
Louis melangkahkan kakinya dengan lebar dan cepat menuju unit apartemen miliknya. Pria tampan dengan kemeja putih dengan lengan tergulung dan celana panjang bahan yang membalut tubuhnya itu kini nampak setengah berlari, mendekati pintu utama apartemen mewah tempat dimana sang sepupu kini tengah berada.
Ceklek...
Pintu apartemen terbuka tanpa diketuk. Calon suami Anisa itupun lantas mengayunkan kakinya mendekati pintu kamar tamu tempat dimana Betrand kini tengah berada.
Ceklek...
Pintu kamar itu terbuka. Louis terdiam. Ia menghela nafas panjang melihat kondisi ruangan yang biasanya rapi itu. Kamar itu kini sudah seperti kapal pecah. Berantakan. Barang barang tergeletak tidak pada tempatnya. Berceceran di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Sebagian nampak pecah. Kasur berantakan dengan bantal, guling dan selimut yang sudah berserakan dimana.
Sungguh, kamar itu kini seolah menggambarkan kondisi hati seorang Betrand yang kacau balau.
Louis berjalan masuk ke dalam kamar itu. Dilihatnya disana, Betrand nampak duduk di lantai sambil menikmati puntung rokoknya. Kondisinya menyedihkan. Rambut ikal yang biasanya rapi itu kini nampak acak acakan. Jenggot dan kumisnya melebat. Matanya nanar, sendu, sembab, menyiratkan duka yang begitu dalam. Dengan kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek, laki laki itu menatap lurus ke depan dengan sorot mata nanar. Puntung rokok bertebaran dimana mana. Entah sudah berapa ratus batang benda bernikotinnya yang ia hisap selama mengurung diri di kamar itu.
Louis menoleh ke arah televisi. Remuk! Tak berbentuk. Apakah Betrand melihat siaran televisi hari ini? Atau benda itu sudah hancur duluan sebelum berita viral itu mencuat pagi ini? Pikir Louis.
Laki laki itu mengayunkan kakinya tenang, mendekati Betrand dan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, tepat di samping sang sepupu yang nampak kacau. Ia bahkan sama sekali tak menoleh meskipun menyadari kedatangan Louis.
Louis menoleh ke arah nakas. Makanan yang disiapkan Bik Susi masih utuh, belum tersentuh.
"Lo nggak makan?" tanya Louis.
Betrand diam. Tak menjawab. Ia hanya menatap lurus kedepan.
"Makanlah! Lo masih butuh makan, seenggaknya buat ngelanjutin hidup!" tambah kembaran Luke itu.
Betrand membuang puntung rokoknya yang sudah pendek itu.
__ADS_1
"Hidup gue udah hancur. Untuk apa dilanjutin!" ucapnya kemudian. Suaranya pelan, terdengar malas.
Louis tersenyum. "Setidaknya lo hanya kalah dalam hal percintaan. Dan lo nggak mati konyol hanya demi perempuan!"
"Gampang lo ngomong gitu. Lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Bertahun tahun gue jaga hubungan ini. Semua gue kasih buat dia. Tapi apa yang dia beri buat gue?! Anj*nk!" ucap Betrand yang kemudian mulai emosi. Ia memukuli laci nakas di sampingnya dengan penuh emosi. Ia menggerakkan tangannya menendang nendang udara, seolah ingin melampiaskan kekesalannya.
Louis diam sejenak. Ia menghela nafas panjang. "Ya, gue tahu sakit yang lo rasain. Wajar kalau lo marah. Tapi lo juga harus inget, selain perempuannya nggak tahu diri itu, masih banyak orang lain di dunia ini yang butuh lo."
"Lo nggak tahu, kan, gimana khawatirnya nyokap lo atas kondisi lo. Bokap lo juga," ucap Louis.
"Gue tahu emang nggak gampang buat lo nerima semua ini. Gue nggak bisa nasehatin banyak, karena mungkin sakit yang lo rasakan sekarang itu jauh lebih pedih dibanding yang gue bayangkan," ucap Louis.
"Yang gue tahu, apapun yang gue rasakan. Apapun yang masalah yang menimpa gue, kalau merasa nggak ada manusia yang bisa menolong gue, gue cuma akan datang dan mendekat pada Tuhan. Yang Maha Memberi dan Menyelesaikan masalah kita. Mungkin lo bisa coba," ucap Louis.
Betrand tak menjawab.
Mungkin akan sangat lebih baik jika Betrand tidak melihat berita heboh yang berbeda di media saat ini. Louis takut, jika Betrand makin depresi kalau sampai melihat berita hari ini.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah.
Mobil itu berhenti dengan ugal ugalan di halaman luas rumah keluarga Davis. Laki laki tampan namun dengan perangai yang buruk itu keluar dari kendaraannya dengan membanting pintu kemudi. Wajahnya garang. Matanya merah penuh amarah. Dadanya naik turun seolah menggambarkan emosi yang kini memenuhi hatinya.
Ya, itu Luke! Pria itu murka. Ia berada di puncak amarahnya hari ini. Pagi pagi sekali, Rhea, si wanita yang kini tengah menjadi perbincangan khalayak ramai itu tiba tiba menelfonnya, mencaci makinya dan mengucap sumpah serapahnya. Dua manusia yang kini tengah dalam persembunyiannya masing masing itu terlibat cek cok sengit. Rhea menuduh Luke sudah kurang aj*r dengan menyebarkan foto foto tak senonohnya. Padahal Luke tak tahu apa apa. Laki laki itupun lantas memantau siaran berita di salah satu stasiun televisi di sana. Benar saja, akun tweeter miliknya lah yang pertama kali memposting foto tanpa busana milik Rhea. Sebuah foto yang ia ingat masih tersimpan rapi di laptopnya.
__ADS_1
Tapi siapa yang mempostingnya? Sedangkan ia sangat jarang membuka akun media sosialnya yang satu itu akhir akhir ini.
Merasa sangat penasaran, laki laki itipun akhirnya memilih untuk turun gunung. Ia keluar dari tempat persembunyiannya di sebuah hotel ternama di kota itu dan pulang ke rumahnya. Ia ingin mencari tahu, siapa bedeb*h yang sudah berani beraninya mengotak atik akun media sosialnya itu.
Luke masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi ataupun mengucap salam. Dengan langkah panjang dan lebar, ia menaiki anak tangga rumah itu menuju lantai dua tempat di mana kamar tidurnya berada. Pria yang seolah tak memiliki etika dan sopan santun itu terus mengayunkan kakinya tanpa memperdulikan sang tante yang nampak memanggil manggil namanya sembari mengikuti langkahnya di belakang.
Luke yang kini nampak dikuasai emosi itu lantas masuk ke dalam kamarnya, kemudian membanting pintu kamar itu dengan kerasnya membuat Martha pun terjingkat dibuatnya.
Luke mengambil laptop yang selalu ia letakkan di atas sebuah meja di kamarnya itu. Diraihnya benda itu kemudian mengotak-atik sejenak benda tersebut, seolah mencari sesuatu di sana.
Luke diam sejenak. Ia nampak berfikir. Foto foto itu hanya ada di laptopnya. Jika sampai ada yang menyebarkannya, itu artinya ada seseorang yang sudah menyentuh benda pribadi miliknya itu. Sudah pasti, orang itu adalah orang yang berada di lingkungan rumah ini. Seseorang itu pasti dengan lancangnya mengobrak abrik benda pribadinya.
Luke mengepalkan tangannya. Ada satu sosok yang ia curigai. Louis! Pasti dia! Dia ingin balas dendam pada Luke karena ini pernah mencoba melecehkan Annisa beberapa waktu lalu.
Ya, pasti Louis! Pasti! Tidak salah lagi. Luke mengetatkan kepalan tangannya. Ia menoleh ke sudut ruangan, tempat dimana sebuah tongkat baseball nampak tersandar disana. Manusia berhati iblis yang kini tengah dikuasai iblis itu nampak mengetatkan gigi-giginya.
"Gue abisin lu hari ini, bangs*t!" ucap Luke penuh kebencian.
Tanpa basa-basi, laki laki itu pun bangkit dari posisi duduknya. Dengan segera ia meraih tongkat baseball yang berada di sana. Ia kemudian keluar dari kamar itu dan berjalan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Lagi lagi, ia mengabaikan Martha yang sejak tadi terus memanggil namanya dan mengikuti langkah nya. Luke bahkan dengan kasarnya mendorong wanita paruh baya itu ketika sang tante berusaha menghalangi langkahnya.
Ya, Martha mencium gelagat tak baik pada diri Luke. Membuatnya seolah ingin menghalangi sang keponakan untuk pergi dari rumah. Namun sayang, kekuatanmu sebagai wanita paruh baya tak sebanding dengan Luke yang masih gagah perkasa.
Martha yang jatuh tersungkur akibat didorong Luke pun hanya bisa meringis di tengah-tengah anak tangga. Sedangkan laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun untuk kini berjalan menuju ruang tamu, hendak keluar dari rumah tersebut.
Namun tiba-tiba, laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah CCTV yang terpasang di salah satu sudut ruang tamu luas itu.
Mungkin akan lebih baik jika Luke memeriksa dulu rekaman CCTV seluruh penjuru rumah itu sebelum memberi perhitungan pada Louis. Ia ingin memastikan, bahwa ia tak salah sasaran nantinya.
__ADS_1
Luke kemudian berjalan mundur, ia lantas berbalik badan sembari memikul tongkat baseballnya itu di pundak. Ia harus memeriksa seluruh rekaman CCTV dulu sebelum menemui Louis!