(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
017


__ADS_3

Di sebuah restoran yang cukup mewah di kota itu. Sepasang anak manusia itu nampak saling diam. Menatap ke arah beberapa makanan yang tersaji di atas meja bundar di tengah tengah mereka.


Louis melirik ke arah Anisa. Wanita yang nampak menyedihkan dengan wajah sembab tanpa make up itu lagi lagi hanya diam. Nampak tak bersemangat menatap deretan makanan mewah yang sudah laki laki itu pesan untuknya.


Louis menghela nafas panjang. "Kamu nggak suka sama makanannya?" tanya Louis.


Anisa menoleh, lalu menunduk.


"Suka," ucapnya.


"Terus kenapa nggak dimakan?" tanya Louis lagi.


Anisa hanya diam. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Laki laki yang kini nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu pun kini nampak menghela nafas panjang sembari menegakkan posisi duduknya. Diletakkannya kedua lengan itu di atas meja dalam posisi terlipat.


"Nisa, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sama kamu," ucap laki laki itu.


Anisa mendongak, mengangkat kepalanya menatap ke arah Louis.


"Saya mau minta maaf jika sikap saya ke kamu selama kamu disini terasa menyakitkan buat kamu," ucap pria itu dengan mode seriusnya.


Anisa diam.


"Saya tahu saya salah karena sudah menghancurkan masa depan kamu." Louis menatap dalam mata sembab Anisa. "Sekarang kamu sudah berada disini. Saya berjanji saya akan menebus semua kesalahan saya. Seperti yang saya bilang, saya akan menikahi kamu setelah anak dalam rahim kamu lahir."


"Kamu meragukan anak ini? Kamu berpikir saya adalah wanita murahan yang bisa disentuh banyak laki laki, kan? Bisa bisanya kamu berfikir seperti itu sedangkan jelas jelas kamu menyaksikan bahwa kamu adalah orang pertama yang menjamah tubuh saya!" ucap Anisa dengan air mata yang lagi lagi menetes begitu deras. Membuat Louis seolah ikut sesak melihatnya.


"Jangan menangis di hadapan saya!" ucap Louis menahan sesak.


"Saya punya beberapa alasan untuk itu. Saya harap kamu mengerti. Ditambah lagi, ajaran dalam agama saya melarang seorang pria untuk menikahi seorang wanita yang sedang berbadan dua! Itu tidak diperbolehkan," ucap Louis membuat Anisa diam. Seorang Luke rupanya juga paham dengan hal demikian.


Anisa lantas tertawa sumbang sepersekian detik kemudian. "Agama yang kamu anut juga melarang pria dan wanita berhubungan badan sebelum adanya pernikahan. Apalagi jika itu dilakukan dengan paksaan!" ucap Anisa tegas.


Louis tak bergerak.


"Kamu tidak perlu menggunakan dalih agama untuk menutupi semua kebusukan kamu, Luke!" ucap Anisa.


"Saya Louis!"


"Sama saja!!" sahut Anisa tegas dengan mata menajam. Ia muak dengan omong kosong pria dihadapannya itu. Sok alim dan bijak tapi kelakuannya dulu sangat menjijikkan.


Louis kembali menarik nafas panjang dan membuangnya.


"Saya tengah dalam pengaruh alkohol saat itu, Anisa," ucapnya lagi. Anisa berdecih.

__ADS_1


"Saya sudah bilang sama kamu. Saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari. Saya akan menikahi kamu setelah anak ini lahir. Kamu tidak perlu merasa diragukan, disamakan dengan wanita wanita gampangan, atau semacamnya. Apa yang saya lakukan hanyalah untuk memberikan keadilan dan tidak menambah dosa untuk kita. Perbuatan kita adalah dosa, dan saya tidak mau menambahi dosa itu lagi dengan menikahi kamu yang tengah hamil."


"Percaya sama saya, kamu akan mendapatkan keadilan yang kamu perjuangkan. Anak ini akan lahir dan besar dengan keluarga yang utuh. Dia akan diazdani oleh ayah kandungnya. Dan dia tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun," ucap Louis meyakinkan Anisa.


Anisa tak menjawab. Air matanya terus menetes deras bak air hujan.


Louis bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri, membungkuk, mengulurkan tangannya mengusap lelehan air mata yang menetes di pipi Anisa yang duduk di seberang meja.


"Jangan menangis lagi. Kamu bisa mengandalkan saya. Saya berjanji saya akan menebus semua dosa dosa saya sama kamu. Mulai hari ini, kamu adalah tanggung jawab saya. Panggil saya jika kamu butuh sesuatu. Cari saya jika kamu memerlukan bantuan. Saya memang belum bisa menikahi kamu sekarang. Tapi saya sudah sangat siap untuk bertanggung jawab atas semua yang ada dan terjadi pada kamu dan calon anak kamu," ucap laki laki itu terdengar sungguh sungguh.


Anisa diam mematung tak bergerak. Sorot mata kedua anak manusia itu saling bertemu. Suasana begitu hening. Dunia seolah berhenti berputar untuk sejenak.


Sorot mata kedua manusia itu semakin dalam dan dalam saja. Seolah mengisyaratkan berbagai perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Kesalahan seorang manusia yang kini bersembunyi entah dimana memaksa Louis harus bertanggung jawab atas wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Memang ini hanya sementara. Tapi untuk sembilan bulan ke depan, Louis dipaksa untuk dekat dengan Anisa. Menuruti semua kemauan wanita itu. Menyediakan apapun yang wanita itu dan calon buah hatinya butuhkan. Serta memastikan gizi serta kebahagiaan sepasang calon ibu dan anak itu selalu terjaga. Setelah itu ia akan menyerahkan Anisa kepada Luke yang sudah seharusnya bertanggung jawab atas wanita hamil tersebut.


Entah bagaimana nantinya, namun Louis sudah bertekad atas itu. Anisa adalah gadis yang baik. Ia mungkin akan bisa membimbing Luke untuk menjadi pribadi yang lebih baik juga nantinya.


Louis tersenyum manis. Sedangkan Anisa nampak diam mematung mendapati perlakuan manis dari pria yang ia pikir telah menodainya itu. Louis lantas mendudukkan kembali tubuhnya di kursi itu.


"Udah, sekarang kita makan. Ini semua makanan sehat. Sangat baik untuk perkembangan janin dalam perut kamu," ucap Louis.


Anisa mengusap lagi setitik air mata di pipinya. Ia lantas mengangguk sambil tersenyum. Keduanya pun lantas memulai makan siang mereka di salah satu resto ternama itu. Louis sesekali mengajak Anisa berbincang, seolah ingin mencairkan suasana yang terasa kaku itu sembari mencoba mengenal lebih dekat sosok Adiba Anisa yang kini tengah mengandung calon keponakannya.


...****************...


Mobil hitam dengan cat mengkilap itu nampak berhenti di depan rumah berlantai dua kediaman Salma dan Almeer. Anisa yang masih berada di dalam mobil itu nampak melepas sit belt-nya. Begitu juga Louis yang kini duduk di kursi kemudi kendaraan mewah roda empatnya tersebut.


"Saya anterin kamu sampai depan pintu," ucap Louis. Anisa diam sejenak. Ditatapnya pria itu sebentar lalu mengangguk samar. Louis menggerakkan tubuhnya, meraih sebuah kantong kresek putih berisi buah apel yang berada di atas jog belakang mobil itu.


Keduanya pun lantas turun dari mobil tersebut. Tiba tiba...


"Nisa." Suara itu berhasil membuat Anisa menoleh. Dilihatnya di sana, di samping Anisa, seorang pria tampan nampak berdiri di samping Anisa dengan membawa sebuah kotak makan di tangannya.



Anisa terdiam. Itu Almeer, om-nya Tami, adik Salma, pemilik tempat kost-nya.


"Kak Almeer," ucap Anisa.


Louis mendekat. Almeer melirik ke arah pria tampan itu.


"Ada apa, Kak?" tanya Anisa.


Almeer tersenyum. "Tadinya saya mau antar ini buat kamu. Kamu udah makan siang belum?" tanya Almeer sembari mengangkat kotak makan di tangannya.

__ADS_1


Anisa membuka mulutnya, lalu menatap ke arah Almeer dan Louis secara bergantian.


"A, em, udah. Udah, Kak," ucap Anisa.


Almeer kembali melirik ke arah Louis.


"Oh, ya udah. Kalau gitu kamu bawa aja. Buat makan malam," ucap Louis sembari menyerahkan kotak itu pada Anisa.


Wanita itupun menerimanya. Ia nampak tersenyum lalu mengangguk. "Makasih, Kak," ucap Anisa.


Almeer mengangguk.


"Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu. Mau istirahat," ucap Anisa. Almeer mengangguk. Anisa pun lantas berbalik badan. Bergegas pergi dari tempat itu menuju kost-an nya diikuti Louis di belakangnya. Sedangkan Almeer nampak diam menatap punggung sepasang pria wanita itu yang mulai menjauh darinya.


Setibanya di kamar kost Anisa. Louis menyerahkan kantong kresek itu pada wanita hamil tersebut.


"Nih, saya mau pulang. Kamu istirahat. Jangan capek capek. Dan ingat, kalau kamu perlu apa apa, kamu jangan lupa hubungi saya," ucap Louis.


Anisa mengangguk.


"Besok saya kesini lagi. Kamu jaga diri kamu dan bayi kamu baik baik," ucap Louis.


Anisa mengangguk lagi.


"Ya udah, saya duluan. Assalamualaikum,"


"Wa Alaikum Salam," jawab Anisa.


Louis pun berbalik badan. Hendak pergi dari tempat itu. Sedangkan Anisa kini nampak merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci pintu kamar kostnya untuk masuk ke dalam sana. Tiba tiba...


"Nisa,"


Suara itu berhasil menghentikan pergerakan Anisa. Louis tiba tiba memanggilnya. Membuat Anisa pun reflek berbalik badan menoleh ke arah pria itu. Keduanya kembali saling pandang untuk beberapa saat.


"Terima kasih sudah datang ke kota ini dan menemui saya," ucap pria itu. Anisa diam. Ia tersenyum samar lalu menunduk. Ia tak menjawab. Hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.


Louis tersenyum. "Ya udah, masuk. Saya mau pulang," ucap pria itu.


Anisa mengangguk. Louis lantas berlalu pergi. Anisa hanya diam menatap punggung kokoh pria yang kini mulai menjauh dari pandangan matanya itu.



__ADS_1


__ADS_2