(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
090


__ADS_3


Malam menjelang saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Di meja makan apartemen mewah itu.


"Oh ya? Sayang, kalau ada apa apa bilang loh sama aku!" ucap Louis sambil menyendok minuman sereal di hadapannya.


"Iya. Nggak apa apa, kok. Cuma udah mulai males aja kemana mana. Kata Budhe, meleset dari HPL itu biasa,” ucap wanita cantik itu melalui sambungan video.


"Aku sampai lupa kalau ternyata hari ini harusnya kamu udah lahiran. Saking sibuknya. Maaf ya, Sayang," ucap Louis.


"Nggak apa apa. Toh juga belum lahir. Mungkin dia tahu kalau Papanya lagi sibuk. Makanya dia milih main main dulu dalam perut," ucap Anisa.


Louis tersenyum sambil menyeruput sereal dalam sendok yang dipegangnya.


"Padahal hari ini rencananya aku pengen ketemu sama kamu. Udah setahun kita nggak ketemu. Kangen banget, sumpah!" ucap Louis.


Anisa terkekeh di seberang sana.


"Malah ketawa!" ucap Louis.


"Lebay banget calon bapak," ucap Anisa.


Louis ikut tersenyum melihat tawa wanita hamil itu.


"Oh, ya. Betrand gimana kondisinya?" tanya Anisa.


"Dia belum bangun," ucap Louis. "Tapi aku udah hubungin Om Steve. Aku bilang kalau Betrand ada di sini. Biar mereka tenang," ucap Louis.


"Kakek?" tanya Anisa.


Louis menghela nafas panjang. "Aku belum ketemu Kakek, tapi a........."


Pyaaarrr....

__ADS_1


Louis terkejut. Ia menghentikan ucapannya. Suara benda pecah terdengar dari kamar tamu, tempat dimana Betrand berada.


"Ada apa?" tanya Anisa.


"Ada suara pecah!" ucap Louis. "Sayang, aku matiin bentar ya videonya. Aku mau cek ke kamar dulu,"


Anisa mengangguk. "Ya udah nggak apa apa, matiin aja," jawab wanita itu.


Louis tersenyum. Dengan segera ia pun mematikan sambungan panggilan videonya dengan sang kekasih, kemudian bangkit dan bergegas menuju kamar tamu. Tempat dimana pria yang pagi tadi ia temukan terkapar mengenaskan di sebuah bangunan lusuh itu berada.


Ya, Louis yang sejak pagi merawat sepupunya. Membawanya ke apartemen, membersihkan tubuhnya serta menggantikan pakaiannya. Kasihan, sepupunya itu benar benar kacau saat ini.


Ceklek...


Pintu kamar tamu terbuka. Louis mengedarkan pandangannya ke segala arah. Betrand tidak ada di tempat tidur. Pria tampan itu kemudian mendekati pintu kamar mandi yang terbuka. Lalu...


"Astaghfirullah haladzim," ucap Louis pelan. Dilihatnya disana kaca wastafel itu remuk. Air mengalir dari keran, membuat sebuah genangan air berwarna merah bercampur darah di bak wastafel itu.


Ya, kaca cermin itu remuk setelah ditinju oleh pria frustasi itu dengan sekuat tenaganya. Tetesan darah dari buku buku tangan dan serpihan kaca itu mengalir, menetes, bercampur air yang menggenang di bak wastafel kamar mandi itu.


Betrand nampak mengepalkan tangannya. Menatap tajam ke arah kaca yang hancur, yang menampilkan bayangan dirinya dan Louis yang berada di belakangnya, meskipun sudah tak begitu jelas lantaran retak.


Betrand makin menajamkan pandangannya.


"Ini semua gara gara kembaran lo itu! Anj*nk!" ucap Betrand dengan gigi yang mengetat.


Louis menghela nafas panjang. "Ya, gue tahu dia salah. Tapi perselingkuhan itu terjadi antara dua orang. Bukan satu orang. Perselingkuhan nggak akan terjadi kalau nggak ada kemauan dari kedua belah pihak. Nggak adil rasanya kalau ketika perselingkuhan itu terjadi tapi hanya satu orang yang dihakimi!" ucap Louis tenang namun tepat sasaran.


Betrand tak menjawab. Ia masih diam dengan sorot mata tajam menatap lurus ke depan.


"Gue paham perasaan lo. Kalau lo mau ngeluapin emosi lo, silakan. Ruangan ini bebas buat lo apain aja. Mau lu rubuhin sekalian, silakan. Kalau cuma sekedar ngerenovasi apartemen sih duit gue masih cukup. Terserah. Gue bebasin lo disini. Asal jangan bunuh diri ama bunuh orang aja."


"Kalau butuh apa apa, lo bisa kabarin gue,” ucap kekasih Anisa itu tenang. Pria itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Betrand disana sembari menutup pintu kamar mandi itu. Ia kemudian bergegas kembali menuju meja makannya, kembali menikmati serealnya dan kembali menghubungi kekasihnya.


Bukannya tak peduli, tapi bukankah seseorang yang sedang kecewa itu terkadang juga butuh waktu untuk menyendiri. Dia sudah kecewa dengan manusia, rasanya menambahi beban pikiran dan hatinya dengan ceramah dan nasehat bukanlah hal yang tepat untuk saat ini. Mungkin nanti, ketika Betrand sudah merasa lebih baik. Saat ini, biarkan laki laki itu menikmati kekecewaan dan patah hatinya. Yang penting ia tidak melukai dirinya sendiri maupun orang lain. Biarkan sakit hatinya cukup ia yang rasakan. Tidak perlu melampiaskannya pada orang lain yang akhirnya hanya akan melukai orang orang itu sendiri. Louis siap memfasilitasi kekewaan Betrand. Ia siap memberikan tempat untuk laki laki itu meluapkan semua emosinya sampai ia merasa lebih baik.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu beberapa jam kemudian. Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, di sebuah gang sempit tak jauh dari komplek perumahan elit di kota itu. Sebuah motor matic yang dikendarai seorang wanita muda nampak berhenti di samping sebuah motor berknalpot bising milik seorang pemuda disana.


Wanita dengan jaket hitam dan helm berwarna senada itu nampak mematikan mesin kendaraannya. Sedangkan pemuda yang kini nampak berboncengan dengan seorang pria gondrong itu nampak tersenyum.


Ya, itu adalah Elang dan satu rekannya bernama Didit. Kedua pria itu kini diam diam tengah melakukan pertemuan dengan seorang wanita mantan teman sekolah Didit yang diketahui bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah keluarga konglomerat di negara itu, Keluarga besar Davis.


"Nggak ada yang ngikutin lo, kan?" tanya Didit pada sang teman yang diketahui bernama Aya itu.


"Nggak ada, sih. Tapi sumpah, gue takut, Dit!" ucap Aya.


'Lo tenang aja. Besok pagi gue balikin, kok!" ucap Didit.


"Gue gemeteran dari tadi, Dit. Takut kalau ketahuan!" ucap Aya.


"Bukannya lo sendiri yang bilang, kalau dia udah nggak pulang sejak beberapa hari? Dan lo juga yang bilang, kalau pemilik rumah jarang lihat rekaman CCTV kalau nggak ada yang penting?" tanya Didit.


"Iya, tapi kan tetep aja, gue takut," ucap Aya.


Elang yang sejak tadi diam membonceng Didit sambil menikmati rokoknya itu nampak melempar puntung benda bernikotinnya itu asal.


"Kalau gitu lo ikut kita aja. Nggak sampai dua jam, kok. Abis itu gue bakal balikin laptop itu ke lo," ucap Elang.


Aya nampak berfikir.


"Ya udah, lo ikut aja. Kalau kita udah selesai, lo bisa bawa balik lagi tuh laptop majikan lo!" ucap Didit.


Aya masih nampak berfikir. Lalu...


"Oke, deh. Gue ikut. Tapi jangan lama lama, ya!" ucap Aya.


"Iya, tenang aja. Nanti sekalian, duit yang gue janjiin bakal gue kasih ke lo!" ucap Didit.


Aya mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, ikutin gue!" ucap Didit yang kemudian menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi dari tempat itu diikuti Aya di belakangnya.


...----------------...


__ADS_2