(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
114


__ADS_3

Malam menjelang. Di dalam kamar luas milik sepasang suami istri itu. Anisa baru saja menidurkan baby Gerhana. Bocah tampan itu kini sudah terlelap. Begitu nyenyak di dalam ranjang bayi miliknya.


Anisa menutup kelambu yang berada di sana. Ditatapnya wajah polos bocah tampan itu dengan penuh kasih sayang. Lucu dan menggemaskan sekali bayi yang satu ini. Membuat Anisa merasa begitu beruntung memilikinya.


Anisa melongok ke arah jam yang tergantung di dinding kamar. Suasana terasa sepi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Louis belum pulang. Di hari pertama pernikahan mereka, laki laki itu sepertinya tak diizinkan untuk menikmati waktu luangnya bersama keluarga barunya. Ada saja kegiatan yang harus Louis urus.


Sejak pagi laki laki itu sudah pergi meninggalkan rumah. Dimulai dari menghadiri pemakaman Rhea, menjenguk Luke, menemui kakeknya, lalu pergi ke kantor karena ada sesuatu hal yang harus diurusnya. Mengingat saat ini Betrand sedang dalam masa menenangkan diri, dan Steve juga sedang sibuk, membuat Louis pun mau tak mau harus rela kembali menyibukkan diri dengan seabrek rutinitas kerjanya meskipun sedang dalam masa menikmati hari harinya sebagai pengantin baru. Beruntung baginya, ia memiliki istri seperti Anisa. Tidak banyak protes. Tidak banyak mengeluh, bahkan hampir tidak pernah. Selalu bisa memahami dan mengerti posisi Louis sebagai pewaris keluarga besarnya.


Anisa meraih jedai di atas nakas lalu menggunakannya untuk menjepit rambut hitamnya. Wanita itu kemudian berjalan menuju dapur. Menghangatkan santap malamnya sambil menunggu sang suami pulang. Semua pekerjaan rumah ia selesaikan sendiri hari ini. Mengingat kini Bik Susi sudah tidak bekerja lagi di apartemen itu. Louis lebih memilih untuk memberi modal wanita tua itu agar bisa mendirikan tempat usaha sendiri. Sebagai suami Anisa, Louis sepertinya tak enak jika harus mempekerjakan keluarga istrinya sebagai ART. Laki laki itu sudah berjanji pada Anisa akan segera mencarikan ART baru untuk mereka dalam waktu dekat.



Anisa sampai di dapur. Wanita cantik itu lantas mengeluarkan beberapa makanan yang sudah ia masak tadi dari dalam lemari di atas meja dapur. Sambil menghangatkan makanan, adik perempuan Elang itu nampak menggerakkan tangannya membersihkan meja dapur yang sebenarnya tak begitu kotor tersebut. Hingga tiba tiba....


Seeett.....


Cup....


Sebuah tangan besar memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Seonggok kepala pria dewasa nampak merangsek mendusel ke area ceruk leher wanita itu lalu mengecupnya lembut. Laki laki itu kemudian menghirup aroma tubuh Anisa yang wangi dan segar. Wanita itu tersenyum. Itu suaminya. Louis sudah pulang.


Anisa meletakkan lap meja di tangannya. Ia kemudian menyentuh lengan kekar yang kini melingkar di perutnya itu.


"Malam, Sayang," ucap pria itu tanpa mengubah posisinya.


Anisa tersenyum. "Wa Alaikum Salam," jawabnya.


Louis tersenyum. Ia kembali mengecup ceruk leher itu beberapa kali. Berpindah ke telinga, lalu ke pipi. Ia kembali membenamkan wajahnya disana. Nyaman sekali rasanya berada di dalam posisi seperti ini. Meskipun postur tubuh Anisa jauh lebih mungil dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar, namun rasanya tetap tak ada yang bisa menandingi kenyamanan yang Anisa berikan.


"Kamu baru pulang? Dari kantor apa dari rumah Kakek?" tanya Anisa.

__ADS_1


"Dari kantor," jawab Louis tanpa mengubah posisinya. Ia memeluk tubuh ramping itu sambil bergelayut dengan posesif disana bak seorang bayi besar yang begitu manja.


"Capek? Mau mandi? Aku siapin airnya.." ucap Anisa.


Louis menggelengkan kepalanya. Ia makin mengeratkan pelukannya, membuat wanita itu mulai kesulitan untuk bergerak.


"Laper..." ucap Louis lagi masih begitu nyaman dengan posisinya.


"Iya. Kan masih diangetin. Mandi dulu, ya. Biar seger. Biar ilang capeknya," ucap Anisa.


"Mandiin..." rengek Louis.


Anisa tergelak. Ia mencubit lengan kekar itu, membuat Louis sedikit meringis dibuatnya. Laki laki itu kembali mengeratkan pelukannya.


"Nggak bisa nafas! Badan kamu gede!" ucap Anisa. Laki laki itu tak peduli. Ia kembali menciumi pipi sang istri bertubi tubi.


"Gerhana udah tidur?" tanya Louis.


"Rewel nggak hari ini?" tanya laki laki itu lagi.


"Dikit. Tapi nggak apa apa. Bisa aku atasi," ucap Anisa sambil tersenyum manis ke arah sang suami.


"Kalau capek nggak usah masak nggak apa-apa. Delivery aja!" ucap Louis.


"Nggak apa apa. Kalau capek aku pasti istirahat, kok," ucap Anisa.


Louis tersenyum gemas. Ia kembali mendaratkan kecupan singkat, kini di bibir tipis wanita cantik itu.


"Ya udah. Aku mandi dulu. Abis itu kita makan, ngisi tenaga. Biar kuat ampe pagi...." ucap Louis.

__ADS_1


Anisa menatap penuh selidik ke arah sang suami.


"Apasih?!" tanyanya.


Louis tak menjawab. Ia hanya tergelak sambil kembali mengeratkan pelukannya dan menghujani wajah Anisa dengan kecupan kecupan manis.



...----------------...


Selamat sore


Up 17:29


Yuk, dukungan dulu πŸ₯° 😘 😘 Sekalian di koreksi ya barangkali ada typo...


......


Jangan lupa mampir di siniπŸ‘‡


🀴 My Disable Husband 🀴


.


Pergaulan yang mengkhawatirkan membuatnya terpaksa dijodohkan dengan seorang pria dewasa yang tak begitu ia kenal.


Diusianya yang masih belia, Zee dipaksa menikah dengan seorang pria dewasa dengan sebuah kekurangan fisik akibat kecelakaan di masa lalunya. Dewangga Bima Caturangga.


Gaya hidup yang berbeda, usia yang terpaut jauh, serta tidak adanya cinta diantara keduanya, menjadikan drama yang seolah tidak ada habisnya mewarnai biduk rumah tangga keduanya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi pada mereka?



__ADS_2