(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
096


__ADS_3

Hari berganti. Di sebuah kamar rawat inap rumah sakit besar itu. Anisa meringis di atas ranjangnya sambil memegangi tepian tonjolan kecil di ujung dadanya yang kini nampak mulai masuk ke area mulut mungil baby Gerhana. Posisi mulut si bayi kurang pas, membuat Anisa pun sedikit tersentak kala merasakan sakit di area tempat keluarnya ASI itu.


"Sshhh...." ucap Anisa mendesis.


"Kenapa, Nis?" tanya Louis yang kini duduk di samping ranjang dalam posisi membelakangi Anisa itu.


"Nggak, nggak apa apa. Aww.." ucap Anisa sambil merintih di akhir kalimatnya.


"Ada apasih?" ucap Louis yang penasaran bercampur khawatir. Laki laki itu pun menggerakkan tubuhnya, hendak berbalik badan untuk melihat kondisi Anisa, namun...


"Jangan nengok! Malu...!" ucap wanita itu sambil menggerakkan tangannya menyentuh pipi Louis yang hampir menoleh ke arahnya sambil sedikit mendorongnya. Seolah tak mengizinkan laki laki itu untuk menengok ke arahnya yang kini tengah menyusui.


Louis hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu memang tak pernah mengizinkan Louis untuk melihat dirinya ketika tengah menyusui Gerhana. Malu katanya. Tapi meskipun demikian, Anisa juga tak mengizinkan Louis untuk pergi. Ia selalu meminta ditemani tiap kali tidak ada Bik Susi ataupun Elang. Takut, katanya. Ia belum terbiasa mengasuh bayi. Ia masih butuh didampingi.


Louis kembali berbalik badan. Anisa nampak kembali mengarahkan mulut baby Gerhana ke arah put*ng susunya agar pas.


"Itu kenapa, sih?" tanya Louis yang masih awam.


"Mulutnya nggak pas masuknya," ucap Anisa.


Louis terkekeh.


"Mau Papa ajarin, Nak?" tanya Louis bercanda.


"Iiiisshh" Anisa mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"Kamu udah jenguk Kakek?" tanya Anisa.


Louis hendak menoleh.


"Jangan nengok!!" ucap Anisa lagi kembali mendorong pipi Louis agar berbalik arah.


Laki laki itu tergelak lagi.


"Kemarin aku mampir ke rumah, Kakeknya lagi tidur. Aku nggak sempet ngomong, nggak tega banguninnya. Tante Martha udah jelasin semuanya sama Kakek. Dia bilang pernikahan Betrand cuma ditunda aja, karena Rhea dan Betrand sama sama mendadak sibuk," ucap Louis.


"Tante kamu bohong, dong?" tanya Anisa.


Louis tersenyum, lalu mengangguk.


"Itu yang aku nggak setuju, Nis. Aku takut suatu saat Kakek tahu, dan justru akan jadi masalah baru. Tapi aku juga nggak bisa ngalahin Tante. Kakek kan juga nanyain kenapa nggak jadi nikah terus dari kemarin. Aku mau ke rumah juga belum sempet. Masa iya orang tua dibiarin nanya mulu tanpa di jawab. Takutnya kalau nanti Kakek malah nanya langsung ke keluarganya Rhea," ucap Louis.


Anisa tersenyum. "Louis........"


"Apa, Sayang?"


"Aku mi............."


"Nggak usah minta maaf. Bukan salah kamu," ucap Louis memotong ucapan Anisa. Ia seolah sudah tahu apa yang ingin wanita itu sampaikan. Ia pasti akan minta maaf, karena sudah menyita waktu Louis pasca ia melahirkan.

__ADS_1


Anisa menunduk.


"Dah, nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang, kamu harus pulih dulu, setelah itu, aku akan bawa kamu ke rumah, aku kenalin sama Kakek, dan kita akan menikah," ucap Louis.


Anisa tersenyum lalu mengangguk. Wanita hamil itu menyudahi adegan menyusuinya. Bayi mungil itu sudah kembali terlelap. Wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Bibirnya merah nan mungil. Wajahnya sekilas mirip dengan Louis, eh... Luke maksudnya, eh...sama aja ding🤭🙈


Louis menoleh ke belakang. Dada yang sedikit nampak lebih besar dari biasanya itu sudah tertutup rapat. Bayi tampan itu juga sudah nyenyak dalam pangkuan sang ibunda. Louis bangkit dari posisi duduknya.


"Biar aku gendong, Nis!" ucap Louis.


Anisa tersenyum. Ia pun menyerahkan bayi mungil itu pada pria yang sudah siap lahir batin menjadi ayah sekaligus suami untuk Anisa dan Gerhana itu.


Louis tersenyum. Diciuminya pipi bayi mungil itu dengan lembut. Laki laki itu tersenyum. Ditimang timangnya Gerhana yang kini terlelap dengan nyenyak nya. Hingga tiba tiba...


Tok... Tok... Tok....


Pintu ruang rawat inap itu diketuk dari luar. Anisa dan Louis pun menoleh ke arah sumber suara.


"Masuk!' ucap laki-laki itu kemudian.


Pintu kamar itu kemudian terbuka. Seorang pria berpakaian serba hitam khas seorang sopir nampak muncul dari balik pintu tersebut. Ya,nitu adalah sopir perusahaan Davis Corp yang diutus oleh Louis untuk menjemput Nenek Ranti dan Tami di terminal. Sepertinya kedua wanita itu sudah sampai.


"Selamat siang, Tuan," sapa sang supir sopan sambil mendekat ke arah Louis.


"Siang. Gimana? Ketemu orangnya?" tanya Louis.


"Ketemu, Tuan. Mereka ada di luar," ucap sang sopir.


"Baik, Tuan!" jawab sang supir patuh.


Laki laki yang sudah cukup lama bekerja dengan Louis itupun kini nampak berbalik badan. Ia kembali berjalan menuju pintu kamar rawat inap Anisa untuk memanggil kedua wanita yang baru saja tiba dari kampung itu.


"Nenek! Tami!" ucap Anisa berbinar kala melihat kedatangan dua wanita yang paling dekat dengannya itu. Rupanya, Tami dan Nenek Ranti tak sendiri. Ada Salma dan Almeer, Om dan Tante Tami yang rupanya sudah membuat janji dengan Tami untuk sama sama menjenguk Anisa di rumah sakit hari ini. Mereka bertemu di lobby tadi.


Anisa nampak bahagia. Tami dan Nenek Ranti mendekat. Wanita tua itu memeluk erat sang cucu. Rasa haru bercampur bahagia membuncah di hatinya. Lama ia tak berjumpa dengan sang cucu. Selama ini mereka berbincang dan saling menanyakan kabar hanya melalui sambungan video. Kini, setelah kurang lebih sembilan bulan lamanya, sepanjang masa kehamilan Anisa, Nenek Ranti kembali dipertemukan dengan sang cucu. Rasa haru, rindu, bercampur bahagia jelas menghujam hati mereka. Anisa sehat. Wanita itu selamat. Ia bahagia, bahkan kini sangat bahagia.


Tuhan selalu bersamanya. Dibalik derita yang ia alami pasca terenggutnya mahkota itu, Tuhan seolah memberikan hadiah untuk si yatim piatu itu. Ia dipertemukan dengan laki laki yang sangat tepat. Nyaris sempurna. Tampan, mapan, berperangai dan berbudi pekerti yang baik. Laki laki yang bahkan tak pernah terbayangkan akan menjadi calon suami untuk gadis desa yang sejak kecil selalu disia-siakan oleh ibu tirinya itu.


Selain itu, kini Anisa juga dipertemukan dengan keluarga kandung yang sangat menyayangi. Tuhan membuka silsilah dan latar belakang Anisa. Mengungkap fakta bahwa selama ini rupanya Anisa bukanlah anak hasil hubungan terlarang ataupun anak seorang wanita malam seperti yang sering Ratna, ibu tirinya tuduhkan.


Anisa adalah anak yang terlahir dari sebuah hubungan yang sah. Kesalahan dan keegoisan Pak Herman yang diam-diam menikahi ibunda Anisa dengan dasar kebohongan lah yang menjadi awal dari masalah ini. Pernikahan yang tidak jujur. Laki laki yang kini sudah meninggal itu mengaku lajang pada ibunda Anisa yang polos, membuat pun pernikahan terjadi hingga lahirlah Anisa.


Dari kesalahan itu, beban justru terpangku di pundak Anisa. Wanita itu dibenci ibu tirinya, padahal ia tidak salah. Sungguh, terkadang garis nasib dari Tuhan memang terasa tidak adil. Tapi itulah kehidupan. Semua sudah ada jalannya. Semua sudah ada skenarionya. Semua berjalan atas kehendakNya dan kita hanya perlu mengikuti sembari terus berdoa dan berusaha.


Bukankah doa dan usaha yang baik akan selalu mendapatkan hasil yang terbaik pula? Lihat sekarang! Betapa bahagianya anak desa itu kini. Banyak orang yang menyayanginya. Banyak orang yang mencintainya. Banyak orang yang ingin melindunginya. Sabu persatu orang yang membencinya perlahan tumbang dengan sendirinya tanpa Anisa menyentuhnya. Wanita itu bahkan tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya selama ini. Semua orang yang merendahkannya mendapatkan apa yang memang seharusnya didapatkan. Sedangkan Anisa hanya tinggal duduk manis menikmati hasil dari doa-doa dan ikhtiarnya selama ini.


Nenek Ranti memeluk erat sang cucu. Ia menghujani kening itu dengan kecupan kecupan singkat seolah ingin menggambarkan kebahagiaan dan kerinduan yang membuncah di hatinya.


"Nenek kangen sekali sama kamu, Nak!" ucap Nenek Ranti sesenggukan.

__ADS_1


Anisa tersenyum haru. Air mata bahkan menetes di pipinya. Wanita itu mengangguk. Keduanya kembali berpelukan dengan eratnya.


Louis yang berada di samping Anisa pun hanya tersenyum melihat interaksi mengharukan dua wanita beda usia itu.


Nenek Ranti melepaskan pelukannya.


"Ini anakmu?" tanya sang nenek pada Anisa.


Anisa mengangguk. Nenek Ranti menatap sendu bayi mungil dalam gendongan Louis itu. Wanita paruh baya itu kemudian menatap sendu ke arah Louis yang nampak tersenyum.


Laki laki itu mengulurkan tangannya seolah meminta berjabat tangan. Nenek Ranti yang masih diliputi perasaan haru pun membalas uluran tangan tersebut. Louis mencium punggung tangan yang nampak keriput itu sebagai tanda bakti.


"Kamu," ucap Nenek Ranti.


"Saya Louis, Nek. Kembaran Luke," ucap laki laki itu.


Nenek Ranti haru lagi. Ia nampak mengangguk.


"Terima kasih sudah merawat dan menjaga cucu saya selama ini," ucapnya.


"Sudah kewajiban saya, Nek. Karena saya memang sudah bertekad untuk menjaga dan melindungi cucu Nenek dengan sekuat yang saya mampu. Saya juga mau minta maaf sama Nenek atas nama adik saya yang sudah menghancurkan kehidupan Anisa. Saya berjanji, saya akan menebusnya dengan cara saya. Saya akan membahagiakan cucu Nenek," ucapnya.


Nenek Ranti tersenyum haru.


"Saya percaya sama kamu. Tolong jangan kecewakan kepercayaan saya sama kamu. Saya sudah memaafkan adik kamu. Saya juga merestui hubungan kamu dengan cucu saya jika kamu memang benar benar mencintainya. Saya titip Anisa. Jangan sakiti dia. Dia hanya anak desa dengan latar belakang keluarga dan kehidupan yang sangat jauh berbeda dari kamu," ucap Nenek Ranti.


"Saya mencintai Anisa karena hatinya, Nek. Saya tidak peduli dengan masa lalu ataupun latar belakang keluarganya. Saya mau dia karena saya yakin dan nyaman dengan dia," ucap Louis.


Nenek Ranti tersenyum. Ia mengangguk.


"Boleh saya gendong anak kalian?" tanya Nenek Ranti kemungkinan.


"Boleh, Nek," jawab Louis. Laki-laki itu pun kemudian menyerahkan baby Gerhana kepada Nenek Ranti. Wanita tua itu nampak menimang-nimang bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang. Hingga tiba-tiba...


Drrrrttt.... Drrrrttt....


Ponsel di saku celana Louis bergetar. Sepertinya ada panggilan masuk disana. Laki-laki itu kemudian merogoh saku celananya. Meraih ponsel tersebut kemudian mengusap tombol hijau yang berada disana.


"Halo, Om. Assalamualaikum....."


"........"


Deeghh...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


...**********...


__ADS_2