(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
051


__ADS_3

NB: Seperti biasa, kalau ada typo kasih tau author,ya..🙏


❤️❤️❤️


Pagi menjelang, saat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Di dalam sebuah apartemen mewah yang semalam di huni oleh sepasang pria wanita yang belum memiliki ikatan tersebut, wanita cantik itu nampak sudah basah dan segar. Mentari belum nampak. Sebagian manusia bahkan masih terlelap dalam buaian mimpi mimpi indah mereka, namun wanita cantik itu kini sudah bersih. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya.


Anisa membuka pintu kamar yang sejak semalam ia kunci dari dalam itu. Ia lantas keluar dari kamar utama tersebut dan berjalan menuju kamar tamu, tempat dimana Louis berada sejak semalam.


Tok... Tok... Tok....


Pintu kamar itu nampak diketuk dari luar.


"Louis," panggil Anisa dengan lembut. Tak ada sahutan. Mungkin pria itu masih tidur.


Wanita hamil itu kembali mengetuk pintu tersebut.


Tok... Tok... Tok....


"Louis, bangun!" ucap wanita itu lagi.


Masih belum ada sahutan. Anisa kembali menggerakkan tangannya berniat mengetuk daun pintu itu lagi. Namun belum sempat tangan putih itu menyentuh daun pintu tersebut, tiba tiba...


Ceklek..


Pintu terbuka dari dalam. Seorang pria gagah dengan tubuh tinggi tegapnya muncul dari balik pintu itu dengan hanya mengenakan selembar handuk putih yang membalut tubuh bagian bawahnya.


Anisa membuka mulutnya. Ia mematung untuk beberapa saat kala mata polosnya berhadapan langsung dengan pemandangan indah yang menggoda jiwa para wanita itu.


Tubuhnya tinggi dan tegap. Kedua lengannya nampak kekar dan berotot. Pundaknya kokoh. Enam kotak terbentuk indah di bagian perut. Serta dua bongkahan besar dengan sebuah tombol coklat diatasnya seolah menjadi daya pikat tersendiri dalam tubuh laki laki kaya itu.



Anisa mematung dengan mulut terbuka. Satu tangannya bahkan masih terangkat. Membuat Louis pun kini nampak memiringkan kepalanya menatap wanita cantik itu.


"Ada apa, Nis?" tanya Louis. Anisa terperanjat. Ia reflek memejamkan matanya, memalingkan wajahnya dan mengucap istighfar dengan suara pelan. Iblis memang bisa menggoda siapa saja dan di mana saja.


Louis yang menyadari ekspresi wanita itu pun nampak tersenyum lucu.


"Ada apa?" tanya Louis lagi dengan suara yang lebih lembut.


"A, itu, udah jam tiga. Katanya disuruh bangunin tiap pagi," ucap Anisa.


Louis tersenyum. "Saya udah bangun dari tadi. Nih, udah mandi!" ucap Louis.


Anisa diam. "Kayaknya aku kalah rajin dari kamu," ucap Anisa.

__ADS_1


Louis terkekeh. "Ya udah, nggak apa apa. Kamu udah wudhu belum. Kita sholat bareng," ucap Louis.


Anisa mengangguk. "Udah," jawabnya.


"Ya udah, saya ganti baju dulu, ya," tambah Louis.


Anisa mengangguk lagi. "Aku ambil sajadah dulu," jawabnya.


Louis mengangguk. Keduanya pun berpisah. Louis kembali masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Anisa kembali ke kamar utama untuk mengambil mukena dan dua lembar sajadah disana.


Ibadah bersama kemudian dilakukan di sebuah ruang televisi di dalam hunian mewah itu lantaran memang tak ada mushola pribadi di sana. Tahajud, tadarus, lalu dilanjutkan dengan ibadah sholat Subuh keduanya jalankan bersama sama. Bahkan ketika Bik Susi datang ke apartemen tepat pukul empat pagi pun, keduanya masih belum beranjak dari atas sajadah suci mereka.


...****************...


05:30


Setelah menjalankan serangkaian ibadah sejak dini hari tadi, kini sepasang pria wanita yang belum ada ikatan itu mulai menjalankan aktivitas harian mereka. Anisa kini nampak berada di dapur bersama Bik Susi. Ia duduk di salah satu kursi di meja makan itu sembari menikmati segelas susu khusus ibu hamil buatannya sendiri. Sedangkan Bik Susi, wanita paruh baya itu kini nampak asyik mengolah santap pagi untuk kedua majikannya.


"Pagi, Bik!" sapa Louis yang baru saja keluar dari kamarnya.


Bik Susi menoleh. "Eh, selamat pagi, Tuan!" jawab Bik Susi.


Louis menarik sebuah kursi di meja makan itu.


Anisa tersenyum. "Pagi!" jawab wanita itu. Louis tersenyum menatap wanita cantik itu.


"Tuan mau saya bikinkan kopi?" tanya Bik Susi.


Louis tersenyum. "Boleh, Bik," jawabnya.


Bik Susi pun mengangguk. Ia lantas mulai membuatkan secangkir kopi pagi untuk sang tuan.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Anisa pada laki laki di hadapannya. Laki laki itu terlihat santai pagi ini. Tak ada jas yang melekat di tubuhnya. Hanya sebuah kaos oblong putih dan celana pendek berwarna cream yang membalut tubuh tegapnya.


"Enggak! Capek!" jawab Louis. Anisa tersenyum lembut lalu mengangguk. Bik Susi mendekat, menyerahkan secangkir kopi itu pada Louis.


"Makasih ya, Bik," ucap pria itu.


"Sama sama, Tuan," jawab Bik Susi.


Louis kembali menatap sang wanita yang kini nampak menyeruput susunya.


"Siang jalan jalan, yuk!" ucap Louis.


Anisa menoleh. "Kemana?" tanyanya.

__ADS_1


"Goa!" jawab Louis.


Anisa berdecih sembari memutar bola matanya malas. Louis terkekeh.


"Ya kemana aja. Yang penting keluar. Saya pengen refreshing dikit. Otak saya ngebul, Nis, ngurusin kerjaan terus!" ucap Louis.


"Mana?" tanya Anisa sembari menggerak gerakkan kepalanya seolah mencari cari sesuatu di kepala Louis.


"Apanya?" tanya laki laki itu.


"Katanya ngebul. Kok nggak ada asepnya?" tanya Anisa membuat Louis tergelak.


"Nggak ada asepnya! Adanya paku nih, kan saya jelmaan kuntilanak. Tolong cabutin, dong!" ucap Louis sembari menyodorkan kepalanya ke arah Anisa.


Wanita itu tertawa. Louis menggerakkan tangannya mengacak acak lembut rambut panjang itu.


"Mau, ya. Kita pergi berdua nanti!" ucap Louis.


"Terserah kamu aja," jawab Anisa. Louis tersenyum. Ia kemudian menyeruput kopinya tanpa melepaskan pandangannya dari paras ayu wanita di hadapannya itu.


Sementara itu di tempat terpisah,


Sebuah mobil nampak melesat menembus padatnya jalan raya. Membawa sepasang kekasih yang kini lebih sering menghabiskan waktu bersama menjelang hari-hari pernikahan mereka yang tinggal hitungan bulan.


Betrand yang memegang kemudi mobil itu nampak berdecak kesal. Sejak pagi ia berusaha menghubungi Louis, namun laki-laki itu tak ada kabar dari kemarin. Entah kemana perginya pria itu. Ponselnya mati sejak terakhir ia meninggalkan rumah. Sampai saat ini, Louis tak ada kabar.


"Baby, udah, dong. Mungkin Louis butuh waktu untuk menenangkan dirinya," ucap Rhea seolah begitu perhatian pada sang kekasih.


"Dia nggak bisa dihubungi dari kemarin, Babe!" ucap Betrand.


"Dia butuh waktu. Aku tahu, dia pasti capek ngadepin semua ini. Ya udahlah, biarin dia tenang dulu!" ucap Rhea.


Betrand diam sejenak sembari menatap lurus ke depan. "Dia pasti lagi sama perempuan itu sekarang!" ucap laki laki itu.


Rhea diam sejenak. Ia jadi penasaran, sebenarnya seperti apa sih sosok Anisa itu. Sampai sampai bisa menjadi bahan perdebatan antara Louis dan Betrand.


"Nanti siang aku sama Papa mau jenguk Luke di penjara. Kamu mau ikut?" tanya laki laki itu kemudian sembari menoleh ke arah Rhea.


Rhea nampak sedikit terkejut, namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya agar tak mencurigakan.


"Oh, em, enggak deh, Babe. Aku agak serem sama Luke. Dia kan agak mata keranjang. Aku risih!" ucap Rhea. Betrand menoleh ke arah sang kekasih. Ia tersenyum, kemudian mengacak-acak lembut pucuk kepala wanita itu.


"Sorry, Babe. Untuk yang satu itu aku nggak bisa nemenin kamu. Karena aku nggak mungkin menemui laki-laki yang sudah ku jebloskan ke penjara. Maaf ya, aku membuat huru-hara di keluarga kamu. Aku nggak mau mengambil resiko. Luke memegang semua rahasia hubunganku dengan dia. Dia bahkan sudah berani mengancam ku untuk menceritakan semua tentang perselingkuhan kami ke kamu dan keluargamu kalau aku nggak nurutin semua kemauannya. Aku nggak mau dia merusak rencana pernikahan kita. Dia cuma selinganku disaat aku kesepian, Babe. Sedangkan kamu adalah prioritas ku. Orang yang aku pilih untuk menjadi suamiku. Aku nggak mau Luke mengacaukan semuanya." batin Rhea berucap.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2