
Hari berganti. Saat siang menjelang, di sebuah pusat perbelanjaan besar di tengah kota. Keluarga kecil itu nampak asyik berjalan jalan mengelilingi mall. Setelah mengantar Nenek Ranti ke terminal, Louis lantas mengajak anak dan istrinya untuk pergi berbelanja siang ini. Dengan sebuah kacamata hitam bertengger di wajahnya, baby Gerhana terlihat begitu tampan dan menawan di atas stroller yang kini berada dalam kendali sang ayah. Beberapa pengunjung nampak gemas melihat bayi lucu yang begitu anteng itu. Tak jarang beberapa orang pun memuji ketampanan bayi laki laki itu. Siapa dulu dong emak dan bapaknya 😎
Anisa nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia berjalan di samping Louis yang kini tengah mendorong stroller bayi itu. Beberapa paper bag sudah berada di tangannya. Berisi barang barang belanjaan seperti baju, perlengkapan bayi, mainan, perhiasan, tas, dan sebagainya. Kini mereka sudah mulai lelah. Sejak tadi mereka mengitari mall itu tanpa istirahat.
Huufftt...
Anisa membuang nafas sambil berkacak pinggang.
"Apa?" tanya Louis pada sang istri.
"Capek!" ucap Anisa yang kini nampak mengenakan bando bertelinga itu.
Louis terkekeh. "Ya udah, makan dulu, yuk!" ajak Louis.
Anisa mengangguk. Louis lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari cari restoran yang kiranya enak untuk menghabiskan waktu makan siang bersama keluarganya.
"Kita makan di sana aja, yuk!" ajak Louis sambil menunjuk satu resto di area mall besar itu.
"Boleh!" jawab Anisa.
Louis pun lantas mengajak istri dan anaknya untuk menuju resto itu. Ketiganya kemudian mendudukkan tubuh mereka di sebuah bangku yang masih kosong di sana. Seorang pelayan kemudian mendekati keluarga bahagia itu sambil menyodorkan buku menunya. Mereka pun mulai memesan menu santap siang yang mereka inginkan.
Anisa kemudian menoleh ke arah sang putra setelah selesai memesan makanan. Dilihatnya disana, Gerhana sejak tadi nampak diam. Tangannya yang semula asyik bermain di dalam mulutnya itupun kini juga tak bergerak, nampak basah penuh cairan bening mulutnya.
"Gerhana kok diem aja, Nak?" tanya Anisa.
__ADS_1
Louis menoleh ke arah sang putra. Ia tersenyum. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, membuka kacamata hitam yang sejak tadi membingkai mata indah sang putra.
"Lah!" ucap Louis. Anisa tertawa. Begitu juga Louis. Bocah itu rupanya tertidur. Kacamata hitam yang ia gunakan berhasil menutupi netra yang rupanya sudah terpejam sejak tadi itu. Pantas saja anteng!
Anisa dan Louis tertawa. Bocah ini benar benar membuat gemas.
"Ya Allah, Nak..." ucap Anisa.
"Diem aja kirain nyaman kamu. Ternyata tidur. Mana ngeces, lagi..." ucap Louis sembari mengusap lelehan cairan bening di ujung bibir serta jari jari sang putra menggunakan tisu.
Anisa dan Louis pun asyik dengan kebersamaan mereka.
Kurang lebih setengah jam berselang, Anisa dan Louis selesai dengan santap siang mereka. Setelah kenyang, sepasang suami istri itu lantas bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Baby Gerhana juga sudah bangun. Bocah itu nampak rewel sekarang. Sepertinya ia haus. Ia butuh ASI dari ibunya.
Louis pun mengajak Anisa dan Gerhana keluar dari restoran. Louis yang kini mendorong stroller berisi barang belanjaan itu nampak mengajak Anisa yang menggendong baby Gerhana untuk mencari pojok ASI di dalam bangunan itu.
Anisa mengangguk. Wanita cantik itu kemudian masuk ke dalam ruangan yang diperuntukkan bagi para ibu ibu menyusui dan bayi mereka itu. Sedangkan Louis kini memilih untuk duduk di sebuah kursi di samping ruangan itu, memainkan ponselnya sembari menunggu Anisa selesai dengan aktifitasnya. Cukup lama Louis berada di dalam sana. Louis sampai bosan menunggu istri dan anaknya itu. Hingga tiba tiba....
"Kak Louis." Suara itu berhasil menyita perhatian Louis. Pria itu kemudian mendongak.
"Tasya?" ucap pria itu.
Ya, itu Natasya. Ia bertemu lagi dengan wanita berhijab itu setelah sekian lama tak bersua. Memang Louis sudah tak pernah lagi melihat Natasya sejak terakhir wanita itu datang ke kantornya dan menawarkan dirinya untuk Louis.
__ADS_1
Laki laki itu tersenyum ramah, khas seorang Louis Edgar Davis.
"Kamu disini?" tanya Louis.
Natasya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Baru saja ia membuka mulutnya, hendak memulai perbincangan dengan laki laki yang jujur saja sangat ia rindukan itu. Namun tiba tiba...
Krieeettt...
Pintu pojok ASI terbuka.
"Hei! Udah selesai?" tanya Louis.
Anisa tersenyum. "Udah..." jawab wanita yang kini nampak menggendong baby Gerhana yang kembali ceria itu. Bocah itu terdengar mengeluarkan suaranya yang tak jelas. Matanya bergerak gerak mengamati tempat yang ramai yang masih asing baginya itu.
Anisa mendekati sang suami. Louis bangkit dari duduknya lalu mengeluarkan semua paper bag yang semula ia letakkan di atas stroller itu. Anisa kemudian meletakkan sang putra di sana.
"Kacamata kamu tadi mana, Nak?" tanya Louis sambil celingukan mencari cari kacamata sang putra.
"Kan tadi kamu yang bawa," ucap Anisa.
Louis merogoh saku jaketnya.
"Oh, ini..." ucap pria tampan itu. Louis kemudian meraih kacamata itu, lalu memasangkannya pada sang putra. Louis tersenyum lebar, begitu juga Anisa. Sedangkan Gerhana juga ikut tertawa menampilkan gusi tanpa gigi miliknya. Sepertinya ia tahu jika kacamata itu berhasil menaikkan kadar ketampanannya.
Keluarga bahagia itu kembali asyik sendiri dengan kebersamaan mereka. Mereka lupa, ada Natasya di samping mereka. Wanita berhijab itu perlahan mundur. Urung mengajak Louis berbincang. Pria itu sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Natasya benar benar sudah tidak memiliki celah. Ia sudah kalah.
__ADS_1