
Pagi menjelang,
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Wanita cantik yang kini tengah berbadan dua itu keluar dari kamar mandi yang berada di kamar utama apartemen mewah itu. Dengan rambut yang masih basah, Anisa menggosok-gosokkan handuk kecil itu guna mengeringkan rambut panjangnya.
Wanita itu mendongak, menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Wanita itu tersenyum. Ia ingat, kini ia punya tugas baru, membangunkan laki laki tampan pemilik hunian mewah ini tiap pagi untuk menjalankan ibadah sunnahnya.
Anisa yang sudah dalam keadaan berwudhu itu lantas mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Diambilnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Ia menuju aplikasi WhatsApp, mencari nama Louis disana dan mulai menghubunginya melalui panggilan telepon.
Tuutt... Tuutt... Tuutt...
"Assalamualaikum, Nis," sapa seorang laki laki dengan suara yang terdengar sudah segar dari seberang sana.
"Udah bangun?" tanya Anisa.
"Assalamualaikum, Nis," jawab Louis mengabaikan pertanyaan Anisa.
Wanita itu lantas terkekeh. "Iya, Wa Alaikum Salam! Udah bangun?" tanya Anisa.
"Kalau masih tidur, saya nggak mungkin angkat telepon dari kamu," ucap laki laki itu.
Anisa terkekeh lagi. Membuat Louis pun ikut mengulum senyum mendengar tawa ringan itu.
"Kamu kadang ngeselin ya kalau di ajak ngomong!" ucap Anisa.
Louis terkekeh. "Saya bangun udah dari setengah jam yang lalu. Nungguin dibangunin ama kamu kelamaan!" ucap Louis.
"Ya maaf! Kan aku juga baru selesai mandi," ucap Anisa.
"Aku?" tanya Louis kala tak sengaja mendengar Anisa menyebut kata 'aku'.
Anisa terdiam. Diam diam ia memejamkan matanya sembari mengulum senyum malu. "Saya maksudnya!" ucapnya kemudian.
Louis terkekeh. "Dah, gih! Matiin dulu, buruan sholat. Saya mau lanjut kerja!" ucap Louis dari seberang sana.
"Jam segini?" tanya Anisa.
"Ada beberapa yang harus saya kerjain cepet. Pagi ini saya agak sibuk. Semangatin, dong!" ucap Louis sambil mengulum senyum di akhir kalimatnya.
Anisa makin tersipu malu. "Mangat, yaaahh..." ucapnya.
"Gitu doang?" tanya laki laki itu lagi.
__ADS_1
"Ya maunya gimana?" tanya Nisa.
"Ya apa, kek, biar semangat!" ucap Louis.
"Iya, iya. Semangat ya, kerjanya. Jangan capek capek. Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan telat makan," ucap Anisa manis. "Udah?" lanjutnya.
Louis tak henti menampilkan senyuman manisnya di seberang sana. "Dah!" jawabnya.
Anisa tersenyum. "Ya udah, dilanjut, ya. Aku mau sholat dulu."
"Okey! Makasih udah bangunin walaupun akunya udah bangun!" jawab Louis.
Anisa terkekeh lagi. "Iya! Udah, aku matiin, ya!" ucapnya kemudian.
"Iya," jawab laki laki itu.
"Assalamualaikum,"
"Wa Alaikum Salam." Sambungan telepon pun terputus. Anisa meletakkan benda pipih itu di atas nakas, lalu mulai menjalankan tahajudnya. Dilanjutkan dengan membaca kitab suci umat Nabi Muhammad itu dan di sambung dengan ibadah Subuh.
****************
Kendaraan roda empat itupun melesat meninggalkan rumah megah itu. Betrand yang mengendalikan kemudi mobil itu nampak melirik ke arah Louis. Sepupunya itu sejak tadi nampak senyum senyum sendiri menatap layar ponselnya. Sesuatu yang dulu tak pernah ia lihat pada sosok Louis. Mengingat laki laki itu memanglah sosok laki laki yang gila kerja. Membuatnya tak pernah punya waktu untuk sekedar berlama lama dengan ponsel sambil tersenyum senyum seperti itu.
"Ekhmm!" Betrand berdehem. Louis menoleh ke arah sang sepupu.
"What?" tanyanya.
Betrand menggelengkan kepalanya.
"Gimana? Lu udah hubungi Luke? Dia mau pulang?" tanya laki laki itu kemudian.
Louis yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya pun nampak menghentikan aktivitasnya. Ia menatap lurus ke depan sembari menghela nafas panjang.
"Kayaknya gue batal minta dia untuk pulang!" ucap Louis.
Betrand menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Gue berubah pikiran. Gua nggak akan minta dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Terserah. Biarin dia hidup dengan jalannya yang salah!" ucap Louis.
"Terus? Tuh perempuan gimana?" tanya Betrand kemudian.
__ADS_1
Louis tak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata menunjukkan sebuah keyakinan yang besar.
"Gue yang akan nikahin dia!"
CIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT...!!
Daaghh...
"Anj*r!" umpat Louis. Kepalanya terbentur dasboard mobil manakala Betrand sang pengemudi menghentikan laju kendaraannya secara tiba tiba.
"Apasih, lo? Ngapain berhenti mendadak kayak gitu?!" protes Louis.
Betrand menatap tajam sang sepupu. "Ini yang gue takutin! Seiring berjalannya waktu, makin seringnya lo ketemu ama Anisa, lama lama lo akan suka ama dia!" ucap Betrand yang lah memang sudah bisa menebak alur cerita ini dari awal.
Louis memalingkan wajahnya. Ia juga sudah bisa menebak reaksi yang akan ia terima dari Betrand jika ia menceritakan niatannya untuk menikahi Anisa. Laki laki itu pasti tidak akan setuju.
"Berapa kali sih, gue bilang sama lo. Lo itu pewaris! Segala tindak-tanduk lo itu akan berdampak ke keluarga besar kita! Apa jadinya kalau sampai lo nikahin Anisa? Perempuan ya nggak jelas asal-usulnya, hamil diluar nikah, dan lebih parahnya lagi dia bekasan adik lo sendiri! Lu pake otak dong! Lu nggak jijik, apa?" ucap Betrand yang sepertinya mulai muak dengan drama yang dibuat oleh si kembar ini.
"Cukup!" ucap Louis tenang seolah meminta Betrand untuk berhenti menjelek-jelekkan Anisa.
Kekasih Rhea itu nampak menggelengkan kepalanya. "Apa yang lu lihat dari dia?" tanya laki laki itu.
Louis tak menjawab. Sepasang sepupu itu saling diam dengan sorot mata yang saling beradu. Betrand menatap tajam ke arah Louis sedangkan Louis nampak tenang.
"Karena dia perempuan polos yang malang? Atau karena dia perempuan baik baik, memiliki sikap dan perilaku yang baik? Apa?!" tanya Betrand.
"Perempuan baik baik nggak cuma satu, Bro! Tasya juga perempuan baik baik. Bahkan dia jauh lebih baik dari wanita yang hamil tanpa suami itu! Dia suka sama lo. Keluarganya juga setuju. Dan lu malah milih Anisa yang bahkan siapa bapak dan ibunya aja lo nggak tahu!!"
"Lo inget, kan, gue pernah bilang sama lo tentang asal usul Anisa? Dia itu di benci sama ibu tirinya karena dia anak hasil dari perselingkuhan bapaknya. Ibunya nggak jelas, asal usulnya nggak jelas, dan lo mau nikahin dia cuma karena dia terlihat baik dan bunting di luar nikah?!! Gila lu ya??!" tambah Betrand yang sama sekali tak dijawab oleh Louis.
"Lo tuh sebenernya nggak suka sama dia. Lo cuma kasihan!" ucap Betrand lagi.
Louis menggelengkan kepalanya samar. Ia menatap tenang Betrand yang nampak menggebu gebu itu.
"Untuk saat ini, gue hanya yakin untuk menikahi Anisa. Gue akan nikahin dia setelah anak dalam kandungannya lahir. Gue juga akan memperkenalkan dia sama Kakek, Tante Martha dan Om Steve sebelum gue nikahin dia. Gue masih punya banyak waktu untuk meyakinkan diri gue kalau dia adalah wanita yang memang tepat untuk gue. Gue tahu, perempuan baik baik nggak cuma satu. Tapi untuk saat ini, pilihan gue jatuh pada Anisa. Gue nggak mandang masa lalu dan silsilah keluarganya. Karena yang gue cari adalah kenyamanan dan kecocokan. Kalaupun pada akhirnya ternyata dia bukan yang terbaik buat gue, biar Tuhan yang menunjukkannya!" ucap laki laki itu dengan tenang namun terdengar tegas.
Kedua pasang mata pria dewasa itu kembali saling beradu. Betrand menggelengkan kepalanya samar seolah tak mengerti dengan jalan pikiran sepupunya itu.
"Terserah lu! Gue harap Tuhan secepatnya ngebuka mata lo biar lo sadar, kalau pilihan lo itu menghancurkan harapan banyak orang!" ucap Betrand yang kemudian melepaskan sitbelt nya dan keluar dari mobilnya. Ia bahkan tak menghiraukan suara Louis yang memanggil manggil namanya. Entahlah, Betrand kesal. Rasanya sebagai salah satu anggota keluarga Davis yang terpandang ia tak bisa menerima keputusan Louis yang memilih untuk menikahi Anisa yang jelas jelas adalah wanita yang sudah terlanjur kotor. Bukankah itu hanya akan mencoreng nama baik keluarga konglomerat itu?
...----------------...
__ADS_1