
Hari berganti. Pagi hari di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota itu. Bayi tampan itu nampak masih asyik tidur di bawah kelambu bayinya dalam posisi tubuh terlentang. Bibirnya terlihat sedikit terbuka, diapit dua pipi gembul berwarna putih kemerah merahan khas ayah kandung serta calon ayahnya. Sekilas wajahnya begitu mirip dengan Louis. Atau Luke. Atau siapalah, pokoknya itu🙈
Gerhana masih tertidur pulas dalam posisi terlentang. Celana pendek dan baju bayi bermotif luar angkasa nampak begitu lucu menempel di tubuh gembulnya. Ia seolah tak peduli dengan suasana sekitar kamar tak terlalu luas yang kini terlihat mulai dipenuhi beberapa orang. Ibunya sedang dirias. Sudah cantik. Hampir selesai. Sedangkan calon ayahnya beserta keluarga besar sudah berada di ruang tamu. Berkumpul dengan sejumlah tetangga serta wali nikah yang siap untuk meresmikan hubungan kedua insan yang saling mencintai itu.
Ya, sesuai janji Louis, laki laki itu akan menikahi Anisa secara sah di mata hukum agama dan negara hari ini. Setelah ini mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri, membina hubungan rumah tangga yang harmonis, kemudian membesarkan dan merawat baby Gerhana dengan penuh kasih sayang.
Pintu kamar terbuka.
"Nis, udah siap?" tanya Elang yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa orang yang berada di kamar itupun menoleh. Termasuk Anisa dan Tami yang juga berada di sana.
"Em, udah, Kak," jawab Anisa.
"Ya udah, buruan keluar, gih. Udah ditungguin," ucap Elang.
Anisa mengangguk sambil tersenyum. Elang mendekati sang adik. Ia nampak tersenyum menatap wanita yang terlihat sangat cantik dengan pakaian putih itu.
Anisa menatap sang kakak dengan sorot mata menyelidik.
"Kenapa?" tanya Anisa.
Elang menggelengkan kepalanya. "Cantik!" ucapnya dengan telapak tangan yang ia masukkan ke dalam kantong celananya.
Anisa mengulum senyum manis. "Makasih, Kak," ucapnya.
Elang mengangguk. "Dah, keluar gih!" jawabnya.
Anisa tersenyum lagi. Ia kemudian melangkah keluar dari kamar itu bersama sang nenek yang setia menemaninya sejak tadi.
Elang berbalik badan. Menatap punggung ramping sang adik yang makin menjauh dari pandangan matanya itu.
"Ibuk, Adiba menikah hari ini. Dia sudah menemukan laki laki yang tepat yang akan menjaganya sebagai pengganti ayah. Ibuk jangan khawatir. Kami tetap saudara. Dia tetap adik seorang Elang. Elang akan tetap menjaganya semampu Elang dengan cara Elang sendiri. Jika ibuk melihat pernikahan hari ini dari surga, tolong sampaikan pada Tuhan, cabut semua penderitaan dan kesusahan dari kedua pengantin itu. Limpahkan bahagia untuk mereka. Kehidupan mereka sudah teramat berat sebelum ini. Jadikan prosesi hari ini sebagai awal dari kehidupan baru mereka yang bahagia," batin Elang berdoa untuk adik perempuannya.
"Mas!"
__ADS_1
Suara itu membuat Elang tersadar dari lamunannya. Ia menoleh. Dilihatnya disana Tami berada di atas kasur busa kamar itu. Menepuk nepuk paha Gerhana yang nampak menggeliat disana.
Elang diam.
"Nggak keluar?" tanya Elang.
Tami tersenyum. "Gerhana nggak ada yang nungguin," jawabnya.
Elang tersenyum simpul lalu mengangguk. Ia kemudian mendekati jendela. Membuka kacanya agar udara bisa masuk ke dalan ruangan itu. Laki laki tersebut kemudian duduk di kursi meja rias, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu mulai menyalakan rokoknya dan menikmatinya. Ia nampak mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar yang terbuka.
"Loh, mas Elang nggak keluar?" tanya Tami.
Elang menoleh. "Belum dimulai. Nanti gue keluar," ucapnya.
Tami mengangguk, lalu tersenyum. Ia kemudian menggerakkan tangannya merogoh tas di sampingnya, mengeluarkan sebuah ponsel disana, lalu mulai mengambil gambar bayi mungil yang begitu menggemaskan bahkan disaat tidur itu.
Tami tersenyum manis. "Sama Gerhana aja!" jawabnya.
Elang tak langsung menjawab. Ia hanya nampak mengulum senyum menatap gadis berparas manis dengan kulit putih itu.
Suasana hening sejenak. Tami asyik dengan Gerhana. Bukannya di puk puk, atau dijaga biar tetap tidur lelap, wanita itu justru asyik mengusili bayi mungil itu, membuat si bayi kini justru sesekali menggeliat merasakan gangguan dari tangan Tami.
"Besok pulang kampung?" tanya Elang.
Tami menoleh. "Nenek Ranti aja, Mas," jawab Tami.
"Elu?" tanya pria itu.
"Mau cari kerja disini aja," jawabnya.
__ADS_1
Elang diam diam mengulum senyum sambil menyesap rokoknya.
"Kerja dimana?" tanya Elang.
Tami menggelengkan kepalanya. "Masih nyari nyari,"
"Emang pengennya kerja dimana?" tanya pria itu lagi.
"Dimana aja. Yang penting bukan jadi copet!" jawab Tami.
Elang berdecih. Ia nampak mengulum senyum. Ia kemudian merogoh saku celananya tanpa berucap sepatah katapun. Ia menuju aplikasi WhatsApp, mencari nomor salah satu temannya, lalu menuliskan sesuatu.
"Cariin loker buat cewek tamatan SMA yang gajinya gede. Sekarang!"
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah. Di ruang tamu rumah sederhana itu. Beberapa orang sudah berkumpul di sana. Begitu juga sepasang pengantin yang sudah duduk di hadapan wali nikah yang siap untuk mempersatukan hubungan mereka.
Tak banyak tamu undangan yang hadir. Hanya beberapa tetangga serta keluarga besar dari kedua belah pihak. Mereka sengaja hadir untuk menjadi saksi sebuah acara sakral yang sederhana hari ini. Sebuah pernikahan antara Adiba Anisa dan Louis Edgar Davis.
"Bagaimana, sudah siap, Tuan?" tanya sang wali nikah.
Louis mengangguk mantap.
Pria dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu mengulurkan tangannya yang disambut dengan yakin oleh Louis setelah sempat menoleh sesaat ke arah calon istrinya.
Suasana hening pun terasa. Prosesi ijab qobul pun dilaksanakan. Semua diam mendengarkan. Tak terkecuali Elang dan Tami yang berada di dalam kamar bersama baby Gerhana. Louis mengucap janji sehidup semati itu dengan lantang, yakin, dan pasti dalam satu tarikan nafas.
Sah..!
Suara menggema dari bibir para tamu undangan. Pertanda babak baru kehidupan dua anak manusia itu baru saja dimulai. Semua mengucap syukur. Anisa, Louis, semua anggota keluarga serta tamu undangan. Lagi, tak terkecuali Elang dan Tami. Semua bahagia. Semua ikut merasa lega. Satu keluarga kecil terbentuk hari ini. Formasi sudah lengkap. Suami, istri, serta satu buah hati.
__ADS_1