
Ceklek...
Pintu terbuka.
Louis masuk ke dalam apartemen itu lalu menutup pintunya. Membuat Anisa yang kini nampak duduk di ruang tamu sembari memutar sebuah musik klasik dari ponsel yang ia letakkan di atas perut itupun kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Louis?" ucap wanita itu sambil tersenyum.
Louis menampilkan senyuman manisnya kala melihat paras ayu wanita yang kian hari terlihat semakin mempesona dimatanya itu. Louis kemudian mendekat. Ia mendudukkan tubuhnya di samping wanita berperut buncit itu tanpa melepaskan senyuman manisnya.
"Assalamualaikum, Cantik," ucap Louis.
Anisa terkekeh. "Wa Alaikum Salam," jawabnya begitu manis sambil memiringkan kepalanya begitu lucu dan menggemaskan.
Louis mengulum senyum. Digerakkannya tangan itu meraih sebuah ponsel yang berada di atas perut Anisa. Ia lantas mematikan musik yang mengalun tenang di sana, kemudian meletakkan benda tersebut di atas meja. Louis kemudian meringsut. Mengikis jarak dengan wanita cantik itu. Tangan kekar itu kembali bergerak menyentuh dan mengusap buncit sang wanita tersayang.
"Hai, baby. Lagi apa kamu?" tanya pria itu seolah tengah berbincang dengan si jabang bayi.
"Aku lagi nungguin Papa. Papa udah makan?" ucap Anisa dengan suara khas bayi yang seolah mewakili ucapan calon buah hatinya.
Louis terkekeh. "Belum. Papa nggak bisa makan kalau nggak disuapin Mama," ucap pria itu.
Anisa tertawa. "Papa suka ngelawak!" ucap Anisa dengan suara khas bayinya.
Louis terkekeh. Ia mengacak acak lembut pucuk kepala wanita hamil itu. Membuat Anisa pun menoleh ke arahnya.
"Gimana kondisi Kakek kamu?" tanya Anisa.
Louis diam sejenak mengamati paras ayu itu. "Baik. Semua aman," ucap Louis.
"Alhamdulillah," ucap Anisa.
Louis diam lagi. "Kamu sendiri gimana? Selama aku tinggal, ada masalah?" tanyanya seolah tak tahu apa apa.
"Nggak ada lah! Belum juga sehari" jawab wanita itu bohong. Ia bahkan berucap sambil terkekeh. Ia tak tahu, jika Louis rupanya sudah mengetahui semuanya. Bik Susi yang berada di dapur pun rupanya diam diam juga menguping pembicaraan kedua majikannya itu.
Louis menggerakkan tangannya membelai rambut panjang Anisa.
"Nis," ucap Louis.
"Ya," jawab wanita itu.
__ADS_1
"Kamu merasa aman disini?" tanya Louis.
Anisa diam sejenak. "Aman, kok. Kan aku kesini juga karena kamu yang nyaranin," ucap Anisa.
Louis tersenyum. Ia meringsut. Mengikis jarak dengan Anisa. Laki laki itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa tanpa mengubah arah pandangnya pada wanita cantik di hadapannya. Tangan kekar itu kembali tergerak. Memainkan ujung rambut panjang ibu hamil tersebut.
"Nis," ucap Louis.
"Ya," jawab wanita itu.
"Mungkin mulai besok saya akan kembali ke kantor. Karena biar gimanapun juga perusahaan itu adalah tanggung jawab yang sudah Kakek amanatkan pada saya. Saya nggak mungkin meninggalkannya gitu aja."
"Jadi mungkin mulai besok, saya nggak bisa nemenin kamu dua puluh empat jam lagi. Saya hanya bisa menemaniku kamu dari sore sampai pagi," ucap Louis.
Anisa diam sejenak. "Kakek kamu tahu kalau kamu nggak tinggal di rumah sekarang?" tanyanya kemudian.
Louis menggelengkan kepalanya. "Dia nggak tahu," ucapnya.
Anisa diam lagi. Louis mengusap usap lembut perut buncit itu.
"Nis," ucapnya lagi.
"Apa?" tanya Louis.
"Kamu nggak apa apa kan kalau untuk sementara kita tinggal seatap? Saya nggak punya pilihan lain. Saya males pulang. Saya nyaman disini sama kamu. Dan saya juga nggak bisa membiarkan kamu tinggal sendirian di rumah ini. Itu akan membuat saya nggak tenang. Saya janji kok, saya nggak akan berbuat macam macam sama kamu," ucap Louis. Anisa hanya tersenyum lalu mengangguk.
Anisa diam.
"Saya tahu apa yang terjadi sama kamu pagi ini. Semua kejadian itu terekam di kamera CCTV apartemen ini. Termasuk pembicaraan kamu dengan Bik Susi," ucap Louis.
Anisa tak menjawab. Louis meraih punggung tangan wanita itu, mengusap usapnya lembut tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik itu.
"Nis, makasih kamu sudah kuat. Seenggaknya kamu nggak diam aja waktu Rhea dan Tasya berucap buruk sama kamu. Makasih karena selalu membawa nama saya sebagai tameng pelindung kamu. Saya suka."
"Tapi, ada satu yang mungkin kamu lupa," ucap Louis.
"Apa?" tanya Anisa pelan.
Louis tersenyum. Ia membimbing tangan putih itu agar berlabuh di pipinya, lalu menggerakkannya agar mengusap usap pipi dengan rahang tegas itu.
"Jangan sembunyikan apapun dari saya. Kamu dan calon anak kita adalah tanggung jawab saya. Kamu berada di sini juga karena saya. Jika ada seseorang yang berusaha mengusik kamu, bilang sama saya. Kasih tahu saya. Jangan kamu pendam sendirian."
"Apa yang sudah kamu ucapkan pada Rhea sudah benar. Kamu berada di sini adalah karena saya. Jikapun suatu saat kamu mau pergi dari sini, itu juga adalah atas perintah dari mulut saya. Karena kamu adalah milik saya sekarang!" ucap Louis.
Anisa tersenyum. "Maaf, bukannya aku nggak mau ngasih tahu kamu, aku cuma nggak mau memperkeruh hubungan kamu dengan keluarga kamu. Aku takut kalau nantinya kamu malah berantem lagi sama sepupu kamu," ucap Anisa.
__ADS_1
"Kamu nggak memperkeruh apapun, Nis," ucap Louis.
"Keluarga kamu mungkin akan sulit menerima aku, Louis," ucap Anisa.
"Sulit bukan berarti nggak bisa, kan?" tanya Louis. "Itulah alasan kenapa saya masih menyembunyikan keberadaan kamu selama ini. Karena saya nggak mau kamu berfikiran yang berat berat. Memang posisi kita cukup sulit dengan keadaan kamu yang sekarang. Tapi saya akan tetap memperjuangkan kamu."
"Masalah keluarga saya, biar saya yang urus dulu. Nanti, kalau anak kita udah lahir, baru saya akan ajak kamu berjuang sama sama. Kita yakinkan keluarga saya bahwa kamu adalah sosok yang tepat untuk saya. Hanya latar belakang dan masa lalu kamu yang tercoreng oleh kesalahan Luke. Dan sekarang Louis ada di sini untuk membersihkannya," ucap Louis.
Anisa tersenyum. Tak bisa dipungkiri, ia suka tiap kali Louis mengucapkan niatan baiknya membahagiakan Anisa dengan segala rencana yang sudah tertanam di otaknya.
Louis kembali membimbing tangan Anisa, kini mendekat ke bibirnya. Pria itu mengecup punggung tangan sang wanita dengan lembut, membuat Anisa pun mematung dibuatnya.
"Dah, makan, yuk! Saya lapar!" ucap Louis.
Anisa tersenyum. Ia lantas mengangguk. Sepasang pria wanita itupun kemudian bangkit menuju meja makan apartemen mewah itu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah. Disebuah komplek pemakaman umum yang berada di pinggiran kota besar itu. Sebuah motor berknalpot bising nampak berhenti disana tepat pukul dua belas siang. Seorang pria gondrong turun dari kendaraannya. Ia melepaskan helmnya, berjalan menuju sebuah makam yang nampak rapi disana dengan membawa setangkai bunga mawar berwarna merah muda di tangannya.
Elang mendudukkan tubuhnya di samping sebuah batu nisan bertuliskan nama Silvia. Diletakkannya bunga mawar itu di atas pusara. Tempat peristirahatan terakhir seorang wanita yang diketahui meninggal kurang lebih dua puluh tahun lalu jika dilihat dari tulisan yang tertera di atas batu nisannya.
"Siang, Ibuk," ucap Elang pada makam tak bersuara itu.
"Apa kabar hari ini?" tanya Elang. Tangannya tergerak mengusap usap batu nisan berwarna hitam itu dengan sorot mata nanar.
"Elang kangen, Buk," ucapnya. "Udah lama kita pisah. Udah lama juga Elang nggak lihat wajah ibuk."
"Tapi Elang masih ingat, kok. Masih hafal malahan, wajah Ibuk yang cantik itu, meskipun Ibuk pergi waktu Elang masih berusia lima tahun.”
"Kan Elang punya foto Ibuk!" tambah laki laki itu sambil tersenyum. Laki laki itu merogoh saku celananya. Menyalakan rokoknya, lalu menikmatinya.
Elang kemudian bergerak. Ia yang semula duduk berjongkok di samping makam itu kini nampak mengubah posisi tubuhnya. Elang merebahkan tubuhnya di tanah. Menggunakan batu nisan itu sebagai bantal, seolah tengah berbaring di pangkuan sang ibunda yang sudah berada di alam yang berbeda dengan dirinya.
"Buk," ucap Elang sembari menikmati rokoknya. Matanya menatap nanar ke arah langit biru.
"Ibuk tahu nggak, Elang ketemu cewek, cantik, manis banget."
"Nggak tahu bener apa cuma perasaan Elang aja, tapi sekilas mukanya mirip sama muka Ibuk di foto yang ada di kamar Elang," ucap pria itu.
"Dia majikannya Budhe, Buk. Kasihan dia, hamil, diperk*sa ama laki laki, tapi belum dinikahi. Padahal keliatannya dia anak baik baik." tambah Elang.
"Elang baru sadar hari ini. Sekilas mirip banget. Tapi tetep lebih cantik Ibuk sih. Hehehe..." ucap laki laki itu sembari terkekeh di akhir kalimatnya.
Elang kembali menikmati rokoknya. Ia kemudian kembali berceloteh. Bercerita kesana kemari ditemani semilir angin yang berhembus di sana siang itu. Menumpahkan segala kerinduannya pada sang ibunda yang kini telah kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
...----------------...