(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
075


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit mewah di kota besar tersebut. Laki laki berambut gondrong itu nampak diam. Berdiri di samping jendela besar salah satu ruang rawat inap di sana. Laki laki itu nampak menghela nafas panjang. Sorot matanya menatap ke arah ranjang pasien disana. Dimana seorang laki laki sejak tadi tak bergerak. Menggenggam tangan wanita yang kini tengah tak sadarkan diri di atas ranjang itu. Kepalanya sejak tadi menunduk. Sesekali isakan tangis terdengar samar disana.


Elang menghisap rokok di tangannya. Pria yang kini sudah kembali mengenakan kemeja kotak kotaknya itu kemudian berjalan mendekati ranjang. Dimatikannya rokok miliknya, lalu menghampiri Louis yang nampak hancur.


Elang menepuk pundak pria itu. Louis mendongak.


"Lo yang kuat!" ucapnya.


Louis tak menjawab. Ia hanya menampilkan senyuman simpul.


Elang menyandarkan tubuhnya di samping ranjang pasien itu.


"Gue baru denger semua tentang lo, Anisa, dan kembaran lo dari Budhe beberapa hari lalu. Gue baru sadar. Gue dulu pernah lihat adik lo di salah satu club malam. Dulu gue pikir itu lo. Gue bahkan sempat ngeraguin lo sebagai orang baik karena itu. Gue minta maaf, ya," ucap Elang.


Louis tersenyum. "Gue ngerti. Dan udah sangat biasa orang orang bereaksi seperti itu sama gue. Karena mereka nggak tahu kalau gue punya kembaran," ucap Louis.


Elang diam sejenak.


"Jadi anak dalam kandungan Anisa itu keponakan lo?" tanya Elang.


Louis diam, lalu mengangguk.


"Tapi gue akan jadikan dia anak gue. Apapun alasannya!" ucap Louis.


"Iya. Itu lebih baik," ucap Elang. Laki laki gondrong itu diam menatap Louis yang nampak diam.


"Lo bisa cerita apapun kalau lo butuh tempat buat berbagi. Gue bisa pegang rahasia," ucap Elang.


Louis menoleh. Ia nampak menghela nafas panjang. Ia mengangguk. Sepertinya ia memang butuh teman untuk berbagi.


Louis menatap lurus ke depan. Laki laki itu kemudian mulai menceritakan semuanya pada Elang. Tentang ia, Luke, keluarganya, Anisa, dan semuanya. Semua Louis buka tanpa ada yang ditutup tutupi. Ia benar benar mencurahkan semua yang ia rasakan dan ia pendam selama ini pada pria yang tanpa ia ketahui rupanya adalah kakak kandung Anisa itu. Setidaknya ia punya tempat untuk sekedar mencurahkan segala keluh kesahnya kali ini. Menceritakan tentang rasa jengah nya atas ulah sang kembaran yang seolah tak habis habis membuat masalah. Serta keluarga besarnya yang tidak pernah mengerti posisinya.

__ADS_1


Elang nampak menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Louis. Ia tak menyangka, rupanya ada di dunia ini keluarga seperti ini. Terlebih lagi kembaran Louis. Kembar identik namun memiliki sifat dan perangai yang sangat jauh berbeda. Beruntung sekali Nisa bisa bertemu dengan Louis. Laki laki itu adalah laki laki yang tepat untuk Anisa.


Louis menghela nafas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi samping ranjang itu sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Gue harus memutar otak sekarang. Gue harus secepatnya bawa Anisa pergi dari apartemen gue. Gue nggak mau ambil resiko. Tempat itu terlalu berbahaya buat Anisa," ucap Louis.


"Udah dua kali lo kecolongan. Itu artinya tempat itu emang udah nggak aman," ucap Elang.


"Tapi gue bingung sekarang. Kemana gue harus bawa dia. Tempat yang aman buat dia kalau sewaktu waktu gue tinggal," ucap Louis.


Elang diam sejenak. "Emang sebelum tinggal sama lo, dia tinggal di mana?" tanyanya kemudian.


"Dia tinggal di sebuah rumah kost. Gue bawa dia ke apartemen gue sebelum perutnya membesar. Gue nggak mau dia jadi bahan gunjingan orang orang," ucap Louis.


Elang diam lagi. Lalu,


"Tinggal di rumah gue aja! Bareng sama Budhe!" ucap Elang membuat Louis menoleh.


"Rumah gue emang kecil. Di gang sempit. Tapi gue yakin disitu jauh lebih aman di banding di apartemen lo. Rumah gue sebelahan ama tempat tongkrongan gue. Tempat itu nggak pernah sepi. Selalu ramai sama anak anak kampung gue. Mereka semua kenal ama gue. Gue akan minta bantuan mereka buat jagain Anisa," ucap Elang.


Laki laki itu kemudian tersenyum. "Lo yakin aman?" tanyanya kemudian.


"Gue nggak pernah asal bac*t. Kalau gue bilang aman, itu artinya benar benar aman!" ucap Elang.


Louis tersenyum. Baru saja ia hendak mengucap kata 'iya' pada laki laki itu. Tiba tiba...


Ceklek...


Pintu ruang rawat inap terbuka dengan cukup kasar.


"Nisa!!" Suara itu menggema. Seorang wanita paruh baya setengah berlari mendekati ranjang rumah sakit itu. Setelah mondar mandir kesana kemari dan kesasar di rumah sakit yang salah, akhirnya Bik Susi bisa menemukan keberadaan Anisa. Dengan sebuah telepon genggam milik Anisa yang masih berada di tangannya, wanita itu kemudian mendekati Anisa, menghamburkan pelukannya pada wanita malang yang masih tak sadarkan diri tersebut.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Nisa! Kamu kenapa, Nak? Bangun, Sayang. Ini saya Budhe mu!! Bangun, Nak!!" ucap wanita paruh baya itu sesenggukan.


Elang diam. Ia nampak mengernyitkan dahinya. Sesayang itukah Budhenya sampai menganggap Anisa seperti keponakannya sendiri?


"Nisa nggak apa apa, Bik. Dia cuma syok aja. Sebentar lagi juga sadar, kok," ucap Louis menenangkan sang ART yang sepertinya sangat ia sayangi itu.


Bik Susi menoleh ke arah Louis dan Elang bergantian.


"Kalian datang tepat waktu?" tanya Bik Susi.


Louis tersenyum lalu mengangguk. "Untungnya saya ketemu Elang di di jalan. Jadi kami pergi ke apartemen barengan," ucap Louis.


Bik Susi sesenggukan. Ia menangis lagi. Ia menoleh ke arah Anisa lalu membelai wajah cantik yang kini tengah terlelap itu.


"Terimakasih. Terimakasih sudah menyelamatkan anak malang ini. Dia keponakan saya, Tuan. Hikss...." ucap Bik Susi sesenggukan.


Elang dan Louis reflek menoleh ke arah wanita itu.


"Budhe?!" ucap Elang.


Bik Susi menoleh lagi.


"Maksud Bibik apa?" tanya Louis tak mengerti.


Bik Susi menitikkan air matanya lagi. Ia kemudian membuka ponsel yang tak terkunci di tangannya itu, lalu menunjukkan sebuah foto yang tadi Anisa tunjukkan padanya itu pada Elang.


Elang terdiam.


"Itu ayah sambungmu, Lang," ucap Bik Susi.


Louis menatap Elang dan Bik Susi bergantian. Ia kemudian bangkit, dan mendekati Elang. Melihat foto dalam ponsel milik Anisa. Kedua pria itu diam.

__ADS_1


Bik Susi menatap Anisa yang terlelap, lalu memulai ceritanya tentang adiknya, Silvia, Herman, dan Adiba Anisa.


...----------------...


__ADS_2