(Bukan) Perampas Mahkotaku

(Bukan) Perampas Mahkotaku
012


__ADS_3

Pagi menjelang, saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sebuah mobil mewah nampak berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua dengan pagar besi setinggi dada orang dewasa disana.


Pria tampan dengan kacamata hitam membingkai matanya itu nampak melongok, menatap ke arah rumah dua lantai dengan tulisan "Terima kost putri" disertai dengan tanda panah ke kanan, menunjuk ke jalan sempit tepat di samping rumah tersebut.


Louis merogoh saku celananya. Membuka sebuah pesan masuk dari Betrand, asisten sekaligus sepupunya.


"Kost-an nya masuk lewat jalan kecil itu. Kamar paling pojok kanan di lantai bawah," tulis Betrand.


Louis menghela nafas panjang. Ia lantas memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya. Pria tampan dengan kaos hitam membalut tubuh tegapnya itu lantas turun dari mobilnya. Berjalan mendekati jalan kecil di samping rumah dua lantai itu untuk menuju kost kost-an tempat tinggal Anisa. Louis mengayunkan kakinya menapaki jalan kecil itu. Hingga sampailah ia di sebuah bangunan dua lantai dengan beberapa pintu disana.


Louis melepas kacamatanya. Ia berjalan mendekati kamar kost ujung kanan di lantai bawah bangunan tersebut. Sesuai arahan Betrand yang mengatakan bahwa itu adalah kamar kost milik Anisa.



Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu diketuk. Tak ada sahutan. Louis yang sudah berdiri di depan pintu kamar kost itu nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tempat kost putri itu terlihat sepi. Penghuni kost yang lain nampak tidak berada di tempat. Hampir semua pintu terkunci rapat disana.


Louis menggerakkan tangannya lagi. Mengetuk pintu itu lagi untuk yang kedua kalinya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Masih tak ada sambutan.


Louis berdecak kesal. "Ck! Kemana sih nih orang? Udah dibilangin mau diajak pergi malah kelayapan!" gerutu Louis pelan.


Laki laki itu menghela nafas panjang. Ia kembali menggerakkan tangannya hendak mengetuk lagi daun pintu itu. Namun tiba tiba...


Buughh ... Buughh ...


Sebuah tangan menepuk pundak kokoh itu dua kali. Membuat pria itupun sedikit terjingkat lalu reflek menoleh ke belakang.



Dilihatnya disana seorang wanita muda nampak berdiri di belakangnya dengan kaos putih oblong dan celana pendek berwarna coklat. Ya, itu Anisa.


Louis nampak diam sejenak. Ia menggerakkan bola matanya mengamati penampilan Anisa dari atas sampai bawah. Sangat sederhana dan tak neko-neko.


"Darimana kamu?" tanya Louis.


"Cari sarapan," ucap Anisa cuek.


Louis diam sejenak.


"Jam segini udah kelayapan? Udah dibilangin disuruh siap siap mau ke dokter kandungan, malah pergi pergi!" gerutu Louis sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang berada di teras kamar kost itu.

__ADS_1


"Saya manusia. Saya juga butuh makan biar kenyang!" ucap Anisa judes. Sungguh, ia masih terlihat benci dengan pria dihadapannya itu.


"Dokter kandungan buka praktek jam sepuluh pagi." Luke berucap sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kayu itu dan menatap datar ke arah Anisa yang berada di hadapannya. Anisa diam. Ia balik menatap datar pria itu.


"Tunggu!" ucap wanita itu kemudian dengan ketusnya. Ia lantas membuka pintu kamar kost nya, masuk ke dalam dan menguncinya dari dalam. Louis berdecih.


"Pakai acara dikunci segala!" gumam pria itu. Louis kemudian meraih ponselnya. Ia lantas memainkan benda canggihnya itu sembari menunggu Anisa selesai mandi dan berhias.


Tak berselang lama. Tak sampai lima belas menit, Anisa keluar dari dalam kamar kost nya dengan penampilan yang sedikit lebih rapi. Atasan putih berbalut blazer coklat dipadu sebuah kulot berwarna hitam nampak membungkus tubuh rampingnya. Sedangkan tangannya kini terlihat membawa sebuah ponsel miliknya.


Louis melirik sekilas ke arah wanita berpostur tubuh jauh lebih mungil dari dirinya itu. Tak ada tas, dompet, ataupun barang barang mahal selayaknya wanita wanita di luar sana yang sering Louis temui. Membuat Louis diam diam mengulum senyum samar karenanya.


"Udah?" tanya Louis.


Anisa hanya mengangguk. Louis bangkit. Ia lantas mengajak Anisa menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Salma.


Kendaraan roda empat itu lantas melesat meninggalkan tempat tersebut menuju rumah sakit terdekat, tempat di mana dokter kandungan rekomendasi dari Betrand berada. Sepanjang perjalanan, tidak ada perbincangan yang berarti yang terjadi diantara dua anak manusia ini. Keduanya lebih banyak diam. Louis fokus pada kemudinya, sedangkan Anisa sejak tadi hanya mengarahkan pandangannya menatap lurus ke luar jendela. Menikmati pemandangan perkotaan dengan gedung gedung bertingkat yang berjajar di sepanjang jalan. Wanita itu bahkan nampak mengikis jarak dengan Louis. Ia duduk begitu menempel pada pintu mobil seolah enggan berdekatan dengan pria tampan di hadapannya.


Tak ada suara. Semua hening. Bahkan musik pun sama sekali tak terdeteksi di sana. Lantaran Louis memang bukan tipikal pria yang menyukai musik. Ia lebih suka ketenangan dimana pun ia berada.


Lima belas menit perjalanan, kedua anak manusia itu sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota itu. Setelah memarkirkan kendaraan di salah satu lahan parkir disana, Louis lantas mengajak Anisa masuk ke dalam rumah sakit itu guna menemui seorang dokter spesialis kandungan yang cukup terkenal di sana.


Louis berjalan di depan, sedangkan Anisa yang seolah tak pernah mau berdekatan dengan Louis itu mengikutinya dari belakang.


Ceklek...


Pintu ruangan sang dokter terbuka. Louis masuk ke dalam ruangan itu diikuti Anisa di belakangnya.


Sang dokter dengan nama Eddy di dadanya itu nampak bangkit. Tersenyum menyambut kedatangan Louis dan Anisa.


"Tuan Louis," ucap pria itu. Louis tersenyum. Ia mendekati sang dokter. Menjabat tangan yang terulur milik pria dengan rambut klimis itu.


"Apa kabar, Tuan?" tanya sang dokter.


"Baik, Dok," jawab laki laki itu.


"Silahkan duduk!" ucap sang dokter mempersilahkan. Louis mengangguk. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di sana, diikuti Anisa di sampingnya.


Sang dokter pun ikut duduk. Ia melirik sekilas ke arah Anisa yang nampak menunduk.


"Jadi, ada perlu apa Tuan datang kemari?" tanya si dokter.


Louis yang nampak duduk tenang dengan tubuh tersandar di sandaran kursi itu nampak tersenyum.


"Seperti biasa, Dok," ucap pria itu membuat Anisa reflek menoleh ke arah Louis.

__ADS_1


Seperti biasa, katanya? Apa maksudnya? Ia sudah terbiasa datang ke dokter kandungan untuk memeriksakan wanita wanita hamil? Begitu kah? Jadi sudah ada berapa wanita yang ia tiduri seumur hidupnya? Astaga!!


Anisa nampak membuka mulutnya sambil menggelengkan kepalanya samar. Sedangkan Louis terlihat sangat tenang. Dokter Eddy tersenyum. Ia lantas menoleh ke arah Anisa yang nampak sedikit shock.


"Baik. Ini dengan Nona siapa?" tanya Dokter Eddy pada Anisa.


Wanita itu menoleh.


"A, em, Anisa..." ucap wanita hamil itu.


"Nona Anisa," ucap si dokter yang disambut dengan anggukan kepala oleh wanita muda itu.


"Baik, kalau begitu bisa kita mulai pemeriksaannya, ya. Mari Nona, silahkan ikut saya!" ajak si dokter sembari bangkit dari posisi duduknya. Anisa mengangguk. Ia lantas mengikuti langkah sang dokter mendekati sebuah ranjang pasien dengan peralatan USG di sampingnya.


Anisa lantas diminta untuk naik ke atas ranjang. Wanita itupun menurut. Ia merebahkan tubuhnya di sana. Louis nampak mendekat. Membuat Anisa seolah tak nyaman dibuatnya. Tangannya tergerak merapikan bajunya. Memastikan tak ada anggota tubuhnya yang tak tertutup kain selain tangan, kaki, dan wajahnya.


Sungguh, ia tak nyaman berdekatan dengan pria itu. Wajah laki laki itu selalu mengingatkannya pada peristiwa memilukan di malam kelam itu.


"Maaf, Nona. Kita mau memeriksa perut anda, jangan ditutup!" ucap sang dokter ramah.


Anisa nampak membuka mulutnya. Ia menoleh ke arah sang dokter serta Louis yang menatapnya datar. Ia benar benar risih untuk mengangkat bajunya di depan pria pria itu.


Sang dokter tersenyum. Ia lantas menggerakkan tangannya menyentuh telapak tangan Anisa yang tak lepas menggenggam ujung kaosnya. Ia harus menyingkap kaos itu agar bisa memeriksa kandungan Anisa.


Namun...


Anisa terjingkat. Sang dokter terdiam sejenak. Tangan ramping itu nampak kaku. Ia menggenggam ujung kaosnya dengan sangat erat seolah tak mau seorang pun menyentuh kain pembungkus tubuhnya itu.


"Nona," ucap sang dokter pada Anisa. Anisa tak menjawab. Wajahnya terlihat tegang, tubuhnya kaku, matanya mengembun, ia nampak ketakutan.


Sang dokter menoleh ke arah Louis yang menatap datar ke arah Anisa.


Jangan jangan wanita ini begini karena takut kebohongannya terbongkar? Jangan jangan ia sebenarnya tidak hamil? Pikir Louis menerka nerka.


"Nona, dibuka dulu kaosnya!" ucap si dokter lagi.


"Tolong jangan mengulur ulur waktu! Buka bajumu!" titah Louis dengan wajah datarnya.


Anisa memejamkan matanya dengan dada naik turun. Cairan bening bahkan menetes di pelupuk matanya.


"Suruh dia pergi dulu, Dok!" ucap Anisa sembari memalingkan wajahnya seolah tak mau melihat wajah Louis.


Sang dokter terdiam. Ia kemudian menoleh ke arah Louis. Laki laki tampan itu nampak menghela nafas panjang. Ia yang sejak tadi berdiri di samping Anisa sembari melipat kedua tangannya di depan dada pun akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Ia duduk di sebuah kursi yang berada di meja dokter. Meninggalkan Dokter Eddy dan Anisa yang kini mulai melakukan pemeriksaan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2