(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
111


__ADS_3

Malam menjelang. Saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Ceklek...


"Assalamualaikum...." Sepasang pengantin baru itu nampak memasuki apartemen mewah tersebut bersama bayi mereka.


Ya, Louis kini memboyong keluarga kecilnya kembali apartemen miliknya. Hunian ini akan menjadi tempat tinggal mereka sekarang. Ia ingin memberikan tempat tinggal yang layak untuk Anisa dan Gerhana tanpa perlu berbaur dengan keluarga besar Davis.


Louis meletakkan ransel Anisa di atas sofa panjang ruang tamu. Ia kemudian menoleh ke arah istri dan putra tampannya.


"Louis lihat, deh. Dia bingung! Ini dimana, ya?" ucap Anisa yang nampak gemas melihat ekspresi wajah Gerhana yang nampak sedikit bingung. Bayi itu terlihat mengedarkan pandangannya ke segala arah, seolah tengah berfikir. Sedang dimana ia sekarang?


Louis tersenyum. Ia menggerakkan tangannya mengambil alih bocah tampan itu.


"Ini rumah kamu, sayang. Ini rumah kita. Kita tinggal disini sekarang," ucap Louis sambil menciumi pipi gembul itu.


Anisa tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Kamu mau aku bikinin minum?" tanya Anisa.


"Nggak usah," jawab Louis.


"Ya udah, Gerhana ganti popok dulu yuk, Nak. Udah dari sore..." ucap Anisa.


"Ya udah, kita ke kamar, yuk!" ajak Louis kemudian. Anisa meraih ransel yang semula Louis letakkan di atas sofa kamar tamu. Keluarga kecil itu pun kemudian masuk ke dalam kamar utama apartemen tersebut.


Ada sedikit perubahan di dalam kamar luas nan mewah itu. Sebuah ranjang bayi entah sejak kapan sudah bertengger manis di samping ranjang utama. Di dalam ruang ganti, sebuah lemari kaca kecil berisi pakaian dan perlengkapan Gerhana juga sudah berada disana. Louis benar benar sudah mempersiapkan semuanya untuk istri dan anaknya.


Laki laki itu naik ke atas ranjang. Ia meletakkan tubuh mungil bayi tampan itu di atas ranjang lalu mulai membuka pampers yang sudah terasa berat itu. Sedangkan Anisa yang langsung menuju ruang ganti itu kini nampak kembali ke kamar utama sambil membawa pampers baru untuk sang buah hati.


Wanita itu naik ke atas ranjang. Ia mengambil alih bayi mungil itu dan mulai mengganti popoknya dengan hati hati. Sedangkan Louis turun, untuk membuang pampers yang sudah penuh itu.


Gerhana sepertinya mulai mengantuk. Bayi itu mulai mengamuk. Ia menangis kala sang ibu mulai memasangkan popok baru untuknya.


"Iya...iya, udah selesai ini. Sini sama Mama, yuk.. sayang..." ucap wanita itu sambil mengangkat tubuh Gerhana. Anisa memangku putranya. Ia kemudian mengangkat sweater baby pink nya hingga ke atas dada, mengeluarkan satu benda andalannya dan memasukkannya ke dalam mulut bayi tampan itu.


Cup!


Tangisan itu seketika hilang. Gerhana dengan lahap menyedot air susu itu. Satu tangannya yang mungil bahkan mulai mencari cari put*ng yang lain untuk dipegang. Kebiasaan bayi kadang kan memang begitu🙈


Louis mendekat. Laki laki itu nampak mengulum senyum nakal melihat pemandangan baru di atas ranjangnya. Otaknya dari tadi sudah jalan jalan kemana mana.


Laki laki itu makin mendekat. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, tepat di belakang Anisa yang duduk bersila sambil menyusui Gerhana. Wanita itu sedikit terjingkat kala badan besar nan tegap itu tiba tiba ambruk di belakangnya.


Anisa menunduk. Louis meringsut memeluk tubuh ramping itu.


"Lou......"


"Ssssstttt...." laki laki itu mendesis seolah meminta sang istri untuk diam dan tak protes. Anisa sedikit gugup. Louis membenamkan wajahnya di samping salah satu paha berbalut celana legging hitam itu dengan mata terpejam meskipun tidak tidur. Sedangkan tangannya bergerak mengusap usap kepala Gerhana seolah ingin membantu bayi mungil itu agar segera tidur.


Kurang lebih lima belas menit ketiganya berada dalam posisi itu. Put*ng susu terlepas dari mulut mungil Gerhana. Bayi itu sudah terlelap. Anisa meringsut. Louis melepaskan pelukannya. Wanita cantik itu kemudian meletakkan bayi tampan itu di atas ranjang bayi lalu menutup kelambu yang bertengger di atasnya.


"Selamat malam, anak gantengnya Mama," ucap Anisa memberi ucapan manis pada sang buah hati. Wanita itu kemudian menutup kelambu ranjang bayi itu. Ia lantas mendekati ranjang. Dilihatnya disana Louis sudah memposisikan tubuhnya dengan benar di atas tempat tidur luas itu. Matanya terpejam. Sepertinya pria itu kelelahan. Makanya langsung tertidur. Pikir Anisa dengan polosnya.

__ADS_1


Anisa naik. Ia menarik selimut. Menutupi setengah badan Louis. Wanita itu kemudian meletakkan sebuah guling di tengah tengah ia dan Louis. Ditatapnya sebentar paras tampan yang nampak tenang itu. Anisa tersenyum. Betapa tampan dan sempurnanya suaminya ini. Indah paras dan hatinya. Anisa benar benar bersyukur memiliki pria seperti Louis.


Wanita itu kemudian mengubah posisi tubuhnya. Ia memilih untuk tidur miring dalam posisi membelakangi laki laki tampan itu. Ia memang tak terbiasa tidur berhadap hadapan dengan orang lain.


Anisa mulai memejamkan matanya. Bersiap menyongsong mimpi mimpi indahnya malam ini. Namun belum sampai dua menit ia memejamkan matanya. Tiba tiba...


Seeeeetttt....


"Masa udah suaminya tidur di kasih punggung doang?" Suara itu terdengar lembut mengalun di telinga Anisa. Suaranya sangat dekat, saking dekatnya permukaan bibir merah itu bahkan bergesekan lembut dengan daun telinga Anisa. Sebuah tangan besar memeluk tubuhnya dari belakang. Dada bidang yang kini sudah tak tertutup itu juga menempel tanpa jarak di punggung ramping berbalut sweater baby pink itu. Ya, Louis sudah bertelanjang dada. Entah sejak kapan.


Anisa mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Ditatapnya pria tampan yang kini nampak berbaring dalam posisi miring dengan satu tangan menyangga kepalanya itu.


"Kirain udah tidur," ucap Anisa.


Louis tersenyum. "Mustahil," ucapnya.


Anisa memejamkan matanya. Ia nampak terkekeh.


"Jangan ketawa lah!" ucap Louis.


Anisa terdiam. Mencoba menghentikan tawanya namun terus mengulum senyum. Ia memiringkan kepalanya. Menatap manis ke arah pria tampan itu.


"Ya udah, ada acara apa malam ini?" tanya Anisa.


Louis mengulum senyum nakal. Lalu...


"Haus..." ucapnya.


"Malah ketawa, lagi," ucap pria itu.


Anisa mengangguk. "Ya udah, ambil minum lah. Mau aku ambilin?" tanya wanita itu.


"Nggak mau!" ucap Louis.


"Terus?" tanya Anisa.


"Malam ini aku mau cosplay jadi Gerhana!" jawab Louis membuat Anisa kembali tergelak.


"Sstt...jangan kenceng kenceng ketawanya! Kasihan dia baru tidur," ucap Louis sambil melirik ke arah sang putra yang tertidur pulas.


Anisa hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.


Louis kemudian menggerakkan tangannya. Menyingkap beberapa helai rambut panjang itu ke belakang, lalu mengecup kening Anisa lembut.


"Selamat datang di kehidupan baru kita, Sayang," ucap Louis sambil membelai wajah cantik itu. Jarak diantara keduanya sangat dekat. Ujung hidung dan kening mereka saling bersentuhan. Hembusan nafas keduanya bahkan saling menerpa satu sama lainnya.


Anisa tersenyum. Tangan putih itu tergerak menyentuh pipi putih tanpa bulu itu. "Makasih udah ngizinin aku masuk ke dalam kehidupan kamu. Terima kasih udah mau nerima aku dan Gerhana dengan segala kekurangan kami," ucap wanita itu.


"Nggak ada yang kurang dari kalian. Kamu dan Gerhana adalah dua orang yang sempurna yang akan menyempurnakan kehidupanku. Aku sayang kalian," ucap Louis.


Anis tersenyum sangat manis. Louis menatap dalam paras cantik itu.


"Boleh aku menyentuhmu?" tanya Louis.

__ADS_1


Anisa diam sejenak. Ia tersenyum, lalu mengangguk. Louis menggigit bibir bawahnya. Matanya bergerilya, mengamati wajah cantik itu dalam posisi yang sangat dekat. Matanya, hidung, bibir, pipi, semua terlihat menggoda. Laki laki itu kemudian menggerakkan satu tangannya mengusap lembut pucuk kepala Anisa. Sedangkan satu tangannya lagi mulai menyentuh bibir tipis merah muda milik wanita yang kini nampak pasrah di sampingnya itu.


"Love you, Sayang...” ucap Louis lembut. Anisa tersenyum.


"Love you more," jawabnya. Louis meraih satu lengan Anisa, membimbing telapak tangan itu agar menyentuh salah satu sisi dada bidang miliknya. Anisa menatap dada dengan bulu bulu halus yang nyaris tak terlihat itu. Ia kemudian mendongak, menatap si empunya tubuh. Louis mengangkat satu sudut bibirnya. Laki laki itu kemudian menyentuh dagu runcing Anisa. Mengusap usap bibir tipis merah muda itu lembut tanpa mengubah arah pandangnya dari sana.


Anisa hanya diam. Tangan lentiknya masih meraba raba dada bidang nyaris tak berbulu itu. Wajah keduanya makin mendekat. Louis menggesek gesekkan ujung hidungnya dengan ujung Anisa. Mata keduanya mulai terpejam. Wanita itu menggerakkan tangannya. Yang semula asyik bermain di dada Louis, kini bergerak naik, melewati leher, rambut belakang telinga, dan berakhir di pipi pria tampan itu.


Louis memiringkan kepalanya. Udara di kamar itu terasa panas bagi sepasang pengantin baru itu. Deru nafas keduanya makin memburu. Louis mengecup lembut bibir merah muda itu. Anisa tersenyum, begitu juga dengan Louis.


"Gerhana sering bangun kalau malam?" tanya Louis pelan dan lembut, setengah berbisik.


"Kadang kadang. Tapi dari pagi dia anteng," ucap Anisa.


"Mungkin dia tahu kalau Papa dan Mamanya lagi butuh waktu berdua," ucap Louis. Anisa tersenyum lebar.


Louis makin bergairah.


"Siap?" tanya pria itu.


Anisa tersenyum lagi, lalu mengangguk. Louis mengulum senyum nakal. Dalam satu gerakan, ia pun menyergap bibir tipis merah muda itu. Anisa memejamkan matanya menikmati pergerakan mulut dan lidah suaminya. Laki laki itu begitu hangat dan lembut. Ia seolah tahu, Anisa pernah mendapatkan kekerasan dalam hal ini. Ia tak mau menyakiti Anisa. Tak sampai menolak ajakannya di malam pertama itu sudah sangat luar biasa. Louis tak mau membuat Anisa kembali mengingat kisah memilukan itu. Ia ingin melakukannya dengan penuh cinta malam ini.


Ia ingin Anisa merasakan cinta berbalut kenikmatan, bukan rasa trauma akibat mengingat kisah kisah yang lalu.


Louis memeluk tubuh ramping itu. Bibirnya masih terus bekerja. Puas dengan bibir sang istri, ia kemudian mengajak mulut dan lidahnya bergerilya, mengecup, menyesap, membasahi kulit wajah dan leher jenjang itu tanpa sisa. Anisa memejamkan matanya. Suara suara indahnya lolos ditengah tubuhnya yang kini mulai rileks menikmati permainan suaminya.


Louis mengangkat sweater Anisa lalu melepaskannya. Membuat tubuh ramping berkulit putih dengan dada menyembul itu terlihat jelas disana.


Louis menatap lapar dua benda itu. Ia kemudian menatap wajah Anisa. Wanita itu diam. Menunggu pergerakan selanjutnya dari Louis.


Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya menyusup ke belakang punggung Anisa, mencari pengait kain berwana hijau kemudian melepaskannya. Dua buah benda putih nan kenyal dengan sebuah tombol pink kecoklatan di ujungnya nampak terpampang nyata hadapan Louis. Laki laki itu kembali menatap lapar wajah cantik itu. Telapak tangan besarnya tergerak mengusap usap lembut salah satu benda indah itu.


Anisa merem*ng. Ia menarik nafas panjang merasakan sensasi berbeda akibat pergerakan tangan suaminya.


Louis mendekatkan wajahnya lagi ke wajah sang istri. Lalu...


"Emmmgghhhh....."


Louis melenguh. Cairan putih menyembur mengenai wajahnya manakala tangan besar itu dengan gemas meremas salah satu benda kenyal milik istrinya.


Anisa terjingkat. Itu air susunya.


Wanita itu terkekeh. Louis mengusap wajahnya yang sedikit basah itu dengan satu tangannya yang bebas. Laki laki itu ikut tertawa. Ia kemudian menoleh ke arah sang putra yang nampak makin pulas.


"Minta dikit ya, Nak," ucap Louis.


Anisa tertawa. Adegan pun terus berlanjut. Pria itu menyergap benda di tangannya itu dengan rakus. Mungkin lebih rakus dari Gerhana.


Malam yang indah pun mereka lewati berdua. Dengan adegan manis nan hangat yang mereka ciptakan sendiri.



__ADS_1


__ADS_2