo sendiri! Hebat lo, ya?!" ucap Louis.


Luke tak bergerak. "Nggak usah banyak bac*t!" ucapnya kemudian dengan suara pelan namun seolah tanpa dosa, membuat Louis makin menajamkan pandangannya. Luke sama sekali tak merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat.


"Gue nggak butuh ceramah lo. Gue cuma mau dibebasin!" ucap Luke.


Louis berdecih.


"Setelah semua yang lo lakuin, lo masih bisa bilang minta dibebasin?! Selain brengs*k ternyata lo juga nggak tahu diri, ya!" ucap Louis.


"Lu nggak bisa biarin gue lama lama disini. Ada keluarga besar kita yang menunggu kepulangan gue. Dan satu lagi, ada Anisa dan calon anak gue yang menanti pertanggungjawaban dari gue!" ucap Luke.


Louis menajamkan pandangannya. Matanya mendelik. Dadanya kembali naik turun mendengar nama Anisa disebut. Dulu, saat pertama kali Anisa datang ke kota itu, Louis mati matian meminta Luke untuk pulang. Tapi apa jawaban Luke? Dia bilang, Anisa itu murahan. Hubungan terlarang yang terjadi antara Luke dan Anisa itu didasari atas rasa suka sama suka. Anisa sama seperti wanita-wanita terdahulu yang pernah Luke jamah. Laki laki itu menolak untuk bertanggung jawab. Ia bahkan menyarankan agar Louis memberikan sejumlah uang untuk wanita itu agar bisa segera pergi dari kota tersebut


Namun sekarang, saat ia terdesak, laki laki itu justru menggunakan nama Anisa sebagai alasan agar Louis mau membebaskannya. Sungguh, menjijikkan!


"Lu emang bener bener bajing*n, ya!" ucap pria itu pelan namun dengan gigi yang mengetat.


"Nggak usah banyak bac*t! Bebasin gue sekarang juga, dan gue akan nikahin Anisa!" ucap Luke


"Anisa nggak butuh laki laki seperti lo!" ucap Louis lantas membalas ucapan Luke. Luke menatap tajam sang kembaran, begitu juga sebaliknya.


"Anisa terlalu berharga untuk bersanding dengan sampah seperti lo! Setelah semua ulah menjijikkan yang udah lo perbuat, lo pikir gue akan ngizinin lo nikahin dia?" Louis menggelengkan kepalanya samar. "Nggak akan!" tambahnya.


Luke diam sejenak dengan mimik wajah berang. Ia kemudian mengangkat satu sudut bibirnya sambil mengangguk angguk.


"Gue paham sekarang. Sepertinya dugaan gue nggak salah. Lo suka sama bekasan gue itu. Dan lo mau ngambil dia dari gue, makanya lo jeblosin gue ke sini. Iya, kan?! Munafik, lo! Busuk! Lu sama aja sama gue! Demi perempuan, lu rela ngelempar saudara lo sendiri ke penjara!" ucap Luke muak.


"Gue nggak pernah jeblosin lo ke penjara. Bahkan dimana keberadaan lo aja gue nggak tahu. Bukannya lo emang sengaja sembunyi agar bisa lolos dari tanggung jawab?! Ini semua terjadi karena ulah lo sendiri. Lu yang udah gali lubang untuk kuburan lo sendiri!"

__ADS_1


Braaaaaakkkk....


Luke bangkit dan menggebrak meja. Membuat beberapa petugas pun menoleh ke arahnya. Ia menekan meja dengan kedua tangannya yang terborgol. Ia membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajah garang itu pada wajah sang saudara kembar. Ia menatap pria dihadapannya itu dengan sorot mata tajam mengerikan.


"Gue bilang, jangan banyak bac*t, bangs*t!! GUE CUMA MAU KELUAR DARI TEMPAT INI SEKARANG!" bentak Luke pada Louis.


Louis bangkit tanpa gentar. Ia menatap angkuh ke arah Luke dengan sorot mata tak kalah tajam, seolah siap berduel dengan saudaranya sendiri. Laki-laki itu kini berdiri dengan posisi tubuh lebih tinggi dibandingkan Luke yang nampak membungkuk dengan kedua lengan tertumpu di atas meja.


Tangan kekar Louis tergerak, diraihnya kerah baju tahanan itu lalu mencengkeramnya dan menariknya kuat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah sang kembaran dengan sorot mata tajam membunuh.


"Dengar baik baik! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah ngeluarin lu dari tempat ini. Jadi jangan pernah bermimpi untuk lo bisa keluar dari sini secepatnya. Sekali sekali lo juga harus belajar bertanggung jawab. Mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sudah lo lakukan selama ini. Sekarang mending lu banyak-banyak berpikir di sini. Renungi semua kesalahan lo."


"Untuk nama baik keluarga kita, lu nggak perlu khawatir. Gue udah terbiasa membersihkan semua masalah yang udah lu buat dengan tangan gua sendiri."


"Sedangkan untuk Anisa, jangan khawatir juga. Dia aman sama gue. Dia udah nggak butuh lo lagi. Dia cuma butuh gua. Dia akan jauh lebih bahagia di samping gue dibandingkan di samping lo. Dan satu lagi, gue lebih rela melihat lo meringkuk di tempat ini, daripada harus melihat wanita seistimewa Anisa, nikah sama sampah kayak lo!" ucap Louis.


Luke makin tersulut emosi. "Picik lo, ya?! Lu nyingkirin gue demi bisa dapetin perempuan bekas gua!!!" bentak Luke di akhir kalimatnya.


Louis mengangkat satu sudut bibirnya.


"Gue bukan picik. Gue realistis. Memangnya apa yang bisa lo kasih buat membahagiakan Anisa sedangkan hidup lo aja kacau kayak gini?!" tanya Louis.


Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Luke, kemudian berbisik.


"Gue yang akan membahagiakan Anisa di luar sana. Dan lu, selamat bersenang senang di rumah baru lo!" ucap Louis pelan namun terdengar menyebalkan di telinga laki-laki itu. Sepertinya amarah dan kekecewaan Louis memang sudah berada pada titik puncak. Hal itu pun berhasil membuat Luke makin murka. Louis benar benar menyebalkan jika sedang marah.


Louis mengangkat satu sudut bibirnya. Ia menepuk-nepuk pipi sang saudara kembar seolah ingin memberikannya semangat, namun terkesan seperti meledek di telinga Luke.


"Have a nice day!" ucap laki laki itu


Louis lantas berbalik badan. Ia mengayunkan kakinya melangkah pergi dari tempat itu dengan kepala terangkat. Mengabaikan umpatan dan sumpah serapah yang kini Luke layangkan padanya dengan penuh kemarahan.


"Anj*nk lu, bangs*t! Saudara ta* lu! Gue bersumpah, gue akan secepatnya keluar dari tempat ini. Dan lu akan jadi orang pertama yang gue incar ketika hari itu terjadi. Gue nggak akan biarin lu bahagia dengan perempuan sial*n itu! Tunggu pembalasan gue, anj*nk! Bangs*t lu, binatang!! Setan!! Aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh!!!" umpat Luke sembari mengamuk berusaha melepaskan diri dari dua petugas yang kini menyeretnya masuk kembali ke dalam sel.

__ADS_1



...----------------...


__ADS_2