
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Anisa masih menikmati masa masa kehamilannya yang kini mulai memasuki usia dua bulan itu.
Hari harinya juga tak terlalu buruk. Setelah cukup lama tinggal di rumah kost milik Salma, Anisa kini mulai akrab dengan beberapa penghuni kost serta rekan rekan kerjanya di katering kecil-kecilan milik Salma. Mereka begitu baik pada Anisa, membuatnya seolah seperti punya keluarga baru di tempat tinggal sementaranya itu.
Beruntung, bayi dalam kandungan Anisa sangat sehat dan tak pernah rewel. Sang calon buah hati seolah begitu mengerti tentang kondisi ibundanya yang dituntut mandiri dan harus bisa menyembunyikan kehamilannya hingga Louis mengajaknya untuk pindah ke apartemen yang sudah pria itu janjikan beberapa waktu lalu.
Hari hari berganti, kedekatan Anisa dengan Louis juga kian hangat saja. Sejak pertemuan pertama mereka hingga hari ini, Louis yang Anisa pikir adalah pria yang sudah merampas mahkotanya itu kian hari kian gencar menunjukkan perhatiannya. Louis sering mengunjungi wanita itu, terutama setelah pulang kerja. Mengajaknya berbincang kesana kemari dan tak jarang mengajak wanita hamil itu pergi sekedar untuk makan bersama. Ya, keduanya kian hari kian dekat. Louis menjelma selayaknya sahabat baik yang selalu ada untuk Anisa. Ia bak suami siap siaga yang selalu ada untuk Anisa dan calon buah hatinya kapanpun Anisa membutuhkannya.
Hari ini, tepat di hari Sabtu. Anisa dan beberapa karyawan ketering milik Salma di buat sibuk sejak pagi. Mereka dipercayai untuk membuat olahan spesial di sebuah acara ulang tahun dari cucu seorang pengusaha kaya raya di kota itu. Membuat Anisa dan beberapa karyawan pun menjadi super sibuk sejak pagi.
"Nis, kamu cuciin wadah wadah yang kotor aja. Nggak usah ngangkat yang berat berat!" ucap Salma pada Anisa yang ingin membantu rekan-rekannya memasukkan hasil olahan mereka ke dalam mobil.
Anisa tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Tante."
"Nanti kalau udah selesai, kamu langsung mandi, ya. Ikut sama yang lain ke tempat acara," ucap Salma.
__ADS_1
Anisa mengangguk. Ia lantas bergegas untuk mencuci semua wadah kotor yang berada di sana sebelum membersihkan diri dan turut ikut ke tempat acara bersama teman temannya.
Kurang lebih setengah jam berlalu, setelah bersih bersih serta membersihkan diri, para karyawan ketering itu nampak sudah rapi. Lima orang ditugaskan untuk menuju lokasi acara, termasuk Almeer dan Anisa di dalamnya. Mereka di tugaskan untuk mempersiapkan aneka hidangan di tempat berlangsungnya acara ulang tahun cucu konglomerat itu sekaligus memastikan tidak ada yang kurang dalam hal apapun.
Dengan seragam kaos hitam bertuliskan "Salma Catering", Anisa masuk ke dalam mobil sederhana itu bersama rekan rekannya yang lain. Mereka melesat menuju kediaman si empunya acara yang berada di salah satu komplek perumahan elite di kota itu.
Sekitar lima belas menit berselang, kendaraan sederhana yang diisi lima karyawan ketering Salma itupun sampai di rumah si empunya acara. Para karyawan ketering itu turun dari kendaraan mereka.
Anisa dan rekan rekan kerjanya terdiam. Rumah itu sangat megah. Mewah bak istana. Beberapa mobil mewah nampak terparkir rapi di garasi. Seolah menggambarkan betapa kaya raya dan mapannya si pemilik acara.
"Teman teman, sebelum mulai bekerja, kita temui pemilik rumah dulu, ya," ucap laki laki dengan lesung pipit di pipinya itu.
Para karyawan yang berjumlah empat orang itu lantas mengangguk. Mereka mengikuti langkah kaki Almeer masuk ke dalam rumah megah itu, lalu menuju ke halaman belakang yang akan menjadi tempat berlangsungnya pesta ulang tahun itu sesuai arahan seorang pekerja di rumah itu.
Anisa dibuat takjub. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di rumah seluas dan sebagus ini. Ruangan demi ruangan semua begitu luas. Dindingnya menjulang tinggi dihiasi beberapa lukisan lukisan mahal dan foto keluarga. Guci guci dan beberapa pernak pernik mahal berjajar menjadi hiasan ruangan yang megah. Sungguh, keluarga ini benar benar keluarga konglomerat. Sangat jauh dengan dirinya yang hanya anak kampung yang malang.
__ADS_1
Almeer dan rombongan sampai di halaman belakang rumah itu. Dilihatnya disana halaman luas lengkap dengan kolam renang yang sudah di desain sedemikian rupa nampak terpampang indah disana. Beberapa bangku dan kursi berbalut kain putih nan indah juga nampak disana, balon balon serta lilin lilin kecil yang belum menyala nampak tersusun rapi berdampingan dengan lampu lampu kecil nan indah menambah kesan mewah di salah satu sudut rumah keluarga kaya raya itu.
Anisa menampilkan senyuman samar. Menatap air kolam yang dipenuhi bunga bunga dan lilin cantik di sekelilingnya bertuliskan...
"Happy birthday Natasya"
"20th"
"Beruntung sekali jadi Natasya," batinnya.
Anisa nampak melamun. Sibuk dengan pemikirannya sendiri. Diusianya yang sepantaran dengan Anisa, Natasya pasti dikelilingi oleh orang orang tersayangnya. Sampai sampai untuk sekedar acara ulang tahun saja dibuat se mewah ini. Sangat jauh berbeda dengan dirinya. Alih alih ulang tahun, ia kini justru terbuang, berjuang seorang diri demi mendapatkan keadilan dalam kondisi hamil tanpa suami.
Ah, menyedihkan!
Anisa tersenyum getir. Ia nampak memalingkan pandangannya dari kolam penuh bunga itu. Menatap ke area sekitar yang nampak sudah rapi dan cantik dengan berbagai hiasan indah. Sedangkan Almeer nampak berbincang dengan seorang pria yang merupakan orang kepercayaan di keluarga Wijaya, si pemilik acara. Selesai berbincang bincang, Almeer lantas mendekati para karyawannya, termasuk Anisa. Ia memberikan arahan pada para karyawan ketering itu sebelum memulai bekerja.
__ADS_1
...----------------...