(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
055


__ADS_3

Laki laki itu nampak diam. Duduk menunduk di sebuah sofa panjang yang berada di ruang televisi apartemen mewah itu. Sorot matanya datar. Menatap ponsel di tangannya yang sejak tadi ia putar putar.


Louis nampak bimbang. Sebagai seorang cucu yang cukup dekat dengan kakeknya, mendapati kabar dari Betrand mengenai kondisi sang kakek rupanya berhasil membuat Louis tidak tenang.


Benarkah kakeknya itu tengah sakit sekarang? Lalu bagaimana keadaan pria tua itu sekarang? Salahkah Louis yang sudah pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan?


Laki laki itu membuang nafas kasar. Ia pergi dari rumah untuk mencari ketenangan. Tapi rupanya hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin, tapi itu mustahil. Masih banyak tanggung jawab yang harus ia emban. Masih ada sang kakek yang ia sayang.


Huufftt... Lelahnya jadi Louis!


Anisa muncul dari dapur. Wanita berparas cantik itu nampak diam menatap ke arah Louis yang nampak gusar. Ia jadi tak enak sendiri. Rupanya laki laki itu sedang ada masalah keluarga. Dan Louis tak pernah mau bercerita padanya. Laki laki itu bahkan selalu berusaha untuk terlihat baik baik saja.


Anisa meraih sebuah toples berisi keripik kentang yang berada di atas sebuah bangku di sana. Dipeluknya toples itu, lalu berjalan mendekati Louis dan duduk di sampingnya. Anisa kemudian membuka tutup toples tersebut, ia kemudian menyodorkannya ke arah Louis yang nampak memijit mijit pelipisnya.


Louis kemudian menoleh.


"Mau?" tanya Anisa.


Louis diam sejenak. Menatap toples dan wanita itu secara bergantian. Laki laki itu kemudian tersenyum, dirogohnya toples itu, lalu mengambil selembar keripik itu dari dalam sana.


"Makasih," ucapnya.


Anisa tersenyum, lalu mengangguk. Ia kemudian memangku toples itu. Sorot matanya menatap lembut ke arah pria di sampingnya.


"Kalau kamu butuh teman curhat, aku siap dengerin," ucap Anisa.


Louis diam sejenak. Ia lantas menoleh ke arah Anisa lalu tersenyum manis.


"Nggak ada apa apa, kok. Cuma masalah kecil aja," ucap Louis.


Anisa menunduk. "Louis," ucapnya kemudian.


"Ya," jawab pria itu.


"Saya minta maaf kalau kehadiran saya mengusik kebahagiaan keluarga besar kamu," ucap Anisa.


Laki laki itu diam sejenak. Wanita itu tak lagi melanjutkan ucapannya. Sepertinya ia merasa tak enak setelah mendengar ucapan Betrand yang nyelekit tadi.


"Justru kamu memberikan kebahagiaan untuk hidup saya, Nis. Kamu tahu itu," ucap Louis.


"Tapi keluarga kamu," ucap Anisa.


"Biarin! Mereka nggak tahu apa apa! Saya sudah bilang, saya sayang sama kamu. Dan saya mau kamu," ucap Louis.


"Louis, kamu nggak boleh gitu. Biar bagaimanapun mereka adalah keluarga kamu. Orang yang berjasa melahirkan dan merawat kamu dari lahir. Niat awal saya datang ke kota ini bukan meminta untuk dinikahi. Tapi saya hanya ingin meminta kamu untuk bertanggung jawab dan membersihkan nama saya di mata orang, terutama ibu tiri saya. Saya tahu, saya dan kamu beda jauh. Saya hanya wanita kampung yang ternodai sedangkan kamu adalah pria dengan segala kemapanannya. Saya nggak mau kamu jauh dari keluarga kamu hanya karena saya," ucap Anisa.


Louis diam sejenak. Ia menatap dalam wanita di sampingnya itu.


"Nisa, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu. Yang pertama, keluarga saya saat ini hanya terdiri dari kakek, adik, sepupu, serta Om dan Tante saya. Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya yatim piatu, sama seperti kamu,"


"Yang kedua, jika kamu beranggapan kehadiran kamu membawa masalah dalam keluarga saya, kamu salah. Kehadiran kamu justru membawa warna tersendiri dalam hidup saya. Sejak kecil saya dituntut untuk menjadi sempurna. Menjelang dewasa saya ditinggal mati kedua orang tua saya. Setelah itu saya dipaksa untuk menjadi tokoh utama dalam bangkit dan majunya perusahaan keluarga saya. Saya menjadi pemimpin perusahaan di usia saya yang masih sangat muda. Saya mengorbankan kebebasan saya, mengorbankan masa muda saya, mengabaikan waktu yang harusnya bisa saya gunakan untuk bersenang-senang selayaknya anak muda pada umumnya."

__ADS_1


"Saya dipaksa dewasa sebelum waktunya. Kehidupan saya datar, tidak berwarna, dan kesepian."


"Tapi setelah saya bertemu dengan kamu, semuanya berubah. Kamu adalah warna yang indah dalam hidup saya. Kamu adalah wanita unik dan menarik yang saya temui. Dan untuk pertama kalinya saya merasakan cinta yang sebenarnya sama kamu."


"Saya menemukan kamu bukan karena bantuan siapapun. saya menemukan kamu karena memang tangan Tuhan yang mendekatkan kita, dan lantunan ayat ayat Tuhan yang kamu gaungkan di sepertiga malammu lah yang mengukuhkan hati saya untuk memilih kamu."


Anisa terdiam.


"Saya sudah bisa mengatasi semua ini sendiri. Maaf, saya tidak pernah curhat sama kamu, bukan karena saya nggak percaya atau nggak menganggap kamu. Tapi saya hanya menjaga mental kamu. Saya nggak mau kamu banyak pikiran. Kesehatan dan keselamatan kamu dan calon anak kita adalah prioritas utama saya," ucap Louis sembari mengusap usap perut buncit Anisa di akhir kalimatnya.


Wanita itu tersenyum lembut.


"Louis, kamu tahu nggak, aku seneng banget kalau kamu ngomong kayak gini. Aku serasa diratukan. Aku nggak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya," ucap Anisa.


"Karena kamu memang ratuku," jawab Louis.


Sepasang sejoli itu kemudian saling pandang untuk beberapa saat. Senyuman bahagia nan tulus tergambar jelas dari wajah keduanya.


"Louis," ucap Anisa kemudian.


"Apa?" tanya Louis lembut.


"Kamu kemarin kan bilang, katanya aku nggak boleh marah kalau suatu saat nanti kamu buat salah. Sekarang aku boleh nggak, minta sesuatu sama kamu?" tanya Anisa.


Louis diam sejenak. Ia menggerak-gerakkan bibirnya seolah tengah berfikir.


"Apa?" tanyanya kemudian.


"Janji sama aku, apapun yang terjadi, kamu nggak boleh sampai menjauhi keluarga kamu sendiri. Aku nggak mau, cuma gara gara aku, hubungan kamu dengan orang orang yang sudah menjaga kamu dari kecil itu menjadi renggang. Aku datang dan bertemu sama kamu ketika kamu sudah dewasa. Sedangkan keluarga kamu adalah orang-orang yang menemani kamu, membesarkan kamu, dan menjaga kamu sejak kecil. Jadi jangan pernah meninggalkan mereka hanya demi seorang wanita. Aku akan merasa sangat bersalah kalau sampai itu terjadi."


"Tetap simpan baktimu sebagai seorang keponakan dan cucu yang baik. Nggak punya keluarga itu rasanya nggak enak. Sedangkan untuk aku, gampang. Jodoh nggak akan kemana," ucap Anisa.


Louis tersenyum manis.


"Jodoh saya adalah kamu. Dan saya akan memperjuangkan kamu. Saya janji, saya bisa menuruti kemauan kamu itu. Tapi kamu juga harus janji lagi sama saya, kalau nanti dikemudian hari ada halangan dalam hubungan kita, kita hadapi sama sama, ya. Jangan lepaskan tangan saya, dan jangan tinggalkan saya," ucap Louis.


Anisa tersenyum manis bahkan hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya.


"Janji!" jawabnya.


Keduanya tersenyum manis.


"Baper! Pengen peyuk!" ucap Louis manja.


Anis tertawa. Ia meraih bantal sofa di sana lalu meletakkannya di depan dada Louis.


"Nih!" ucapnya.


Louis terkekeh. Ia memeluk bantal itu erat, lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Anisa. Keduanya pun melanjutkan obrolan mereka dibarengi dengan candaan candaan ringan khas sepasang sejoli yang tengah dimabuk asmara.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah rumah petak di pinggiran kota.


Ceklek!


Pintu kamar tak terlalu luas itu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu itu.


"Ya Tuhan!! Dipanggil panggil dari tadi nggak bangun bangun!" ucap wanita itu kala melihat dua pria muda yang sama sama masih tertidur di atas sebuah kasur busa berukuran 180x200 meter itu.


Dogh... Dogh... Dogh... Dogh...


"Elang! Bangun!!" ucap wanita itu lagi, Bik Susi.


Laki laki gondrong yang nampak tidur dalam posisi tengkurap itu mengangkat kepalanya dalam kondisi setengah sadar. Diikuti satu pria lainnya yang merupakan kawan Elang, Dito namanya.


"Apa sih, Budhe?!" tanya Elang dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bangun! Kan kita mau ke makam ibumu! Buruan mandi!" ucap Bik Susi.


"Ck! Iya, iya! Masih pagi juga!" gerutu Elang.


"Pagi apanya?! Ini udah jam sebelas, Lang! Bangun buruan. Dito juga! Mandi sana, terus makan dulu!" ucap Bik Susi pada Elang dan Dito yang memang sering menginap di rumah itu.


"Iya, Budhe...! Hoaaaammm...!" ucap Dito sembari menggeliat.


Elang bangkit dari posisi tidurnya. Menatap ke arah jam dinding yang terpajang di salah satu sudut dinding kamarnya. Laki laki itu menguap sembari menggaruk garuk tubuhnya yang terasa sedikit gatal. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas siang. Rupanya ia tidur terlalu nyenyak setelah sedikit minum miras malam tadi.


Dito bangun. Ia bangkit dari kasur itu lalu meraih sebuah sajadah merah miliknya yang tergelar di pojok ruangan.


Ya, Dito seorang muslim yang berkawan baik dengan Elang yang notabene adalah non muslim. Laki laki itu memang sering menginap dan numpang ibadah di rumah Elang. Ia bahkan beberapa kali meninggalkan sajadahnya di rumah kawan baiknya itu.


Elang bangkit. Mendekati sebuah meja di sana dan mengambil sebuah ikat rambut berwarna hitam miliknya guna mengikat rambut gondrongnya.


"Pagi, Ibuk!" sapa Elang pada seonggok foto wanuta cantik berambut panjang disana.


Dito menoleh. "Assalamualaikum, Tante," sapa Dito pada foto wanita yang katanya sempat memeluk Islam sebelum kematiannya dulu.


Elang hanya tersenyum. Ia melepaskan kaos oblongnya, duduk di sebuah kursi kayu disana dengan satu kaki diangkat ke atas kursi. Ia meraih rokoknya, menyalakannya, lalu menikmatinya.



Dito dengan sajadah di tangannya itu lantas mendekati sang kawan. Ia mengambil sebatang rokok milik Elang, menyalakannya, lalu menikmatinya sembari menatap foto wanita cantik yang berada di atas meja itu.


"Cantik ya ibu lu, Bang? Nggak nyangka, udah dua puluh tahun lebih aja beliau meninggal," ucap Dito.


Elang tak menjawab.


"Andai masih hidup, pasti masih cantik!" tambah Dito.


Elang mengangkat satu sudut bibirnya.


"Anaknya juga ganteng!" ucap pria itu sembari bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar kamar. Dito hanya berdecih. Ia lantas mengikuti langkah kaki pria itu keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2